Bang! Gila Kamu

Bang! Gila Kamu
#31


__ADS_3

Sayidah terbangun ditengah malam dilihatnya api unggun di dekat tenda sudah mati tinggal bara api yang terlihat masih memerah, sayidah bangun dari tidurnya dan menghitung waktu dengan melihat keberadaan bulan . sekitar pukul 1 malam, intan keluar dari tenda dengan mengendap2 agar tidak ketahuan oleh anggota kamp lainnya . dia berencana menemui intan untuk berpamitan karena sebelumnya tidak sempat berpamitan dengan intan, dia berjalan kaki menyusuri gelapnya hutan dengan penerangan sebuah obor. Sayidah  sudah sangat mengenal rute dihutan itu sehingga dia tidak takut akan tersesat. Sayidah mempunyai keberanian yang lebih dari anak2 lain pada umumnya karena sayidah telah terbiasa melarikan diri dari kejaran orang2 di malam hari matanya begitu terang seperti burung hantu.


sayidah berjalan dengan cepat menyusuri pohon2 dan rerumputan, nafasnya terdengar menderu dikegelapan malam. sayidah mempercepat langkahnya, disepanjang jalan menyusuri hutan itu keringatnya memercik dari keningnya sampai ke punggung mengantarkan suhu dingin sampai ketulang2nya. suhu dingin menyerap kebalik kulitnya yang tipis karena pakaian yang dia pakai sangat tipis dan sudah sangat usang. dia singgah saat meihat batu besar yang sudah dia tandai tempat dirinya menyimpan pakaian yang dibelikan oleh intan. sayidah mendorong batu besar itu dan terlihat bungkusan plastik warna hitam. bungkusan itu ia buka lalu dikeluarkannya sweater dan baju kaos serta celana training panjang. obor yang dipegangnnya ditancapkan di tanah, sayidah kemudian berganti pakaian. dia terlihat lebih baik sekarang, menggeser batu itu lagi sebelum kemudian melanjutkan perjalanan. 


begitu sudah dekat sayidah mematikn obornya mnyelipkannya didahan pohon, sayidah mengintip kebalik kaca dapur rumah intan yang memang menghadap ke hutan. terlihat intan sedang menonton tv sendirian diruang tengah, matanya fokus menatap ke televisi dengan satu tangan menyanggah kepalanya yang dimiringkan ke tangan sofa. sayidah kemudian  mengetuk kaca dapur tapi intan tidak mendengarnya, akhirnya sayidah berjalan ke pintu samping dan mengetuk pintu perlahan. intan mendengar suara ketukan samar, dia mendekat kearah pintu sambil menempelkan daun telinganya.


“sayidah,, apakah itu kau?” tanya intan


“ya, ini aku sayidah” kata sayidah


“ hufffttt...” intan menarik nafas lega saat mengetahui itu sayidah, 


intan membuka pintu dilihatnya anak itu sudah bermandikan keringat, dipegangnya tangan sayidah yang sangat dingin. intan menarik sayidah masuk tidak lupa mengunci pintunya, sayidah ia dudukan di sofa ruang tamu. penghangat ruangan yang memang sudah menyala dari tadi membuat sayidah segera  merasa hangat dan nyaman. 


“kemana saja kau sayidah aku mencarimu dari sore?” kata intan yang sedang membuatkannya segelas air madu dicampur jahe


“ bolehkan duduk dulu disini aku ingin berbicara sesuatu” kata sayidah

__ADS_1


“hmmm,, apakah ada sesuatu yang terjadi padamu dan orang2 di kamp?” tanya intan yang berjalan mendekati sayidah sambil menyerahkan secangkir teh jahe ditangannya.


"tidak ada,, hanya kami berpindah tempat lagi. aku kesini karena ingin berpamitan denganmu mungkin kita tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama karena kali ini kami bepergian lumayan jauh jaraknya dari sini" katanya bercerita pada intan sambil menyeruput teh jahe yang hangat ditangannya


"kenapa? tidak bisakah kamu tinggal?" kata intan lagi


"entahlah,, aku belum pernah dekat dengan seseorang sepertimu selama ini" kata sayidah


tatapannya menerawang keatas, seperti memiliki pikiran yang sangat berat terlihat pada ekspresinya yang begitu terbebani serta helaan nafasnya yang panjang


"tidakkah kau akan merindukanku sayidah? terus terang saja aku sangat menyukaimu dan kau sudah seperti adikku sendiri walaupun kita baru kenal" kata intan berkaca2


"aku mohon jangan menangis, tenang saja begitu ada kesempatan aku akan kembali mengunjungimu" kata sayidah menggenggam tangan intan


intan yang begitu panik merasa akan kehilangan teman barunya yang sudah ia anggap adik menarik sayidah kedalam pelukannya. intan membasahi punggung sayidah dengan airmatanya.


"tenanglah,, aku pasti akan kembali aku janji. dan ini ambilah sebagai jaminan untukmu, ini adalah tasbih buatan tangan ayahku. aku selalu membawanya kemanapun aku pergi, kutitipkan ini padamu jagalah dengan baik sampai aku mengambilnya kembali" kata sayidah memberikan sebuah tasbih dengan ukiran huruf yang jika dibaca adalah nama sayidah. tasbih itu dibuat dengan tangan oleh ayah sayidah karena sayidah selalu menghilangkan tasbihnya setiap pergi ke pengajian. semenjak itu tasbih sayidah selalu ia bawa kemana2 bahkan teman2 sayidah iri pada tasbihnya yang terukir namanya disana.

__ADS_1


sayidah mencium sekali lagi tasbih itu lalu dia berikan kepada intan, merekapun berpelukan sekali lagi sebelum sayidah bangkit


"aku harus pergi sekarang sebelum ketahuan oleh orang2 di kamp, jangan pernah ceritakan ini pada suamimu karena dia adalah orang militer dia tidak akan suka pada kami" kata sayidah lagi


" aku tidak, kamu tenang saja suamiku adalah orang yang baik dan sangat menghargaiku. dia akan mendukung apapun yang menjadi kebahagiaanku tenang saja" kata intan


sayidah kemudian keluar melalui pintu belakang, dia menoleh kepada intan sekali lagi lalu melambaikan tangannya. kemudian ia berlari masuk kedalam hutan, mengambil obor yang tadi dia selipkan di dahan pohon lalu menghidupkannya dan mulai berjalan.


sayidah sampai ke kampnya saat sebelum subuh, dia masuk kedalam tendanya lagi lalu tidur ditempat sebelumnya. sayidah digoyang2kan badannya saat matahari masih setengah muncul mereka harus melanjutkan perjalanan agar tidak terlihat oleh orang2.


sambil berjalan sayidah masih memikirkan intan, dia merasa sedih karena harus berpisah dari intan yang sudah memberinya kehangatn dan kenyamanan keluarga. sayidah terus menunduk sambil berjalan, dia memegang tongkat untuk membantunya menyibak rerumputan yang tinggi dijalan yang mereka susuri. karena mereka tidak boleh melewati rute yang biasa dilalui hal itu akan sangat beresiko untuk bertemu penduduk lokal.


sebelum tengah hari mereka sudah sampai diatas bukit, tempat yang menjadi tempat perlindungan bagi mereka untuk sementara. dari ketinggian itu sayidah dapat memperkirakan dimana letak rumah intan jika dirinya merasa rindu dia akan duduk lama menatap arah rumah intan fikirnya.


semua orang sudah sangat lelah karena perjalanan, sebagian pria sudah pergi untuk mencari makanan sementara wanita2nya sibuk menghidupkan api dan memasang tenda2 untuk istirahat anak2 . maklum dihutan banyak sekali nyamuk, Sayidah membantu ibu2 disana untuk mengambil air di anak sungai dekat situ.


air2 itu untuk mencuci sayuran dan umbi2an yang didapat oleh para pria, juga untuk minum mereka sama2. siang itu semua sangat kelelahan dan juga lapar, sehingga semua makanan yang dihidangkan habis tak bersisa juga anak2. tak ada makanan lezat asal bisa mengisi perut sampai kenyang. hanya makan ubi talas yang direbus kemudian sayur paku yang ditumis dengan cabai dan garam. sementara anak2 kecil hanya makan ubi dengan garam serta buah berry hutan yang tumbuh liar.

__ADS_1


__ADS_2