
Di hari yang lalu Angga dan Tasya seperti biasa ngobrol di lorong sekolah
"Rambut kamu kenapa?, Mau masuk kelompok Joker apa?" Angga bertanya
"Enggak tau nih, management yang bikin aku kayak gini, aku jadi susah buat kompromi dengan guru" rambut Tasya hari ini nampak sangat pirang
"Eh coba liat warna rambut Tasya hari ini?" Salah satu siswi perempuan terdengar membicarakan
"Tapi dia keliatan baik kalo di Instagram"
"Nggak, Sari liat dia ngerokok dengan beberapa senior di ekskul dance" Tasya mendengar ada yang membicarakannya
"Ngerokok?"
"Ih serem banget, kalo beneran" reaksi anak-anak yang lain
Tasya POV start
Aku selalu mendapat perhatian di mana-mana, telingaku mendengar semua orang mengatakan aku orang yang bermasalah. Aku berusaha tidak mendengarkan mereka
"Jangan dengerin mereka" Angga berbisik
"Iya itu semua karena aku cantik, maaf ya semua" aku bersuara lantang agar didengar oleh anak-anak yang lain.
Semua orang di sekitar ku hampir sama. mereka hanya melihat popularitas ku dan menyerang ku.
"Tasyaaaaa!" Dina datang berlari dan memeluk ku "dari mana aja kamu?" Aku bingung ber-reaksi apa pada Dina. "Hai Angga!" Dia juga menyapa Angga
"Hai" Angga membalas
"Eh, Tasya kamu nggak lupa naik bus bersama kita saat pergi study tour, kan?" tanya Dina padaku
"Ah, aku lupa" aku menjawab dengan jujur
"Ah gimana sih kamu" Dina mendorongku seolah kami benar-benar akrab. "Angga, aku follow kamu di Instagram, bisa nggak kamu follow back aku juga di Instagram?"
"O oke" Dengan terpaksa Angga mengambil hpnya lalu mengikuti balik Dina di Instagram, tidak mungkin dia menolak apalagi sedang di saksikan banyak orang seperti ini.
Dina juga mengajakku untuk ke kantin bersama, aku dan dia sekarang sedang mengantri untuk membeli minuman soda. Kami sama-sama diam saat berada di barisan antrian, tiba-tiba Dina mendorong siswi di depannya yang nampak culun dan sering menunduk "minggir deh, Lo di belakang aja" siswi itu lalu hanya membenarkan kacamatanya lalu menuju ke antrian belakang.
Aku terkejut melihat itu "Lo kenapa gitu sih?"
"Kenapa sih?" Dina bertingkah biasa saja "Bu tolong dua minuman soda ya sama roti ini" "Tasya, liat rok cewek tadi. Dia seperti pengecut" "Gimana bisa pengecut kayak dia ngehalangi jalan kita?, Lucu kan?". "Mmmm btw, yang kamu ceritakan waktu itu. Aku juga punya. Warnanya sangat bagus" Dina menunjukkan lipstiknya. "Kemarin aku DM artis baru yang dari management kamu, trus mereka ngajakin hang out bareng. Kita harus pergi sih, kapan waktu kamu kosong Tasya?"
Dia meniru rambut dan make up ku. Dia membeli semua barang yang aku pakai. Tapi dia menyebut itu punya "kita".
__ADS_1
Saat pulang sekolah, kami mengunjungi salah satu kafe, di salah satu meja Aku, Dina, dan dua teman lainya duduk duduk bersamaan. Aku memilih sibuk dengan hp ku
"Ih kok lama banget ya?"
"Aku udah selesai, aku yang ambil ya" Rita berangkat dari kursinya lalu menuju ke belakang untuk mengambil pesanan kami
"Eh, Rita itu selalu ngomong mau diet" "maksud gue, kalo gitu enggak usah makan gitu aja!" "Gila ngeselin banget sih" Dina berbisik pada teman sebelahnya dengan keras
"Ih bener" temannya menjawab. "Tasya apa kamu nggak kesel juga sama sifat Rita?"
"Entahlah" aku menjawab
"Apaan sih, takut banget sama reputasi kamu ?" Dina tidak senang aku tidak ikut jengkel dengan Rita. "Kalo kamu begitu aku jadi kelihatan jahat Tasya!"
"Kalian ngomongin apa sih?, Kayak serius banget" Rita datang dengan membawa nampan berisi empat minuman jus buah
"Nggak ada" balas Dina "eh Rit ngomong-ngomong gimana bisa berat badanmu nggak naik padahal kamu makan banyak?"
"Eh nggak gitu!, Aku ini diet loh" jawab Rita tersenyum sambil menyusun cangkir-cangkir jus itu
"Oooo, Iya kamu udah terlihat sangat kurus sekarang".
Aku masih menatap layar handphoneku dengan intens. karena, jujur aku sudah muak dengan hubungan seperti ini. Jadi, jawabanku hanya seadanya.
Pagi hari, jam sembilan pagi. Aku berjalan di lapangan sekolah dan mendengar anak kelasku membicarakan aku
"Aku juga pengen nge-warnain rambutku kayak dia"
"Warna-in aja!"
"Emangnya kamu artis?"
Tak tak tak! aku berjalan ke arah mereka
"Kalian lagi ngomongin apa?" Tanyaku
"Enak ya jadi artis, bisa bolos kelas" cewek di sebelah Dina berbunyi sambil menggaruk rambutnya
"Kalian nggak tau aja aku abis begadang semalem" jawabku "kalo kalian iri, mau jadi aku, ya silahkan!"
"Artis ngomongnya bagus banget ya" ujar mereka
Ketika aku bertindak seperti itu, mereka membuatku layaknya orang yang buruk.
Tasya POV end.
__ADS_1
Suatu malam setelah itu semua.
"Eh itu bukannya Tasya ya?"
"Di bilangnya lagi les acting"
"Hebat banget!"
"Eh itu cowok-cowok kayaknya anak-anak sekolah pinggiran kota deh"
Ting!, Dina merekam kejadian Tasya dan beberapa cowok sedang beradu argumen. setelah mendapatkan Vidio itu mereka segera keluar dari tempat karaoke itu.
Dina dan temannya sudah berada di luar gedung karaoke. "Eh kita kasih judul apa ya Vidio ini?" Tanya Dina pada temannya
"Apa ya?"
"Ah gini aja, 'Cerita tentang bagaimana aku di pukuli oleh Tasya Amanda Putri dari Starpion Entertainment' gimana?"
"Tapi gimana kalo kita ketahuan?"
"Nggak mungkin!" "Mereka nggak bakal peduli ini bener atau nggak, netizen kan emang hobinya marah-marah". "Kita tinggal nambahin aja pake akun fake, 'aku teman sekelasnya dan bener dia emang orangnya suka sok hebat', semuanya selesai hanya dengan bukti seperti ini".
Esok hari di sekolah dan di kelas Tasya semua orang sibuk melihat berita yang naik pagi ini tentang beberapa cowok yang mengaku di pukuli oleh artis Tasya Amanda Putri
"Dia kenapa seperti itu ya?"
"Ih aku dari awal udah nggak suka sama dia" bisik-bisik anak kelas itu
BRAKKKK!
"eh, Dina! Ini perbuatan kamu kan!" Tasya masuk mendorong pintu kelas dengan keras. "Kamu kan yang ngirim Vidio ini!" Teriak Tasya pada wajah Dina dan temannya yang memang sedang berdiri bermain hp di dekat pintu kelas
Dina nampak menyilangkan tangannya "bukan cuma aku sendirian yang melakukannya"
"Apa?"
"Rita, Dwi, dan Lina mereka menulisnya bersama-sama" "mereka semua membenci mu" semua mata di kelas memandang ke arah Tasya dan Dina
"Kami benci melihatmu pamer di Instagram setiap hari" "melihat guru membiarkan rambutmu di warnai sedangkan yang lain nggak boleh" "kamu capek karena komentar jahat ini hah? Itu sudah konsekuensi jadi artis kali, dasar mental kamu ajak lemah, belum siap jadi artis"
Tangan Tasya bergetar, ia menangis namun masih berusaha untuk tidak rubuh
"Mental playing victim-mu kuat sekali ya" beberapa butir air mata mengalir di wajah cantiknya
"Mental playing victim?" "Berani banget kamu ngomongin aku begitu!" Dina berteriak. "Lagian itu nggak ngaruh ke aku, kata-katamu ke aku tidak merubah apa-apa. Anak kelas tidak akan ada yang memihakmu!"
__ADS_1
Tasya menoleh ke anak kelas yang lain dan reaksi mereka adalah membuang muka tidak ingin punya urusan pada masalah ini
"Semoga beruntung" Dina tersenyum miring.