
Dika POV start
"Reihan, ibu denger dari ibu-ibu yang lain nilai tray out kamu paling tinggi di angkatan kamu ya?" Ibu menanyakan itu saat kami sedang menyuap sarapan kami pagi ini, kakak yang di tanya hanya mengangguk dengan senyum. "Wah itu hebat" ibu tersenyum sumringah namun setelahnya lanjut masam lagi wajahnya "hadeh, Andika kamu harusnya masuk sekolah bahasa asing aja biar nggak punya nilai jelek di IPA dan Matematika" ibu mulai membahasku
"Ibu tau?, Dengan nilainya yang sekarang aku bahkan enggak bilang sama temen-temenku kalo aku punya adik" Reihan kembali mengucapkan itu untuk kesekian kalinya. "Kok bisa dia lahir keluarga kita?" Itu kalimat jahat yang sudah aku biasakan dengar di rumah ini.
Aku selalu di peringkat kedua sepanjang hidupku. Aku selalu di bandingkan dengan kakakku yang cerdas. Orang tuaku tidak memberi perhatian yang sama pada kami. Seperti itulah bagaimana aku menjalani hidupku selama ini. Awalnya aku tidak tertarik pada Tiara Azahra.
Di hari pertama masuk sekolah. Aku duduk sambil membaca buku di taman bersama temanku yang sejak SMP aku kenal. "Eh Dik, kamu mau nggak calon jadi ketua kelas?" Tanya temanku
"Belum tau, mungkin akan ku coba" jawabku singkat
"Hei, lihat itu" temanku satu lagi berbunyi "Tiara Azahra cantik banget"
"Dia gadis tercantik di sekolah" ucap temanku yang lain "eh Dika, coba liat gimana menurut Kamu?. Dia juga siswi terpintar di sekolah kita" sambil menepuk pahaku dan sontak aku menoleh
"Biasa aja" jawabku, membuat teman-temanku refleks menoleh
"Oh kamu punya standar yang tinggi, ya?" Tanya mereka sambil sedikit tertawa
Pasti dia sombong karena semua yang dia punya, dia pasti seperti kakakku yang angkuh. Jawabku di dalam hati
"Aku merasa kasihan pada Sari atau Putri atau siapapun namanya itu" mereka melanjutkan pembicaraan "untuk apa coba nurunin berat badan, dia masih tidak sebanding dengan Tiara"
Justru aku lebih tertarik pada Putri, yang senasib denganku. Saat menegurnya untuk segera mengumpulkan tugas aku jadi tau kue kesukaannya. Setelah bicara dengannya, ternyata dia baik dan memiliki banyak kesamaan denganku. Aku pernah melihatnya sedang menyortir puluhan kado yang ada di atas mejanya yang di kirimkan orang-orang untuk Tiara, Tasya, dan Siti. Ia melakukan itu tanpa merasa minder sedikit pun. Saat itu aku tidak tahu dan aku bertanya "kamu ulang tahun ya hari ini?"
"Nggak, ini bukan hadiahku. Jadi tolong jangan di makan ya" ucapnya. Aku pikir hanya dia yang bisa mengerti rasa inferioritas dan kekalahan. Tapi setelah lama bergaul dengannya membuka mataku akan hal yang aku tidak tahu selama ini.
__ADS_1
"Aku khawatir kamu menyukai orang aneh lagi" ucap Tiara saat kami berdua menentang Putri dekat-dekat dengan Kenzo si ketua ekskul seni prakarya
"Aku liat kepalanya mulai botak, itu sangat berbahaya Put" ucapku ikut menakuti Putri
"Eh!, emangnya aku enggak boleh pacaran ya?" Jawab Putri
"Enggak boleh!" Tiara dan aku menjawab berbarengan dan di saat itu kami menoleh menghadap satu sama lain
"Apaan sih" Putri bersuara. Namun aku tetap memandangi Tiara meski dia sudah berpaling lagi menatap ke depan. Ternyata Tiara Azahra tidak berhati dingin. Aku pun tersenyum menyadari itu.
"Nando itu dulu sekolah di SMA Pelita Abadi kan?" Tiara datang menyelamatkan Putri yang sedang berada di tengah masalah "kalo nggak salah dia pernah bilang ada cewek aneh yang terobsesi padanya, ternyata itu kamu ya?" "Dia memblokir nomormu tapi kamu malah datang ke rumahnya, dia cerita sangat sulit sekali untuk menghindari mu"
"Itu bener?" Aulin langsung bertanya pada Yuni
"Kamu mau denger langsung dari orangnya?" Tiara merogoh handphonenya. Tiara adalah orang yang siap membela temannya kapanpun.
"Dika, tolong ya berikan ini pada Putri, dia nggak ada di tempat duduknya tadi aku liat"
"Kamu ngasih ini sama aku?" Jawabku gugup saat itu
"Putri sepertinya sangat percaya padamu, jadi aku nitip di kamu aja, tapi ingat! Jangan coba-coba melakukan hal buruk padanya!."
"Mmm o oke" jawabku sambil menerima barang itu. Saat dia berbicara padaku, itu membuatku merasa aku spesial.
Saat di kantin dua temanku datang di mejaku, mereka bilang "eh Dika Tiara Azahra mengikuti kamu di Instagram ya?" "Gilaaa keren-keren" seru temanku yang lain "dia jarang banget ngobrol sama orang lain, bahkan saat di ekskul penyiaran sekalipun"
"Aah itu bukan apa-apa" jawabku berusaha untuk menahan egoku
__ADS_1
"Eh Dika, kira-kira apa yang dia sukai?" Tanya salah satu dari mereka
"Mmm dia itu kurang suka makan makanan manis" jawabku dengan senyum semringah "dia juga suka pada produk-produk kosmetik dan skincare"
"Wahhhh" "dia emang bener-bener seperti tokoh di film ya" mereka berseru, "kamu udah kemana aja sama dia?" Mereka bertanya lagi
Aku mengangguk kecil "macam-macam, bioskop, dan yang lain..."
"Bioskop?" "Wah itu udah ngasih kita jawaban sih hahaha" mereka tertawa menggodaku
"Ahhh enggak" jawabku mengibaskan tangan. Posisiku di antara teman-teman pun berbeda. Mereka mulai menghargai ku dan melihatku berbeda.
"Eh apalagi-apalagi? Ceritain ke kita!". Mereka iri padaku. Itulah aku sekarang.
Suatu malam aku hendak mengambil air dingin di kulkas dekat meja makan, ada Reihan kakakku sedang duduk dan bermain handphone "eh Dik" dia memanggilku dan aku menoleh. "Kamu pacaran sama Tiara Azahra ya?" Tanyanya padaku "aku sering liat di Instagram-mu, dia itu terkenal juga di sekolah kakak".
Aku tidak ingin kehilangan perasaan bahwa aku spesial. Jadi tanpa sadar aku menjawab "ya"
"Wah ini baru adikku" dia tampak senyum bangga padaku "jadi kamu udah melakukan apa aja sama dia?, Badannya bagus nggak?" Pertanyaannya selanjutnya
Aku berbohong padanya. Pernah juga di suatu pagi sekitar jam sembilan pagi aku sedang berjalan melewati belakang gedung paling depan di sekolah yang mendapat banyak sinar matahari, aku menemukan seorang siswa cowok sedang menembak Tiara untuk mengajaknya menjadi pacar.
"Tiara! Aku mohon jadilah pacarku, aku akan memperlakukan mu dengan baik" dia mengatakan langsung di depan Tiara saat hendak berpapasan
Tiara tidak suka jika ada yang mengungkapkan perasaannya seperti itu. Dasar bodoh. Meskipun dia ganteng, dia sangat bodoh. Aku tidak seperti dia. Aku lalu berjalan mendekat dan berdiri disebelah Tiara "permisi, Tiara di panggil guru ke ruang guru secepatnya, dia akan kesana bersama ku" tanganku langsung merangkul pundak Tiara. Aku satu-satunya orang yang mengerti kamu, ucapku di dalam hati.
"Maaf, kenapa ya?" Dia memandang tanganku yang berada di pundaknya
__ADS_1
"Sudah ayo cepat" aku langsung mengajaknya meninggalkan tempat itu, tidak jauh setelah kami meninggalkan cowok bodoh itu ia langsung melepaskan rangkulanku dan berjalan menjauh. Dia memang bukan perempuan yang gampang, namun itulah kelebihannya.