Bebek Jelek Diantara Angsa

Bebek Jelek Diantara Angsa
bab 3


__ADS_3

Aku pernah membayangkan bagaimana rasanya bisa berteman dengan idola favoritku


"Angga" Sapaku saat dia memang sudah di depanku dengan canggung, "kamu tau ngga? Tiap aku melihatmu, aku menyadari sesuatu"


"Apa?"


"Kamu itu sempurna" mmmmm aku malu pada kata-kata ku sendiri


Tasya dan Siti yang melihat kejadian itu hanya memandang dengan ekspresi menahan mual


"Ah benarkah?, Terimakasih Putri" Jawab Angga


"Sumpah gue pengen muntah" Tasya sudah tidak tahan untuk menahan membuka mulutnya


"Kata-kata itu keluar dari hatinya Tas" Siti menengahi, "tapi siapa tadi nama cowok itu?" Tanya Siti.


Author POV


Dengan jarak yang agak jauh, dua cewek yang dikelas duduk di depan Putri sedang berjalan menuruni tangga lalu si rambut panjang dan berponi melihat interaksi Putri dan Angga


"Lin liat!" Si rambut panjang menyuruh Aulin cewek yang rambutnya di ikat untuk melihat apa yang ia lihat juga


"Ah! Angga?!" Aulin terkejut sekaligus senang bisa melihat idolanya ada di dekat kelas mereka


"Tapi dia lagi sama Putri" Sindi si rambut panjang berujar sinis


Author POV end.


Di kelas sedang duduk di kursi masing-masing


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Aulin. aku hanya menoleh sebentar, "aku iri kamu bisa ngobrol dan bercanda sama idola favoritkmu" katanya


"Tapi emang ini boleh ya?" Sindi dengan rolling poni yang masih terpasang di jidatnya bersuara "penggemar kan enggak boleh terlalu dekat sama idolanya, ini enggak adil buat yang lain" dia menambahkan


"Emang iya ya?" Tanyaku bingung


Tiara tiba-tiba masuk ke kelasku membawa bingkisan kecil, "ini buat kamu" ia meletakkan bingkisan itu di meja ku


"Ini apa?" Tanyaku

__ADS_1


Sindi nampaknya terkesiap melihat Tiara datang ke kelas


"Waaaaaaah, ini coklat itu, kan?" Aku melihat isi bingkisan itu dan membuka nya. "aku pengen banget beli ini tapi belum kesampaian"


"Kamu pikir aku enggak tahu kamu ngomongin ini terus di Instagram?" Ujar Tiara dengan bangga


Sindi melepas gulungan poni dan merapikannya. "Hai Tiara" "kamu ingat aku?"


"mmm siapa ya?"


"Kita satu sekolah saat SMP" "Kita juga sekelas tiga tahun berturut-turut" Sindi berujar dengan semangat, aku tidak tahu apakah dia mengarang atau itu memang benar


"Sorry, aku enggak inget". "Putri sampai ketemu nanti, Tasya dan si rambut kepang enggak bisa ikut" Tiara langsung balik badan dan meninggalkan kelasku


"Put, aku boleh ikut makan siang dengan mu?" Sindi bertanya, "aku juga mau berteman dengan Tiara Azahra, Sedih banget kita kan enggak pernah makan siang bareng Put" Sindi memohon


"Eh tapi....


"Boleh?, aaaaaaa terimakasih Putri" Sindi berbahagia riang sedangkan aku masih bingung


"Mmmm Aku enggak ikut ya" Aulin berbunyi.


"Tiara, jam tanganmu asli ya?" Sindi bertanya, lalu makanan kami datang dan Tiara memilih menyambut makanannya. "Kalo lipstik itu kamu pake warna apa Tiara?" Tanya Sindi lagi "warnanya bagus banget, itu mereknya apa ya? Apakah mahal?", Tiara hanya menghembuskan nafasnya berat. "kamu bisa beli barang bermerek terus ya?", "Orang tuamu kaya ya?", "Atau itu papamu yang beliin?"


"Em Sindi!" Panggilku


"Bisa stop ngomong?, Kamu itu sudah jelek ditambah berisik banget lagi"


Tiara menekankan kata 'banget' karena memang ia sangat tidak senang pada kehadiran Sindi di sini


"Tiara, bisa bicara lebih........


"Apa?" Tiara menatapku dengan heran, "Putri kamu belain dia?"


"Hah? bu bukan" aku bingung sendiri "apa sih maksudmu?"


"Oke, kamu makan aja sama temanmu ini" Tiara pergi meninggalkanku dengan Sindi beserta kondisi tidak enak ini


"Emangnya apa salah ku?" Sindi memasang wajah bingung.

__ADS_1


"Apa Tiara marah? Hahhaahaaaaaaaa!" tawa Tasya membahana memenuhi seisi toilet, dan aku hanya memasang wajah tidak percaya. "Wahhh lucu banget, berarti persahabatan kalian itu luar biasa ya"


"Ini enggak lucu ya" aku sedikit kesal pada Tasya. "Bentar itu apa ya?" Dia berbicara sambil memakai alat untuk rambut dan terus berkaca di toilet


"Ini catokan nirkabel, liat rambut aku rapikan? Hmm" "catokan ini emang keren sih" ujarnya bangga, dan aku hanya menggelengkan kepala lalu menuju wastafel dekat kaca yang di sana sudah ada dua anak perempuan yang sedang berkaca, namun salah satu di antara mereka malah terus bergerak saat aku hendak mendapat tempat mencuci tangan


"Woi, Lo cacingan ya?" Teriak Tasya, "jangan ngalangin Putri mau cuci tangan!"


Aku terkejut "udah tas" sambil memegang pundaknya


"Apasih?" Mereka bersuara


"Lo diem aja put" Tasya menyilangkan tangannya "ini tempat umum, kalian enggak berhak sok sendiri" Tasya dengan mode wajah kencangnya


"Apa sih?, Yuk pergi" ujar mereka meninggalkan kami "iya ?sombong banget"


"Tas kamu ngapain sih?, Mereka itu temen sekelas aku" aku panik


"Udah nih ambil" ia menyerahkan catokan portabel nya dan mengeluarkan permen lalu mengemutnya "udah enggak papa, yang penting aku menang dari penindas itu, lagian kamu bisa main sama aku aja dari pada sama temen sekelas kamu yang kurang obat cacing itu" dia berbunyi dengan santai "ada banyak orang yang mau berteman dengan kamu put"


"Ya beda, kamu enak punya banyak temen, lah aku, aku harus usaha dulu biar punya temen Tas" gerutuku


"Liat? Lidah aku jadi biru put, aku akan jadi zombie" Tasya akting panik dengan wajahnya


"Mana ada zombie lidah biru".


Aku terburu-buru masuk ke ruang laboratorium karena bel ternyata sudah berbunyi dari tadi


"Guys kok kalian tadi duluan?" Tanyaku pada Sindi dan Aulin


"Lin liat barang yang kamu incer lagi diskon di Tokped" Sindi mengalihkan perhatian Aulin, dua cewek yang ada di toilet tadi datang. "Guys abis ini ngopi yuk di cafe depan" Sindi menawari mereka


"Yuk", "minggir dong jangan ngalangin jalan" salah satu dari mereka mendorongku dan duduk di meja Aulin dan Sindi. "Dia pikir dia Tasya apa?" Sindi ikut tertawa bersama mereka.


Hatiku rasanya hancur berkeping-keping, hal yang aku paling hindari dan antisipasi saat akan masuk SMA malah benar-benar terjadi dan terjadi secepat ini saat minggu-minggu pertama menjalani aktivitas sekolah


"Put! Putriiii!" Dika memanggilku, "kamu belum dapat kelompok? Di sini saja"


"Kamue belum dapat kelompok, di sini saja, sok baik" salah satu dari cewek itu menirukan kata-kata Dika dengan nada mencibir

__ADS_1


"Kamu enggak papa?" Tanya Dika pada ku dan ku jawab dengan anggukan saja.


__ADS_2