
"Ya aku mengerti, tolong jaga Tasya ya, dia itu memang agak tidak malu-malu orangnya ahahhaha, dia itu terang-terangan orangnya" Angga dan Tiara mengobrol di lorong sekolah
"Dia baik-baik aja kok selama sama kami, ya tapi bagituah.." jawab Tiara
Tidak jauh dari situ Aku dan beberapa teman sedang berjalan dan salah satu dari temanku menyadari di depan mereka ada Angga dan Tiara
"Eh Dika, itu Angga Ramadhan sama Tiara Azahra" aku menoleh
"Mereka seperti tokoh di film, Tiara sangat cantik. Apakah dia akan jadi artis juga seperti Angga?" Salah satu temanku bersuara. "Dik, kamu kan temannya Tiara apa kamu nggak masalah?"
Seiring berjalannya waktu, tanpa sadar. Aku berjalan mendekati mereka
"Ya tapi dia itu agak susah di bilangin" ucap Angga
"Enggak kok, dia itu..." Ucapan Tiara berhenti saat melihat aku mendekat. Aku berdiri di samping Tiara dan memandang Angga lekat
"Kamu sedang apa?, Apa yang kalian bicarakan?" Tanyaku tanpa sadar berbunyi dengan berani menatap Angga sang Aktor idola sekolah
Angga yang di tatap pun hanya menjawab "sedang membicarakan kabar" dengan santai namun sedikit bingung pada sikapku, "Apa aku membuat kesalahan?" Tiara menaikan bahunya tanda ia juga tidak tahu
Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Malam itu aku mengiriminya pesan saat aku sedang duduk di bangku taman dekat sekolah 'Tiara Azahra kamu sedang apa?'
'mau pergi ke bioskop?'
'kamu udah tidur?'
__ADS_1
Kamu tidak membalas pesan
Kamu mulai menjaga jarak denganku. Mungkin kamu sudah menyadari perasaanku padamu, monolog ku di dalam hati
"Dikaaa!" Putri memanggilku, aku menoleh dan tersenyum kepadanya tentu saja. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan Putri agar tetap dekat denganmu. "Lihat ini!, Sudah tidak ada komentar jahat. Sangat melegakan bukan?" Putri tersenyum ke arahku
"Kamu sudah sangat berusaha untuk membantu teman" jawabku sambil memegang tangannya
"Ah iya, kenapa kamu menungguku sampai malam begini?"
"Oh, bukan apa-apa, tapi......." Aku sedikit bingung namun segera menatap wajah Putri dan langsung mengatakan "maukah kamu menjadi pacarku?". Aku tidak ingin kehilangan statusku.
Setiap aku berkencan dengan Putri, aku bisa bertemu denganmu. Seperti malam itu aku memandang wajahmu lama saat kamu muncul di bioskop tempat aku dan Putri berkencan. Namun aku juga mendengar apa yang kamu katakan "eh Andika Putra tolong dengar ini, Aku akan sangat marah jika kamu melakukan hal yang aku pikirkan"
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanyaku
Tapi sekeras apapun aku berusaha, sepertinya hanya ada Putri di dalam duniamu.
Prak! Reihan membuka pintu dapur "Eh kamu bohong ya padaku!, Aku sangat malu. Aku dengar kamu berpacaran dengan orang lain" Aku terkejut dengan kedatangannya "aku bilang dengan bangga pada teman-temanku bahwa kamu berpacaran dengan Tiara Azahra" dia menarik nafas pendek lalu "Dasar Pecundang!, Hiduplah di dunia hayalmu saja selamanya!" Dia memutar badan lalu keluar dari dapur.
Jika aku berpacaran dengan Tiara Azahra, aku tidak akan diperlakukan seperti ini. Tidak akan ada yang mengabaikanku , Aku meremas handphone yang ku pegang dengan keras.
Saat di acara tujuh belasan sekolah aku hanya fokus pada Instagram Tiara dan saat aku menoleh kelapangan ternyata ada Tiara yang akan mengikuti lomba, sontak aku bersemangat "Itu dia Tiara!" Ucapku. Bruk! "Tiaraaaa!" Aku refleks berdiri saat melihat tim Tiara terjatuh dari lomba Enggrang. Aku memutuskan untuk tidak menyembunyikan perasaanku lagi.
Di taman dekat sekolah, saat semua lomba sudah selesai, di malam hari yang cerah, aku memutuskan untuk berbicara pada Tiara, "aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi" aku menatap matanya "aku hanya harus menyingkirkan Putri dari Kita"
__ADS_1
"Omong kosong apa ini?, Kamu sudah gila?" Jawabnya "aku tidak akan bicara padamu jika kamu bukan teman Putri!" Dia hendak melangkah pergi namun aku segera menahan memegang tangannya
"Aku pikir kamu menyukaiku" ucapku, namun setelah itu aku sudah tidak bisa menahan diri lagi "KU PIKIR KITA PUNYA SESUATU YANG SPESIAL!!!!!" ucapku lantang dan bernada tinggi
"Lepasin!" Tiara menghempaskan pegangan tanganku, saat dia hendak melangkah ia tertahan lagi namun kali ini bukan karena aku tapi karena ada Putri yang berdiri didepannya dengan polosnya menyaksikan kami, cukup lama gadis standar itu diam hingga aku berteriak
"HEY PUTRI!!, Mana ada orang di bumi ini yang memilih memacarimu bukan nya Tiara!" Tiara menoleh ke arahku nanar "kamu tau itu kan!. Orang jelek dan membosankan berpacaran itu hanya omong kosong!"
PLAK! Tiara menamparku, aku kembali menatapnya "dari tadi kamu mengabaikanku. Sekarang kamu melihat mataku setelah aku membicarakan Putri"
"Kamu gila" mata Tiara berkaca-kaca, dia melangkah pergi dan memegang tangan Putri "Putri ayo pergi" namun Putri masih menatapku "Ayo!" Dia menarik tangan Putri lebih keras hingga akhirnya mereka pergi.
Andika POV end.
Putri POV start
Aku pikir Dika adalah satu-satunya orang yang mengerti aku dan mencintaiku. Tapi sekarang ternyata semua itu karena Tiara.
"Putri ayo pergi" Aku tidak sadar Tiara sudah memegang tanganku untuk menarik ku pergi saat aku masih tidak percaya menatap Dika yang berubah begitu berbeda dari Dika yang selama ini ada di pikiranku "ayo!" Tiara menarikku lebih kencang dan kami meninggalkan Dika yang diam di tempatnya.
Kami duduk di salah satu halte bus yang berada di pinggir jalan. "Jangan pergi ke manapun sendirian, aku akan menemanimu" ujar Tiara padaku sedangkan aku masih tidak bergeming "maaf karena kamu harus mengalami ini" ucapnya lagi, tidak lama ia membuka tasnya dan mengeluarkan satu kotak coklat "Tetaplah bersamaku, kita makan makanan yang kamu suka..."
"Aku tidak suka yang seperti ini" ucapku memotong Tiara "saat SMP aku seperti itu, tapi sekarang tidak" aku menatap Tiara dengan mata sembab "Tiara, Seperti saat kita SMP, aku yang lebih jelek darimu, aku yang selalu memperhatikanmu, dan aku yang selalu ada di bawahmu. Aku bukan Putri yang seperti itu lagi"
"Aku tidak pernah menganggap mu seperti itu"
__ADS_1
"Tidak pernah sekali pun?" Tanyaku cepat dan tegas "kamu membuang ku saat kita masih SMP, kamu tidak mengatakan apa pun tentang itu. Sejujurnya, masalah Andika ini aku tidak marah. Bagiku, ini menyedihkan karena aku terlalu berharap pada orang sepertinya atau bahkan padamu" aku menangis tersedu-sedu menatap Tiara, baru kali ini aku berani mencurahkan semuanya di depan Tiara langsung setelah selama ini hanya mengganjal di hatiku. Rasa cemburuku pada Tiara, karena kami terlalu dekat. "Sekarang kita berhenti sampai di sini saja"