Bebek Jelek Diantara Angsa

Bebek Jelek Diantara Angsa
bab 20


__ADS_3

Rasa cemburuku muncul karena kita terlalu dekat. "Kita berhenti sampai di sini saja. Kamu mungkin menganggapku egois, tapi sebenarnya kamu sendirilah yang selalu egois terhadapku. Hanya kali ini, biarkan aku menjadi egois. Aku tidak bisa melakukan ini lagi." Aku beranjak dan pergi.


POV Putri end.


Tiara memandang punggung Putri semakin menjauh dan menangis pilu.


(Chat grup WA dunia remaja, usia 17 tahun)


Putri keluar.


"?" -Tasya.


Epilog - 1 tahun yang lalu, waktu SMP


Putri berjalan dengan jaket abu-abu menutupi seragam putih-biru SMP-nya, dengan poni dan kacamata menghiasi wajah Putri remaja. Dia berjalan menuju kelas Tiara. Ternyata Tiara juga sedang berjalan bersama temannya ke arah yang berlawanan. Mereka bertemu. "Tiara!" panggil Putri. Orang yang dipanggil itu berhenti berjalan dan menatap Putri dengan tatapan menunggu. "Aku dengar kamu mengadakan pesta ulang tahun kemarin. Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Dengan tangan yang terlipat di depan, Tiara hanya diam lalu melanjutkan jalannya. "Tiara!" panggil Putri lagi dan Tiara beserta temannya kembali berhenti lalu menoleh ke belakang.


"Siapa dia? Kamu kenal?" tanya teman Tiara.


"Tidak, aku tidak mengenalnya," jawab Tiara lalu kembali menoleh ke depan dan mereka meninggalkan Putri sendirian yang menatap ke arah Tiara dari belakang.


Epilog end.


Dua pesan masuk, masing-masing dari Tasya dan Siti: "Kamu sedang apa, Putri?" -Tasya. "Putri, apa kabar? Kamu baik-baik saja?" -Siti.


"Aku tidak memiliki pilihan lain selain lari dari kalian," jawab Putri, tapi dia tidak mengetikkannya.


Di jam sekolah, dua siswi sedang berbicara.


"Eh, sudahkah kamu mendengarnya?"


"Mendengar apa?" tanya temannya.


"Tiara dan Putri merenggang."


"Aku mendengar itu karena Andika."


"Bayangkan, Tiara merayu Andika. Iiiiihhhh," mereka merasa jijik.


"Andika seperti menemukan durian runtuh, hahahha."


"Aku tahu itu, siapa yang bisa menahan pesona Tiara hahahaha," mereka tertawa terbahak-bahak.


"Bayangkan dia seperti seorang putri, hahahha."


Di tempat lain, di dekat lapangan sekolah, anak-anak laki-laki sedang duduk-duduk.


"Hei, sudahkah kamu mendengarnya? Putri marah dan mereka putus."


"Kasihan kalau berada di posisi Putri."


"Sejujurnya, aku juga akan melakukannya."

__ADS_1


"Ya, memang orang berbeda-beda, hahhaha."


"Tapi memang cewek-cewek sekarang cukup menakutkan hahhaha."


"Sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi saat berada di posisi itu, dan ini Tiara Azahra ahahhahaha," tawa mereka meriah.


Di kantin sekolah, Sindy, Aulin, dan beberapa teman sekelas sedang makan bersama di satu meja.


"Pada akhirnya, Tiara meninggalkan Putri," buka Sindy pembicaraan. "Oh ya, Dika pindah ke sekolah lain, jadi aku ditunjuk menjadi ketua kelas sekarang," tambahnya lagi.


"Eh?" Aulin heran pada Sindy.


"Kenapa?" tanya Sindy. "Tapi saat dia bergaul dengan anak-anak pintar, sebelum itu aku dan Aulin memilihnya bergabung dengan kelompok kami."


"Tapi sekarang dia tidak punya teman," kata Aulin sedih.


"Sejujurnya, aku juga tidak menyukai Putri," ikut bicara Tari. "Dia seperti 'aku bergaul dengan anak-anak cantik setiap hari'," ungkapnya dengan merendahkan.


"Aku tahu, maksudku apakah dia selevel dengan mereka. Aku tahu itu sulit," ujar Sindy. Aulin melihat Sindy dengan mata membesar.


"Semakin aku memperhatikannya, semakin aku merasa karakternya menjengkelkan," tambah Tari.


"Itu benar!" ujar Sindy sambil menunjuk dengan garpu.


Saat jam olahraga, siswa-siswi sudah berganti baju dan berkumpul di samping lapangan, sementara Putri berlari menuju kelompok Sindy. "Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa jadwal olahraganya sudah diubah?" tanya Putri sambil menarik napas. "Aku sudah mencari kamu sejak tadi."


"Kamu kan sudah kuundang di grup chat kelas?" jawab Sindy dengan tersenyum lebar.


"Bukankah aku sudah mengundang semua orang di kelas?" Sindy menunjukan senyum miring. Beberapa gadis di belakang Sindy tertawa.


"Sindy, Aulin, ayo kita kesana," ajak Tari.


"Yuk-yuk," kata Sindy dan yang lain beranjak pergi. Sementara Putri ditinggal sendirian.


POV Putri mulai.


Setelah tali pengaman temanku hilang, banyak hal yang harus kutanggung. Intimidasi kekanak-kanakan dimulai tanpa alasan.


"Tapi Sindy, itu sangat lucu."


"Ini kutulis untuk di bawa ke sekolah. Hemat daya, tinggal di-charge dan lepaskan," jawab Sindy.


"Wah itu keren, rambutmu tampak lebih bervolume sekarang," kata Tari girang memperhatikan catokan portabel Sindy.


Aku duduk sendirian sekarang karena menghindari kantin, jadi aku berencana mengajak Aulin makan bersama. "Aulin, mau makan bersama denganku?" tanyaku padanya.


Teman di sebelahnya menoleh. "Maaf, kami sudah kenyang," jawabnya.


"Oh," kataku sambil mengangguk-angguk kecil.


"Putri!" Sindy yang pindah tempat duduk memanggilku. "Kamu baik-baik saja, tapi kalau kamu mengajakku makan, aku bisa menghabiskan bekalmu sendirian, jadi makanlah sendiri ya. Selamat makan," ujarnya sambil tertawa di akhir kalimatnya.

__ADS_1


Namun, aku mencoba bertahan. Di lorong sekolah, aku berusaha mengajak Aulin berbicara. "Aulin, jika aku melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang salah, bisakah kamu memberitahuku?" tanyaku padanya.


"Hmm itu..." dia terlihat ragu.


"Hei Aulin! Ayo, kita makan bareng!" Sindy datang dengan teman-temannya.


"Ngapain kamu ngobrol sama Putri?" Tari menatap Aulin.


"Aku akan bicara nanti ya, maaf." Aulin langsung beranjak pergi dan diikuti oleh yang lainnya.


Hari sudah malam dan aku masih berpikir. Karena aku yang memilih, aku harus menghadapinya meski hatiku sangat sakit. Tiba-tiba chat dari Aulin masuk.


"Putri, kenapa kamu berpisah dengan Tiara? Ceritakan saja." -Aulin


Tetapi aku senang aku masih memiliki teman yang ada di sisiku di kelas, aku membalas.


"Jadi, ini karena Dika."


"Dika berpacaran denganku untuk mendekati Tiara."


"Tolong rahasiakan ini ya." -Putri


"Jadi begitu."


"Itu lucu sekali hahahaha." -Aulin


"Apa?" -Putri


Aulin tertawa? Kenapa dia tertawa? Apa yang dia tertawakan? Apakah ini lucu?


"Aku sebenarnya Sindy."


"Aku memang hebat kan? Hahahaha."


"Aku akan memasukkanmu ke dalam grup baru kelas seperti keinginanmu." -Aulin


(Grup baru kelas kita)


"Teman-teman, lihat ini." -Sindy


Sindy mengirim screenshot obrolan aku dan Aulin yang disadapnya.


"Dika ternyata menggunakan Putri agar bisa menemui Tiara." -Sindy


"Wah, akting Dika bagus juga hahahaha sampai mereka tidak tahu, aku harus belajar darinya." -Tari


"Ini sudah seperti drama hahahaha." -yang lainnya


"Apakah aku juga bisa menggunakan teknik ini?" -yang lainnya


"Tidak, belum tentu korbanmu bodoh dan bisa tertipu denganmu." -yang lainnya

__ADS_1


Seperti salah satu pegangan pada tanganku terlepas, seperti udara di sekeliling berubah menjadi gas beracun, lalu aku kesulitan bernafas. Kenapa hal ini bisa terjadi padaku? Lagi? Tanganku basah dan bergetar, hpku jatuh menimpa kaki. Aku berusaha memeluk kakiku dengan pandangan yang buram.


__ADS_2