
(Hari Valentine)
"Bisa tolong panggilin Siti Rahma?"
"Aku titip ini tolong berikan pada Siti Rahma!"
"eh tolong kasiin ke Siti Rahma ya!"
"bilang dari Gilang kelas 3!"
"Siti Rahma aku cowok yang tepat untuk mu!".
Brak! "Udah kayak pesuruh aja aku" Yuni meletakan sekotak coklat di meja Siti yang sudah penuh dengan hadiah-hadiah dari anak-anak cowok
"Maaf" hanya itu respon masuk akal bagi Siti
"Eh Yun, kak Nando ngasih kamu apa?" Aulin bertanya dengan antusias
"Mmmmm dia bilang akan ngasih hadiah pas pulang sekolah, dia kan anter jemput aku setiap hari" jawab Yuni dengan bangga
"iiih bikin iri aja kalian" Aulin
Dritttt dritttt ada pesan di hp Siti, dia membukannya
'Siti kenapa nggak balas pesanku? Kalau kamu sakit cepat sembuhya'
Siti bingung harus bagaimana mengatakan ini pada Yuni "mmm Yuni, Pacarmu sering ngirim SMS ke aku" ia harus mengatakan ini pada Yuni
"Apa?" Yuni hanya membesarkan bola matanya
"Dia bilang apa?" Aulin penasaran
"Enggak ada kok", "lagian Lin tadi pak guru olahraga manggil kamu sebelum aku masuk ke kelas, dia pesen minta kamu nemuin dia sebelum pelajaran di mulai" Yuni berucap
"Eh beneran?" Aulin segera beranjak pergi
"iya, cepetan!, udah cukup lama juga tadi"
Yuni menoleh ke Siti dan bertanya "kamu ngasih nomor ke dia?"
"Enggak, aku enggak tau dia dapat nomorku dari mana, tapi dia terus ngirim SMS, aku kira itu orang salah kirim tapi ternyata itu memang dia"
__ADS_1
Yuni mengambil hp Siti "mungkin karena akhir-akhir ini kami sering bertengkar" "tolong lain kali jangan di ladeni, oke?". Siti mengangguk dan Yuni menghapus semua pesan yang dikirim Nando ke nomor Siti dan juga memblokir nomor Nando yang ada di hp Siti.
Sepulang kelas sore Siti berjalan kaki menuju rumahnya namun saat baru memasuki lorong yang ada di dekat sekolah ia malah bertemu Nando yang bersandar menunggu seseorang dengan boneka besar di pelukannya.
"Hai Siti, kamu memblokir nomor ku?"
"Kok kamu tau?" Siti mundur sedikit saat Nando berjalan ke arahnya
"Ini berat banget, nih pegang buat kamu" ia menyodorkan boneka beruang yang memegang hati merah muda, "sekarang kamu mau nggak jadi pacarku?"
"Mmmm maaf kak nggak bisa, kamu pacarnya Yuni"
"Haa, di bilang gitu? Kami pacaran?" "yang bener aja, dia emang bener-bener suka ngayal" "kami nggak pacaran kok!"
"Tapi kak meskipun begitu aku tetap nggak bisa jadi pacar kakak, aku minta maaf"
"Apa kamu bilang? Kamu mainin aku Siti?" "Aku yang nolak kamu!" Dia berbalik badan dan langsung menelpon seseorang "eh Lo udah gila?" Terdengar sayup lalu menghilang.
Siti POV
Aku pikir semua sudah berakhir, ternyata besoknya situasi menjadi lebih tidak enak
Pagi-pagi di meja Yuni sudah ramai orang-orang mengerubunginya terdengar suara Yuni menangis
Aku baru saja datang dan melangkah masuk ke kelas, saat aku sudah masuk semua orang menoleh ke arahku dan menatapku, Aulin melangkah mendekat
"Eh Siti, kamu kenapa tega sih ngelakuin ini ke Yuni?" "Kamu pacaran sama kak Nando di belakang Yuni?", "Sekarang mereka jadi putus!"
"Nggg aku menolak kak Nando kok!" aku bersuara
Yuni bangkit dari mejanya dan berjalan bergegeas hingga dengan sengaja menabrak pundaku dengan cukup keras, aku menoleh ke arahnya dan mengejarnya
"Yuni!" aku memanggilnya, dia berhenti di lapangan belakang yang sepi
"Kak Nando bilang jangan temui dia lagi, ini semua gara-gara kamu!" "Karena kamu dengan sengaja senyum ke arah dia"
"Aku nggak gitu Yun!" "Aku nggak angkat telponnya", "aku juga nolak jadi pacarnya". lalu aku bertanya "Tapi apa bener kamu pacaran sama dia?" Tanyaku karena semalam kak Nando bilang mereka tidak pacaran
Dengan suara serak karena tangisan Yuni berteriak "Seharusnya aku udah pacaran sama dia kalo kamu nggak ganggu!" Yuni diam sebentar lalu menunjuk Siti "Eh Siti dengar, kamu itu lucu banget, kamu nggak inget?, Aku duluan nyamperin kamu, waktu kamu nggak punya temen dulu!" "Tapi apa? Begini balesan kamu sama aku?" Siti hanya diam mematung menghadap Yuni
"Oke, bilang sama semua orang kalo aku bohong, tapi apa mereka akan percaya?, Anak-anak yang yampein hadiah kamu, semua ngatain kamu di belakang kamu!". "Pergi! dan minta tolong aja sama anak-anak cowok itu!, Kamu kan cantik?!" Yuni pergi meninggalkan Siti sendirian di lapangan
__ADS_1
Flashback & Siti POV end.
"Setelah itu, gosip aku merebut pacar temen sendiri terus di bicarakan di mana-mana"
"Anak-anak cewek menghindar dari aku"
"Itulah yang terjadi" Siti menyelesaikan ceritanya
"Aaaa sayangkuuuuuuu" Tasya memeluk Siti. "Ngeselin banget!"
"Aku harap cuma kalian aja yang tau masalah ini" ucap Siti lagi "karena kalian teman-teman pertamaku"
"Ngaaaaaaaaa, aku malu kalo nangis begini" Tasya mengusap air di matanya "Put tolong deketin Tisu itu"
"Siti Rahma" Tiara berucap pelan "Aku sekarang ngerti, tapi apa kamu tahu kami juga dirugikan dengan adanya gosip itu" Tiara berucap dengan tanganya yang disilang di dada
"Tiaraaaa!" Tasya berteriak pada Tiara
"Kalau kamu masih mau main sama kami, selesaikan dulu masalah ini" Tiara masih melanjutkan dengan tenang "aku duluan" Tiara pergi meninggalkan mereka
Putri hanya memasang wajah cemas dan Tasya mengelus lengan Siti untuk menenangkannya.
"Aaaah, meski aku coba jelaskan pada orang-orang tapi Yuni Sari itu punya reputasi yang bagus di mata orang-orang" Putri bercerita pada Dika pagi ini di kelas mereka. "Aku harus gimana ya kira-kira?" Putri memandang ke arah Dika
"Sejujurnya aku mengerti perasaan Yuni, aku juga iri jika ada yang lebih hebat dariku" Dika menjawab dengan jujur, "itu hal yang alami terjadi pada anak-anak biasa seperti kita ini put"
"Tapi, seharusnya nggak merugikan orang lain dong"
"Bener juga" Dika memikirkan lagi jawabannya. "Kamu mau terus ngalihin topik?"
Putri terkejut dan menoleh
"Aku belum denger jawaban kamu put"
"A apaaa sih? Jawaban apa!", "Kamu lagi becanda?"
"Aku nggak becanda put, aku serius" Dika meyakinkan. "Kamu nggak liat ini?" Dika membuat love sign dengan tangannya. Ia memang konyol
"Nggak, aku nggak liat apa-apa" Putri menutup matanya
"Buka dulu matamu" "nih cepet liat! liat!"
__ADS_1
"Nggak, aku nggak liat apa-apa"
Sreekkk Sindy membuka pintu kelas dengan cukup kasar "ey semuanya, Siti Rahma dan Yuni Sari bertengkar di koridor depan!"