Bebek Jelek Diantara Angsa

Bebek Jelek Diantara Angsa
bab 4


__ADS_3

Aku memutuskan untuk curhat masalah Tiara yang marah dan juga masalah aku yang di jauhi oleh teman-teman sekelas pada Siti dan Tasya pagi ini sambil membawa satu box es krim ukuran sedang karena mungkin es krim itu akan memperbaiki mood ku


"Put put" Siti menyentuh pundaku, "aku boleh minta satu suap nggak?"


"Yelah kayak sama siapa aja Sit" jawabku lesu


"Karena ini adalah punya kamu jadi aku hanya akan makan bagian yang menempel di tutupnya aja kok" Siti berkata pelan dan jelas


Aku hanya mengangkat alis dan mengangguk seperti bicara 'yah terserah kamu aja deh Sit'


Klup! tutup box es krim itu terbuka dan saat Siti angkat hampir satu pertiga dari keseluruhan isi es krim itu menempel di tutupnya, yah itu mungkin sudah rejeki Siti, aku dan Tasya hanya tersenyum geli melihatnya.


"Eh, Put kamu jangan pedulikan orang-orang itu, dunia ini luas dan ada banyak orang-orang menarik di dalamnya, kehilangan segelintir teman-teman pembuli itu malah bagus" Tasya menceramahi ku sambil tiba-tiba membuat Vidio yang menyapa fansya di story Instagram "hai! Selamat pagi teman-teman, semangat terus ya hari ini"


"Lagian Put ini pertama kali aku punya teman, jadi kalo aku bertengkar dengan kalian aku pasti akan sangat sedih, nghaaaa haaaa" Siti menekan-nekan sendok es krim dengan keras tanda dia memang sedih jika suatu saat bertengkar dengan kami


"Sudah jangan nangis, cup cup cup, es krim nya enak?" Tanya Tasya


Siti mengangguk-ngangguk dengan wajah yang masih dibuat sedih


"Hemmmmmm harusnya aku enggak cerita sama kalian sih emang" pasrah ku karena meras tidak terbantu dengan jawaban Tasya dan Siti, mereka malah bertingkah aneh


Tiba-tiba Angga datang dan duduk di samping Tasya, aku tidak mempersiapkan diri untuk ini


"Tasya, Putri tidak bernafas lagi" Siti mengecek apakah ada udara yang keluar masuk di hidungku


"Waktu akan berlalu dan kalian akan tetap baik baik saja" dengan wajah manis, rahang tegas, kulit bersihnya tampak bersinar dengan sweater hitamnya, ah Angga kamu memang terbaik. "Tidak ada orang yang berteman dan bertahan lama karena gosip dan membuli orang" Tasya memperhatikan dengan seksama, "dan seorang Tiara Azahra enggak mungkin sih membiarkan ini, apalagi kalian sudah berteman lama" dia mengakhiri kalimatnya dan kami bertiga masih terpaku padanya, lebih tepatnya aku masih terpaku padanya ia seperti tidak nyata. "Boleh aku minta es krim nya"


"Aaa ya silahkan" aku langsung mengambil es krim yang tadi di depan Siti untuk menyodorkan ke Angga.


Setelah itu kami sama-sama menuju kelas masing-masing, aku juga tidak ingin tertinggal lagi seperti kemarin.


"Wahhh semuanya barang mahal"


"Dompetmu juga bagus"


"Ih pengen"


"Lipstik apa yang sedang kamu pakai?"


"Yang itu?" Tanya Tiara


"Ya yang ini" jawab mereka


"Wahhhh cantik banget" seru yang lain

__ADS_1


Tiara menoleh "kamu terlambat lagi?"


"Putriiiiiiii, kamu enggak bilang kalo berteman sama Tiara Azahra" perempuan yang ada di toilet kemarin jadi ceria kepadaku


"Tiara udah follow aku juga di Instagram" sambung temannya yang satu lagi, "dia juga nyaranin warna lipstik untuk aku"


"Pulang sekolah kami akan beli sama-sama, kamu mau ikut?"


Ujar mereka


"Tapi tadi kalian bilang kita akan makan Bakso Aci pedes bareng aku?" Sindi yang duduk di depan Tiara bertanya dengan bingung


"Kapan aku ngomong gitu?"


"Emang aku ngomong gitu ya?" Ujar salah satu dari dua perempuan itu, Sindi nampak terkejut


"Aku ingat sekarang, kamu Sindi Mareta kan?" Tiara bersuara


"Kamu inget nama aku?" Sindi tersenyum senang mendengar itu dari Tiara


"Aku inget, kamu yang nyukur alis dan gambar alis pake pensil alis trus dengan pede kesekolah lalu di ketawain semua orang itu kan?", "Saat itu aku baru pertamakali liat orang cukur alis trus ternyata belum bisa ngalis"


"Waaaaaa?" "Haaahahahahha" "beneran kamu cukur alis pas SMP?" "Wahhh berani banget" "langsung di bawa kesekolah lagi hahahaha" dua perempuan itu tertawa di atas ke sakit hatian Sindi


"Ambil" Perintah Tiara,


"Apa?" wajah Sindi sudah merah padam


"Aku bilang ambil" gengsi untuk mengambilnya tapi ia tidak mungkin tidak menuruti perintah Tiara apalagi di sini ada dua anak kelasnya yang terkenal suka menyebarkan gosip, dengan terpaksa ia menunduk dan mengambil lipstik yang jatuh di dekat kaki Tiara itu.


'apa ini cara yang benar dalam menyelesaikan masalah?' Tanya ku di kepala


"Kesian banget" ujar yang lain


"Aku pergi dulu, Putri ketemu lagi makan siang ya" Tiara berangkat dari kursinya


"Dah Tiara, nanti aku upload di IG ah, ahahhahhah"


"Tunggu" Aku menahan lengan Tiara, "aku mau bicara sebentar".


Kami duduk di taman sekolah yang berada tidak jauh dari kelasku, aku masih bingung mau mulai dari mana. "Kalo mau marah mah marah aja cepetan" Tiara tidak tahan aku diam saja


"Tiara"


"Apa?"

__ADS_1


"Terimakasih" dia menoleh bingung, "tapi, kamu enggak perlu melakukan ini karena aku", "gimana kalo mereka jadi benci sama kamu?"


"Aku enggak peduli", "aku cuma perlu kamu", "kamu masih kurang nyaman sama aku?" Tanya Tiara tiba-tiba


Bohon jika aku jawab 'enggak', tapi aku juga tidak ingin merusak hubungan kami yang sudah lebih damai ini


"Enggak kok, yuk kita masuk bentar lagi guru datang" ajakku lalu aku beranjak dan pergi dari sana untuk menuju laboratorium.


Dikelas saat baru datang aku mendengar


"Mau makan boci?"


"Ah enggak"


"Kenapa?", Dua perempuan itu ngobrol di pintu laboratorium


"Hei yuk duduk sama kami" ajak Sindi pada dua perempuan tadi


"Enggak ah" jawab mereka


"Emang kenapa?" Tanya Sindi sedih


Aku masuk dan langsung di tanya oleh mereka, "Putri!" "menurutmu jawaban kelompok kita udah bener belum?"


"Kemarin kan kita yang cari sama-sama" Sindi berkomentar pada kertas yang di tunjukan mereka padaku


"Apaan sih, tukang cukur alis berisik banget" salah satu dari mereka menjawab


'Berapa lama pertemanan karena pengaruh Tiara ini akan bertahan?' Tanyaku didalam hati


"Maaf aku sudah punya kelompok" jawabku pada dua perempuan ini "bisa minggir dikit aku mau lewat"


"Kenapa jadi tiba-tiba begini?" Kesal mereka "apaan sih sok banget" dan mereka pergi ketempat duduk lain


Aku duduk di meja Aulin dan Sindi "boleh nggak aku duduk di sini?"


"Terserah" jawab Sindi


"Jadi gimana Angga?" Tanya Aulin antusias


"Ganteng banget woi, aku sampe lupa nafas" aku dan Aulin tertawa bersama


"Pemeran utama emang gitu sih, Hahahah" Aulin menambahkan


Satu hal yang aku sadari dari kejadian ini bahwa pertemanan itu bisa di mulai saat kedua orang berdiri di tempat yang sama.

__ADS_1


__ADS_2