Belenggu Cinta yang Tak Terhindar

Belenggu Cinta yang Tak Terhindar
naik ojek


__ADS_3

"ai berarti dia orang berpengaruh di sekolah itu dek, Adek tau apa jabatan dia di sekolah adek?" kata Zaky


"dia ketua OSIS kak" jawab Dinda


"oh pantas la, tunggu berarti yang jahatin Adek tadi suka sama dia?" kata Zaky


"iya kak" jawab Dinda


"kalau gitu Adek jangan dekat-dekat sama tu cowok!" perintah kakak


"ok Kak, tapi Adek bingung kak" kata Dinda


"kenapa bingung?" tanya Zaky


"soalnya itu cowok menciptakan kesan tak asing" kata Dinda


"yauda, kalau memang begitu, hanya saja selama Adek masih terbilang baru di sekolah itu, Adek jangan terlalu dekat ya" perintah Zaky


"ok kak" jawab Dinda


"oh iya selain masalah tu cowok, nggak ada cerita yang lain?" tanya Zaky


"oh ada kak, ini berkaitan dengan status Adek sebagai anak biaya siswa" kata Dinda


"oh ya, apa itu dek" tanya Zaky


"adek baru belajar giat kak, soalnya 2 Minggu lagi ada harus ikut olimpiade" kata Dinda


"ha, bukannya Adek baru masuk. kok Uda langsung ikut olimpiade aja" kata Zaky kaget


"ya mau gimana lagi kak, kan Adek anak biaya siswa" jawab Dinda


"Uda pernah kakak bilang, kamu jalur mandiri aja, eh malah daftar jalur biaya siswa" kata Zaky


"kak tolong la, dukung Adek. Jangan buat Adek sedih" kata Dinda dengan wajah sedih


"yauda kamu semangat ya dek" kata Zaky


"ok kak" kata Dinda


tiba-tiba bunda datang menghampiri mereka berdua.


"anak-anak bunda lagi ngomongin apa sih, kayaknya seru banget" tanya Bunda

__ADS_1


"tentang hari pertama Adek di sekolah Bun" jawab Dinda


"oh gitu, tapi Uda malam, Adek besok harus sekolah dan kakak kerja. sekarang istirahat, nanti besok kesiangan" kata Bunda


mereka pun masuk ke dalam dan langsung menuju kamar mereka masing-masing. lain dengan Dinda yang langsung tidur Zaki malah mengerjakan tugasnya yang untuk dipresentasikan besok pagi.


"ai, tugasku banyak banget, uda besok pagi harus presentasi lagi ngasih kabar pun dadakan, mau kutinggal si adek Tapi kasihan terakhir harus begadang nih kayaknya" kata Zaky dalam kamarnya.


keesokan paginya semua berkumpul di meja makan namun tidak dengan Zaki yang masih mengerjakan tugasnya.


"pagi ayah, pagi Bunda. oh iya, Kakak mana ya Bun?" tanya Dinda sambil mencari sang kakak


"Kakak kamu masih di kamar, dia ada project dadakan jadi harus nyiapin bahan" kata ayah


"oh gitu kasihan kakak" kata Dinda


"ya begitulah, adek berangkat bareng ayah aja ya" kata ayah


"nggak usah ayah Adek berangkat naik ojek aja" jawab Dinda


"yang bener, masa Putri ayah mau naik ojek nanti kalau terjadi sesuatu gimana" kata ayah


"ayah jangan ngomong gitu dong doain adik selamat sampai tujuan" kata Bunda


"Bunda percaya sama adek ayah, jadi ya sudah biarkan saja yang penting adek bisa jaga diri baik-baik, toh mungkin sudah saatnya adek mengetahui dunia luar. Tidak harus kita atur-atur terus, kasihan dia di masa depan kalau tidak mengetahui kehidupan dunia luar" jelas Bunda


"yah yang Bunda bilang benar, kalau gitu adek hati-hati ya" kata ayah


"kalau begitu Dinda pergi dulu ya ya ayah Bunda" kata Dinda sambil mencium kedua orang tuanya bergantian.


"tidak terasa sudah besar saja Adek ya Bun" kata ayah


"iya ayah" kata Bunda


Dinda pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya, kini dia diantar oleh tukang ojek sampai ke depan sekolahnya. saat di depan sekolah Dinda bertemu dengan Sinta yang baru saja diantar oleh sopir pribadinya yaitu Mang Ujang.


"Sinta" panggil Dinda sambil berlari menuju mobil Sinta


"eh non Dinda, tadi naik apa ke sini non?" tanya Mang Ujang pada Dinda


"saya naik ojek Mang" jawab indah dengan santai


"apa naik ojek" kata Sinta dengan kagetnya

__ADS_1


"nandini udah mulai pandai bercanda nih" kata Mang Ujang sambil tersenyum


"tidak mang, Sinta, Dinda memang beneran naik ojek" jelas Dinda pada mereka


"Mang Ujang, mulai besok sebelum berangkat kita jemput Dinda di rumahnya" perintah Shinta pada Mang Ujang


"baik non semua siap sedia" jawab Mang Ujang mengiyakan perintah Sinta


"enggak, enggak perlu sin, lagian ini juga karena Kak Zaki lagi sibuk, kalau nggak kan biasanya Kak Zaki yang nganter" tolak dinda pada Sinta


"yaudah, yaudah tapi kalau misalnya Kak Zaki nggak bisa nganter kamu langsung telepon aku ya" perintah sinta pada Dinda


"oke besti aman itu" jawab Dindainda dengan antusias


"non Dinda, non Sinta, Mang Ujang balik dulu ya" kata Mang Ujang.


"ya udah hati-hati ya mang, kami pun mau masuk" kata Sinta


Mang Ujang pun meninggalkan Sinta dan juga Dinda. kemudian mereka berdua masuk ke dalam menuju ke ruang kelas mereka. namun sebelum mereka sampai ke ruangan kelas mereka bertemu dengan Dwi.


"hei anak miskin, tadi aku lihat kamu naik ojek ya. haduh kasihan banget pasti kepanasan ya, nggak kayak aku yang ini mobil ber AC lagi" ledek Dwi pada Dinda


"ya memang kenapa kalau naik ojek, lagian ojek kan bermanfaat, lagian yang naik nggak cuma dari kalangan orang biasa orang berada pun juga banyak yang naik. bahkan di zaman digital seperti sekarang ini ojek sudah ada yang menggunakan mobil loh" jelas Dinda


"ya tetep aja kalau ojek motor itu panas bau lagi nggak kayak punya aku yang mewah" kata Dwi membandingkan ojek dan mobil mewahnya


"ya namanya ojek mana mungkin setara dengan mobil mewahmu yang harganya M man itu" jawab Dinda


"memang kalau orang miskin itu beda ya" kata Dwi meledek


"memang kenapa kalau miskin, yang penting aku masih bisa makan, masih bisa sekolah, dan semua itu dari uang halal, daripada kaya tapi nggak tahu tuh uangnya halal atau enggak" kata Dinda membalas Dwi.


"kamu, awas ya kamu" kata Dwi dengan emosi dan meninggalkan Dinda dan juga Sinta.


"widih sekarang udah berani ya ngelawan, padahal kamu ada pendiam dan juga penakut" ledek Sinta pada Dinda


"kamu sin nggak kamu lihatin dari tadi" kata Dinda, Sinta pun memperhatikan Dinda dari atas sampai ke bawah


"perasaan nggak ada yang aneh dari kamu" jawab sinta setelah memperhatikan keseluruhan


"kamu coba lihat tangan aku Sinta" perintah Dinda pada Sinta dan Sinta pun langsung melihat ke arah tangan Dinda.


"ai ai tanganmu gemetaran, ternyata masih sama ya. walaupun udah sedikit ada perubahan udah mulai tumbuh keberanian tapi di belakang masih ada penakut" kata Sinta sambil mengingat masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2