
"kalau kakak Bun?" tanya ayah
"Kakak masih bersih-bersih di kamar" kata Bunda
"Bunda kenapa sepertinya habis nangis?" tanya ayah
"nggak apa ya tadi bunda cuma cemas karena adik belum pulang" jelas bunda
"terus udah tahu adik dari mana Kenapa baru pulang?" tanya ayah lagi
"Adek di rumah Shinta ayah sebenarnya adik udah izin tapi Bunda lupa karena kepikiran tentang keluarga fazhira" jelas Bunda
"Bunda tenang aja, kalau mereka berani macem-macem sama keluarga kita, terutama adek ayah nggak akan tinggal diam" jelas ayah
"iya ayah, Bunda nggak mau kehilangan adek sama kayak Bunda kehilangan Alisa" jelas Bunda
"yah Alisa adik bungsuku yang malang, aku nggak akan biarin siapapun sakit di anak dari adikku yang paling cantik yaitu Putri kecil kita Dinda" kata ayah
tiba-tiba Dinda muncul
"ayah Bunda ngapain di situ Ayo adek udah lapar" kata Dinda
"dasar kamu nggak bisa biarin ayah sama Bunda berduaan apa?" kata ayah
"dek tadi kamu dengar apa aja?" tanya bunda
"nggak ada Bunda, adek bersyukur nggak denger perkataan lebay ayah sama Bunda" kata Dinda
"ye dasar ini anak" kata ayah
"adik masih bocil ayah, jadi dia belum ngerti apa makna perkataan itu, dia menganggap itu lebay tapi nanti kalau dia udah tahu pasti dia akan melakukannya sering" kata Zaky yang tiba-tiba muncul dari belakang
"syukur deh kalau adek kamu masih bocil ayah berharap dia nggak akan pacaran sampai setidaknya dia tamat SMA" kata ayah
"yah kakak setuju itu ayah" kata Zaky
"ai ai yang menjalani hubungan Adek kenapa yang heboh Kakak sama ayah ya" kata Dinda
"ya karena kamu Putri kecil kesayangan kami alias bocilnya kami" jawab semuanya serentak
"oh my God sebel deh bentar lagi KTP keluar masih aja dianggap bocil" kata Dinda marah
"udah nggak usah marah tadi katanya lapar mau makan nggak?" kata bunda
"iya iya bunda adek udah laper banget" kata Dinda
"Kakak kamu bawa tas ayah ke kamar ya baru setelah itu kamu turun makan" perintah bunda
"kan itu biasanya tugas adek Bun kenapa jadi kakak?" tanya Zaky
"kakak, nggak kasihan sama adek, adek katanya udah laper banget" jelas bunda
"iya deh, demi adik kesayangan kakak" kata Zaky sambil mencubit pipi Dinda dan kemudian lari menuju kamar ayah dan bundanya
"kakak" bentak Dinda
__ADS_1
"Uda dek, sekarang kita ke meja makan" perintah bunda
"tapi sakit Bun" kata Dinda
"Uda nanti bunda yang kasih pelajaran buat kakak kamu" kata Bunda
"bener ya Bun" kata Dinda
"iya sayang, bunda mana bisa bohong sama putri kecil bunda" kata bunda
mereka semua pun pergi ke meja makan
"adek kamu mau makan pakai apa?" tanya Bunda
"Uda bunda ambilkan ayah aja, Adek biar ambil sendiri" kata Dinda
"itu baru putri ayah" kata ayah gembira
"apaan, ayah gembira pula, bunda kan sedih Adek Uda nggak mau di ambilkan lagi sama bunda" kata bunda sedih
"Uda bunda, Adek Uda ngerasa dewasa, yang penting kita selalu awasi aja, jangan larang dia. nanti kabur lagi si anak bontot nya ayah dan bunda" jelas Zaky yang tiba-tiba muncul
"kakak ini buat kaget aja" kata bunda
"makasih kak" kata Dinda lalu berdiri untuk memeluk kakaknya
"tapi yang di bilang sama kakak ada benarnya juga Bun" kata ayah
"memang benar sih ayah, hanya saja Adek harus tetap ikut aturan yang berlaku, terutama tentang pacaran" kata bunda
"ayah, bunda tolong ini udah zaman maju biarin lah adek pacaran yang penting dia bisa jaga diri dan orang yang jadi pacar adek harus Kakak ketahui nama dan tampangnya" kata kakak
"ya udah tentang adek bunda serai sama kakak, tapi ingat di jaga baik-baik adeknya" kata Bunda
"ok Bunda, aman" Jawab Zaky
"yauda, sekarang kakak sama Adek makan dulu" perintah Bunda
"baik bunda"jawab Dinda dan Zaky serentak
mereka pun makan, setelah makan Zaky mengajak Dinda ke kolam renang.
"adek, Uda siap makannya?" tanya Zaky
"Uda kak, kenapa memang?" tanya Dinda balik
"gak apa, kakak cuma mau ngobrol sama Adek kakak" kata Zaky
"oh yauda ayo, mau ngobrol dimana?" kata Dinda
"di kolam renang aja gimana?" tanya Zaky
"ok, nggak masalah, ayo kak" kata Dinda
mereka pun menuju kolam renang, sesampainya di kolam renang
__ADS_1
"kak, sebenarnya kakak mau ngomong apa?" tanya Dinda
"kakak cuma mau tanya, gimana perasaan Adek. di hari pertama masuk sekolah?" tanya Zaky
"sebenarnya happy si kak, tapi" kata Dinda terpotong
"tapi apa dek? ada orang jahat sama Adek" tanya Zaky
"ya begitulah kak, ada seorang cewek yang nggak suka sama Adek kak, siapa ya namanya, Adek lupa, lagi, Adek ingat-ingat dulu ya kak" kata Dinda
"yauda Gak apa, lagian juga nggak penting" kata Zaky
"iya, kakak benar, nanti deh kalau adek ingat namanya baru Adek cerita ya. hehe" jawab Dinda
"iya, tapi selain orang itu nggak ada yang berbuat jahat sama Adek kan?" tanya Zaky
"Alhamdulillah nggak ada kak" jawab Dinda
"oh iya dek, Adek tau kenapa kawan Adek itu jahat sama Adek?" tanya Zaky
"ya karena cowok la kak, apa lagi" kata Dinda
"ha, cowok. apa Adek pernah kenal dia sebenarnya?" tanya Zaky
"nggak kak" jawab Dinda
"terus kenapa masalah cowok?" tanya Zaky
"gimana ya Adek menjelaskannya sama kakak, Adek bingung" kata Adek
"nggak usa bingung, kakak siap mendengarkan cerita Adek" kata kakak
"ok, kalau gitu, Adek cerita singkat aja ya kak" jelas Dinda
"iya nggak masalah" jawab Zaky
"ini tu berawal dari kakak menurunkan Adek agak jauh dari sekolah tadi pagi" kata Dinda
"lah, jadi ini semua salah kakak dong dek" kata Zaky
"nggak kak, kan Adek yang minta di turunkan di situ" jelas Dinda
"yauda ok, terus kelanjutan ceritanya gimana dek?" tanya Zaky
"setelah kakak pergi, nggak lama ada cowok dengan seragam sama dengan Adek menghampiri Adek kak" kata Dinda
"apa, lain kali kakak akan lihat Adek sampai masuk ke sekolah, tapi dia ada bilang sesuatu nggak dek?" kata Zaky
"ada kak, dia bilang "ayo naik, bentar lagi masuk" gitu kak" kata Dinda
"terus Adek naik ke motor Nya?" tanya Zaky
"mau nggak mau kak, terus kakak percaya nggak yang di bilang cowok itu benar loh kak" kata Dinda
"benar gimana?" tanya Zaky lagi
__ADS_1
"setelah motor yang kami naiki masuk, gerbang langsung di tutup kak" kata Dinda