Belenggu Cinta yang Tak Terhindar

Belenggu Cinta yang Tak Terhindar
sikap ayah


__ADS_3

''kalau gitu sekarang Bunda cerita, apa sambungan dari omongan Bunda tadi yang membuat kakak langsung masuk ke kamar''


''iya Bunda cerita aja dari pada Dinda ngambek sama ayah'' kata ayah pemerintah Bunda


''oke Bunda akan lanjutkan sambungan dari omongan Bunda tadi'' kata Bunda


''iya apa itu Bunda?'' tanya Dinda dengan penasaran


''sebenarnya sayang, ayah kamu memang tidak menyentuh kakak kamu. tapi, ayah menatap kakak kamu dengan tatapan yang sangat tajam dan membuat kakak kamu enggan dan malas bertengkar dengan ayah'' jelas Bunda yang membuat Dinda kaget


''ayah, lagian kan adek cuma pelukan sama kakak Bukan dipeluk sama orang lain dan dibawa kabur'' omel Dinda


''iya sayang maaf'' kata ayah


''Bunda jadi takut ya sayang'' kata Bunda dengan ekspresi ketakutan


''takut kenapa Bunda?'' tanya Dinda


''bila dengan kakak kamu saja ayah kamu cemburu, gimana nantinya kalau ada seorang pemuda yang membawa kamu pergi'' jelas Bunda yang membuat mata ayah semakin memerah


''Bunda jangan dibahas itu dulu, lagian Putri kita Dinda masih kecil'' kata ayah


''Dinda masih kecil, terus yang dewasa gimana ayah?'' tanya Zaky yang tiba-tiba muncul dari belakang


''em...em kalau itu, yang sudah kerja seperti kakak'' kata ayah dengan gagap


''ya ayah dasar, nggak pernah mau ngaku kalau Dinda sudah bukan anak kecil lagi'' kata Zaky


''kakak, bagi ayah adek akan selamanya jadi anak kecil'' kata ayah


''iya deh terserah ayah, Kakak manut aja'' kata Zaky yang mau tidak mau harus menerima perkataan ayahnya

__ADS_1


tiba-tiba saja bunda bersuara ''memang bagi Kakak adik sudah dewasa?''


''ya enggaklah Bun, si bocil ini udah dewasa. walaupun dia sudah dewasa Kakak kan tetap menganggapnya anak kecil, yang selalu menangis ketika meminta permen atau jatuh dari sepeda'' jelaskan Kak yang pendapatnya hampir sama dengan ayah tetapi saling sindir


''ye dasar ayah dan anak memang sama aja, kalau gitu ayah sama kakak nggak usah debat. karena percuma saja jawabannya tetap sama'' keluh Bunda


''hehehe'' tawa ayah dan Zaki serentak


''oke, oke terserah ayah sama kakak aja, Adek nurut aja, tapi suatu hari nanti pasti ada nggak akan jadi anak kecil lagi ayah'' Kata Dinda sambil menggandeng tangan ayahnya


''udah adek mending sekarang kita makan lupain aja dulu apa yang dikatakan ayah tadi, karena percuma kamu debat sama ayah dan Kakak. karena Adek nggak akan pernah menang melawan mereka'' kata Bunda menasehati anaknya


''ya yang Bunda bilang memang benar, capek pun Adek barkoak pun nggak ada gunanya. kalau Dinda yang merasa semuanya akan sia-sia saja


mereka semua pun pergi menuju meja makan. mereka menyantap hidangan yang ada di atas meja. setelah usai makan malam mereka memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. karena besok adalah hari Selasa yang menandakan Milka harus berangkat ke sekolah.


setibanya Milka di kamar ''saat aku menelepon nek nindy tadi aku memang mendengar suara, dan jujur saja suara itu tak asing bagiku. tapi suara siapa ya, Aku sungguh bingung'' Milka berpikir sangat keras, untuk mengingat suara siapakah itu. ''aduh suara siapa sih Kenapa nggak ketemu-ketemu'' kalau Milka yang tidak mendapatkan jawaban. ''udahlah aku bobok aja nggak usah pikirin itu'' kata Milka kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


''mari non saya antar ke sekolah''


''baik Mang, ayah, Bunda, kakak. ade berangkat ke sekolah dulu ya'' Kata Dinda berpamitan


''ya udah hati-hati dek, dan buat kamu Bondan ingat jangan sampai terjadi sesuatu kepada anak saya. atau saya tidak akan pernah memaafkan kamu'' kata ayah dengan tegas dan dengan sorot mata menatap Pak Bondan dengan tajam


''baik tuan saya akan menjaga nona dengan baik-baik, dan saya akan menerima konsekuensi yang ada bila hal itu terjadi sepengetahuan saya ataupun tanpa sepengetahuan saya'' jelas Pak Bondan yang meyakinkan ayah agar percaya kepadanya.


''oke, saya pegang kata-katamu. bila sampai terjadi sesuatu tidak ada ampun untukmu'' kata ayah


''udahlah ayah, insya Allah Adek akan baik-baik saja. jadi ayah tidak usah terlalu menekan Pak Bondan'' Kata adik yang sudah bosan dengan pembahasan sebelumnya.


''tapi dek...'' kata Zaky yang terpotong dengan perkataan Dinda

__ADS_1


''udah deh Kak nggak usah ikut-ikutan kayak ayah deh'' adek udah bosan soal dianggap anak kecil sama ayah dan Kakak. sekali aja, jangan anggap ada anak kecil, bisa nggak?'' kata Dinda memohon kepada kakak dan juga ayahnya


''udahlah ayah turuti saja, lagian saat ini Dinda sudah berusia 16 tahun. dari pada ujung-ujungnya dia memberontak kayak anak-anak di luar sana, lebih baik kita turuti saja agar dia tetap aman dan damai bersama dengan kita'' kata Bunda mencoba menyakinkan suaminya


''iya yang Bunda bilang ada benarnya juga, kalau begitu ayah dari kamu kebebasan. hanya saja kamu tidak boleh melanggar dari batas kebebasan. semua masih tetap ada aturannya'' kata ayah kepada putrinya dengan wajah tegasnya


''yang bener ayah, terima kasih ayah'' kata Dinda dengan gembira dan seolah senyuman muncul di bibirnya kemudian ia memeluk ayahnya.


''ayah aja nih yang dipeluk Bunda nggak'' kata Bunda cemburu


Dinda pun berpindah memeluk bundanya lalu mencium pipi bundanya.


''hai Bunda dicium ayah masa cuma dipeluk'' kata ayah iri


''udah mending ayah dipeluk Bunda dicium nak Kakak nggak diapa-apain'' kata Zaki yang kesal


''Kakak mau juga'' kata Dinda dengan polosnya


''nggak nggak usah dek, mending sekarang kamu ke sekolah. udah jam segini nanti terlambat. dan bisa-bisa ayah mencabut keputusannya karena kamu terlambat'' jelas Zaki yang membuat Dinda kebingungan


''eh yang kakak bilang bener juga, kalau gitu dah semua. Ayo Mang keburu terlambat'' kata Dinda sambil berlari keluar


ayah dan Bunda yang melihatnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya, tiba-tiba mereka teringat akan Alisa ibu kandung Dinda


''mas tiba-tiba aku ingat Alisa'' kata Bunda dengan meneteskan air mata


''sama mas juga teringat Alisa, andai saja Alisa masih ada, pasti Alisa dapat melihat putrinya tumbuh dengan cantik dan juga lembut'' kata ayah menjawab perkataan Bunda dengan meneteskan air mata mengingat sang adik


-


-

__ADS_1


Hay teman-teman, Dyaf up ya. jangan lupa like, share, komen, vote dan selalu dukung Dyaf ya teman-teman 🙏


__ADS_2