
Lena terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam meja di sampingnya yang sudah menujukkan pukul 18.00. Panasnya sudah turun, kepalanya juga sudah tidak pusing. Lena meraih jaket yang ada di gantungan bajunya dan berjalan keluar kamar. Ia tidak melihat apapun dan siapapun. Padahal seingatnya, Renov mengantarnya pulang. Apa kakak kelasnya itu udah pulang? Lampu di rumahnya masih padam, Lena hampir tidak bisa melihat apapun karena hari sudah mulai gelap. Ia berjalan pelan ke arah ruang tamu sambil menyalakan semua sakelar di rumahnya. Ia mengintip ke halaman dan terkejut mendapati mobil Renov masih terparkir di halaman rumahnya. Di mana dia?
Lena melihat sekeliling rumahnya untuk mencari Renov tapi yang dicari tidak terlihat di manapun. Akhirnya Lena melihat pintu kacanya sedikit terbuka. Udara yang berhempus di antaranya membuat gorden putih itu bergoyang-goyang lembut. Mungkinkah? Lena berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan rumah itu dengan taman. Sambil mengeser pintu itu pelan, Lena sedikit demi sedikit bisa melihat Renov yang meringkuk di beranda samping rumahnya.
“Mas...” Lena memanggil Renov sambil menyentuh pelan bahunya. Ia sebenarnya tidak ingin menganggu tidurnya, tapi hari sudah mulai malam, udara akan semakin dingin, dan ia tidak ingin membuat laki-laki itu sakit.
“Mas...” panggil Lena lagi, kali ini lebih keras karena Renov tak kunjung bangun.
“Ha? Ada apa?” Renov mengusap-usap matanya sambil berusaha duduk, “ah leher gue...” keluhnya sambil memijat pelan lehernya yang terasa kaku, “Ah, lo dah bangun?” Renov langsung menyentuh dahi Lena dengan telapak tangannya tanpa memperhatikan perubahan wajah Lena.
“Aku sudah baikan, Mas”, kata Lena sambil menjauhkan tangan Renov dari dahinya. Ia tahu, Renov hanya refleks melakukannya. Tapi hal itu tetap saja membuat hati Lena berdebar. Hal asing yang mulai diakui Lena saat bersama renov. Debaran hatinya.
“Sudah jam enam, pantas saja leher gue sakit. Gue tetidur lebih dari empat jam di sini.. aw leher gue...” Renov kembali memijat lehernya pelan.
“Masuk Mas, Lena buatin kopi atau teh...” Lena berdiri dan Renov mengikutinya dari belakang.
“Teh ya, gue belum makan. Kalau langsung minum kopi nanti perut gue sakit...” Renov berdiri di depan wastafel dan mencuci mukanya.
“Mas belum makan?” Lena terkejut. Walau sebenarnya ia ingin tertawa dengan cara Renov berbicara yang seperti anak kecil, ia tidak bisa mengabaikan pengakuan Renov barusan.
“Sudah tadi sarapan...” jawab Renov tenang. Ia meraih tisu dari meja makan dan mengusap air dari wajahnya. Lena menaruh secangkir teh di hadapan Renov.
“Itukan udah tadi pagi!” Lena beranjak melihat kulkasnya.
“Kenapa? Elo juga belum makan kan dari tadi?” Renov memperhatikan Lena yang sedang melihat ke dalam kulkasnya dengan serius. Gadis itu tidak mendengar kata-katanya. Renov bangkit dari duduknya dan mendekati Lena.
“Ada telur, ada sayur. Kita bisa membuat omelete atau nasi goreng atau sup kalau Mas mau?” kata-kata Renov membuat Lena terkejut. Ia baru menyadari kehadiran Renov di sampingnya.
__ADS_1
“Lo bisa masak?”
“Lah menghina dia...” Lena berdiri dan mundur beberapa langkah. Menjaga jarak dengan Renov, “mau Lena masakin apa?”
“Bukan menghina, tapi elo kan masih sakit...”
“Mas nggak percaya ya?” Lena masih tidak terima.
“Gue percaya tapi duduklah, kali ini gue yang akan membuat makan malam untuk kita...” pernyataan Renov membuat Lena terkejut. Ia tidak salah dengar kan?
“Tapi Mas kan tamu di rumah ini?” Lena menutupi ketidakyakinannya.
“Lo nggak percaya kalau gue bisa masak kan?” lagi-lagi Renov mengetahuinya. Lena diam saja saat di didorong Renov ke arah meja makan.
“Gue udah pernah ceritakan? Kalau satu-satunya perempuan di rumah gue cuma ibu gue? Mama ingin sekali punya anak perempuan, tapi itu sudah tidak mungkin kan?” Renov mulai bercerita tentang kehidupan pribadinya tanpa menghentikan aktivitas tangannya yang sibuk mencuci, memotong, dan membuat bumbu untuk masakannya, “Jadi, kami, anak laki-lakinya, mengobati keinginan Mama dengan menemani berbagai aktivitasnya. Mulai dari memasak, berbelanja bersama, bahkan kami sering sekali menceritakan apapun pada Mama, bergosip mungkin?” tanya Renov sambil melirik Lena. Gadis itu mendengarkan sambil melihat gerakan tangan Renov dengan kagum.
“Iya, beliau Mama gue, puas?” Renov menyerah.
“Bukannya mengejek, aku cuma iri...” kata Lena lirih sambil menatap mata Renov yang bergetar. Ia memilih tidak menanggapi pernyataan Lena dan menunggu apa yang akan diceritakan gadis itu. Tapi Lena hanya berhenti di sana, tidak meneruskan kalimatnya. Renov melirik Lena dan menyadari bahwa gadis itu berusaha menahan perasaannya.
“Elo lebih suka telur dadar atau telur mata sapi?” tanya Renov mengalihkan perhatian.
“Dadar...” jawab Lena sambil memaksakan dirinya tersenyum.
“Bagus, gue juga suka...” Renov memasukkan dua telur sekaligus kedalam mangkuk dan mencampurnya dengan bumbu tambahan. Renov melihat air yang dimasaknya dengan bumbu sup sudah mendidih. Ia memasukkan aneka sayuran yang ia potong ke dalamnya dan membiarkannya kembali mendidih. Sambil menunggu Renov menggoreng telurnya hingga keduanya matang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Lena memperhatikan itu semua tanpa melewatkan hal sekecil apapun. Lena bahkan diam-diam mengambil gambar punggung Renov yang sedang memasak. Ia suka sekali mengabadikan hal-hal yang membuatnya bahagia dan hari ini, kehadiran Renov di sampingnya membuatnya bahagia. Ia melihat banyak hal tentang Renov bahkan fakta tentang laki-laki yang katanya preman itu bisa memasak dengan cekatan.
__ADS_1
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Renov pelan.
“Nggak, Mas...” jawab Lena cepat.
“Jangan dipakai buat wallpaper ya, nanti kalau temen-temen lo lihat reputasi gue bisa hancur...” ucapan Renov membuat Lena terkejut dan menjatuhkan handphonenya di atas meja.
“Mas punya mata di punggung ya? Kok tahu?” tanya Lena tanpa disadarinya.
“Iya...” Renov hanya tersenyum jahil. Sebenarnya ia hanya menebak-nebak karena Lena terlihat sibuk dengan handphonnya. Ia bahkan terkejut ketika Lena secara tidak langsung mengiyakannya.
“Tapi bukannya baik ya kalau mereka tahu Mas itu sebenarnya orang yang baik?” tanya Lena heran. Ia sebenarnya ingin menanyakan hal ini dari awal mereka mulai kenal.
“Gue tidak suka kepopuleran. Kalau mereka tahu, gue jamin banyak yang ndeketin gue. Privasi gue jadi terbatas”, jawab Renov jujur. Renov memanfaatkan kesalahpahaman orang-orang disekitarnya untuk membuat kesan buruk melekat pada dirinya. Hal ini justru menguntungkannya karena ia menjadi lebih bebas.
“Mas terlalu percaya diri...” ledek Lena.
“Kalau nggak percaya elo boleh buktikan besok...” jawab Renov pelan sambil duduk di depan Lena. Makan malam mereka sudah siap. Telur dadar gulung dengan sup.
“Memangnya besok ada apa?” tanya Lena sambil mengambil piring dan sendok dari rak dapur dan meletakkannya di depan Renov.
“Gue tadi yang ngambilin tas dan semua barang lo di kelas...”
“APA???” teriak Lena tak percaya, sendok dan garpunya bahkan jatuh menimpa piringnya, “why?”
“Masih tanya kenapa? Bukannya elo hampir pingsan?” Renov menjulurkan lidahnya di depan Lena yang masih tidak menerima kenyataannya. Renov diam-diam tersenyum dan kembali menyuruh Lena makan. Lena makan dengan perasaan aneh. Ia juga tidak nyaman jika orang-orang mulai membicarakannya tapi entah kenapa di sudut hatinya ia merasa bahagia. Lena tidak keberatan menjadi orang terdekat Renov. Lena kembali menatap Renov yang makan dengan lahap di hadapannya.
Renov tahu Lena sedang memperhatikannya tapi ia berpura-pura tidak tahu sambil melahap makan malamnya. Laki-laki itu tersenyum, lega sekaligus bahagia.
__ADS_1
***