BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 12; Tenang Sebelum Badai (1)


__ADS_3

Tempat kejadian perkara sudah bersih, jasad Ayah Lena sudah diturunkan. Ini murni bunuh diri dan warga sudah ikut membantu untuk mengurus pemakaman jenazah beliau. Malam itu mereka semua bergotong royong, beberapa tetangga Lena menemani Lena yang terlihat begitu tegar menghadapi semuanya. Gadis itu bahkan masih tersenyum saat ada kerabat atau tetangga yang menyampaikan belasungkawa.


“Mas...” Lena menyentuh bahu Renov yang duduk di teras samping rumah Lena.


“Ya...” Renov menatap Lena yang terlihat begitu lelah. Matanya lelah dan kantung mata gadis itu terlihat jelas. Renov melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga dini hari.


“Mas belum pulang dari tadi? Mau Lena ambilin selimut?” sebelum Renov menjawab pertanyaan Lena, gadis itu sudah beranjak meninggalkan Renov.


“Nggak usah, Re...” Renov menarik tangan Lena, menggenggam tangannya yang dingin, “kemarilah...” Renov kembali menarik Lena ke dalam pelukkannya.


“Mas...” Lena sedikit panik karena masih ada beberapa orang yang memperhatikan mereka.


“Biarkan saja, mereka tidak merasakan apa yang kau rasakan...” Renov mengeratkan pelukannya sambil memjamkan matanya. Mengalau semua padangan yang tertuju pada mereka.


Lena menyerah dan menyandarkan kepalanya di dada Renov. Ia beristirahat sejenak dan mengatur nafasnya seirama dengan suara detak jantung Renov. Lena seolah menemuka tempat di mana ia benar-benar bisa bernafas.


“Mas mau kopi?” tanya Lena setelah ia merasa cukup dengan kenyamanan sesaat itu. Ia tak ingin lama-lama berendam dalam kehangatan ini hingga membuatnya terlena dan merasa lemah. Ia tidak boleh merasa lemah saat ini.


“Mau...” jawab Renov sambil melepaskan pelukkanya.


“Baiklah tunggu sebentar di sini, Mas”, Lena lalu masuk ke dalam rumah. Tak beberapa lama kemudian ia sudah keluar membawa dua cangkir gelas berisi kopi panas. Menyerahkan salah satu cangkirnya ke Renov.


“Terima kasih...”


“Tidak, Lena yang harusnya berterima kasih, Mas sudah mau ikut nungguin di sini dan maafkan aku...”


“Tidak, tak apa...” jawab Renov tulus. Keduanya kembali terdiam, menikmati kopi yang semakin lama mulai mendingin.


“Padahal langit malam ini begitu cerah, bintangnya banyak tapi rumah Lena begitu suram dan menyeramkan...” Lena tertawa lirih, membuat Renov lagi-lagi menoleh padanya. Ia benar-benar tidak dapat mengetahui perasaan apa yang Lena rasakan saat ini.


“Renatta...”


“Berhenti memanggilku seperti itu, Mas. Terdengar aneh di telinga Lena...”


“Susah sekali merubahnya, aku cuma mengingat nama yang ada di baju seragamu. Aku baru tahu kalau panggilanmu Lena setelah berbicara denganmu, tapi aku sudah terbiasa seperti itu Re...” Renov berkata dengan jujur. Kejadian kain pel di depan perpustakaan itu adalah saat pertama kali ia bertemu dengan Lena. Renov melirik nama di baju seragamnya. Hanya tertulis Renatta A.S.


“Baiklah, kalau begitu Mas adalah pengecualian, panggil Lena sesuka hati Mas”, Lena kembali tersenyum dan menoleh pada Renov, “ngomong-ngomong Mas sadar nggak? Mas udah nggak pake lo-gue lagi sejak tadi...” Renov tertegun. Bahkan dalam kondisi seperti ini pun Lena masih menyadari perubahan sikapnya.

__ADS_1


“Benar juga...” Renov ikut terseyum.


“Apa teman-teman Mas nggak ada yang tahu kalau Mas sebenarnya orang yang lembut dan hangat seperti ini?” Lena penasaran dengan kelembutan lelaki itu.


“Mungkin tidak?” jawab Renov setelah berpikir cukup lama.


“Kenapa?” Lena terkejut, menyayangkan kalau lelaki ini disia-siakan begitu saja, “Mas tahu apa julukan Mas di sekolah?”


“Tahulah! Cowok jahat, preman sekolah, selalu bikin onar, tukang pukul, trouble maker, dan serem...” Renov tertawa sendiri menyadari bahwa tidak ada sebutan positif tentang dirinya. Lena menanggapinya sambil mengangguk-angguk saat Renov menyebutkan julukannya itu satu persatu.


“Terus kenapa?”


“Kenapa apanya?” tanya Renov tak mengerti dengan maksud Lena.


“Kenapa mereka menyebut Mas seperti itu? Kenapa Mas diam aja?” jelas Lena.


“Kamu tak akan mengerti...” bisiknya.


“Apa karena Mas pandai membaca pikiran orang? Membuat teman-teman Mas menganggap Mas begitu menyeramkan?” pertanyaan Lena membuat Renov menoleh. Tebakan Lena tepat.


“Kamu tidak takut? Mungkin aku bisa membawa kesialan padamu...”


Renov tersenyum dan meminum kopinya yang mulai mendingin.


“Sayang sekali, tidak ada yang tahu sisi Mas yang seperti ini...” lanjut Lena sambil tersenyum, “aku juga sempat menganggap Mas orang yang suka cari perkara karena sering sekali di hukum, tapi faktanya tidak seperti itu kan? Aku malu telah salah menilai orang...”


“Kebaikan kita tidak perlu di nilai oleh orang lain kan Re?”


“Iya benar...”


“Aku sebenarnya tidak peduli orang lain menganggapku apa Re. Tapi aku mulai meragukannya setelah kejadian-kejadian buruk akhir-akhir ini, apa benar aku membawa sial?” Renov mengusap gelas kopinya dengan penuh penyesalan.


“Lena kena sial karena deket sama Mas Renov gitu? Tenang saja Mas, dari awal Lena sudah selalu sial kok, tanpa Mas pun Ayah pasti tetap bunuh diri. Akhir-akhir ini sikapnya berubah, beliau jarang sekali tersenyum, beliau kurang tidur, sering sekali uring-uringan dengan dirinya sendiri. Jadi, apa yang terjadi hari ini bukan merupakan hal yang mengejutkan buat Lena”, ketenangan Lena benar-benar membuat bulu kuduk Renov meremang.


“Ibu…” Renov ragu, sebenarnya ia sudah ingin bertanya di mana ibunya namun ia takut pertanyaannya justru akan memperburuk suasana hati Lena.


“Nggak apa-apa Mas, Ibu Lena sudah meninggal lima tahun yang lalu, saat melahirkan adik Lena, tapi baik Ibu atau adik Lena, keduanya tidak mampu bertahan”, Lena menatap Renov, ini juga baru kali pertamanya Lena bercerita tentang keluarganya pada orang lain.

__ADS_1


“Lena tahu kok, Mas itu bukannya bisa membaca pikiran orang, tapi karena mas lebih suka diam dan memperhatikan, mas jadi lebih sensitif mengetahui perasaan dan jalan pikiran orang yang menjadi lawan main Mas Renov...” mendengar perkataan Lena barusan membuat Renov tersenyum. Ia tidak salah memilih orang. Lena benar-benar istimewa.


“Kenapa kau malah yang menghiburku? Apa aku begitu menyedihkan karena tak punya teman?” Renov menoleh dan menatap wajah Lena penuh dengan penghargaan.


“Mungkin?” Lena meletakkan gelas yang dipegangnya dan meraih kelingking Renov dengan hati-hati, “Aku cuma ingin bilang, Mas nggak usah khawatir, Lena itu sudah sial dari dulu. Mati itu adalah hal yang manusiawi, ini bukan pertama kalinya orang yang Lena sayangi meninggal. Keberadaan Mas kali ini bukan kesialan untuk Lena, justru Lena benar-benar berterima kasih karena Mas telah hadir di kehidupan Lena. Terima kasih karena nemenin Lena malam ini…” pernyataan Lena membuat Renov tertegun. Bagaimana bisa seorang gadis berusia 16 tahun itu mampu memiliki ketulusan hati dan pemikiran sedewasa ini? Apa yang sebenarnya terjadi saat ini?


"Re..." Renov menatap mata hitam Lena lekat-lekat. Ia mencari sesuatu di sana. Petunjuk apapun itu. Situasi ini benar-benar tidak wajar.


"Kenapa Mas?"


"Kamu nggak mikirin yang aneh-aneh kan?" tanya Renov gusar, "janji sama aku kalau kamu nggak akan tetep jadi Renatta yang aku kenal!"


"Tentu saja..." Lena bahkan menjawabnya sambil tersenyum, membuat Renov semakin khawatir.


Renov takut gadis di depannya ini menyimpan bom waktu.


Renov takut, karena saat ini, ia tidak jalan pikiran Lena


Mata Lena yang biasanya mendung itu sudah berubah gelap, buntu, dan begitu dingin.


***


Pemakaman berlangsung secara tertutup. Tidak sampai pukul 11 jenazah ayah Lena sudah dikebumikan. Tidak ada yang perlu di tunggu. Kerabat terdekat sudah sampai tadi pagi dan melayat.


Lena masih menatap pusara Ayahnya. Ia menjadi orang terakhir yang meninggalkan pemakaman.


"Aku memaafkanmu, Yah. Jaga Ibu dan adik..." kata Lena sebelum beranjak meninggalkan pemakaman.


Tidak ada satu pun orang di sana. Semuanya sudah pergi.


Kecuali satu. Ia masih melihat SUV berwarna merah maroon yang sangat di kenalinya. Juga laki-laki yang kini berjalan menghampirinya.


Oase itu datang di saat Lena benar-benar membutuhkannya. Ia takut sumber mata air yang ada di depannya ini juga fatamorgana, yang akan hilang saat dia mendekatinya.


Maka Lena memilih diam.


Sampai oase itu menenggelamkan tubuh kecil dan rapuhnya dalam pelukannya.

__ADS_1


"Renatta..." panggil oase itu dengan lembutnya.


***


__ADS_2