BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 22; GONE


__ADS_3

Renov memandangi ponselnya dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Sudah satu minggu setelah Renatta memberikan kabar bahwa ia sudah sampai di Jogja, namun hari berikutnya Renatta menghilang sampai sekarang. Nomor telepon Renatta sudah tidak dapat dihubungi.


“Mungkin Renatta sibuk Nak...” hibur Mama saat melihat Renov terus saja gelisah.


“Sesibuknya Renatta, ini keterlaluan Ma...” Renov memegang tangan Mamanya, “jangan-jangan dia kenapa-napa Ma?” Renov panik sendiri dengan kemungkinan buruk yang mungkin saja bisa terjadi pada Renatta.


“Kita ke Jogja?” saran Remon yang mendengar adiknya beberapa hari ini blingsatan. Lama-lama ia juga khawatir dengan Renatta. Tak masalah baginya untuk kembali ke Jogja lebih awal.


“Jogja nggak sesempit yang kalian bayangkan, apa kalian tahu dia tinggal di mana?” Mama mengingatkan.


“Rehan bakalan nyari info kemana buku Renatta di kirim saat ke Jogja...” Rehan ikut berdiri dan segera mencari informasi. Ia juga tak tahan melihat Renov yang terus saja merengek seperti itu. Ia juga mengkhawatirkan keadaan Renatta.


***


Renov dan Remon sudah berdiri di depan joglo, rumah khas tradisional Jogja. Lokasinya cukup berada di pinggiran kota Jogja. Sudah masuk wilayah perbatasan kabupaten. Mereka kembali memastikan alamatnya sebelum memencet bel di pagar rumah itu. Akan tetapi seseorang menegur mereka.


“Nyari siapa Mas?” tanya wanita itu sambil memperhatikan keduanya dengan bingung.


“Renatta...” belum sempat Renov mengatakan maksud dan tujuannya, wanita itu kembali menimpali.


“Oh, Renatta, Mas dari Jakarta ya? Monggo masuk dulu...” wanita itu membuka pagar setinggi pinggang yang memagari rumahnya, “saya tantenya, nama saya Mela, dari adik nenek Renatta...” wanita itu mempersilakan Renov dan Remon duduk. Ia lalu masuk ke rumah dan tak beberapa lama kemudian kembali dengan membawa teh hangat untuk di berikan ke tamunya.


“Silakan...”


“Terima kasih...” jawab Remon yang sudah terbiasa dengan kebiasaan masyarakat Jogja ketika menyambut tamunya. Selalu menyediakan minuman terlebih dahulu sebelum memulai pembicaran.


“Ini siapa? Renov, Remon, atau Rehan?” tanya Mela sambil memandang wajah keduanya yang terkejut.


“Saya Remon dan ini adik saya Rehan...” jawab Remon tenang.


“Maafkan saya Nak, kedatangan kalian sepertinya sia-sia. Renatta tidak ada di sini...” jawab Mela prihatin.

__ADS_1


“Maksudnya?” Renov terkejut dengan berita yang baru saja di dengarnya.


“Renatta sudah tidak ada di sini, dan saya juga tidak tahu di mana dia sekarang...” Mela bisa dengan jelas melihat kebingungan dan kecemasan dari kedua laki-laki yang ada di depanya, “Renatta tidak melanjutkan sekolah, kalian tahu? Dia memutuskan untuk kerja...”


“Apa?” berita ini kembali mengejutkan Renov dan Remon.  Mereka berdua saling tatap, apa yang sebenarnya terjadi?


“Iya, kami sudah berusaha meyakinkannya, namun keputusan gadis itu sudah bulat. Ia hanya sekitar tiga minggu di rumah ini. Tak lama kemudian dia mengemasi barang-barangnya dan mulai melakukan perjalanan...”


“Perjalanan?” tanya Renov bingung.


“Iya, apa namanya? Backpacker?” Mela tidak terlalu mengerti dengan apa maksudnya itu. Ia bahkan tidak mengerti seperti apa pikiran Renatta hingga ia memutuskan untuk melakukan perjalanan itu dan meninggalkan sekolahnya.


“Kau dalam masalah Nov...”, komentar Remon membuat Renov menoleh.


“Apa maksudnya itu?”


“Itu artinya, kau tidak akan pernah menemukannya kecuali dia yang memutuskan untuk menemuimu...” Renov memandang adiknya serius, “ia akan terus melakukan perjalanan, ia akan terus berpindah, belajar di banyak tempat, dan kalau kakakmu ini nggak salah menduga, Renatta memiliki bakat menjadi penuliskan? Ia pasti akan menulis buku perjalanan atau kalau tidak semacam blogger atau vlogger...”


“Dia masih 16 tahun Mas...” Renov tak mempercayai ucapan kakaknya itu. Bagaimana bisa dia memiliki keputusan yang beresiko tinggi itu.


“Dia gila Mas...” Renov tidak percaya dengan candaan kakaknya itu. Bagaimana bisa ia begitu tenang dalam kondisi seperti ini.


“Setidaknya dia memiliki tujuan hidup. Keinginannya kuat hingga ia berani melakukan hal itu, tekadnya akan membuatnya terus hidup. Bukankah itu yang paling penting?” di dalam hatinya ia memang salut dengan Renatta namun dia juga iba melihat adik laki-lakinya berlayar tanpa nahkoda yang menggerakkan kemudinya.


“Walau saya belum lama kenal dengan Renatta dan saya hanya mendengar cerita tentang kalian, saya mewakili keluarga saya mengucapkan terima kasih atas semua yang keluarga kalian berikan pada gadis itu...” kata Mela dengan tulus.


“Tidak, Renatta adalah hadiah terbaik dalam keluarga kami...” jawab Remon sambil tersenyum bangga.


Mela tidak tahu apa yang dilalui Renatta selama berada di Jakarta. Saat ia bertemu dengannya pertama kali, ia hanya melihat tekad kuat yang menyala dalam mata gadis itu. Mela juga tidak menyangka dengan keputusan yang dibuat oleh Renatta, ia menanggap rencana-rencana Renatta adalah kegilaan seorang remaja yang sangat tidak masuk akal. Tapi ibunya hanya tersenyum mendengar rencana-rencana Renatta dan memberikan restunya dengan mudah.


Ibunya Mela juga melihat tujuan hidup Renatta sejelas Renatta menceritakan rencananya. Anak kecil itu tidak hanya bangkit dari takdirnya tapi juga bangkit menjadi orang dewasa yang penuh dengan harapan nyata. Maka dengan iklas kerabatnya itu melepas kepergiannya.

__ADS_1


Renov lebih banyak diam saat Remon dan Mela masih mengobrol. Pikirannya masih mencerna berbagai informasi yang belum bisa ia terima. Mana mungkin kan?


Tapi pertanyaan itu terjawab minggu berikutnya ketika ia sudah kembali ke Jakarta. Ada beberapa surat dan postcard yang berdatangan ke rumah itu dengan berbagai alamat asal yang berbeda-beda.


Renov bahkan pernah mencoba peruntungannya dengan mencari Renatta. Ia bahkan bolak-balik antar kota dan provinsi untuk mendapat informasi tentang keberadaan Renatta. Di mana lokasi surat terakhir dikirimkan, dari sanalah Renov menelusuri jejaknya. Keluarganya bahkan menyerah mengingatkannya. Laki-laki itu akan berhenti sendiri jika ia sudah menyadari kenyataannya.


Enam bulan berlalu, Renov harus masuk kuliahnya di Bandung. Saat itulah sebuah buku dikirimkan di alamat kosnya yang ada di Bandung. Sebuah buku yang ditulis oleh Renatta sendiri. Judul buku yang tak asing, Renov hanya memandang buku itu dengan nanar.


Believe me, I’ll always love you


Renov membuka halaman buku itu dan sebuah foto jatuh dari sana. Ia terkejut saat mendapati fotonya sendiri yang duduk di perpustakaan pusat Bandung. Bagaimana bisa? Renov lalu keluar dari kosnya dan berusaha mencari sosok Renatta. Tidak ada. Tentu saja. Pesan itu singkat, namun hati Renov begitu perih dibuatnya.


Aku akan selalu bersamamu Mas,


Suatu saat nanti,


Walaupun tidak sempurna,


Aku akan kembali dengan hati yang utuh,


Jika Mas masih bersedia menggengam tanganku,


Saat itulah...


Kalimat itu terpotong di sana. Renov duduk di lantai kamar kosnya sambil menata hatinya. Ia memutuskan untuk berhenti mencari gadis itu dan fokus ke kuliahnya. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin dan bekerja secepat mungkin. Ia harus menentukan tujuannya. Ia kini tahu makna dari tatapan Renatta terakhir sebelum mereka berpisah di bandara waktu itu. Gadis itu telah berlayar dengan kapal yang berbeda.


Renov pun ingin mengembangkan layarnya.


Ia tidak akan diam menunggu angin menuntunnya.


Walau sekarang dunia sudah ada dalam gengaman, surat-surat Renatta masih rutin berdatangan. Menunjukkan bahwa gadis itu bersungguh-sungguh melakukannya. Hal ini menguatkan hati Renov untuk menjalani harinya dengan motivasi yang luar biasa.

__ADS_1


I’ll make you believe that my love never change


***


__ADS_2