
Lena tidak bisa melihat tulisan yang ada di papan tulis di depannya. Matanya terasa berat dan pandangannya kabur. Akhir-akhir ini Lena tidak bisa tidur dengan nyenyak dan selalu terbangun di tengah malam.
“Lo kenapa?” Chery yang duduk di samping Lena menyenggol bahu gadis itu pelan.
“Gue pusing Cher, abis pelajaran ini izinin ya? Gue ke UKS...” Lena melirik jam tangannya. Sepuluh menit lagi bel jam ke dua akan berbunyi. Lena kembali memfokuskan diri pada pelajaran matematikanya.
Begitu Pak Santo keluar ruangan, Lena segera bangkit dari kursinya, “izinin gue ya?” pintanya sekali lagi.
“Perlu gue antar nggak?” tanya Chery memastikan.
“Nggak usah, gue masih bisa jalan sendiri kok...” Lena melambaikan tangannya dan keluar dari kelas. Ia berjalan berlahan menuju UKS. Terik cahaya matahari menyilaukan matanya sehingga mata Lena setengah terpejam saat menyusuri pinggir gedung kelasnya.
Lena berhenti tepat ketika melihat pintu gerbang rumah Pak Wahyu yang sedikit terbuka. Tiba-tiba pikirannya berubah. Ia melirik sekeliling sekolah, memastikan tidak ada seorang pun yang tahu kalau dia menyelinap ke sana. Lena kemudian bergegas masuk ke halaman dan terkejut melihat Bu Wahyu, melihat ke arahnya.
“Kok Non di sini?” Bu Wahyu sudah mengenal Lena tempo hari ketika Lena dan Renov datang ke rumahnya.
“Bu, Lena istirahat di sini sebentar ya? Lena udah izin kok...” pinta Lena.
“Non Lena sakit lagi?” tanya Bu Wahyu khawatir.
“Lena cuma sedikit nggak enak badan aja kok, Bu”, Bu Wahyu menyentuh dahi Lena, gadis itu tidak berbohong karena badannya cukup hangat. Bu Wahyu membiarkan Lena masuk ke halaman rumahnya dan melihat gadis itu berbaring di atas rumput taman setelah memanggil kucing peliharaan mereka.
“Non nggak masuk aja? Nanti masuk angin loh?” tawar Bu Wahyu sebelum ia meninggalkan rumahnya untuk berbelanja.
“Nggak Bu. Lena di sini saja...”
“Kalau begitu Ibu tinggal sebentar ya?” pamit Bu Wahyu yang dijawab Lena dengan anggukan pelan.
***
Bu Wahyu menengok gelisah saat melihat Lena yang masih tertidur di tamannya. Sudah dua jam Lena tidur di sana dan beliau tidak berani membangunkan gadis itu. Ragu-ragu Bu Wahyu memencet nomor telepon yang tertera di buku telponnya.
“Den Renov...” sapa Bu Wahyu pelan.
“Iya Bu, ada apa? Kok tumben telpon saya? Bapak sehat kan Bu?” Renov yang baru saja selesai mencuci mobilnya melirik ke arah jam dinding di ruang tamunya. Baru jam 11 pagi.
“Sehat Den, alhamdulillah...ini Den...” Bu Wahyu kembali terdiam, ragu apakah sebaiknya ia memberitahu Renov atau tidak, “gini Den. Non Lena sudah hampir dua jam tidur di halaman rumah Ibu...”
“Biarin aja Bu. Mungkin dia lelah...” Renov tidak yakin dengan jawabannya. Dua jam? Itu berarti gadis itu membolos pelajaran. Hal ini yang tidak wajar bagi Lena.
“Tapi Den, tadi Non Lena bilang kalau dia nggak enak badan. Takutnya kenapa-napa. Ibu nggak berani bangunin...” kata Bu Wahyu akhirnya. Renov terdiam mendengarkan penjelasan beliau.
__ADS_1
“Sebentar lagi Renov ke sana, Bu...” tanpa menunggu lama, Renov meraih jaket dan kunci mobilnya. Ia bergegas pergi ke sekolahnya. Renov hanya berharap jalanan tidak ramai dan macet.
***
Renov memakirkan mobilnya di dekat rumah Pak Wahyu. Ia terburu-buru saat meninggalkan rumahnya sehingga hanya mengenakan celana jins dan kaus polos hitam yang ditutup jaket di bagian luarnya. Walau sudah tidak wajib datang ke sekolah, Renov masih belum dinyatakan lulus. Peraturan untuk mengenakan baju yang sopan dilingkungan sekolah masih melekat di dirinya. Jadi, sebisa mungkin ia berusaha untuk tidak terlihat oleh guru.
Setelah melihat sekeliling, Renov berlari dan menyelinap di antara mobil sebelum masuk ke halaman rumah Pak Wahyu. Ia melihat Lena yang masih meringkuk di atas rerumputan.
“Renatta...” panggil Renov pelan sambil menggoyangkan bahu Lena pelan.
Tidak ada respon dari Lena. Renov lantas meraih bahu Lena dan membalik badannya agar Renov dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas.
“Renatta...” panggil Renov lagi.
Perasaan Renov mulai tidak nyaman saat Lena tak kunjung bangun dari tidurnya. Saat Renov memutuskan untuk menyetuh dahi serta leher gadis itu ia terhenyak. Dingin.
“Renatta!” teriak Renov sambil meraih Lena ke dalam pelukannya. Saat ia hendak mengangkat tubuh Lena dan membawanya ke rumah sakit, gadis itu membuka matanya pelan.
“Kenapa teriak-teriak sih, Bunda? Ini masih pagi...” suara Lena begitu lirih namun Renov masih bisa mendengarnya dengan jelas. Gadis itu mengigau.
“Ren...Renatta...” Renov menepuk pipi Lena pelan untuk membangunkannya.
Bukannya bangun, Lena justru melingkarkan tangannya ke tubuh Renov. Membuat Renov bergerak panik antara membiarkannya atau melepaskannya. Renov menyadari bahwa jantungnya berdetak tidak normal, dan ia tidak ingin Lena tahu perasaanya dengan cara seperti ini.
“Renatta...”
Hati Renov tiba-tiba seperti pedih mendengarnya. Apa Lena sudah tidak tinggal dengan ibunya? Renov mengela nafas pasrah karena ia tidak punya pilihan lain selain menariknya mendekat dan membalas pelukannya. Renov menyerah, toh ia sudah mengatakan kalau ia menyukai Lena. Tak masalah jika gadis itu bisa mendengar suara jantungnya yang bergemuruh seperti itu.
“Renatta...” panggil Renov lagi, tapi tidak ada jawaban. Ia melirik Lena yang ada dalam pelukannya dan menyadari bahwa gadis itu kembali tertidur.
“Ibu...” Renov memanggil Bu Wahyu yang sedari tadi memperhatikan dari kejuahan.
“Iya Den...”
“Renatta saya bawa ke UKS ya..” pamit Renov sambil mengangkat tubuh Lena dengan ke dua tangannya.
“Tapi, Den. UKS penuh. Tadi ibu sudah mengeceknya. Kalau sementara ke rumah ibu dulu bagaimana?” tawar Ibu Wahyu.
“Boleh, Bu”, Renov lantas mengikuti langkah Bu Wahyu ke dalam rumahnya. Renov membaringkan Lena di atas sofa yang pernah digunakan Lena sebelumnya.
“Ibu ada selimut? Tadi Renatta bilang kalau kedinginan...” Renov bangkit dari duduknya saat melihat Ibu Wahyu kembali dan membawa dua buah selimut. Beliau menyelimutkannya pada Lena dan memandang gadis itu iba.
__ADS_1
“Saya ke kantor guru dulu ya, Bu. Biar saya urus izinnya...” Bu Wahyu hanya mengangguk sambil memandang punggung Renov yang menghilang dari balik pintu rumahnya.
“Renov!” benar saja, belum sampai di ruang guru, Renov sudah di panggil oleh seorang guru yang kebetulan melihatnya, “kenapa kamu ada di sekolah? Lalu apa kamu sudah melupakan peraturan di sini?”
“Bukan seperti itu Pak Sony...” Renov memandang guru itu bingung, “saya mau minta izin sakit...”
“Kamu kan tidak wajib datang, kalau sakit istirahat di rumah atau ke rumah sakit. Kenapa malah di sini?” tanya Pak Sony curiga.
“Bukan seperti itu. Bukan saya sakit tapi Renatta...”
“Renatta siapa?” Pak Sony berhenti sebentar lalu teringat pada salah satu muridnya, “Ada hubungan apa kamu sama Renatta?”
“Saya...” Renov juga bingung. Tapi saat ini bukan waktunya membicarakan ini, “Ah, bapak belum menjawab pertanyaan saya. Jadi begini, Renatta sakit dan saya akan membawanya ke rumah sakit...”
“Kenapa kamu yang membawanya?” Pak Sony melihat wajah Renov lekat-lekat sebelum akhirnya beliau sadar kalau muridnya sedang tidak main-main, “ah, di mana dia sekarang?”
“Ada di rumah Pak Wahyu...”
“Pak Wahyu? Bagaimana...” Pak Sony kembali menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa keingintahuannya saat ini, “Kamu ke kelas ambil barang-barangnya, biar bapak yang meminta izin. Bapak akan menemanimu ke rumah sakit.”
Renov mengangguk dan berjalan ke ruang kelas Lena. Seingatnya adalah kelas XA1. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengentuk pintu kelas.
“Ada apa?” tanya Bu Dira, guru biologi yang sedang mengajar di kelas Lena, “kenapa kamu pake jins?”
“Begini, Bu...” Renov mulai menjelaskan masalahnya.
“Chery, tolong masukkan semua barang Lena. Dia sakit dan harus pulang..” sebagai jawaban beliau menyuruh Chery untuk mengemas barang-barang Lena. Chery lantas berlari ke arah pintu kelas dan terkejut mendapati siapa yang berdiri di balik pintu. Kenapa Renov ada di sini? Begitu Renov menerima tas Lena, Chery semakin heran. Ada hubungan apa Lena dengan Renov dan sejak kapan?
Chery kembali ketempat duduknya namun ia hanya melamun sepanjang sisa pelajaran siang ini. Lena tidak pernah bercerita perihal ini sebelumnya.
***
“Kamu yakin bisa mengurusnya sendiri?” Pak Sony membantu Renov membawa Lena masuk ke dalam mobilnya.
“Iya, Pak. Kebetulan Om saya dokter...” jawab Renov yakin.
“Baiklah kalau begitu...” Pak Sony menutup pintu mobil Renov dan kembali berpesan, “jaga dia dengan baik. Bila perlu kamu bisa hubungi orang tuanya. Tapi kalau tidak, cukup kamu saja yang menjaganya. Kamu tahu kan kalau dia hanya tinggal dengan Ayahnya?”
Pertanyaan Pak Sony membuat Renov tertegun. Sebagai jawaban ia hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya.
“Renatta, sebenarnya apa yang terjadi padamu?” Renov menatap Lena dengan perasaannya yang seketika remuk. Ia ingat ketika gadis itu memanggilnya Bunda. Ia tak akan pernah menyangka kalau gadis itu juga berjuang melawan kesepiannya.
__ADS_1
***