BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 14; Masih Tenang Sebelum Badai (2)


__ADS_3

Renov memainkan ponselnya sambil menunggu Lena di dalam mobilnya. Selatah ia mampir ke rumah Pak Wahyu, Renov memutuskan tiduran di mobilnya sambil menunggu Lena selesai sekolah. Ia melihat Lena yang berlari pelan ke arahnya dan langsung membuka pintu mobil.


“Kenapa lari-lari?” tanya Renov kemudian.


“Hari-hariku akan semakin berisik karena ulah Mas hari ini”, lagi-lagi Lena mengeluh.


“Kenapa?”


“Masih nanya kenapa? Jelaslah karena Mas tiba-tiba datang ke kelas Renatta, makan bareng di kantin, dan ditambah lagi ini?” Lena menggelengkan kepalanya sambil mengencangkan sabuk pengamannya.


“Kamu nggak suka?” tanya Renov memastikan.


“Apa harus?” Lena menjawabnya tanpa menoleh pada Renov. Ia menyandarkan dahinya di kaca sambil mobil. Renov bisa dengan jelas melihat wajah Lena yang terpantul dari kaca. Lena terlihat begitu lelah dan mencoba menyembunyikan kesedihannya, mata gadis itu tidak bisa berbohong.


“Hey…” tangan kiri Renov mengusap rambut Lena, membuatnya menoleh, “sepertinya aku cuma sendiri di sini, sudah kembali?” keluh Renov.


“Maaf Mas, Renatta…”


“Tak masalah… hari ini kau bebas melakukan apapun yang kamu mau Re…” Renov kembali fokus ke kemudinya.


“Kita mau ke mana sih?” tanya Lena akhirnya.


“Kencan?” Lena mengedipkan kedua matanya berulang-ulang, tak percaya dengan jawaban Renov.


“Ayolah Mas! Renatta serius nih nanyanya…”Renov tertawa saat Lena memukul bahunya.


“Hey aku lagi nyetir, bahaya!” tegas Renov.


Lena memutuskan untuk diam dan tidak terlalu banyak bertanya, sesekali ia bertanya dan mengobrol dengan Renov selebihnya ia kembali melamun sepanjang perjalanan.


“Uahhhh…pantai!” teriak Lena riang saat pemandangan di sampingnya berubah, memperlihatkan garis pantai yang memanjang dari timur ke barat. Lena buru-buru membuka jendela mobil dan menikmati udara yang berhembus ke wajahnya.


“Jangan keluarkan tangan atau kepalamu!” ingat Renov.


“Iya, jangan bawel. Renatta bukan anak-anak!” sahut Lena tak kalah sebalnya.


“Tapi kamu bertingkah seperti anak-anak!”


Renov memberhentikan mobilnya dan sebelum ia sempat mengatakan apapun, Lena sudah membuka pintu mobil dan berlari keluar. Ia menggeleng pelan, pasrah saat Lena sudah melepas sepatunya dan membiarkan kakinya yang telanjang diterpa ombak lautan.


“Renatta!”Renov sempat panik saat Lena berjalan lebih dalam ke arah laut. Air sudah membasahi roknya sampai ke pinggang, tapi tiba-tiba gadis itu berbalik tersenyum dan membiarkan ombak kembali menerjang bagian belakang punggungnya. Lena melambaikan tangannya dengan riang, membuat Renov berhenti berlari. Renov jatuh terduduk di atas pasir dengan muka pias, mengira Lena juga akan melakukan hal bodoh seperti ayahnya.


“Ayo, Mas!” tanpa Renov sadari, Lena sudah kembali ke pantai dan tangannya kini menarik-narik Renov dengan penuh semangat. Ia bahkan tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup terkena air laut. Renov akhirnya menyerah dan ikut berdiri, ia melipat celana panjangnya sampai lutut dan menuruti Lena yang menariknya.


“Mas nggak ikut nyebur ya, bahaya kalau kunci mobilnya sampai hilang terbawa ombak…” Renov mengingatkan Lena yang dibalas dengan anggukan Lena cepat. Ia lantas kembali berlari ke sana kemari, membiarkan ombak menerpa tubuhnya yang kurus itu berulang-ulang. Renov tidak sepenuhnya bermain air, ia sibuk mengabadikan keceriaan Lena hari ini di handphonnya. Memotretnya, membuat video bahkan berfoto bersama.


Renov menarik Lena ke pinggir pantai saat langit mulai gelap, senja mulai menaungi langit Jakarta. Air laut memantulkan warna yang sama dengan langit jingga yang begitu indah. Mereka berdua duduk di atas pasir sambil menunggu langit benar-benar berubah gelap. Menikmati suasana itu dalam diam, pikiran mereka mengelana jauh entah kemana.

__ADS_1


“Ayo, sudah selesai mengheningkan ciptanya…” Renov berdiri dan mengulurkan tangannya. Ia menarik Lena berdiri dan menggandengnya ke salah satu warung di dekat ia memakirkan mobilnya, “dingin kan? Beli baju ganti dulu gih…” Lena mengangguk dan pergi ke salah satu lapak penjual pakaian. Renov memutuskan menunggu di warung makan sambil memesan makanan.


Lena berlari-lari kecil menghampiri Renov yang sedang menikmati kopinya. Ia sudah berganti dengan kaos yang cukup longgar dan celana jins yang terlihat nyaman di kakinya. Setelah meletakkan seragamnya yang basah di mobil, Lena menyusul Renov duduk di warung tersebut.


“Cokelat panas?” Renov bertanya sambil menyodorkan gelas di hadapannya ke arah Lena. Lena meraih gelas tersebut dan menggengamnya erat, “kamu nggak alergi seafood kan?”


Lena menggeleng pelan,ia sedang menikmati cokelatnya. Renov tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju mobilnya, ia membuka pintu belakang mobil dan mengambil jaketnya. Sambil berjalan kembali ke warung Renov mencium jaketnya terlebih dulu, membuat Lena tertawa.


“Kenapa Mas? Lama nggak di cuci ya?” tanya Lena memperjelas.


“Tahu aja, nggak bau-bau banget kok, nih!”Renov memberikan jaketnya pada Lena. Lena lantas ikut mencium jaket itu dan tertawa, menertawakan kekhawatiran Renov yang tak beralasan. Lena tahu jaket itu belum lama di cuci karena bau deterjen dan parfum Renov masih bercampur di dalamnya. Lena langsung memakainya karena jujur ia merasa kedinginan ditambah lagi rambutnya juga basah seusai keramas.


“Sesudah ini ke mana?” tanya Lena.


“Pulang, mau ke mana lagi? Kita sampai rumah bisa jam 10 malam kalau nggak macet Renatta, ini weekend”, jawab Renov sambil menikmati nasi goreng pesanannya.


“Hmmm”, Lena menjawabnya enggan. Ia juga ikut menyendok nasinya. Lena tak ingin mengakhiri hari ini dengan cepat. Bermain seperti ini membuatnya lupa akan semua masalahnya. Lena menunduk sambil memakan makan malamnya.


“Besok kalau kamu nggak sibuk, kita main lagi, jangan sedih seperti itu…” gumam Renov pelan menyadari perubahan suasana hati Lena.


“Kelihatan banget ya?”Lena tersenyum saat Renov menyadari kekecewaanya.


“Banget...”


“Terima kasih Mas, ini pertama kalinya Renatta ke pantai...” Renov terkejut mendengar penyataan Lena. Pertama kalinya?


“Lain kali kita ke sea world...” hibur Renov yang melihat raut wajah Lena yang tiba-tiba redup, “yuk, kita pulang…” Renov berdiri, lagi-lagi laki-laki itu mendahului Lena membayar makan malam mereka hari ini untuk yang kedua kalinya.


“Kenapa nggak Renatta aja sih yang bayar?” protes Lena saat ia sudah kembali duduk di samping kemudi.


“Hari ini aku yang ngajak kamu kencan, besok kalau kamu yang ngajak kamu yang bayar. Pakai sabuk pengamanmu…” balas Renov sambil menyalakan mesin mobilnya.


“Terserah lah...” Lena mengamati Renov dari samping, “Mas sudah memutuskan untuk nggak gue-elo lagi sama Renatta?” Renov mengangguk sambil terus fokus ke kemudinya.


“Why?”


“Cuz, its you...” Renov sungguh-sungguh saat mengucapkannya.


Lena tidak menanggapinya dan tertidur. Ia kelelahan setelah berlarian di atas pasir dan bergelut dengan ombak. Renov hanya meliriknya sesekali tanpa bermaksud membangunkannya. Ia justru bahagia karena Lena terlihat begitu nyenyak tidur di dalam mobilnya.


“Renatta…” bisik Renov pelan, namun gadis itu tak kunjung membuka matanya. Mereka sudah sampai di rumah 30 menit yang lalu, tapi Renov enggan untuk membangunkan Lena yang masih terlelap di kursinya.


“Renatta…” panggilnya lagi, kali ini Lena membuka matanya dan menguap seperti anak kecil. Ia sempat kebingungan sebelum menyadari bahwa mereka sudah berada di depan rumahnya.


“Sudah sampai ternyata… eh itu siapa Mas?” Lena memincingkan matanya, berusaha melihat dua sosok asing di depan rumahnya. Renov ikut menoleh dan melihat dua orang yang sedang mengintip di balik pagar setinggi bahu yang memagari rumah Lena. Mereka tidak menyadari bahwa empunya rumah mengamati mereka dari luar. Mobil Renov sudah terparkir cukup lama di sana sehingga kedua orang itu tentu tidak menyadari keberadaan mereka berdua.


“Tunggu di sini sebentar…”

__ADS_1


“Mas mau ke mana?”Lena menarik baju Renov, menghentikannya.


“Bertanya, mau apa lagi? Bukankah mereka berdua cukup mencurigakan…” Renov membuka pintu mobilnya, membuat dua orang tersebut terkejut dan menoleh.


“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” tanya Renov tanpa bermaksud menyudutkan mereka berdua.


“Ehm, anda siapa?” tanya salah satu dari mereka.


“Justru saya yang seharusnya bertanya, bukankah tidak baik mengintip ke dalam rumah orang lain secara diam-diam seperti itu?” Renov menatap tajam kedua orang itu.


“Kami mencari kediaman Renatta Alena, kami ingin melakukan wawancara terkait dengan novelnya…” belum sempat mereka menjelaskan, Renov sudah memotong perkataan mereka.


“Silahkan hubungi kantor penerbit, buat janji di hari kerja, ini weekend dan waktunya untuk istirahat. Renatta juga tidak melayani urusan pekerjaan di rumah…” jawab Renov tegas.


“Apa benar ayah Renatta Alena meninggal karena bunuh diri?” Renov tertegun. Ia memandang kedua orang itu dengan tajam. Apakah setiap hari Lena harus menghadapi orang-orang seperti mereka? Bukankah ini sudah keterlaluan? Bagaimana gadis itu bisa melupakan kejadian itu jika semua orang terus mengingatkannya?


“Saya pikir hal itu tidak ada kaitannya dengan pekerjaanya sebagai penulis, silahkan tinggalkan rumah ini sekarang juga, sudah jam malam, terima kasih!” Renov mengakhiri pembicaraannya dengan tegas dan membuka pintu gerbang sebelum kembali ke mobilnya.


“Sembunyi!” perintah Renov tiba-tiba. Setelah mengatakan hal tersebut, Renov justru terkejut saat Lena melepas sabuk pengamannya dan duduk di bawah dashbor mobilnya. Ia terkikik geli.


“Nggak harus gitu juga kali Re… ngomong-ngomong kamu kecil juga ya sampai muat di situ?”Lena melotot ke arah Renov.


“Renov memasukkan mobilnya ke halaman rumah, meminta kunci pintu utama dan kembali menyuruh Lena untuk tetap diam di sana. Kedua orang itu masih mengamati Renov, ia sengaja memakirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk sehingga tidak ada orang yang melihat Lena masuk ke dalam.


“Wartawan ya?” tanya Lena langsung saat ia sudah berada di dalam rumah. Renov mengangguk, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


“Kita ke dapur saja, sambil Renatta bikinin kopi atau teh”, ajak Lena. Renov mengikuti Lena dan duduk di salah satu kursi dapur.


“Apakah kamu sering mendapatkan tamu seperti itu?” tanyaRenov sambil mengamati Lena yang sibuk menyiapkan kopi untuknya.


“Nggak sering kok, Mas. Wajar aja kan ini baru tiga hari setelah kematian ayah. Lena juga kan jarang di rumah. Jadi...” Lena menggantung kalimatnya, ia lalu duduk di hadapan Renov, “jangan khawatir, nih kopinya...” Renov meraih cangkir yang diberikan Lena. Ia kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


“Kau nggak kesepian tinggal di rumah ini, sendiri?” pertanyaan Renov hanya dijawab senyuman tipis dari Lena. Baginya tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Rumah itu terasa semakin menyesakkan tak peduli seberapa luas dan besar ukurannya. Mereka kembali duduk dalam diam.


“Kamu yakin tak apa-apa sendirian?” Renov menatap Lena ragu, “kamu boleh tinggal di rumahku...” bujuknya.


“Nggak Mas, aku nggak papa...”


“Itu tidak mungkin kan?” Renov memegang bahu Lena.


“Pulanglah...”


“Masuk kalau gitu... jangan sungkan untuk menghubungiku Re...” Lena lalu masuk dan menutup pintunya setelah meyakinkan Renov. Renov masih duduk di dalam mobilnya cukup lama. Ia bisa saja menemai Lena saat ini. Tapi ia teringat pesan ibunya.


“Kamu boleh mengajaknya tinggal di rumah kita. Tapi kamu nggak boleh tinggal di rumah itu berdua dengan Lena. Kalian bukan sepasang suami istri...”


Renov sangat menghormati Ibunya sehingga ia hanya bisa berdiam diri di luar rumah Lena sampai hatinya sendiri tenang membiarkan Lena sendirian. Renov baru meninggalkan kediaman Lena dua jam kemudian.

__ADS_1


***


__ADS_2