
“Astaga, dia kenapa?” tanya Mama Renov khawatir saat melihat anak laki-lakinya menggendong Renatta masuk ke dalam rumah. Mamanya menyentuh dahi Renatta dan bajunya yang basah.
“Kenapa bisa basah seperti itu?”
“Ceritanya panjang, Ma. Om Yanu sudah datang?” tanya Renov sambil membawa Renatta menuju kamar tamu.
“Bentar lagi, Mama carikan baju ganti buat Renatta. Kasihan kalau masuk angin...” Mama Renov lantas menghilang ke kamarnya dan kembali sambil membawa baju ke kamar tamu.
“Kamu keluar dulu gih..” Mama mendorong Renov keluar dan mulai mengganti baju Renatta. Gadis itu tidak terbangun, membuat Mama ikut khawatir kalau dia sampai tak sadarkan diri karena suhu tubuhnya juga tinggi.
“Ma...” panggil Renov pelan saat Om Yanu sudah datang, dokter keluarga yang masih kerabat Renov itu masuk ke kamar setelah Mama selesai mengganti baju Renatta.
“Dia kenapa Mbak?” tanya Om Yanu.
“Kakinya terkilir saat Renov menariknya ke atas atap gedung, kakinya juga lecet sana sini...” jelas Renov.
“APA?” tanya Mama terkejut. Ia membukul bahu anaknya, “Mama kan udah bilang nggak boleh kasar sama perempuan!”
“Tadi sempet kacau Ma di sekolah, orang tua murid datang ke sekolah dan menyuruhnya pindah sekolah. Ia dituduh telah mencemarkan nama baik sekolah dan beberapa anak sempat mengguyurnya dengan air. Parahnya Renatta kalap dan naik ke pagar pembatas gedung, terpaksa Renov menyeretnya sebelum ia benar-benar loncat...” jelas Renov dalam satu tarikan nafas. Ia takut melihat wajah kecewa mamanya.
“Astaga... orang tua macam apa itu? Mereka pikir mereka siapa? Tuhan? Apa mereka tidak kasihan melihat Renatta?” Mama memandang Renatta nanar, tidak menyangka apa yang dialami oleh gadis itu. Beliau sudah mendengar kabar tentang Renatta dari Renov. Renov sangat dekat dengan Mamanya sehingga ia sering kali bercerita tentang dirinya. Hal yang jarang dilakukan oleh anak laki-laki pada orang tuanya.
“Kadang kesempatan seperti inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang iri untuk menyakitinya, Ma. Mama ingat kan? Dia gadis yang populer di sekolah, dia juga cantik...” Renov tersenyum malu menatap Mamanya.
“Pasti banyak sekali yang menyukainya kan?” Mama ikut terenyum melihat tingkah anak laki-lakinya.
“Mungkin, tapi yang aku tahu, tidak ada satupun lelaki yang berani mendekatinya, Ma...”
“Kenapa?” Mama bingung dengan kalimat Renov. Bukannya biasanya gadis populer itu di kelilingi laki-laki.
__ADS_1
“Biasanya mereka gengsi jika pacarnya lebih diunggulkan dari mereka kan? Takut dibanding-bandingkan mungkin?” tebak Renov.
“Lalu kau?” goda Mama.
“Renov mungkin cuma beruntung, Ma...” Renov nyengir polos. Ia tidak akan menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Renatta dan semua kejadian buruk yang selalui ia temui ketika bersama Renatta. Cukup mereka berdua yang tahu.
“Anak ini...” Mama mengacak rambut Renov gemas dengan anak laki-lakinya.
“Renatta cenderung tertutup mah di depan teman-temannya. Ia ramah, saking ramahnya jadi susah di dekati mungkin?” Renov menatap pintu kamar tamu dengan pandangan penuh kesedihan, “walaupun dia sedang seperti itu saat ini, Renatta tetap Renatta yang tidak bisa dibandingkan dengan siapapun. Dia luar biasa, Ma...” keduanya masih membicarakan Renatta sampai Om Yanu keluar dari kamar. Ibu dan anak itu segera menghampirinya.
“Bagaimana, Yan?” tanya Mama.
“Kakinya tak apa, hanya lecet dan terkilir sedikit, tidak sampai seminggu dia sudah sembuh. Tapi yang jadi masalah luka yang lain, yang tak bisa disembuhkan oleh obat. Dia seolah sedang melawan sesuatu, ada apa sebenarnya?” Om Yanu ikut penasaran.
“Ayahnya bunuh diri, Yan. Baru sekitar empat hari yang lalu...” desah Mama pelan.
“Tidak ada, ibunya juga sudah meninggal. Renov juga bingung Om, Renov juga menjadi salah satu saksi mata peristiwa itu dan Om tahu apa yang Renatta lakukan? Dia mengurus semuanya, sendiri...” Renov berhenti untuk melihat reaksi Mama dan Omnya, “Renatta terlihat begitu baik-baik saja sehingga membuat Renov khawatir dan tadi pagi gadis itu tiba-tiba hendak meloncat dari gedung sekolah...”
“Apa?” Om Yanu juga terkejut mendengarnya. Ia menatap keduanya bergantian sambil mengusap dahinya yang tiba-tiba terasa berat, ragu ingin menanyakan sesuatu, “apa perlu Om kenalkan ke psikiater?” tanyanya.
“Kami akan menjaganya sementara ini, Yan. Kita lihat perkembangannya nanti...” jawab Mama langsung menolak tawaran itu.
“Mbak sudah membicarakannya pada Mas Haikal?” tanya Yanu memastikan bahwa seluruh keluarga Renov sudah membicarakan keputusannya.
“Sudah, Masmu tidak keberatan terlebih lagi aku wanita sendiri di rumah ini. Semua anakku laki-laki dan mungkin ini kesempatan yang diberikan Tuhan padaku untuk memiliki dan merawat seorang anak perempuan”, Mama Renov terlihat lebih semangat dari anaknya sendiri.
“Apa Renatta akan menyetujuinya?” tanya Om Yanu sekali lagi.
“Aku yang akan meyakinkannya”, jawab Ibu Renov yakin.
__ADS_1
“Baiklah, kalian pasti sudah memiliki rencana. Ini resepnya, kalau ada apa-apa hubungi aku, aku senang bisa membantu, Mbak...” Om Yanu lantas berdiri dan pamit. Ia harus kembali ke rumah sakit.
“Makasih ya, Yan. Kapan-kapan makan malam di sini...” Mama mengantar Om Yanu keluar bersama Renov.
“Iya Mbak, sampaikan salamku ke Mas Haikal.”
Selepas kepergian Om Yanu, Renov masuk ke dalam rumah, ia menengok Renatta sebelum pergi keluar untuk menebus obatnya. Ia khawatir kalau gadis itu terbangun saat ia tidak di rumah namun Mama meyakinkan Renov kalau Renatta akan baik-baik saja.
***
Lena terbangun beberapa jam kemudian, ia mendapati dirinya berada di kamar yang begitu asing. Ia melihat ke sekeliling ruangan dan melihat seorang wanita paruh baya duduk di sampingnya. Lena tersenyum canggung, tidak mengenal beliau.
“Kamu sudah sadar Renatta?” Lena hanya tersenyum, setidaknya ia tahu hanya Renov yang memanggilnya demikian, jadi Lena berpikir mungkin beliau adalah mamanya Renov.
“Iya Tante, saya ada di mana ya?” tanya Lena ragu.
“Syukurlah.... Kamu ada di rumah Mama, mamanya Renov, Sayang...” Mama lantas memeluk Lena, membuat gadis itu tergagap. Tubuhnya membeku, berada dipelukan sosok seorang ibu membuat hatinya terasa hangat. Kapan terakhir kali ibunya memeluknya? Lena sudah lupa, lupa dengan kehangatan dan sentuhan seorang ibu. Tanpa disadarinya air mata jatuh dari pelupuk matanya, tangan Lena bergetar membalas pelukan Mama.
“Renatta...” Mama terkejut saat menyadari bahwa Lena menangis. Beliau mempererat pelukannya sambil sesekali mengusap puncak kepala Lena lembut, membiarkan gadis itu mencurahkan isi hatinya.
“Benar, seperti itu, menangislah sepuasnya, Sayang. Sekarang kamu tidak sendirian. Mama akan jadi mamamu, kau juga akan memiliki Papa dan juga tiga kakak laki-laki. Kau nggak akan kesepian lagi, kami akan menjagamu jadi semuanya akan baik-baik saja, Sayang...” mendengar ucapan yang penuh dengan kasih sayang itu hanya membuat isakan Lena semakin kencang. Mama juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya, matanya berkaca-kaca saat mendengar Lena menangis pilu dipelukannya.
“Renatta...” suara Renov yang baru datang membuat Lena tak bisa menghentikan tangisnya. Rasa syukur yang ia rasakan tercurah melalui tangisnya sore itu. Ia tahu kini ia tak lagi sendirian, setidaknya Lena memiliki kekuatan untuk bertahan dan menghadapi dunianya saat ini.
***
__ADS_1