BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 15; Bereavement


__ADS_3

“Hey, Lena!” Lena menoleh saat seseorang memanggilnya. Ia melihat dua orang kakak kelas yang sedang berjalan menghampirinya. Air muka keduanya tidak ramah, seolah Lena telah melakukan kesalahan yang fatal. Ia hanya menunggu sampai kedua kakak kelasnya itu mendekatinya.


“Iya...”


“Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi? Apa benar berita tentang ayah lo itu? Kalau benar kenapa masih sekolah di sini? Siapa saja yang mencemarkan nama baik sekolah wajib dikeluarkan kan?” Lena hanya memandang mereka datar, tak ingin menjawab pertanyaan itu.


“Lalu apa-apaan kemarin itu? Kenapa lo tiba-tiba dekat dengan Kak Renov? Lo sengaja ya memanfaatkan kematian ayah lo itu untuk menggodanya?” Lena semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka berdua.


“Asal kakak-kakak ini tahu, aku tidak melakukan apapun yang mencemarkan nama baik sekolah dan untuk Mas Renov, aku sudah cukup lama mengenal dia. Apa aku perlu membuat pengumuman siapa-siapa saja yang dekat denganku?” Lena menjawabnya jujur.


“Lo jangan sombong deh!” salah satu dari mereka berdua mendorong bahu Lena keras.


“Itu dia!” Lena dan dua orang kakak kelasnya ikut terkejut saat kerumunan orang tua murid berlari mendatanginya. Kepala sekolah dan beberapa guru ikut berlari menyusul mereka.


“Kenapa kamu masih tenang-tenang saja di sini?”


“Pindah saja lah!”


“Kami tidak mau anak kami satu sekolah denganmu!”


“Pak, bagaimana ini? Kenapa tidak menyuruh dia pindah secepatnya?”


“Saya malu jika ditanya rekan bisnis saya tentang kejadian ini!”


“Kenapa kita harus menanggung malu dari orang yang bukan siapa-siapa kita?”


“Sabar Bu, Pak, sabar!”


“Bapak ini! Tidak usah melindunginya, Bapak juga lelah kan dikejar-kejar wartawan atas kasus ini? Ini sekolah favorit Pak! Kami sudah mengeluarkan banyak uang untuk anak-anak kami dan sekolah ini!”


Lena tertegun mendengar perkataan orang tua murid yang tiba-tiba saja menghakimi dirinya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan mereka seperti menjawab pertanyaan kedua kakak kelasnya tadi. Ia justru bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa? Kenapa mereka harus malu saat dirinyalah yang menanggung semua ingatan yang mengerikan ini? Kenapa mereka merasa dirugikan sementara ia merasa semua miliknya direnggut dari sisinya? Lena menatap mereka nanar. Ia tak mampu untuk mengucapkan apapun, bahkan untuk bernafas sekalipun sangat sesak di sini.


Saat Lena masih belum dapat menerima semua ucapan itu seorang wali murid merenggut rambut Lena dan menariknya. Matanya ****** melihat Lena yang tidak mengatakan apapun dari tadi.


“Gara-gara Ayah bodoh lo, keluarga kami kehilangan kontrak yang besar! Bagaimana lo akan mengganti kerugian kami? Hah?” ia meluapkan emosinya pada Lena.

__ADS_1


“Bu tolong jangan begini Bu, semua bisa dibicarakan baik-baik!” Bu Reni mencoba melepaskan tangan wali itu dari rambut Lena, “malu Bu di lihat anak-anak...”


Baru saja wali itu melepaskan rambutnya, seorang murid yang membawa sebotol air mineral menuangkannya di atas kepala Lena. Lena masih tidak bisa bergeming. Tubuhnya bergetar hebat menahan semua pergulatan batin yang di alaminya. Sebenarnya apa yang terjadi pada hidupnya?


“Karla!” handrik Bu Reni.


“Biar kesialan Lena berhenti, Bu!” teriak Karla lalu diikuti derai tawa teman-temannya.


“APA-APAAN SEMUA INI!” kepala sekolah berteriak kalap, membuat semua orang hanya terdiam, “sekolah ini tidak pernah mengajarkan kekerasan! Dari mana kalian mendapatkan pelajaran seperti itu? Apa kalian tidak malu? Kita ini orang berpendidikan, kenapa kalian semua malah bertindak seperti orang yang tidak beretika dan berempati seperti ini? Bapak dan Ibu juga, apa benar yang Anda semua lakukan? Bapak dan Ibu seharusnya malu dengan tindakan Anda saat ini!”


Hati Lena begitu perih, kesedihan ini seolah tidak berakhir. Ia sempat mengira semuanya akan baik-baik saja jika ia terus tegar, ia bahkan mampu kembali tersenyum setelah apa yang terjadi pada ayahnya, namun kini kekuatan untuk bangkit seolah menguap dari dalam diri Lena. Kepercayaan dirinya hilang karena semua orang mengkhianatinya, baik ayahnya sendiri, dan kini sekolahnya.


“Lena, kamu tidak apa-apa, Nak?” pertanyaan itu begitu menyakitkan ditelinganya, bagaimana mungkin ia baik-baik saja?


Lena berjalan mendekati pagar di sampingnya dan dalam hitungan detik gadis itu naik ke pagar pembatas lantai dua gedung sekolahnya. Semua orang berteriak, antara terkejut dan takut jika Lena sampai terjatuh dari sana.


“Lena, jangan Nak!”


“Lena!”


“Nak, jangan berpikiran sempit seperti itu…”


“Lena jangan lakukan…”


Semua larangan itu bagaikan dorongan bagi Lena. Semuanya terdengar sama, jika Lena jatuh dan mati bunuh diri di sini semuanya akan selesai bagi Lena, tapi tidak dengan pihak sekolahan. Mereka akan mendapatkan kenangan buruk sama seperti dirinya, sekolah akan mendapatkan citra buruk karena tidak berhasil menjaga muridnya, dan dia benar-benar akan memperburuk citra sekolahannya. Balas dendam yang setimpal, pikir Lena dalam hati.


Lena lelah, ia susah payah untuk bangkit dan melupakan kenangan tentang ayahnya. Ia mencoba menjalani kehidupannya seperti orang normal pada umumnya, tapi semua orang justu menganggap apa yang terjadi pada keluarganya adalah aib yang memalukan, mencoreng wajah mereka yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan Lena. Sedangkan Lena? Ia berjuang sendirian menghadapi semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia ini? Benar-benar tidak adil bagi Lena.


“Lena! Jangan Len, lo masih punya gue, elo masih punya orang-orang yang menyayangi elo, gue mohon Lena…” Chery menangis, ia hendak meraih tangan Lena, membujuknya.


“Jangan mendekat…” bisik Lena, tatapan matanya begitu putus asa, keceriaan gadis itu memudar, cahaya sepenuhnya menghilang dari jiwanya, “semua ini begitu melelahkan… gue hanya ingin bebas…”


“Lena...”


“GUE YANG DI TINGGAL MATI! Ayah gue yang bunuh diri! Kenapa harus gue? KENAPA?!” teriak Lena putus asa. Gadis menatap orang-orang di hadapannya dengan penuh luka.

__ADS_1


“Kenapa kalian yang begitu terganggu dengan apa yang terjadi pada gue? Kalian tahu apa yang gue rasain? Apa kalian pikir dengan membuang gue dari sekolah ini kalian akan jadi lebih baik? Kalau gitu akan lebih baik jika gue sendiri yang mengakhrinya. Biar kalian semua BAHAGIA!” Lena menatap mereka semua satu persatu, meminta jawaban atas takdir kejam yang menimpa dirinya.


Lena lalu tersenyum, padahal kemarin dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan melakukan hal-hal bodoh, bahwa ia akan menyayangi dirinya sendiri. Tapi saat ini ia justru memikirkan hal sebaliknya, untuk apa ia memperpanjang penderitaan ini?


“Semua akan selesai dengan cepat, jangan khawatir gue akan berbaik hati membagi kenangan itu bersama kalian. Kalian akan tahu dan mengerti apa yang gue rasakan jika kalian mengalaminya sendiri, kan?”, Lena menatap langit yang biru bersih, biasanya gadis itu akan mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan langit yang begitu indah itu, namun saat ini pun seolah langit sedang mengejeknya. Di tengah semua kepedihan hidupnya, langit justru sedang menyombongkan keindahannya.


Lena memejamkan matanya. Ia bahagia karena dengan begini ia akan bertemu dengan orangtuanya. Keluarganya akan untuk kembali. Ia akan bahagia. Tapi Lena tidak mengerti kenapa ia menangis saat akan menyembut kebahagiaannya itu. Entahlah. Lena menarik nafas untuk terakhir kalinya dan membiarkan dirinya jatuh ke bawah sana. Mengakhrinya.


“Kyaaa!”


“Lena!”


Semua teriakan itu bersambut dengan seseorang yang menggapai tangan Lena tepat sebelum ia menjatuhkan dirinya. Orang itu menarik Lena hingga Lena jatuh menimpanya. Belum sempat Lena sadar dengan apa yang terjadi, orang itu sudah menarik Lena berdiri. Mata Lena bertatapan dengan mata laki-laki yang terlihat murka.


“Apa elo pikir, jika loncat elo bakalan mati dari sini?” tanya Renov pelan namun penuh ancaman, “Elo bilang apa? Elo ingin mereka mengalami apa yang elo rasakan?”


“ELO PIKIR ELO SIAPA?” Renov berteriak dan menatap Lena dengan tatapan yang merendahkan, “apa elo pikir jika elo meloncat dari sini dan mati, mereka benar-benar merasakan sakit seperti yang elo rasakan? TARUH DI MANA OTAK LO?!”


Renov lantas menarik kasar tangan Lena. Ia menyibak kerumunan yang tercengang di depannya dan menyeret gadis itu pergi. Mereka lalu melihat Renov menarik Lena ke arah tangga.


“Renov! Apa yang akan kau lakukan!” Bu Reni yang menyadari jalan pikiran Renov berlari mengikuti mereka yang menaikki tangga ke lantai gedung yang lebih tinggi. Renov mengancam siapa saja yang berusaha mengikuti mereka dengan tatapan matanya. Semua yang ada di sana hanya menatap ngeri pada Renov yang sedang menarik Lena kasar. Mereka seolah tidak ingin ikut campur dan berurusan dengan Renov.


“Renov!” Bu Reni terlihat memohon.


“Mas…” rintih Lena. Ia berulang kali jatuh terantuk tangga namun Renov tak menghiraukannya dan terus mernarik Lena.


“Jangan mengeluh sakit, lagi pula sebentar lagi elo bakalan mati kan?” jawab Renov tanpa menatap Lena. Ia lalu membuka pintu menuju lantai empat gedung sekolah dan melempar Lena hingga menabrak pagar pembatas gedung.


“Jika dari sini mungkin elo benar-benar mati, cepat loncat!” perintah Renov sambil menatap Lena tajam.


Lena hanya bisa tercengang melihat Renov yang terlihat begitu kalap. Ia baru menyadari bahwa ia melakukan kesalahan, “Mas…”


“GUE BILANG LONCAT SEKARANG!”


***

__ADS_1


__ADS_2