BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 8; Rumah Tempat Tinggal Renatta


__ADS_3

Lena perlahan membuka matanya. Ia sudah tidak berada di halaman rumah Pak Wahyu melainkan di dalam mobil.


Lena terkejut dan bangun, namun rasa sakit menyerang kepalanya. Saat ia menoleh ia melihat Renov yang sedang duduk di belakang kemudi. Wajahnya terlihat kalut memandang jalanan Jakarta yang begitu padat.


“Mas...” panggil Lena lega melihat Renov yang ada di sampingnya.


“Lo dah bangun?” Renov menoleh saat Lena memanggilnya, “lo baik-baik aja?”


“Kepalaku... ah...” Lena memijat keningnya pelan.


“Lo juga demam...” tambah Renov, ia kembali memandang ke depan saat mobil di depannya bergerak maju perlahan.


“Kita mau ke mana?” tanya Lena.


“Ke rumah sakit...” jawab Renov tanpa menoleh pada Lena. Ia tidak melihat perubahan wajah Lena yang memucat.


“Kita pulang saja...” ajak Lena lirih.


“Nggak bisa. Kita harus ke rumah sakit...”


“Aku nggak mau!” tanpa sengaja Lena meninggikan suaranya. Saat Renov menoleh karena terkejut, ia melihat Lena memalingkan wajahnya.


“Kita harus ke rumah sakit, Re...” Renov hati-hati menyentuh lengan Lena, mencoba membujuknya.


“Aku nggak mau... aku mau pulang...” kata Lena lagi tanpa menoleh ke arah Renov.

__ADS_1


“Re...lo nangis?” Renov seolah menyadari sesuatu, walau ia terkejut, ia tetap mencoba tenang, “hei...” Renov menggenggam jemari Lena lembut.


“Kita pulang aja ya, Mas...” Lena menunduk, mengamati jarinya yang digenggam Renov. Walapun pandangannya kabur oleh air matanya, Lena masih bisa melihat dengan jelas kekhawatiran Renov.


“Iya, kita pulang, jangan nangis...eh boleh ding nangis, tapi jangan lama-lama...” Renov melepaskan gengaman tangannya dan mengelus lengan Lena karena mobil di depannya kembali berjalan. Renov tidak mengerti kenapa Lena sampai seperti itu. Renov melirik Lena dari ujung matanya dan membelokkan mobil ke arah rumah Lena.


“Maafin aku, Mas...”kata Lena lirih. Ia merasa sangat konyol. Kenapa ia justru menangis di hadapan laki-laki itu. Ini pertama kalinya ia menangis di depan orang lain. Keadaannya sungguh di luar kendalinya. Kenapa tiba-tiba semuanya terasa begitu berat di bahunya.


“Kenapa malah minta maaf, gue yang minta maaf, “ Renov mengusap sisa air mata yang ada di dagu Lena dengan punggung tangannya. Ia tak menyangka Lena akan menangis di depannya seperti tadi. Hati Renov tiba-tiba porak-poranda karena membuat gadis itu menangis untuk kedua kalinya.


“Gue denger lo cuma tinggal sama Ayah. Kalau kita pulang, siapa yang akan ngerawat elo nanti? Ayah lo kerjakan? Makannya gue pengen ajak elo ke rumah sakit”, Lena mengguk pelan menjawab pertanyaan Renov. Tapi salah satu alasan kenapa Lena tak ingin ke rumah sakit adalah karena ayahnya akan sangat mengkhawatirkannya. Ia tidak mau membuat ayahnya cemas. Terlebih lagi Lena tidak suka berada di rumah sakit. Rumah sakit memberikan kenangan menyakitkan atas meninggalnya ibunya.


“Lena punya dokter keluarga kok, Mas...” jawab Lena asal. Sejujurnya Lena berbohong. Ia juga tidak ingin dokter keluarganya tahu karena itu sama saja memberitahu ayahnya.


Renov kembali melirik Lena, ia bisa melihat kegundahan di hati Lena. Sebenarnya apa yang ingin disembunyikan Lena darinya?


***


“Lo yakin nggak perlu memanggil dokter?” tanya Renov sambil membantu Lena duduk di tempat tidurnya. Sesampainya di kediaman Lena, Renov memapah gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sangat sederhana. Hanya ada perabot seperlunya. Renov mengedarkan pandangannya.


“Iya, Lena nggak papa kok, Mas. Hanya demam sedikit, tak perlu memanggil dokter. Lena juga punya obat di rumah”, Lena menujuk nakas yang ada di sebelahnya. Renov lantas membuka nakas tersebut dan mengambil beberapa obat dari dalam laci.


“Gue ambilkan air dulu...” Renov bergegas keluar dari kamar Lena dan berjalan menuju dapur rumah yang sempat ia lihat saat masuk ke dalam rumah.


Rumah Lena tidak terlalu besar, dari ruang tamu langsung ke ruang keluarga yang diapit oleh pintu kaca menuju halaman di sebelah kiri, beberapa kamar di bagian belakang, dan dapur di sebelah kanan. Terdapat tangga naik ke lantai dua samping dapur, dan dari ruang keluarga Renov bisa melihat adanya dua kamar yang mengapit sebuah ruang yang penuh dengan buku.

__ADS_1


Renov kembali ke kamar Lena dan menyerahkan segelas air putih padanya. Lena meraih gelas itu sambil tersenyum. Merasa nyaman dengan perlakuan Renov padanya.


“Terima kasih...” ucap Lena tulus.


“Ya lo memang harus banyak berterima kasih pada gue hari ini. Cepat minum obatnya dan tidur. Gue bakalan jagain elo sampai ayah lo pulang...” Renov meraih selimut Lena dan menutupi tubuh gadis itu hingga ke lehernya


“Mas boleh pulang, sungguh. Lena baik-baik saja,” Lena menatap laki-laki itu tak enak. Tidak sopan kan membiarkan tamunya sendiri sementara dia tidur di kamarnya.


“Gue yang nggak baik-baik aja. Gue udah nurutin permintaan lo dan sekarang lebih baik lo diem. Gue juga sudah janji ke Pak Sony buat jagain elo!”, perintah Renov tegas, “tenang saja, gue jinak kok. Elo boleh percaya sama gue. Gue nggak akan nyerang elo...” ucap Renov kali ini lebih halus sambil nyengir.


“Aku percaya Mas, hanya saja...” Lena tetap tidak enak membiarkan tamunya sendirian.


“Apa? Elo mau gue temenin tidur di sini?”


“Nggak Mas! Nggak usah...eh nggak boleh...” Lena tergagap mendengar pertanyaan Renov. Ia lalu menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


“Jangan khawatir, banyak yang bisa gue lakuin di sini, menonton TV atau membaca buku. Gue lihat banyak sekali buku di lantai dua...” Renov menarik selimut Lena agar bisa melihat wajahnya. Renov lalu tersenyum meyakinkan, “Re, elo nggak harus selalu terlihat baik-baik saja untuk membuat orang lain nggak ngawatirin lo...”


Lena membuang pandangannya. Entah kenapa, saat Renov menatapnya seperti itu, Lena seolah tidak bisa memakai topeng apapun untuk menutupi perasaanya. Renov tidak hanya melihat ke dalam matanya, tapi ke dalam hatinya, membuat Lena khawatir namun ia juga merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.


“Baiklah, lakukan apapun yang Mas suka kalau Mas memaksa...” Lena merapatkan selimutnya dan memejamkan matanya perlahan. Obat yang diminumnya sudah mulai bereaksi, membuatnya mengantuk.


Renov tersenyum saat mendengar dengkuran lembut dari Lena. Ia lalu keluar dari kamar, Renov membuka pintu kaca di samping ruang keluarga dan menghirup udara di sekelilingnya dalam-dalam. Hal lain yang melengkapi rumah ini adalah taman yang luas. Rumah Lena boleh dibilang kecil namun halaman rumah Lena begitu luas dan hijau oleh berbagai macam tumbuhan. Renov berfikir, kalau mereka hanya tinggal berdua, bagaimana cara Lena merawat tamannya?


Renov berbaring di balik pintu kaca sambil membaca salah satu buku yang ia ambil dari rak terdekatnya. Hanya beberapa halaman yang Renov baca sampai ia tertidur. Udara yang sejuk membuatnya mengantuk dan tertidur di sana.

__ADS_1


***


__ADS_2