
“Adik-adik, kalian tidak boleh di sini! Silahkan keluar!” perintah seorang petugas polisi pada mereka berdua. Lena tak bergeming melihat pemandangan di depannya. Ia benar-benar tidak mempercayai apa yang ada dihadapannya.
“Re...” Renov berdiri di hadapan Rena untuk menghalangi pandangannya.
“Minggir, Mas...” Lena mendorong Renov agar menyingkir. Ia ingin melihat semuanya dengan jelas. Ia ingin terbangun dari semua mimpi buruk ini.
“Ya Tuhan...” bukannya menyingkir, Renov justru mendekap kepala Lena dengan erat. Menahan seluruh tenaga Lena yang meronta ingin melepaskan diri.
“Kalian tolong minggir, ini bukan tontonan!” perintah petugas polisi itu sekali lagi.
“Memang bukan Pak, tapi bisa jelaskan apa yang terjadi dengan Ayah kami?” Renov bertanya sambil menatap mata petugas itu dengan pilu. Polisi itu tercengang menatap Renov yang masih menahan amukan Lena di pelukannya.
“Kalian tunggu sampai pemeriksaan selesai. Lebih baik kamu jaga adik kamu. Percayakan semuannya pada kami...” Polisi itu menghela nafas melihat kakak-beradik itu. Ia lalu melanjutkan penyelidikan dengan hati yang begitu berat. Ada apa dengan dunia ini?
Renov masih terus menahan Lena dalam dekapanya sambil memperhatikan situasi sekitar. Puluhan pasang mata melihat ke arah Lena dengan iba, mulut mereka tidak kunjung berhenti menyampaikan kabar buruk ke siapa saja yang baru datang menengok keadaan, suara polisi yang terus saja berteriak memberikan instruksi, dan suara ambulan yang memecah semua kebisingan itu. Mata Renov berkaca-kaca saat melihat petugas polisi dan PMI sibuk menurunkan tubuh kaku ayah Lena yang menggantung di langit-langit ruang keluarga. Kenapa dunia ini begitu kejam pada Lena?
“Aku mohon Mas, lepaskan aku...” Lena masih berusaha melepaskan diri dari Renov.
“Sebentar lagi...sebentar lagi, Sayang...” Renov mengencangkan pelukkannya. Ia tak ingin Lena menyaksikan semua kejadian pilu ini.
Renov kemudian menyeret Lena yang sudah lebih tenang keluar dari lingkungan rumahnya. Rumahnya semakin ramai dan wartawan sudah mulai terlihat memburu berita. Lena tidak boleh terekspos media sehingga Renov memutuskan untuk membawanya pergi. Lena hanya mengikuti langkah kaki Renov dalam diam. Renov berjalan menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh di jalan kompleks sebelum rumah Lena.
“Renatta…” Renov berjongkok di hadapan Lena yang duduk termangu di jok samping mobil.
Lena hanya diam dan tatapan mata gadis itu kosong. Saat memperhatikan Lena untuk kesekian kali, Renov menyadari bahwa Lena mengepalkan tangannya dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Cepat-cepat ia meraih tangan Lena dan berusaha melepaskan kepalan tangan itu. Telapak tangan Lena sudah mulai berdarah oleh kukunya sendiri.
__ADS_1
“Re...jangan sakiti dirimu sendiri”, katanya lagi. Lena masih tidak mengucapkan apapun, ia bahkan tidak menangis.
“Kenapa sih Mas memanggilku seperti itu?” ucap Lena lirih, ia akhirnya memandang Renov yang sedang berjongkok dihadapannya. Lelaki itu kini membersihkan luka di lutut Lena yang terantuk tortoar saat berjalan tadi.
“Wajarkan? Namamu Renatta?”
“Tapi kenapa!” suara Lena meninggi.
“Karena kau tetaplah Renatta apapun yang terjadi...” Renov tidak tahu arah pembicaraan ini.
“Aku pasti sedang bermimpi kan? Sungguh lucu! Seorang Renov sedang berlutut di hadapanku! Seorang yang begitu dihindari kini mengusap kakiku dengan lembut, dan adegan yang lebih menarik lagi...” Lena tak kuasa melanjutkan kalimatnya, “ayahku bunuh diri!”
“Bunuh diri Mas! Mas dengar itu? Jika ini dijadikan novel ceritanya akan hebat sekali kan? Plot twistnya luar biasa kan? Benarkan? Sekenario ini luar biasa kan, Mas?” Lena berteriak dalam satu tarikan nafas. Gemuruh di hatinya tak kuasa ia tahan.
“Re, ambil nafas Re...” Renov memilih tetap tenang dengan situasi ini. Lena benar-benar tertekan dengan situasinya namun ia seolah kebingungan mengeluarkan emosi mana yang paling tepat saat ini.
“Kamu ingin aku mengatakan apa? Semuanya akan baik-baik saja? Jelas semuanya tidak baik saat ini. Aku akan selalu ada di sini? Itu sudah jelas...” Renov menatap Lena dengan tajam, ia menyakinkan Lena bahwa dia benar-benar tulus saat mengatakannya, “coba tenangkan dirimu dan katakan apa yang kamu mau...”
“Mas tau novel yang membuatku mendapat penghargaan itu? Itu semua nyata Mas. Mas pasti sudah tahukan? Mas benar, akulah gadis dalam novel itu. Gadis dalam novel itu mendapatkan penghargaan setelah semua kerja kerasnya. Ia yang belajar mati-matian agar nilainya selalu sempurna. Ia yang bahkan memberikan pelajaran tambahan di tempat bimbingan belajar agar memperoleh uang sakunya sendiri. Ia yang selalu bangun lebih pagi daripada murid lain karena harus memasak sarapan untuk ayahnya yang telah berkerja keras. Ia yang selalu tersenyum menyambut ayahnya pulang. Ia yang selalu menjadi gadis baik di rumah dan di sekolahnya... Ia yang...” nafas Lena tersengal menceritakan isi novel yang pernah ditulisnya.
“Penghargaan yang paling besar bukan karena merenima plakat atau setifikat, bukan juga ucapan selamat, tapi saat Mas mengatakan bahwa aku sudah berusaha keras di lapangan siang itu...” Lena menatap Renov teduh, “aku berharap Ayah juga mengatakan hal yang Mas katakan... tapi...”
“...tapi Lena yang sebenarnya ini justru mendapat hadiah yang lebih luar biasa, Ayah yang begitu dihormatinya justru bunuh diri di hari ulang tahun anaknya. Kenapa harus seperti ini Mas? Bukankah lebih baik jika Ayah pergi daripada bunuh diri?” Renov bisa melihat dengan jelas bahwa Lena sedang marah. Marah? Bukankah itu emosi yang tidak pas ketika seharusnya ia merasa sedih? Renov mengamati berbagai perubahan wajah Lena.
Renov menyadari sesuatu, ulang tahun? Ia lalu dengan pahit menelan ludahnya. Apa tidak ada yang lebih menyakitkan lagi daripada ini? Air mata Renov menggenang, membuat Lena terlihat samar di matanya.
__ADS_1
“Kenapa harus bunuh diri...” kata Lena lirih. Renov terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan Lena.
“Katakan padaku! Apa yang mereka pikirkan ketika akan bunuh diri? Penderitaan mereka berakhir, tapi aku? Orang-orang yang tertinggal di dunia ini yang menanggung semuanya! Mereka meninggalkan kenangan menyakitkan. Semua kenangan indah bersama mereka hilang seketika, Mas. Hilang!”
“Aku harus gimana melanjutkan hidupku? Apa yang harus aku lakukan dengan kenangan yang mengerikan ini! Hah?!” Lena berteriak, melimpahkan semua amarahnya ke satu-satunya orang yang ada di hadapannya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Bahkan air mata pun tak mau keluar dari matanya, ia terlampau marah pada ayahnya yang meninggal dengan cara seperti itu. Setelah semua pengertian yang ia berikan pada ayahnya yang sibuk itu, imbalan seperti ini yang Lena dapatkan sebagai balasan. Benar-benar tidak adil.
“Seperti katamu tadi Renatta, semua ini hanya mimpi, besok ketika kamu bangun, rasa sakitnya akan berkurang. Begitu seterusnya hingga rasa sakit itu benar-benar hilang dari hatimu...”
“Mas nggak perlu membohongiku, aku nggak sebodoh itu untuk menganggap semua ini mimpi, aku tahu ini kenyataan Mas. Lututku sakit sekali, sesakit hatiku...” Renov menatap Lena nanar, ia tak menyangka pertemuannya kali dengan Lena akan menjadi seperti ini.
Renov menghela nafas dengan berat. Instingnya tidak pernah membohonginya. Lena tak sepenuhnya salah, Renov benar-benar membuntuti gadis itu dari sepulang sekolah. Perasaannya masih tidak tenang membiarkan Lena berangkat sekolah hari ini. Kemarin Pak Wahyu kembali menghubunginya untuk menyampaikan kabar bahwa Lena kembali meringkuk di taman rumah Pak Wahyu. Seharusnya dia beristirahat sehari atau dua hari lagi, namu gadis itu tetap ngotot dan berangkat ke sekolah. Lena seolah-olah tak ingin berada sendirian di rumahnya dan saat menjemputnya sore tadi Renov langsung tahu bahwa gadis itu memang sedang tidak baik-baik saja. Meskipun gadis itu sedang tersenyum sambil memandangi langit sore, Renov bisa melihat dengan jelas kegelisahan di matanya.
Renov tak bisa berhenti penasaran pada Lena sejak pertemuan pertama mereka. Gadis itu selalu berada pada kondisi terburuknya saat bertemu dengan Renov. Tanpa Renov sadari, matanya selalu mengikuti Lena kemanapun ia pergi di sekolahnya. Ia memastikan lokasi gadis itu ada dalam jangkuan pandangannya agar ia bisa datang pada gadis itu di waktu tepat. Renov tertegun, waktu yang tepat? Ia teringat pertanyaanya pada Lena dan menatap gadis itu sedih. Waktu yang tepat untukku belum tentu waktu yang tepat untuk Lena ataupun sebaliknya.
“Renatta...” kali ini Renov menyentuh pipi Lena, mencoba menarik perhatiannya agar ia melihat ke arah mata Renov.
“Lena nggak perlu dikasihani, Mas...” Lena tersenyum, kali ini senyum putus asa. Ia tahu semua penolakan yang ada di dalam hatinya tidak akan merubah keadaan. Lena hanya cukup menghadapinya. Setidaknya ia sudah terbiasa sendiri, ada atau tidak ayahnya di rumah itu tidak berarti apapun untuk Lena, pikirnya.
“Bukan begitu Lena, tapi aku sangat khawatir saat kamu begitu tenang seperti ini. Kamu boleh menangis sepuasnya, kamu boleh berteriak sekencang-kencangnya. Tapi jika kamu hanya diam dan tersenyum seperti itu, aku benar-benar takut padamu...” hal yang disebutkan Renov adalah hal yang wajar jika mengalami apa yang Lena alami. Tapi gadis itu benar-benar terlihat tenang dan baik-baik saja.
“Mas nggak usah berlebihan seperti itu, Lena benar-benar baik-baik saja. Siapa saja bisa mengalami hal ini, lagi pula Ayah Lena bukanlah Ayah yang selalu memperhatikan anaknya. Ayah selalu percaya bahwa anaknya mampu menjaga dirinya sendiri, anaknya dapat dipercaya, jadi Ayah pasti bunuh diri dengan pikiran bahwa anaknya, aku, akan baik-baik saja! Ya, Ayah selalu percaya padaku seperti itu”, Lena kembali mengucapkan kalimat yang sulit sekali Renov mengerti. Gadis itu begitu pintar menyembunyikan perasaanya, begitu cerdas mengatur ketenangannya.
“Kamu benar-benar marah rupanya...” desis Renov pelan, sengaja agar Lena menoleh padanya, “kamu marah kan? Karena ayahmu pergi dengan cara seperti itu? Kamu pasti merasa terhianati oleh semua kenyataan yang selama ini kamu percayai?” Lena menatap Renov dengan pandangan terluka. Bagaimana laki-laki ini bisa mengartikannya seperti itu?
“Nak...” panggil petugas polisi yang menghampiri mereka, “ada keluarga yang bisa kamu hubungi? Kami harus membicarakan hal ini dengan orang yang lebih dewasa.”
__ADS_1
“Tidak ada Pak, saya adalah satu-satunya keluarga yang ada di Jakarta, nenek saya ada di luar kota”, Lena berdiri dan menghampiri petugas itu. Mereka berbicara sambil kembali ke rumah. Renov memilih membuntuti Lena dalam diam. Kemanapun Lena pergi, mata Renov tak lepas dari dirinya.
***