BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 13; Ini kah Sekolah?


__ADS_3

“Kudengar ayahnya bunuh diri...”


“Yang benar?”


“Apa? Gatung diri?”


“Kamu nggak baca koran kemarin?”


“Apa ayahnya bangkrut?”


“Ah bisa saja, lalu kenapa dia masih sekolah di sini?”


“Tak tahu malu, kenapa tak sekalian ikut mati aja sih...”


Lena menebalkan telinganya, ia jelas-jelas mendengar apa yang teman-teman sekolahnya bicarakan tentang kematian ayahnya. Kematian yang benar-benar tak diduganya. Apa yang mereka katakan benar, ayahnya memang bunuh diri karena perusahaannya bangkrut. Apa yang bisa dilakukan Lena? Tidak ada.


Lena mengedarkan pandangan ke seluruh kelas yang tiba-tiba hening.Teman-temannya memandanginya dengan tatapan yang tak bisa Lena mengerti. Entah terkejut, tidak percaya, dan juga iba. Mereka semua mematung, matanya tak lepas dari sosok Lena.


“Kok lo udah berangkat sih Len?” Chery menghampiri Lena dan menariknya duduk di mejanya.


“Gue bingung mau ngapain di rumah...” jawab Lena pelan.


“Elo kok bisa-bisanya masuk sih, ini kan baru hari ketiga Len?” salah seorang temannya mendekat, Sarah mengusap lengan Lena, “elo udah baik-baik saja?”


“Mana mungkin Lena baik-baik saja bodoh!” Chery melotot pada temannya itu dan menarik Lena ke sampingnya, “Apa yang terjadi? Apa lo tidak apa-apa datang ke sekolah hari ini?”


“Tak apa, ujian sudah dekat. Yah apapun bisa terjadi, tapi hidupku masih panjang kan?” Lena tertawa, bukan tertawa yang dibuat-buat namun teman-temannya tidak ada yang ikut tertawa, memandanginya dengan iba.


“Lo mending pulang deh. Elo udah mulai gila...” Chery menggeleng pelan, bisa-bisanya Lena bercanda.


“Gue bosen di rumah, Cher...”


“Bisa-bisanya lo bilang rumah, kalau gue, gue udah ogah tinggal di sana...” celetuk salah satu teman sekelas Lena. Lena hanya tersenyum menanggapinya.


“Kalau itu elo, gue malah udah nggak yakin elo berani idup saat ini!” Chery ternyata tidak terima. Ia hendak berdiri menghandriknya, namun Lena menariknya duduk kembali.


“Kenapa sih lo, Yen?” tegur Sarah, “nggak lihat lo Lena yang sedang beduka?”


“Berduka? Jelas dia baik-baik saja gitu kok, jangan lebay deh. Apa kalian nggak curiga? Ayahnya mati tapi dia bisa-bisanya kayak gitu. Jangan-jangan elo malah berharap Ayah lo mati ya, Len?” Yena masih saja memancing kegaduhan di kelasnya. Hal ini membuat teman-teman sekelas ikt naik darah juga.

__ADS_1


“Jaga mulut lo!” kali ini Chery tidak bisa menahan amarahnya, wajahnya yang putih itu berubah memerah.


“Cher, udah...” Lena berdiri dan memeluk sahabatnya itu.


“Ada apa ini?” guru kelas Lena masuk. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan itu, kelas pagi langsung di mulai dan tentu saja, tidak ada yang bisa berkonsentrasi dengan pelajaran pagi itu.


***


Saat Lena memutuskan untuk datang ke sekolah hari ini, ia sudah mengingatkan hatinya berulang kali. Kehidupannya tidak akan lagi sama seperti sebelum ayahnya bunuh diri. Ia membaca berbagai pemberitaan yang konotasinya tidak mengenakan. Berita buruk malah. Ia tahu benar bahwa Lena bukan lagi siswi yang menjadi kebanggaan dan teladan di sekolahnya, ia jutru akan mengancam nama baik sekolahnya.


Hal yang sangat wajar untuk sekolah elit seperti itu, banyak sekali saingan dan orang yang ingin menjatuhkan satu sama lain. Walau semua kejadian ini bukan salah Lena, ia tahu ialah yang harus menanggung akibatnya.


Lena tak ingin dikasihani, ia tak ingin memohon pada teman-temannya untuk mengerti keadaanya. Tak ada yang bisa memahami perasaannya karena mereka tak mengalami apa yang Lena alami saat ini. Jadi hal yang bisa dilakukannya untuk bertahan di sekolahnya saat ini adalah menerima segalanya.


Lena hanya berdiam diri di kelasnya saat istirahat pelajaran. Ia akan pulang paling belakangan nanti. Jujur Lena merasa lelah dengan semua ini, ingin sekali ia menghindari teman-teman sekolahnya. Tak hanya satu dua kali, tapi berulang kali ada teman atau kakak kelas yang mendatangi kelasnya untuk mencari tahu atau menanyakan perihal kematian ayahnya itu. Kematian yang tak wajar tentunya. Tapi Lena menyadari, kalau ia tidak menghadapi ini sekarang, ia juga akan mengalaminya nanti. Sama saja, jadi lebih cepat ia menghadapinya, lebih cepat semua ini selesai.


“Lena, ada yang nunggu elo di luar…” salah seorang teman Lena memanggilnya. Ia lalu pergi dengan terburu-buru. Ini sudah kesekian kalinya ada orang yang mencarinya, Lena keluar dari kelas dengan setelah menghembuskan nafas pasrah.


“Mas Renov!” Lena terkejut saat melihat Renov berdiri di depan kelasnya. Penampilannya tidak seperti terakhir kali mereka bertemu. Wajah yang tersenyum lembut itu benar-benar tersembunyi dibalik ekspresi tajam dan tegasnya. Mata tajamnya membuat siapa saja tak berani menatapnya langsung. Setelah terbiasa dengan sikap Renov yang lembut, Lena lupa dan menjadi asing dengan sosok asli Renov yang satu ini.


“Kenapa?” tanya Renov tak mengerti dengan keterkejutan Lena.


“Jika kamu nggak ingin menarik perhatian, bukankah justru lebih mencolok jika kamu menggandeng tanganku seperti ini ya?”Renov mengingatkan karena ia juga merasakan tatapan aneh yang mengarah ke mereka berdua.


“Benar juga…” Lena melepaskan tangan Renov dan berjalan mendahuluinya ke belakang sekolah. Jauh dari jangkauan teman-teman sekolahnya.


“Ada apa, Mas? Kok tiba-tiba nyariin Renatta?” Renov justru tersenyum mendengar Lena memanggil dirinya sendiri Renatta, “Mas!” panggil Lena, menyadarkan Renov yang justru tersenyum sambil memandanginya seperti itu.


“Ah, sorry... tadi aku ke rumah dan terkejut saat rumahmu kosong. Lebih terkejut lagi saat aku tahu kamu berangkat sekolah hari ini. Sudah makan?” yang ditanya hanya menggeleng pelan, "kita ke kantin aja kalau gitu...”


“Nggak mau...” jawab Lena pelan.


“Kenapa? Apa ada yang mengganggumu di sekolah?” Renov menanyakannya dengan tegas.


“Tentu saja ada, siapa yang tidak penasaran dengan kematian Ayah yang begitu tiba-tiba?” Lena mengerti kenapa Renov menayakan hal tersebut. Laki-laki itu mengkhawatirkannya.


Hari ini Lena terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Lena merasa kesendirian yang ia rasakan begitu menyakiti hatinya. Keheningan rumahnya membuat bulu kuduknya meremang. Tapi berdiam diri di rumah bukan solusi yang menyenangkan, jadi Lena memutuskan berangkat hari ini dan menghadapai kenyataannya secepat mungkin.


“Kita ke kantin sekarang...” kali ini Renov yang menarik tangan Lena.

__ADS_1


“Mas!” Lena tahu ia tidak bisa menghentikan Renov yang seperti itu. Mereka membuat seisi kantin terkejut namun tak ada yang berani mengeluarkan suara saat melihat wajah Renov. Lena akhirnya memesan nasi goreng dan memilih tempat duduk yang paling jauh dari jangkauan teman-temannya.


“Kita kaya show off nggak sih Mas?” bisik Lena.


“Memang iya...” Renov tak menghiraukan kegelisahan Lena. Ia menatap sosok di depannya ini lekat-lekat, “keberatan?” Lena menggeleng. Ia lalu meminum teh panasnya.


“Re...” panggil Renov pelan.


“Apa?”


“Apa kamu tidak apa-apa tinggal sendirian di rumah? Nggak takut?” Lena justru tersenyum karena lagi-lagi lelaki di hadapannya ini menjadi orang yang dikenalinya.


“Renatta baik-baik saja Mas, lihat sendiri kan? Kalau masalah tinggal sendiri sudah biasa, hanya saja Renatta nggak bisa bohong masalah takut di rumah sendirian. Hehehe, kadang-kadang Renatta masih ingat tentang Ayah…” ingatan Lena kembali pada saat-saat ia membuka pintu rumah dan mendapati bayangan ayahnya menggantung di ruang keluarganya. Tanpa ia sadari air mukanya berubah.


“Apa tidak sebaiknya kamu pindah rumah?” saran Renov.


“Pindah ke mana? Renatta kan nggak punya saudara di Jakarta…” Renov menyesali ucapannya. Ia seakan baru ingat bahwa Lena hanya sendirian. Keduannya kembali terdiam, “dimakan Re…” bujuk Renov saat melihat Lena tidak terlalu berselera dengan makannya.


“Iya, Mas. Rasanya sudah sangat lama sekali ketika ada seseorang yang nemenin Renatta makan. Ternyata makan bersama itu membuat rasa makanannya lebih enak”, tanpa Lena sadari, ia mengeluh pada Renov. Ini bukan kali pertamanya dia seperti itu. Terkadang di balik semua kata-katanya yang penuh dengan kedewasaan dan penerimaan, terselib keluhan yang tak pernah Lena sadari ia bagi dengan Renov.


“Kalau gitu sering-seringlah menghubungiku, aku bisa menemanimu makan malam. Aku juga bisa mengantarmu pulang…”


“Mas nggak boleh bohong loh. Renattamu ini tidak pernah menolak rejeki. Jadi jangan sampai Mas menyesal nantinya…” Lena tersenyum lalu kembali menyantap makannya lebih lahap.


Renattamu? Renov tertegun.Ia menyadari bahwa jatungnya berdebar saat Lena mengatakannya. Tubuhnya bergetar menerima sensasi yang belum pernah dirasakannya . Renov menatap Lena lekat-lekat, memperhatikan gadis yang kini terlihat lebih bersemangat untuk menghabiskan makannya. Rambutnya sampai berantakan karena ia terlalu sering menghapus keringat di dahinya. Renov sadar, ia menyukai Lena karena dia Lena, bukan karena kasihan dengannya.


Lena juga terkejut dengan apa yang diucapkannya sendiri. Ia tak menyangka kalau panggilan itu terdengar begitu istimewa dihatinya. Lena tahu semejak Renov menemaninya di malam kematian ayahnya itu, Renov telah memiliki satu tempat tersendiri di hatinya. Lena lantas nasi gorengnya dengan terburu-buru. Tak peduli itu panas atau pedas, Lena menghabiskan makannya. Ia tak menyadari kalau dirinya terlihat berantakan sampai Renov mengulurkan tangan dan merapikan rambutnya. Hal-hal kecil seperti inilah yang paling ditakuti oleh Lena. Awalnya sangat kecil, namun akumulasi dari semuanya menjadi sangat besar dan membuat hatinya tak berhenti bergetar.


Kedua mata Lena dan Renov bertemu, untuk beberapa saat mereka berdua terdiam dan menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Bisik-bisik pun semakin lama semakin keras. Kerumunan orang yang menyaksikan mereka berdua berada di satu meja yang sama pun juga semakin banyak. Kombinasi yang tidak biasa antara Renov dan Lena.


Renov berdiri dari tempat duduknya, membuat Lena menarik lengan bajunya, “mau kemana?”


“Ke kasir, sudah selesai kan makannya? Lebih baik kita pergi dari sini. Kamu nggak ada ekstrakurikuler kan?” Lena menggeleng lantas mengikuti Renov ke kasir, “kamu baik-baik di sini, tar aku jemput pulangnya…”


“Mas Renov seneng banget sih mutusin apa-apa sepihak gitu, nanya dulu sama Renatta dong!”


“Kamu nggak cocok kalau ngambek gitu…” Renov lantas mendorong tubuh Lena dari belakang ke arah kelasnya, “see you...” Renov lalu melambaikan tangannya tanpa menoleh pada Lena. Lena menghembuskan nafas pasrah menatap punggung Renov yang menjauh.


***

__ADS_1


__ADS_2