
“Kenapa Mas begitu baik dengan Lena?”
Renov tidak segera menjawab pertanyaan Lena. Ia justru memandang Lena dalam diam. Seolah mempertimbangkan akan mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak. Setelah upacara di auditorium itu, gadis itu menarik perhatiannya. Renov diam-diam memperhatikan Lena dari kejauhan. Ia tahu bahwa ia tertarik pada Lena.
Lena selalu terlihat ceria ketika bersama teman-temannya. Namun detik berikutnya, tanpa ia sadari wajahnya selalu terlihat begitu mendung. Di mata Renov, Lena terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. Renov melihat dunia gadis itu seolah hendak runtuh kapan saja. Perasaan itu begitu menganggu Renov. Ia ingin menjadi orang yang membuat kesedihan di mata Lena menghilang.
“Mas...” Lena mengalihkan pandangannya. Tatapan mata Renov membuatnya merasa ingin kabur dari sana. Lena melepaskan sabuk pengamannya dan buru-buru keluar dari mobil Renov.
“Sekarang gue tanya, apa harus selalu ada alasan untuk berbuat baik?” pertanyaan Renov membuat Lena berhenti berjalan. Laki-laki itu tidak salah, Lena jadi bertanya pada dirinya sendiri.
“Tidak...” Lena mengakui. Ia kembali berjalan mendahului Renov.
“Lo punya pacar?” tanya Renov tiba-tiba membuat Lena menghentikan langkahnya untuk kedua kalinya dan menoleh pada Renov kaget.
“Ti...tidak, kenapa?” jawab Lena gugup. Tidak mungkin kan Renov mengajaknya pacaran?
“Owh, baguslah. Jadi nggak ada yang marah jika gue ngajakin elo makan. Gue cuma ngajakin elo makan. Kenapa? Ya, karena gue laper...” Renov nyengir saat melihat Lena yang membalikkan badannya dengan tiba-tiba. Gadis itu telihat...kecewa?
“Kita belum makan dari tadi siang? Elo nggak inget gue nungguin orang yang tidur kayak orang pingsan?” Lena menatap tajam ke arah Renov. Kenapa ia selalu menggodanya seperti itu sih?
“Mas yang bayar ya!” Lena lalu berjalan meninggalkan Renov. Renov mengikuti Lena dengan senyum lebar setelah berhasil menggodanya.
Renov memutuskan untuk mengatakan perasaanya lain kali. Renov melihat gadis di hadapannya ini masih penuh dengan misteri. Ia seolah berperang dengan dirinya sendiri, dan ini bukan waktunya untuk mengganggu peperangan itu.
“Pelan-pelan makannya...” tegur Renov saat melihat Lena makan dengan terburu-buru. Ia memperhatikan Lena dengan seksama, “apa anak-anak sekolah kita tahu kalau idola mereka makan seperti orang bar-bar?”
__ADS_1
“Siapa yang idola? Aku?” mata Lena melotot tak percaya.
“Iya, elo kan populer, lo nggak tahu?” Lena menjawab pertanyaan Renov degan gelengan.
“Berapa cowok yang udah nembak elo?” pertanyaan Renov membuat Lena tersedak. Walau Renov merasa bersalah, namun ia tertawa sambil mengulurkan air minum ke Lena. Gadis itu terlihat begitu polos di matanya.
“Jangan ngejek, nggak pernah ada!” Lena menghandrik Renov setelah batuknya mereda. Ia lalu memalingkan wajahnya saat melihat Renov masih tersenyum lebar di hadapannya. Kenapa ia selalu melihat sisi lain dari Renov yang membuat hatinya bergetar seperti ini?
“Bener juga...” Renov terlihat berfikir, “hanya ada dua jenis wanita yang sulit sekali mendapatkan pacar. Pertama, karena cewek itu terlalu tidak peduli dan yang kedua karena cewek itu terlalu populer, dua tipe itu paling lama dan awet jomblonya...” Renov semangat, “dan elo kayaknya dua-duanya. Populer dan nggak peduli!”
“Kesimpulan dari mana tuh! Ngarang! Lalu Mas sendiri yang mana? Oh karena Mas terlalu populer jadi cowok dingin di sekolah ini ya?” tanpa sadar Lena kehilangan ketenangannya dan terbawa oleh godaan Renov, membuat Renov tertawa kencang. Puas telah menghancurkan dinding pertahanan Lena yang telalu tenang.
“Emang ngarang, tapi berdasarkan pengamatan, bener juga tuh ucapan lo. Gue sepopuler itu ya?” Renov justru berlagak sombong, semakin menggoda Lena.
“Ohh, jadi Mas ini diam-diam mengamati! Dasar cowok!”
“Mas juga nggak punya pacar?” Lena memberanikan diri untuk bertanya.
“Ehm, menurut teori gue tadi, karena gue terlalu populer jadi gue juga nggak punya...” Renov tersenyum kali ini. Senyum yang membuat Lena memalingkan wajahnya lagi. Kenapa laki-laki dihadapannya mendadak telihat begitu menawan? Lena menjadi serakah, ia ingin melihat lebih banyak ekspresi wajah Renov yang jarang sekali diperlihatkan pada orang lain itu.
“Karena kita begitu populernya sampai-sampai kita nggak memiliki pacar, apa nggak sebaiknya kita pacaran aja?” pertanyaan Renov membuat Lena menoleh, ia belum mempercayai apa yang ia dengar dari Renov. Mata mereka bertemu, membuat jantungnya bergetar tak karuan, tangannya mulai berkeringat dan Lena kehilangan kata-katanya. Ia tahu bahwa Renov serius dengan kata-katanya karena laki-laki ini menatapnya dengan mata yang penuh dengan keyakinan seperti itu.
Walau Renov juga terkejut dengan ucapannya sendiri, ia menelan ludah gugup menunggu seperti apa reaksi Lena atas kecerobohannya itu. Mereka berdua saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama tanpa mengatakan apapun.
“Mas... Lena...” Lena ingin mengakhiri kecanggungan ini.
__ADS_1
“I know. Sorry gue kecelposan...” Renov menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Mas bercanda kan ya, ha ha ha...” Lena tertawa canggung, terlihat sekali dibuat-buat.
“No! Gue nggak bercanda, gue nggak mungkin bercanda masalah ginian. Tapi gue tau ini bukan saatnya elo ataupun gue pacaran. Take your time...” Renov menyentuh ujung kepala Lena sambil tersenyum lembut, “yuk, gue anterin elo pulang...” Renov mendahului Lena berjalan ke arah kasir.
Lena menatap punggung di hadapannya itu dengan hati bergetar. Ia belum memahami apa itu cinta, ia belum tahu apa makna dari hubungan pacaran. Namun pertanyaan Renov tak bisa membuatnya tidak bahagia. Ia sangat bersyukur ada orang yang memperhatikannya seperti ini, membuatnya ingin sejenak melepaskan segala bebannya dan menyandarkan diri di bahunya.
Renov kembali melihat wajah mendung Lena yang berdiri di sampingnya. Ia merasa Lena memikul beban berat di pundaknya yang mungil itu. Lena bahkan sampai tidak tahu kalau Renov sudah selesai melakukan pembayara. Renov lalu menepuk kedua bahu Lena dan mendorongnya keluar resto.
“Mas!” Lena berteriak karena Renov tiba-tiba berlari tanpa melepas tangannya dari bahunya. Lena mau tak mau ikut berlari untuk mengimbangi kekuatan Renov, kalau tidak ia bisa jatuh tersungkur, belum lagi kalau Renov juga ikut jatuh menimpanya.
Laki-laki itu tertawa puas sesampainya di mobil.
Walau Lena kesal dengan sikap Renov yang angin-anginan, ia bersyukur Renov melakukannya. Tanpa Renov sadari ia mengangkat tekanan yang ada di pundak Lena walau untuk sesaat.
“Mas makasih ya untuk hari ini...” pamit Lena saat mereka sudah sampai di depan rumahnya.
“Mau gue anterin masuk?” Renov melirik rumah Lena yang gelap. Lampu rumahnya belum ada yang menyalakan. Apa ia tinggal sendiri?
“Nggak usah Mas, mungkin Ayah belum pulang, jadi masih gelap. Nggak usah khawatir...” Lena lalu turun dari mobil dan masuk ke rumahnya setelah melambaikan tangan pada Renov.
Renov melirik dashbor mobilnya. Jam sembilan malam, kenapa sampai selarut ini Ayahnya belum pulang? Renov mengusir jauh pikiran buruknya. Ia lalu mengijak pedal gas meninggalkan kediaman Lena.
***
__ADS_1