BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 20; Say Good Bye


__ADS_3

Lena duduk di lorong sekolah bersama teman-temannya, mereka menunggu orang tua dan wali murid yang sedang rapat sekaligus pembagian raport kenaikan kelas. Lena masih belum menceritakan kepindahannya pada teman-temannya. Ia ingin menikmati masa sekolahnya di sini sampai akhir.


“Renatta...”


“Ah Mama...” Lena bangkit dari duduknya dan buru-buru menghampiri Mama Renov.


“Siang, Tante...” sapa Chery sambil ikut berdiri.


“Siang Cantik...” Mama mengusap bahu Chery pelan.


“Udah, Ma?” tanya Lena melihat Mama yang membawa berkas di tangannya.


“Kita perlu mengurus beberapa berkas di kantor, ayo berikan salam perpisahanmu pada teman-temanmu...” ucapan Mama membuat teman-teman Lena menoleh terkejut.


“Kok pamit Len?” Chery bingung.


“Apa maksudnya Len?” tanya Sony, ketua kelasnya.


“Seperti yang Mama katakan, hari ini adalah hari terakhir teman-teman. Gue akan pindah sekolah dan tinggal di Jogja. Oleh karena itu...” Lena memandang teman-temannya satu-satu dengan mata berkaca-kaca, “terima kasih atas semuanya dan aku juga minta maaf atas semua yang menjadi kekuranganku saat bersama kalian selama setahun ini...” Lena membungkukkan badannya memberikan salam terakhirnya.


“Kenapa tiba-tiba?” tanya Chery tak percaya. Ia berdiri dan menghampiri Lena lantas memeluknya, “kau benar-benar jahat!” Chery mulai menangis. Beberapa teman Lena ikut menghampiri dan memeluknya. Lena hanya tersenyum kepada teman-temannya. Ia mengerti perpisahan ini membawa kesedihan, namun bukan kesedihan yang buruk. Lena justru bahagia teman-temannya begitu menyayanginya.


“Elo akan sering-sering menghubungi kami kan?” Lena mengangguk.


“Elo harus selalu sehat di sana ya? Kami sedih, tapi kami tidak bisa melarang elo Len. Ini demi kebaikan elo kan?” Lena mengangguk lebih mantap, ia lantas berpamitan kepada teman-temannya dan pergi meninggalkan sekolah yang memberikan banyak kenangan selama setahun ini.


“Bagaimana kalau malam ini kita pesta di belakang rumah?” tanya Mama saat berada diperjalanan pulang.


“Pesta?” tanya Lena semangat.


“Iya, dulu kami sering pesta barbecue dan camping di belakang rumah, Sayang...” jelas Mama.

__ADS_1


“Mau, Ma!”, mereka berdua mulai membicarakan menu makan malam lalu menyempatkan diri berbelanja di supermarket. Hari ini mereka berencana mengadakan acara makan malam bersama merayakan kenaikan kelas Lena dan diterimanya Renov di universitas kenamaan di Bandung.


“Apa-apaan ini?” Renov yang hendak menyambut Lena terkejut saat melihat kedua wanita yang paling ia sayangi membawa banyak kantong belanjaan di tangan mereka.


“Kita akan pesta!” jawab Lena semangat.


“Barbecue Ma?” Renov memastikan pada Mamanya.


“Iya, Mama sudah menghubungi kakak-kakakmu untuk langsung pulang ke rumah malam ini. Lama kita tidak barbecue di belakang rumah”, jawab Mama sambil memberikan tas belanjaanya pada Renov.


“Asiiiiikk”, Renov mengambil tas belanjaan Mama dan Lena dengan senang. Acara keluarga adalah hal yang paling menyenangkan bagi Renov. Mereka dulu sering kali menghabiskan waktu bersama hanya dengan bermain di taman belakang rumah. Namun sejak kakak pertamanya kerja di luar kota, mereka jarang melakukan kegiatan kumpul keluarga ini. Terlebih lagi, pesta kali ini Lena ada di tengah-tengah keluarga mereka.


“Acara seperti ini spesial rupanya, Mas tiba-tiba jadi semangat gitu...” Lena mulai membantu persiapan di dapur setelah mengganti baju seragamnya dengan kaos yang lebih nyaman.


“Kamu pasti akan menyukainya, ini seperti camping...” jawab Renov yang sibuk mencuci buah dan sayur.


“Tentunya, aku menyukai keluarga Mas...” Lena tersenyum lebar sambil memandang Renov dengan penuh rasa syukur.


***


“... berikan kesehatan kepada kami agar kami mampu menjaga dan membimbing anak-anak kami. Berikan ilmu yang bermanfaat dan rejeki yang barokah pada anak-anak kami dan...” Papa memandang ke arah Lena dengan lembut, “terima kasih telah mempertemukan kami dengan Renatta, semoga Engkau selalu melindunginya seperti Engkau melindungi keluarga kami, amiin...”


“Amin...”


Mata Lena berkaca-kaca. Ia tidak tahu akan mendapatkan kesempatan seperti ini. Ia tidak menyangka bahwa dia akan memperoleh kebahagiaan yang mampu memenuhi seluruh sel kebahagiannya yang kering.


“Re, nangis Re?” Renov yang ada di sebelah Lena menepuk bahu Lena pelan sambil tertawa.


“Jangan digodain terus Nov...” Remon kakak kedua Renov mulai menjahili adiknya itu. Ia baru saja kembali dari Jogja dan sempat terkejut dengan perubahan adik laki-lakinya. Terakhir ia meninggalkannya ia masih menangis tapi kini ia sudah begitu dewasa dan berani membawa wanita pulang ke rumahnya. Ia sudah gatal sekali ingin menjahilinya.


“Ye, suka-suka...”

__ADS_1


“Idih posesif, elo sama gue aja Re...” Remon beralih ke Lena yang masih mengusap ingusnya.


“Ih ogah...” yang menjawab Renov tentunya.


“Sudah-sudah kalian makan dulu kenapa sih?” tegur Mama, mereka lalu mulai menikmati makan malam dalam suasana yang begitu hangat. Lena lebih banyak diam menyimak dan menikmati setiap detik yang ia lalui bersama keluarga yang telah menemukannya itu. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, keluarganya terlalu sepi dan dingin.


Malam ini Lena, Renov, Rehan, dan Remon tidur di halaman. Mereka tidur beralaskan matras dan bergelut dalam sleeping bag masing-masing. Mereka memandangi bintang sambil bercerita satu sama lain. Hal-hal seperti inilah yang membuat ketiga kakak beradik itu dekat satu sama lain. Jujur Lena begitu iri dengan mereka.


“Renatta jadi berangkat ke Jogja?” tanya Remon sambil melirik pada gadis itu.


“Jadi, Mas...” jawab Lena.


“Kenapa nggak bareng Mas aja berangkatnya?” tanya Remon heran.


“Kan kuliah sama sekolah beda Mas tanggal liburnya, Renatta juga harus mengurus keperluan lainnya juga kan?” jawab Lena.


“Oh iya ya....” Remon mengiyakan penjelasan Lena kemudian berteriak, “wah.., Renov bakalan cemburu dong kalau gitu?” Remon tertawa menggoda adiknya. Remon kuliah semester akhir di Jogja dan itu berarti dirinyalah yang paling dekat dengan Lena.


“Nggak, kan aku percama sama Renatta...” jawab Renov yakin.


“Eciye... adik kakak udah gede...” Rehan ikut menanggapi. Mereka kemudian bergantian menggoda Renov yang mulai kebingungan. Lena memperhatikan mereka bertiga dan hanya bisa tertawa menanggapi ocehan mereka.


“Renatta belain Mas dong!” protes Renov.


“Renatta nyerah kalau suruh berdebat dengan Mas Rehan dan Mas Remon. Kalah tua!” bela Lena.


“Tuh denger tuh, kita kan lebih tua darimu, Mas Rehan dah kerja, aku juga sebentar lagi lulus, bisa jadi nanti Renatta malah nikahnya sama kita kalau kamu kelamaan ngelamar. Apalagi nungguin kamu selesai kuliah...” tambah Remon.


“Apaan sih Mas! Tua aja bangga!” Renov keluar dari sleeping bag dan menindih Remon, mereka berdua saling bercanda dan tertawa.


“Ayo tidur-tidur, nggak enak sama tetangga...” Rehan menengahi mereka berdua dan mulai memejamkan matanya, “peraturannya masih sama, siapa yang bangun terakhir akan cuci muka dengan air kolam renang”, Lena melotot, ia tidak tau ada peraturan seperti itu. Renov dan Remon langsung tertib dan mulai tidur.

__ADS_1


“Tenang saja Renatta, kalau kamu bangun kesiangan aku akan menemanimu berenang di kolam renang...” Lena tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Renov. Mana mungkin dia bangun kesiangan.


***


__ADS_2