
Lena membuka matanya, ia melihat sekelilingnya dan mendapati dia yang pertama bangun. Lena lantas berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Matanya masih terasa berat karena baru tidur selama dua jam, namun ia pasti otomatis bangun jam empat pagi.
“Kamu sudah bangun ternyata...” Rehan kaget saat melihat Lena yang keluar dari kamar mandi.
“Iya Mas, Renatta kebelet...” Lena meringis, setelah cuci muka ia merasa lebih segar.
“Bohong. Pasti bukan karena itu kan?”
“Dulu, waktu masih tinggal berdua dengan Ayah, Renatta berinisiatif untuk bangun pagi dan menyiapkan kebutuhan Ayah termasuk sarapan kami. Walau Ayah sudah pergi, kebiasaan itu nggak bisa hilang. Kadang memang Renatta mengisi waktu dengan menulis atau membantu Mama menyiapkan sarapan. Tapi rasanya tetep beda...” Lena menatap Rehan yang memperhatikannya dengan seksama, “kayak ada lubang besar di sini...” Lena menekan dadanya.
Rehan mengela nafas, “Mas harus ngomong apa Re? Mas nggak bisa bantu apa-apa, justru Mas yang belajar banyak dari kamu...”
“Mas udah banyak sekali membantu Renatta. Terima kasih...” Lena mengatakannya dengan tulus.
“Ada satu hal lagi Re, Ayahmu...” Rehan menatap Lena ragu, “Ayahmu sakit...”
“Renatta tahu Mas...” potong Lena sambil menatap Rehan meyakinkan, “Renatta pernah melihat bungkus obat-obatan yang ada di tempat sampah. Renatta tidak sebodoh itu untuk tidak bertanya, Ayah terkena tumor kan?” Rehan hanya menatap Lena penuh dengan penghargaan, “maka dari itu, Renatta sudah memaafkan Ayah...”
Lena masih ingat itu, kenalannya meneleponnya, memberikan kabar bahwa semua obat yang Lena tanyakan adalah obat untuk tumor dan itu tumor otak. Hati Lena terasa begitu perih bagaikan di iris dengan belati. Lena yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya bersembunyi di dalam kamar mandi dan menangis sejadinya. Saat itulah Renov menemukannya dan memberikan bahunya untuk Lena. Renov dengan sabar menunggunya tanpa menanyakan permasalah apa yang dihadapi Lena. Ia sangat bersyukur Renov yang menemukannya waktu itu.
“Boleh aku memelukmu?” tanya Rehan ragu. Ia melihat cahaya mata Lena yang meredup saat ia melamun. Ia ingin memberikan semangat dan juga meyakinkan Lena bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan Lena paham itu, sehingga tanpa menjawab pertanyaan Rehan, Lena maju dan memeluk Rehan dengan sepenuh hati layaknya anak kecil yang menyambut pelukan kakaknya. Ia sangat bersyukur sekali dengan kebaikan yang dia terima dari keluarga ini. Orang-orang di rumah ini ditakdirkan untuk menjadi orang-orang baik.
“Mas Rehan kalau ada masalah dengan urusan Ayah jangan sungkan ya cerita sama Renatta...” pinta Lena. Jujur ia tidak tahu menahu tentang penyelesaian aset milik keluarganya. Jadi ia hanya bisa percaya pada Rehan.
“Tenang aja, tidak ada yang bermasalah. Semuanya baik-baik saja. Kamu juga masih punya tabungan yang cukup. Jadi...” Rehan melepas pelukkannya dan tangannya meraih puncak kepala Lena, mengusapnya lembut, “lanjutkan hidupmu, lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jangan sampai menyesal. Jangan pikirkan kami. Renov akan baik-baik saja di sini, dan jika kau mengalami kesulitan di Jogja jangan sungkan untuk menghubungi Remon.”
“Iya Mas, tentu saja...” Lena tersenyum tulus, “eh biasanya siapa yang sering sarapan kolam renang, Mas?” Lena lalu melirik ke arah tenda dan melihat Remon bangun. Matanya setengah terpenjam saat menyaksikan apa yang dilakukan Lena dan Rehan.
“Aku juga mau peluk...” Remon yang masih setengah sadar merentangkan tangannya lebar-lebar.
“Nah kita sudah menemukan korban kita!” Rehan lantas berjalan pelan-pelan ke arah Remon yang ternyata bangun terlebih dahulu.
Lena memperhatikan kedua kakak Renov sibuk menyingkirkan sleeping bag yang di pakai oleh Renov, kemudian setelah memastikan adik laki-lakinya tidak membawa barang eletronik apapun bersamanya mereka mengangkat Renov secepat kilat dan melemparkannya ke dalam kolam renang.
“Aaaaaaaahahhahahahaha...” suara tawa riang dari Rehan, Remon, dan Lena bersamaan dengan suara air tenang yang tiba-tiba tertimpa badan Renov.
“Uhuk..uhukk... dingin sumpah. Kalian benar-benar tega...” Renov berenang ke pinggir kolam dan mengulurkan tangannya ke arah mereka berdua tapi tidak ada yang merespon.
__ADS_1
“Sini...” Lena yang tidak memahami situasinya meraih tangan Renov.
“Akhhhh....” gadis itu berteriak saat Renov menariknya ke dalam kolam. Ia lalu mengulurkan tangannya ke arah Lena dan menariknya mendekat.
“Hemm, adikku ini tega sekali dengan wanita, padahal dia yang bangun pertama kali...” gumam Rehan.
“Hemm, adikku ini pintar sekali merayu wanita pagi-pagi, kebiasaan modus yang patut diwaspadai...” gumam Remon menambahi.
“Sini sama Mas Rehan atau Mas Remon aja...” mereka berdua mengulurkan tangan dan menarik Lena ke atas.
“Mas jangan ngomong yang nggak-nggak...” mereka berdua tidak memperdulikan Renov dan sibuk tertawa sambil membimbing Lena masuk ke dalam rumah. Renov menyusul mereka dengan sebal dan ikut tertawa sambil memeluk Rehan dan Remon bergantian. Membuat mereka ikut basah.
“Kalian harus mengepel lantai hari ini!” teriak Mama dari ujung ruangan, “udah gede masih aja tegil!” keempat kakak beradik itu berlari menyelamatkan diri.
***
“Apa kamu benar-benar yakin akan pergi?” Renov bertanya pada Lena yang sibuk mengemasi semua barang-barangnya.
“Hmmm...” jawab Lena tenang.
“Tidak bisakah kamu tetep di sini demi aku?” tingkah Renov seperti anak kecil ketika ia berguling di atas tempat tidur yang sudah dirapikan Lena.
“Ehmmmmm” Renov hanya tersenyum mendengar pertanyaan Lena.
“Semua udah direncanakan kan Mas, ini bukan demi siapa-siapa kok. Demi kita, demi masa depan kita jadi jangan seperti itu...” Lena menatap Renov dengan tegas, “kita udah membicarakan ini baik-baik kan Mas?”
“Iya, Mas hanya bercanda kok Re...” Renov berbohong. Ia sejujurnya tak ingin Lena pergi.
“Mas nggak cocok bersikap manja seperti itu”, Lena selesai mengemas semua barangnya, “nah, ayo Mas...” Renov meraih koper Lena dan membantunya membawa koper itu ke dalam mobil.
“Papa, Mama, Renatta pamit ya...” Lena memeluk kedua orang tua Renov bergantian, ia benar-benar bersyukur telah dipertemukan dengan mereka berdua. Kehadiran mereka mengisi ruang kosong yang ada di hati Lena.
“Hati-hati ya Nak di sana, jangan lupa selalu bertukar kabar dengan Mamamu ini...” mata Mama berkaca-kaca. Ia sedih karena harus berpisah dengan anak perempuannya. Kebersamaan mereka berdua selama ini mengobati kerinduan Mama akan sosok anak perempuan di keluarganya.
“Mama dan Papa yang terbaik, Renatta tidak akan melupakan kebaikan kalian...” Lena kembali memeluk erat Mama.
“Kita akan selamanya jadi keluarga, Sayang...” ucap Mama membesarkan hati Lena. Ia ingin menegaskan pada Lena bahwa hubungan mereka tidak akan berakhir dengan perpisahan ini.
“Di Jogja nanti jangan sungkan meminta bantuan pada Remon...” pesan Papa, “kakakmu itu walau tingkahnya seperti itu dia tetep orang yang sangat peduli...”
__ADS_1
“Iya, jangan sungkan Re. Nanti Mas susul pertengahan Agustus...” Remon mengacak rambut Lena dengan tangannya.
“Iya, kamu baik-baik ya di sana sama Remon...” Rehan masih saja tersenyum jahil menggoda adik laki-lakinya. Rehan lalu berjalan dan memeluk Lena, “jangan khawatirkan apapun tentang Ayahmu di sini, serahkan semuanya sama Mas Rehan...”
“Mas Rehan jangan mulai deh”, Renov cemberut saat melihat Rehan memeluk Lena. Sejak kapan mereka jadi kompak seperti itu?
“Kalian ini...” Mama menegur kakak beradik itu, “Renatta, pokoknya yang sehat di sana ya? Kalau libur main ke Jakarta, jenguk Mama dan Papa di sini...” Lena mengangguk dan mengucapkan salam pada keluarga itu dengan rasa haru. Ia lalu pamit dan diantar ke bandara oleh Renov.
“Mas, Renatta benar-benar berterima kasih. Sungguh, tanpa Mas mungkin Renatta udah nggak ada di sini sekarang”, Lena bersungguh-sungguh mengungkapkan isi hatinya.
“Jangan berlebihan, kamu tahu? Kamu itu keren Renatta...” Renov meraih tangan Lena dengan tangan kirinya yang tidak memegang kemudi, “aku akan merindukanmu...”
“Hahaha, tentu saja aku juga akan merindukan Mas dan keluarga Mas...” Lena sengaja tersenyum semanis mungkin pada Renov. Mambuat lelaki itu semakin tidak rela rasanya untuk melepaskan tangan Lena.
“Ayo kita turun...” Lena melepas sabuk pengamannya dan bersiap turun ketika mereka sudah sampai di bandara. Renov menyusul Lena dan mengambil alih koper gadis itu.
***
“Akhirnya...aaaaahhhh”, geram Renov seolah mempersiapkan dirinya lagi. Lena hanya memperhatikan tingkah laku Renov sambil tertawa gemas. Ia juga menyukai sisi Renov yang satu ini.
“Renatta pamit ya, Mas...” Lena menatap mata Renov dengan seksama. Kali ini lebih lama.
“Uaaahhhh...” tawa Lena pecah mendengar rengekan Renov.
“Mas...” Lena menepuk bahu laki-laki itu agar tidak terlalu banyak menarik perhatian.
Renov menatap gadisnya itu sekali lagi. Mencoba mengukir wajahnya dalam hati Renov. Ia melihat mata Lena berkaca-kaca, penuh dengan haru dan syarat akan makna yang tidak dapat diartikan oleh Renov.
“Baiklah, aku nggak ingin membuatmu menangis...” Renov meraih tangan Lena dan menggenggamnya dengan dua tangannya, “hati-hati di sana. Jangan lupa menghubungiku ya?” Lena mengangguk mantap, “boleh aku memelukmu?”
“Tidak boleh...” Lena mengatakannya sambil melepas tangan Renov dan meraih leher Renov, memeluknya, “aku yang akan memeluk Mas Renov seperti ini.”
“Jaga dirimu ya, aku mencintaimu Re...”
“Ehm..” Lena mengangguk sambil memeluk Renov. Ia lalu melepaskan pelukan Renov dan meraih kopernya. Sambil tersenyum Lena melambaikan tangannya dan mulai berjalan memunggungi Renov.
Sebelum Lena melewati pintu keberangkatan, ia kembali menoleh dan memandang Renov untuk terakhir kalinya. Lena tak kuasa menahan perasaannya dan kembali berjalan ke arah Renov.
Lena meraih bahu Renov dan tanpa Renov duga gadis itu mengecup singkat bibir Renov. Laki-laki itu belum sempat tersadar dengan apa yang terjadi saat Lena mengatakan kalimat yang terdengar meremukkan hati Renov, “Believe me, I’ll always love you...” kata Lena sebelum ia berbalik dan berjalan meninggalkan Renov tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
***