
"Lenaaaa......!”Lena menutup telinganya serapat mungkin namun suara Chery tetap saja membuatnya memincingkan mata. Ia membiarkan tubuhnya dipeluk dan digoyang-goyangkan dengan asal oleh sahabatnya itu.
“Jelaskaaan! Titik! Elo punya hubungan apa sama Bang....!” belum selesai Chery berbicara, Lena menutup mulut sahabatnya itu sebelum semua orang mendengarnya. Ia sudah cukup lelah semalaman memikirkan apa yang akan terjadi di sekolahannya hari ini. Tapi melihat sikap teman-temannya, sepertinya hanya Chery yang tahu masalah ini.
“Berisik, kita hanya teman. Itu saja tidak ada yang lain...” jawab Lena pelan.
“Bohong, bagaimana bisa elo berteman dengannya? Itu impossible banget!” Chery tetap ngotot.
“Nothing impossible! Kita teman dan itu aja. Titik!” jawab Lena tegas.
“Tapi ini Renov, Lena...”
“Memangnya ada apa dengannya?”
“Hello, siapa sih yang nggak tahu dia? Dia itu tidak pernah sekalipun dekat dengan siapapun dan kini dia itu dekeeeet sama Lena!” Chery masih heboh sendiri. Aku yakin semalaman ia tidak bisa tidur memikirkannya.
“Darimana elo tau kalau kami dekat?” Lena masih tidak mau mengakuinya. Chery semakin kesal dengan sikap Lena. Ia kemudian merebut ponsel Lena dan berlari meninggalkan kelas. Lena heran kenapa tiba-tiba Chery merebut ponselnya. Ia lantas duduk di kursinya dengan tenang. Toh tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lena tidak pernah berhubungan dengan Renov, bahkan nomor handponnya pun tak punya. Itu pikiran Lena.
Tapi sejurus kemudian Lena bangkit dari tempat duduknya dengan wajah pucat dan berlari menyusul Chery yang berlari entah kemana. Lena ingat sesuatu. Foto digalerinya!
“INI APA!?” tapi Chery sudah berhenti berjalan dan berteriak melihat foto yang ada di galeri handphone Lena. Siswa lain melihat Chery dengan wajah bingung.
“Mampus gue...” Lena menepuk dahinya begitu sampai di hadapan Chery. Ia merebut handponnya dari tangan sahabatnya yang masih terkejut tak percaya.
“Kalian...apa yang kalian lakukan? Kalian udah nikah?” bayangan Chery lebih konyol dari yang Lena pikirkan. Menikah?
“Elo dari tadi ngarang aja sih! Mana ada gue nikah, gue masih di bawah umur!” Lena protes tak percaya.
“Tapi kalian main rumah-rumahan gitu, itu dapur rumah elo kan?” tanya Chery dengan wajahnya yang begitu polos itu.
“Iya, gue sakit, elo inget? Mas Renov cuma masakin gue makan malam...” jelas Lena singkat.
__ADS_1
“Gue juga mau dimasakin gitu, so sweet...”
“Jangan ngimpi!”
“Idih gue kan nggak bilang kalau dimasakin Renov!” Lena terkejut. Tanpa sadar ia menggigit bibirnya, kenapa ia tak ingin orang lain sisi Renov yang hanya diketahui olehnya?
Chery yang melihat keterkejutan Lena memutuskan untuk diam. Ia seolah tahu apa yang kini berkecamuk di hati dan pikiran sahabatnya itu. Perlahan Chery tersenyum menyadari temannya ini telah jatuh cinta. Ia tak ingin menganggu tumbuhnya perasaan itu dengan pertanyaan yang tidak perlu, pertanyaan yang mungkin Lena juga belum tahu jawabannya. Biarlah perasaan itu berkembang dengan sendirinya, ia hanya perlu melihatnya dari jauh, dan menyiapkan telinga untuk mendengar saat diperlukan.
“Yuk ke kantin, gue laper...” ajak Chery mengalihkan topik pembicaraan.
***
Lena melihat jam tangannya dan bergegas lari meninggalkan sekolah, tambahan jam pelajaran membuatnya pulang lebih sore dari biasanya. Sebulan lagi ujian, jam pelajaran sekolah seolah tidak cukup dan harus ditambah beberapa jam lagi untuk tambahan materi. Lena berlari, ia harus segera sampai ke tempatnya bekerja sebelum terlambat. Anak-anak menunggunya untuk pelajaran sore ini.
Hari ini benar-benar terasa melelahkan baginya. Setelah seharian harus berkutat dengan soal-soal ujian kenaikan kelasnya, kini ia masih harus berdamai dengan anak didiknya yang cukup menguras tenaganya sore ini. Lena mengela nafas panjang sambil menatap langit yang seolah mengejeknya. Malang sekali nak hidupmu...
Berbeda sekali dengan mendung di hati Lena, langit sore begitu teduh, tidak ada awan mendung yang menutupi langit. Senja yang cantik, warna jingga kemerahan memenuhi cakrawala, menggantikan matahari dengan bulan, bintang mulai mengintip satu dua di langit malam. Lena masih berdiri di luar gedung tempatnya mengajar les sambil memandangi langit senja.
“Renatta...” Lena menoleh, walau jarang sekali seseorang memanggilnya dengan nama depannya kecuali Renov, dengan hati yang penuh harap Lena menoleh ke arah sumber suara.
“Sorry, gue bikin lo kaget ya?” Renov seolah-olah bisa membaca pikiran Lena.
“Iya... kenapa Mas di sini?” Lena melihat sekeliling, tidak ada murid sekolahannya yang ia kenali di sekitarnya, jadi Renov ada di sini sendirian.
“Gue juga les di sini dulu sebelum ujian, hari ini gue sengaja pengen ketemu sama tentor gue buat konsultasi. Lo mau pulang? Yuk sekalian gue anterin...” Lena menaikkan sebelah alisnya tanpa sadar, “tenang gue nggak lagi nguntit elo, serius!” lagi-lagi tebakan Renov benar.
“Ah, nggak gitu Mas...” Lena menghentikan perkataanya dan mengamati perubahan wajah Renov, “cuma aneh aja tiba-tiba muncul di sini..” Lena kembali melirik ragu ke arah Renov.
“Kenapa lo jadi jual mahal gini sih?” Renov menelengkan lehernya ke samping sambil mengamati Lena dari atas sampai bawah.
“Nggak gitu Mas...” Lena mendekati Renov, tidak ingin membuatnya salah paham.
__ADS_1
“Gitu juga nggak papa sih. Gue emang sengaja janjian sama tentor gue jam segini biar bisa sekalian jemput lo pulang. Yuk!” Renov melangkah mendahului Lena, walau Renov bercanda namun Lena mendengar nada suara Renov yang tegas. Pertanda laki-laki itu tidak menerima alasan apapun untuk menolaknya.
“Mas kok hari ini galak sih?” Lena susah payah mengikuti Renov di belakangnya.
“Perasaan gue nggak enak aja dari tadi, sorry...” Renov tiba-tiba berhenti dan berbalik, membuat Lena terkejut dan menabraknya.
“Aduh, kalau berhenti bilang-bilang dong Mas...” Lena mengusap dahinya yang sempat terantuk bahu Renov, “kan aneh aja, kenapa tiba-tiba jemput Lena, Mas beneran nguntit Lena ya?”
“Sembarangan!” Renov mendorong dahi Lena gemas.
“Terus?”
“Jangan nanya, insting aja. Insting gue nggak enak dari tadi, gue kepikiran elo terus. Yuk!” Renov membuka pintu mobilnya. Ternyata mereka sudah sampai di parkiran mobil, “ayo? Apa lo harus gue bukain pintu kayak princess?”
“Nggak... nggak perlu, Mas...” Lena segera berlari dan masuk ke dalam mobil Renov, “tapi ini benar-benar nggak wajar,Mas...”
“Nggak wajar gimana?” tanya Renov sambil memundurkan mobilnya agar bisa keluar dari tempat parkir.
“Mas terlalu perhatian...” Lena mengatakannya sambil tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya.
“Gue kan emang perhatian...” Renov juga memperlihatkan giginya saat tersenyum, menirukan Lena. Wajah Lena mendadak terasa panas, ia sibuk mengatur debaran jantungnya. Ia masih ingat dengan jelas saat Renov mengatakan bahwa ia menyukai Lena. Tapi karena Lena takut untuk menanyakannya ia berniat untuk tidak membahasnya saat ini dan memilih untuk menganggapnya sebagai bahan candaan.
Mereka tak banyak bicara dalam perjalanan, hanya sesekali Lena melirik Renov yang menyetir dengan serius disampingnya. Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di depan rumah Lena. Tapi, ada yang aneh, terlihat kerumunan yang janggal di rumahnya. Pintu gerbang rumahnya terbuka. Satu dua orang berusaha mendorong kepalanya ke depan seolah mencari-cari sesuatu.
“Ada apa?” tanya Renov juga ikut penasaran.
“Lena nggak tau, Mas”, Lena membuka pintu mobil yang langsung di sambut dengan tatapan aneh dari orang-orang tersebut, membuatnya tidak mengerti.
“Bukannya biasanya rumah sepi ya? Ayah elo dah pulang?” tanya Renov penasaran. Firasatnya mulai tidak enak. Ia tak menyukai pikiran-pikiran yang telintas di kepalanya.
“Biasanya belum Mas”, Lena menjawab pertanyaan Renov sambil berjalan perlahan memasuki rumahnya, Renov hanya bisa diam mengikuti Lena dari belakang. Renov melihat sekitar dan ia baru sadar bahwa mereka berdua melewati garis polisi. Hatinya semakin berdebar. Tidak mungkin kan?
__ADS_1
“Renatta kok ada...” belum sempat Renov memberi tahu Lena, ia sudah menabrak tubuh Lena yang mematung. Renov buru-buru meraih lengan Lena agar gadis itu tidak jatuh, namun Renov juga tak sanggup berkata-kata. Matanya ikut melihat ke arah pandangan Lena. Pemandangan di depan matanya yang tak dapat ia percaya. Ini lebih buruk dari perkiraannya.
***