
“GUE BILANG LONCAT SEKARANG!”
“Mas Renov...”
“Berhenti manggil gue seperti itu! Apa gue masih berarti bagi lo?” Renov memandang Lena dengan terluka membuat Lena membeku di tempatnya.
“Tunggu apa lagi Renatta? Gue mau lihat elo lompat dari sini! Gue akan lihat bagaimana elo melakukannya, bagaimana elo ninggalin kenangan itu, bahkan satu detik pun gue nggak akan menutup mata gue!” Lena tak mampu berkata-kata menghadapi kemarahan Renov, ia berjalan menjauh dari pagar, meraih lengan Renov.
“Mas… maafin Renatta…maaf…” Lena menundukkan kepalanya menyesal. Ia merasa telah mengecewakan kepercayaan yang Renov berikan kepadanya.
“Gue nggak akan pernah maafin elo, jadi cepat loncat Renatta… Gue mau lihat elo mengkhianati gue demi orang-orang yang tak berguna seperti mereka…”
“Mas...” Lena berjalan mendekati Renov, meraih tangan laki-laki itu.
Tiba-tiba Renov mengibaskan tangannya dengan kasar dan membuat Lena terlempar ke lantai, “kalau elo nggak bisa, biar gue aja yang loncat!”
“MAS!” Lena meraih kaki Renov dengan susah payah.
“Mas aku mohon...” Lena menangis sambil memeluk kaki Renov. Air mata yang selama ini ditahannya tumpah, “aku mohon...jangan...”
“Mas…maafin Renatta…” tubuh gadis itu bergetar. Perasaan yang selama ini terus ia tahan membuncah dari dadanya.
“Mas, kumohon... beri Lena satu kesempatan... aku mohon...” Lena terus memohon karena Renov tak kunjung menjawab permintaan maafnya. Ia tergugu, semua yang telah ia jaga selama ini ia lepaskan begitu saja di hadapan laki-laki ini.
***
“MAS!”
Renov melihat Lena yang mencoba menahannya sambil memeluk kakinya dengan erat. Melihat gadis itu putus asa membuat Renov ikut terluka. Bagiamana bisa Lena juga memilih mengakhiri hidupnya seperti itu.
Renov perlahan mendengar suara tangis Lena untuk pertama kalinya. Ia ingin segera menarik gadis itu ke dalam pelukkannya namun ia sendiri membutuhkan waktu untuk mengobati hatinya yang terluka.
Renov menatap langit kota Jakarta yang membiru. Ia berusaha menahan suara isak tangisnya sendiri saat mendengar tangis Lena pecah. Beberapa kali Renov mengapus air mata yang diam-diam mengaliri pipinya. Ini kali pertama ia menangis setelah sekian lama. Seorang Lena telah membuatnya menangis.
“Renatta…” suara Renov terhenti di tenggorokannya yang serak, ia menyerah dan memilih memeaafkan Lena. Ia merengkuh gadis yang terasa begitu rapuh itu dalam dekapannya. Isak tangisan Lena penuh dengan kepedihan yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
Renov menepuk-nepuk punggung Lena, “Maafkan aku juga...” bisik Renov di telinganya. Membuat gadis itu semakin menangis kencang seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
“Kamu akan lebih mudah mengepakkan sayapmu jika kamu menghapus semua beban yang kamu pikul sendirian. Sesekali kamu menangis seperti ini juga tak apa, bukan berarti kamu lemah dan harus dikasihani, Sayang...”
“Ingatlah, Renatta juga manusia, kamu tidak perlu kuat untuk orang lain, kamu hanya perlu kuat untuk dirimu sendiri…”
“… jika ayahmu meninggalkanmu seperti itu dan kamu merasa tersakiti olehnya, maka jangan pernah lakukan hal yang sama karena kamu juga sedang menyakiti orang lain. Kamu seharusnya paling tau akan hal itu kan?” Lena mengangguk-angguk pelan dipelukkan Renov.
“Renatta, kamu adalah seorang penulis hebat, jadi ciptakan duniamu sendiri seperti kamu membuat dunia untuk karekter-karakter ciptaanmu. Jangan takut jatuh, kamu bisa membuat mereka berdiri lagi, jadi kamu juga akan bangkit kan?” Renov mengusap air mata Lena dengan punggung tangannya.
Renov lalu berdiri dan menarik Lena agar berdiri, Lena terhuyung karena kakinya terasa begitu lemah dan perih di beberapa tempat. Renov memandang Lena dengan penuh penyesalan. Ia yang menyebabkan kaki Lena lebam dan terluka seperti itu.
“Maafin Mas, ya? Sakit?” tanya Renov sambil berjongkok melihat luka-luka di kaki Lena.
“Ehm nggak papa...” jawab Lena pelan.
“Lihat siapa bilang kamu sendirian…” Renov menatap ke belakang Lena dan melihat Chery dan beberapa teman Lena yang berdiri dibelakangnya.
“Lenaaaa!” teriak Chery setelah sempat melirik takut pada Renov. Ia lalu memeluk Lena erat dan membuat gadis itu merintih.
“Ada apa?” Chery ikut melihat kaki Lena dan berbalik menghandrik Renov, “Mas harus tanggung jawab!” teriak Chery lantang, mengabaikan rasa takutnya.
“Kok elo belain dia sih Len? Tadi jantung gue hampir copot saat Mas Renov narik elo kek gitu. Tega-teganya dia memperlakukan wanita seperti itu...” lanjut Chery tidak terima.
“Biar dia sadar...” jawab Renov singkat.
“Benar juga sih, tapi kan tetep aja...”
“Aku yang tanggung jawab, beres kan?” Renov lalu berdiri dari duduknya, “kamu bisa jalan?”
“Bilang nggak Len!” bisik Chery.
“Nggak, Mas!” jawab Lena sambil tertawa, menurut pada Chery.
Renov lantas duduk dihadapan Lena, “mau aku gendong di punggung atau mau gaya princess?” tanya Renov yang membuat wajah Lena memerah.
__ADS_1
“Ah aku bisa jalan, Mas!” Lena mundur satu langkah, menyesali candaannya.
“Ayo Len! Cepet pilih!” bujuk Chery.
“Apaan sih, Cher?”
“Ayolaahhh”, Chery masih saja ingin melihat Renov kalah.
“Kasihan temenmu tuh yang pengen aku tanggung jawab, cepetan. Kitakan udah pernah pelukan, gendong kamu apa masalahnya sih? Lagian kamu juga nggak bisa jalan kan tadi?” Renov menarik lengan Lena dan menggendongnya.
“Bentar-bentar...” Chery berhenti di hadapan Renov yang hendak pergi dari sana, “pelukan? Kalian pacaran?” mereka berdua tak memberi jawaban apapun ke Chery walau ia sudah berulang kali bertanya.
“Kalau kamu malu, tutup mata dan pura-pura pingsan aja...” bisik Renov sambil terkikik geli. Lena sudah melakukannya sejak turun dari atap gedung. Ia tidak ingin melihat teman-teman sekolahnya ataupun orang tua murid yang tadi menyudutkannya. Ia tidak mau memikirkan apapun dan mengeratkan tangannya di leher Renov. Ia merasa bahu Renov begitu besar hingga bisa menyembunyikannya saat ini.
Chery membuka pintu mobil Renov dan membuat Lena membuka matanya, “makasih Cher...”
“Kayaknya gue nggak perlu ikut kan?” Chery melirik ke arah Renov. Ia bisa merasakan bahwa laki-laki di hadapannya ini tulus melindungi Lena, “gue akan kasih elo kabar tentang sekolahan, Len. Kalau ada apa-apa jangan ragu hubungi gue, elo masih punya gue di sekolah ini. Tenangkan diri lo dan jangan lupa kembali sebelum ujian ya?” pesan Chery sambil memeluk Lena.
“Makasih ya?” kata Lena tulus.
“Melihat Mas tadi sepertinya Lena menemukan seseorang yang tepat untuk menjaganya. Jadi jaga dia ya Mas...” pesan Chery pada Renov. Renov lantas tersenyum dan mengangguk padanya sebelum mobilnya meninggalkan Chery yang terbengong di sana, “Mas Renov bisa tersenyum seperti itu ya?”
Sebenarnya banyak yang ingin Chery tanyakan tentang hubungan mereka berdua, tapi melihat mereka hari ini saja sudah membuat Chery begitu lega karena setidaknya ada yang akan selalu menjaga Lena. Gadis itu juga takut karena Lena tak menunjukkan kesedihannya, ia juga melihat Lena bertingkah seperti biasanya sehingga membuatnya semakin khawatir.
***
Renov mengurungkan niatnya pergi ke klinik saat melihat Lena yang tertidur pulas di samping kemudinya. Ia tak ingin membangunkan Lena yang nampak begitu kelelahan. Gadis itu jelas-jelas tidak bisa tidur dengan nyenyak di rumahnya. Bagaimana mungkin bisa kan?
Renov meraih ponselnya dan mulai menelepon seseorang, “Ma, masih ingat apa yang Renov ceritakan tentang Lena? Iya, Ma. Nggak apa-apa kan? Tolong hubungin Om Yanu ya Ma? Nanti Renov jelaskan di rumah. Makasih Ma...” Renov mengakhiri pembicaraannya dengan mamanya sambil menunggu di tengah kemacetan Jakarta. Ia melirik Lena dan mengusap kepalanya lembut.
“Kau akan baik-baik saja mulai sekarang...” kata Renov lirih.
Renov melihat lampu lalu lintas berubah hijau. Ia lalu mengemudikan mobilnya kembali sebelum berbelok di kompleks perumahan yang begitu tenang dan asri. Ia memakirkan mobilnya lalu membawa Lena yang masih terlelap dalam pelukkannya.
***
__ADS_1