BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 19; Anak Ketua Yayasan


__ADS_3

Keberadaan keluarga Anggara sangat membantu Lena. Lena dan Mama pergi ke sekolah siang itu. Mama akan mengurus permasalah yang dihadapi Lena. Keputusan Mama siang itu sudah bulat. Apapun yang terjadi, Lena hanya akan tinggal sampai kenaikan kelas.


“Kami tidak masalah jika Anda yang bersedia menjadi wali Renatta, Bu...” kata Kepala Sekolah itu dengan gugup, “saya akan menjamin bahwa Renatta akan baik-baik saja di sekolahan ini...”


Lena tersenyum miris. Walaupun ia senang dapat menyelesaikan studinya di sini tapi hatinya tidak sanggup bertahan di tengah orang-orang yang ingin membuangnya. Ia juga tidak ingin dianggap sebagai orang yang memanfaatkan kebaikan keluarga Anggara.


“Tidak!” jawab Mama tegas, membuat Lena menoleh kaget, “saya hanya akan menyekolahkan anak saya sampai kenaikan kelas!”


“Baiklah jika Anda memang menginginkannya, saya tidak mau anak saya satu sekolahan dengan dia...” kata Wali murid itu dengan penuh kesombongan.


“Benar, saya juga setuju...” seperti gayung yang bersambut, orang tua murid itu memperoleh keberaian untuk berbicara setelah sempat takut oleh aura tegas dan keras yang memancar dari Mama.


“Bu...Tolong tenang Bu...” kepala sekolah menegur wali murid itu dengan gugup.


“Apalagi saya! Saya juga tidak ingin Renatta satu sekolah dengan anak-anak Anda...” Mama Renov memandang kepala sekolah itu dengan tajam, “asal tahu saja ibu-ibu, saya membangun sekolah ini tidak untuk menampung anak-anak yang tidak bermoral dan beretika...” ucapan Mama tak hanya membuat Lena terkejut tapi juga seluruh orang yang ada di ruangan itu. Sekolah ini milik keluarga Anggara? Apa Lena tidak salah dengar? Lena melihat kepala sekolahnya hanya bisa menunduk mendengarnya. Jadi benar?


“Saya akan memastikan bahwa semua orang yang terlibat dalam kejadian kemarin akan mendapatkan hukuman yang pantas...” Mama berdiri dari duduknya, “Ayo Sayang!” panggilan beliau membuat Lena tersadar dan berdiri mengikuti Mama yang keluar dari ruangan.


“Bagaimana ini Pak? Kenapa Bapak tidak memberitahu kami kalau beliau adalah Ketua Yayasan?” ruangan berubah ricuh saat Mama dan Lena keluar dari sana.  Mereka awalnya berencana untuk melakukan segala cara agar Lena dikeluarkan. Namun hasilnya justru terbalik, pihak wali murid yang diundang dalam rapat terpaksa menyetujui keputusan itu karena dari awal mereka sudah kalah. Mereka tidak menyangka bahwa lawan mereka adalah Ketua Yayasan langsung.


“Maafkan Mama Sayang, keputusan Mama sudah bulat, cukup sampai kenaikan kelas Renatta dan kelulusan Renov...” ucap Mama pada Lena saat mereka berdua keluar dari ruangan rapat, “kamu dan Renov tidak perlu berlama-lama di sekolah ini, Mama tidak ikhlas menyekolahkan kalian di sini lebih lama lagi...”


"Ini kan sekolahan punya Mama?" Lena geli sendiri mendengar ucapan Mama.


"Benar sih, tapi Mama nggak suka, kau pindah, pilih sekolah manapun yang kau mau..."


“Tapi kenapa sih Mama tidak bilang pada Renatta kalau Mama adalah pemilik sekolah ini?” Lena masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ini benar-benar plot twist yang sangat mengejutkan. Kalau Mama adalah Ketua Yayasan, lalu apa pekerjaan Papa?


“Mama ingin kelihatan keren di depan Renatta...” Mama tersenyum karena sukses membuat Lena terkejut.


“Itu sangat keren sekali...” Lena meraih lengan Mama dan memeluknya.


“Mama perlu mengganti kurikulumnya agar anak-anak yang sekolah di sini tidak kurang ajar seperti kemarin. Apa perlu mereka Mama keluarkan?” tanyanya ke Lena dengan sungguh-sungguh.


“Jangan Mama...semuanya hanya tidak mau anak-anaknya mendapat pengaruh atas apa yang terjadi pada Renatta, itu aja... Mama nggak perlu bertindak sejauh itu...” Lena menenangkan Mama.


“Siapa yang akan mendapat pengaruh buruk darimu, Sayang...” Mama lantas memeluk Lena gemas saat melihat kelembutan hati gadis itu.


“Terima kasih Ma...”


“Tapi Mama akan memastikan mereka mendapat pelajaran yang tidak akan mereka lupakan. Mereka harus tahu bahwa menghakimi orang seperti yang mereka lakukan kepadamu tidaklah benar...” Mama mengusap punggung Lena untuk menguatkannya.

__ADS_1


“Mama yang terbaik pokoknya...” Lena tersenyum dalam pelukan Mama Renov. Ia benar-benar bisa merasakan hal yang hilang selama ini dari ketulusan Mama.


“Baiklah, kamu balik ke kelas sekarang. Apa perlu Mama anter?” Lena menggeleng lembut dan tersenyum, “baiklah, nanti siang Mama jemput kamu...” Lena kembali mengangguk dan berjalan meninggalkan Mama ke kelasnya.


“Lena!!!” teriak Chery saat melihat Lena memasuki kelas. Ia lantas berlari dan memeluk sahabatnya erat-erat.


“Sumpah, gue nggak bisa nafas, Cher!” Lena memukul punggung Chery agar melepaskannya.


“Selamat datang Lena...” ucap ketua kelas Lena, “Sorry, gue nggak banyak membantu kemarin, gue pas lagi sakit...”


“Nggak apa-apa Son, gue ngerti...” Lena tersenyum dan memberikan salam pada teman-temannya. Ia tak ingin memikirkan apapun saat ini, ia hanya ingin mengakhiri semester ini dengan lancar dan meninggalkan teman-temannya tanpa penyesalan apapun.


Hari ini semuanya berjalan lancar, Lena tak mendapatkan gangguan apapun di sekolahanya. Ia juga tidak keluar kelas sampai pelajaran usai. Mengurangi resiko yang mungkin saja terjadi padanya.


“Mau pulang bareng?” tawar Chery.


“Nggak Cher, aku dijemput sama Mama...” Chery menaikkan alisnya tak mengerti. Mama?


“Mamanya Mas Renov...” jelas Lena saat melihat kebingungan dari wajah Chery. Chery berpikir kalau yang menjemput Lena itu Renov merupakan hal yang biasa, tapi ini mamanya.


“Maksudnya?”


“Gue tinggal di rumah Mas Renov sekarang, wali gue sementara ini adalah keluarga Anggara, ceritanya pajang tapi intinya seperti itu...” jelas Lena.


“Diem! Ini antara kita aja!” ancam Lena. Ia melepaskan dekapannya setelah Chery mengangguk penuh janji.


“Gue nggak sepenuhnya bahagia dengan semua kebetulan ini, tidak ada yang menginginkan ini kan Len? Tapi mendengar ada yang jagain elo saat ini membuat gue senang dan lega...” Lena setuju dengan ucapan Chery. Bagi orang lain yang tidak mengalami kepedihan Lena tentu bisa tinggal dengan keluarga Renov adalah hal yang luar biasa, tapi bagi Lena semua ini begitu membingungkannya. Ia tak bisa merasa bahagia sepenuhnya tapi juga tidak bisa sedih seutuhnya. Perasaannya tak menentu, yang bisa ia lakukan hanya menerima apa adanya.


Chery menemani Lena sampai Mama Renov datang menjemputnya. Chery tak ingin meninggalkan sahabatnya sendirian menghadapi dunia yang kejam ini lagi. Ia juga akan menjaga gadis itu sepenuh hati selama di sekolah ini.


“Siang Tante, saya Chery...” sapa Chery.


“Hi Chery, kamu manis seperti namamu, sahabat Renatta?” pertanyaan Mama membuat Chery bingung. Panggilan Renatta begitu asing di telinganya.


“Ah, iya Tante, iya...” jawab Chery gagap.


“Tolong jagain Renatta di sekolahan ya...” ucap Mama sambil meraih bahu Lena. Mengusapnya pelan, membuat Chery kembali terbengong melihat sikap Mama Renov. Sebenarnya seperti apakah Renov dan keluarganya? Apakah semua gosip yang beredar selama ini tidaklah benar?


“Iya Tante, tentu...”


“Kalau begitu kami pamit dulu ya Cher...” pamit Mama sambil menjabat tangan Chery sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Gue duluan ya, thanks...” Lena ikut melambaikan tangannya dan mengikuti Mama masuk ke dalam mobil.


“Hati-hati...” ucap Chery sebelum mereka menghilang. Ia menghela nafas lega. Semoga Lena selalu dalam lindungan orang-orang berhati baik, doanya.


“Tidak terjadi apa-apa kan di sekolah?” tanya Mama setelah mereka meninggalkan sekolahan.


“Nggak ada Mama, tenang saja. Semuanya baik-baik saja...” jawab Lena jujur. Keduanya kembali terdiam sampai akhirnya Lena memberanikan diri untuk mengatakan rencana kepindahannya ke Jogja.


“Ma, Renatta akan tetep pada rencana semula. Renatta benar-benar bersyukur Mama dan keluarga mau menampung Renatta, tapi Renatta tidak bisa selamanya bersembunyi kan Ma? Jadi Renatta akan tetap pindah...” Lena membuka topik yang sudah berkali-kali mengganggunya itu.


“Apa kamu nggak sedih berpisah dengan Renov?” pertanyaan Mama sungguh di luar dugaan Lena.


“Mas Renov kan bakalan tinggal di Bandung Ma, Renatta nggak mau keberadaan Renatta akan membuat Mas Renov bimbang dengan jalan yang udah direncanakannya...” jawab Lena jujur. Hal ini juga salah satu hal yang membuat Lena merasa berat tinggal di sana.


“Tidak sayang, kalau kamu tinggal dengan kami, Mama yakin perasaan Renov akan lebih tenang selama menjalani pendidikannya di sana...” jawab Mama membesarkan hati Lena, “Lagian, yakin amat kalau Renov keterima!”


“Ih Mama!” Lena tertawa mendengar candaan Mama. Bisa-bisanya ia berpikir anaknya gagal tes ujian.


Mama tersenyum pada Lena, “Mama mengerti sekali kamu seperti itu, Nak tapi Mama ataupun Papa nggak keberatan buat merawat kamu, kamu sudah kami anggap seperti anak Mama sendiri.”


Lena terharu mendengar ucapan Mama. Kata-kata itu merupakan kalimat terbaik yang didengarnya sampai saat ini, ia benar-benar bersyukur mendengarnya, “dimanapun Renatta, Mama akan selalu menjadi sosok yang Renatta rindukan. Renatta hanya ingin menata ulang kehidupan Renatta, Ma. Tidak ada maksud lain, sungguh...” jawab Lena jujur.


“Renatta menyukai Mas Renov, tapi Renatta terlempar dari dunia Renatta dan terluka di banyak tempat, Renatta hanya ingin memperbaiki hidup dan hati Renatta agar bisa menjadi gadis yang pantas untuk Mas Renov, Ma”, Lena menggenggam tangan Mama, “Mama juga ingin memiliki anak perempuan yang bisa Mama banggakan kan?”


“Kamu selalu menjadi kebanggaan Mama, Sayang. Mama tahu kamu mandiri dan Mama akan menghormati keputusanmu dan juga keputusan kalian berdua. Rumah Mama selalu terbuka untuk menyambutmu pulang...” Mama lantas mengusap kepala Lena dengan penuh kebanggaan. Mereka sampai rumah dan turun dari mobil.


“Ma tolong jangan bilang ke Mas Renov dulu ya Ma...” Lena menghentikan langkah Mama.


“Kenapa?”


“Biar Lena yang bilang nanti...”


“Baiklah...” Mama beranjak untuk memeluk anak gadisnya itu. Pelukan Mama benar-benar membuat hati Lena tenang, ia sudah mulai terbiasa menerima pelukan dari Mama Renov  itu, “Renatta benar-benar ingin Mas Renov fokus dengan kuliahnya di Bandung. Perjalanan kami untuk bisa bersama dengan tanggung jawab masih panjang kan, Ma?”


“Iya, Mama tahu. Bagi Mama masa depan kalianlah yang terpenting. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk masa lalu selain menyimpannya, ingat itu baik-baik, Sayang...”, Mama menepuk-nepuk bahu Renatta dengan perasaan lega. Ia bersyukur Renov menemukan gadis yang luar biasa.


“Apa aku boleh bergabung?” tanpa menunggu jawaban, Renov memeluk kedua wanita kesayangannya itu.


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2