
Lena menenteng kantong belanjanya dan berjalan sambil bersenandung riang memasuki kafe miliknya. Ia menyapa beberapa karyawannya yang bekerja shift pagi saat itu. Kafe baru saja buka, tentunya masih sepi, belum banyak yang datang.
“Mbak…” panggil Yoga tiba-tiba saat melihat Lena datang. Ia melihat atasannya dengan cemas.
“Ada apa?” Lena penasaran.
“Orang itu datang lagi Mbak…” kata laki-laki yang masih kuliah semester awal itu sambil menunjuk salah satu pelanggan yang duduk membelakangi mereka bedua, “Mbak nggak sembunyi?”
Lena memandang lembut punggung orang itu dengan haru. Ia sempat terkejut dengan nalurinya, karena walau ia hanya melihat punggung pria itu, ia tahu siapa dirinya itu. Pria itu tidak berubah sama kali.
“Pesanannya sudah jadi?” bukannya menjawab pertanyaan Yoga, Lena justru bertanya tentang pesanan pria itu sambil bergegas masuk ke counter kasir.
“Sebentar lagi…” jawab Yoga pelan.
“Buatkan satu lagi ya, cokelat…” tanpa menunggu jawaban Yoga, Lena dengan sigap mulai memasukkan belanjaannya ke dalam lemari penyimpanan.
“Sudah Mbak…” Yoga menaruh nampan berisi dua cangkir yang berisi kopi dan cokelat yang masih mengepul, “mau Mbak anter?” tanya Yoga terkejut. Pertama, karena bosnya itu berniat menemui pelanggan yang pernah membuat bosnya buru-buru bersembunyi dan kabur. Kedua, karena kafe ini di desain dengan shelf serving sehingga karyawan tak perlu mengantarkan pesanan ke pelanggan.
“Yep!” Lena lalu memencet bel di depannya dan alat penerima di ujung meja tempat pria itu duduk mulai bergetar. Lena bergegas menghampiri pria itu sebelum ia pergi mengambil pesanannya sendiri.
Aku datang padamu, kali ini…
“Kriing...” suara lonceng tanda kopi yang dipesan Renov berbunyi, mengagetkannya.
“Mas, ini pesanannya...” sebelum Renov berdiri untuk mengambil kopinya, seorang karyawan toko meletakkan secangkir kopi dan cokelat di atas meja Renov. Ia menatap kedua cangkir itu heran, ia hanya memesan satu gelas kopi namun kenapa ada secangkir cokelat juga di sana?
“Saya tidak...” belum sempat Renov menjawab, suaranya tercekat. Ia melihat pelayan toko tersebut memakai gelang yang tak asing di matanya, mungkinkah? Renov reflek berdiri dan membuat kopi serta cokelat di mejanya terguling. Salah satu cangkir itu jatuh ke samping dan menimbulkan suara nyaring ketika menyentuh lantai. Pecah berantakan.
Lena menatap gelas itu dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Renov menatap gadis di depannya lebih tak percaya lagi.
Sosok yang berdiri di depan Renov sangatlah berbeda dari yang ia ingat sebelumnya. Gadis itu sudah tidak lagi mungil. Ia tinggi semampai. Mata mereka kini hampir sejajar saat bertatapan. Rambut panjang Lena dulu juga sudah berganti dengan rambut sebahu yang diikat kucir kuda, beberapa helainya jatuh karena tak cukup panjang untuk diikat jadi satu. Kulitnya sudah tak lagi putih pucat namun sedikit cokelat terbakar sinar matahari. Dan yang paling membuat Renov terkejut adalah aura yang dipancarkannya, gadis itu terlihat begitu dewasa dengan aura tegas nan menawan.
“Yoga… tolong bantuin bersihin ini ya?” Lena menoleh pada Yoga yang langsung ditanggapi dengan anggukan.
__ADS_1
“Apa kabar, Mas?” Lena kini beralih dan menatap sosok dihadapannya yang masih tercengang dengan kenyataan yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba Renov merasakan gemuruh di hatinya. Luapan perasaan yang sudah ia pendam itu berubah amarah ketika melihat gadis di hadapannya itu tersenyum. Walau tatapannya kini setajam elang, senyum gadis itu masih sama seperti yang diingatnya. Renov lalu berjalan keluar dari kafe tanpa mengatakan apapun.
“Mas Renov!” Lena terkejut dan menyusul langkah Renov. Ia berhasil menangkap laki-laki itu tepat sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.
“AGGRAHHHHH” Renov berteriak dan tiba-tiba memukul atap mobilnya keras, membuat Lena terkejut. Ia lalu berbalik dan menatap Lena dengan perasaan kalut, suaranya pun tak bisa keluar karena saking banyaknya yang ingin ia katakan.
Lena yang awalnya terkejut melihat sikap Renov akhirnya menyadari sesuatu. Tanpa berpikir panjang, Lena memeluk Renov. Ikut merasakan gemuruh di dalam dada laki-laki yang selama ini menjadi sosok yang menguatkannya. Ia ingin memeluk semua perasaan itu.
Renov masih tetap tak bergeming saat orang yang dirindukannya itu ada dipelukkannya. Ia hanya bisa menatap langit sambil menahan air matanya yang tiba-tiba ingin keluar bersama dengan seluruh perasaannya. Marah, kecewa, haru, dan bahagia.
“Kau… kau benar-benar orang yang jahat! Tak berperasaan…” ucap Renov lirih.
“Aku tahu…” jawab Lena juga sama lirihnya.
“Kau tanya bagaimana kabarku?” Renov perlahan membalas pelukan Lena, “buruk...” suara Renov merambat pelan di telinga Lena, “begitu buruk hingga aku tak tahu apakah yang terjadi saat ini mimpi atau kenyataan.”
“Aku tahu…” jawab Lena lagi, “maafkan aku…”
Renov masih mengamati Lena yang sibuk dengan teleponnya dan mulai mondar-mandir mencari kertas dan bolpoin. Ia lalu kembali menghubungi seseorang dan menjelaskan situasinya saat ini. Renov masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan yang sangat asing, namun juga sangat kharismatik dari sosok Lena.
“Sorry, Mas…” Lena menghela nafas pelan dan menghempaskan dirinya di sofa samping Renov. Ia lalu ikut menatap Renov yang tak henti memandanginya. Mereka sudah pindah ke lantai dua yang bisa di sebut sebagai rumah Lena. Tempat ia tinggal saat ini.
“Kamu berubah…” kata Renov sambil mengusap pipi Lena dengan jemarinya.
“Tidak ada yang berubah kecuali umur dan penampilanku…” Lena meraih tangan Renov dan mencium telapak tangan laki-laki itu. Ia memandang Renov dengan matanya yang berbinar tapi Renov hanya menatap balik Lena dengan terkejut, ia tak menyangka Lena akan bersikap seperti itu.
“Kau jadi agresif!” Renov menarik tangannya, ia memandang Lena yang tertawa. Ah lama sekali ia tidak mendengar suara tawa gadis itu. Tawanya kini benar-benar ringan dan tulus.
“Karena aku sudah cukup lama menahannya…” Lena tertawa sendiri mendengar candaannya.
“Lalu bagaimana denganku?” Renov tak terima, “lalu apa maksudmu muncul sekarang? Saat ini? Apa kemuculanmu ini pertanda kau tak akan pergi lagi?” pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sejak tadi ingin di tanyakan Renov. Ia penasaran namun juga takut mendengar jawabannya.
__ADS_1
“Tak mungkin kan aku tidak pergi lagi?” Lena mengamati ekspresi wajah Renov yang kecewa, “tapi aku sudah bosan sendiri…mau pergi bersamaku?”
Renov benar-benar terkejut dengan perubahan sikap Lena satu ini. Seingatnya dia bukanlah orang yang bisa dengan mudah menyampaikan perasaan dan keinginannya. Gadis itu selalu menyembunyikan semua perasaannya dengan senyuman. Mata Lena yang dulu selalu terlihat menyimpan kesedihan kini terlihat begitu jernih.
“Kau terlihat seperti orang lain, Sayang…” ucap Renov tanpa ia sadari.
“Aku masih Renattamu Mas…” Lena meraih tangan Renov dan meletakkannya di pipinya sendiri, “aku pulang Mas, dengan hati yang walau tidak mungkin utuh lagi namun dia lebih pantas untukmu...”
“Bagaimana kau bisa memiliki kepercayaan diri seperti itu? Apa kau yakin aku akan menerima kepulanganmu setelah kau meninggalkanku seperti itu?” Renov tidak tahu kenapa ia menanyakannya. Jelas ia masih mencintai gadis di hadapannya, bahkan mungkin melebihi perasaannya dulu. Ia bahkan tidak berani mendengar Lena menjawab sebaliknya. Ia takut gadis itu akan kembali pergi dari hidupnya.
“Bukannya aku kelebihan kepercayaan diri, itu Mas yang memutuskan akan menerimaku atau tidak”, Lena merapatkan tubuhnya ke Renov dan melingkarkan tangannya ke leher Renov, “Aku hanya perlu meyakinkanmu...” Lagi-lagi Renov terpaku saat Lena mengecup bibirnya dengan lembut.
“Kau...” Renov mendorong wajah Lena dengan tangannya. Ia memberikan tatapan penuh curiga ke arah Lena. Apa berkelana ke luar negeri bisa membuat sesorang begitu berubah seperti ini?
“Nope, I only did it because it was you. And always you. Nobody else...” kata Lena menjawab kecurigaan Renov.
“Dulu aku hanya seorang remaja, tapi kini aku laki-laki Renatta, kau tidak takut padaku?” Renov menatap mata gadisnya itu dengan mata elangnya. Mereka berdua sama-sama memiliki garis mata yang menawan.
“I know you love me...”
“Yeah, and I only need you, lets get married soon...”
“Hemm...” Lena mengangguk dan ia menerima ciuman Renov yang hangat. Kerinduan mereka yang terpendam sudah cukup lama, tak ada yang ingin menunggu lagi. Mereka sama-sama telah menemukan jalan untuk masa depannya. Jalan untuk bahagia, saling melengkapi satu sama lainnya. Jalan yang lebih harmonis dan jalan yang kuat karena mereka membangunnya dari kepingan paling pahit di hidupnya. Kebahagiaan yang ada di depan mereka adalah buah dari memaknai makna kehilangan dengan penuh penerimaan.
F|I|N
TERIMA KASIH!
Atas segala atensi dan juga kasih sayang yang teman-teman curahkan untuk Lena dan Renov. Ini bukan akhir tapi awal dari kebahagiaan mereka. Mereka berdua adalah sosok yang sangat berharga bagi saya. Tentu saja walau caranya tidak mudah, saya akan membuat mereka bahagia.
Sekali lagi terima kasih, semoga dibalik kisah mereka, teman-teman bisa menemukan pengalaman dan pelajaran yang bermanfaat.
__ADS_1
with love,
AIANA