
Lena akhirnya memutuskan untuk tinggal di rumah Renov selama dua bulan sampai kenaikan kelas. Ia akan tinggal di rumah saudaranya yang ada di Yogya setelahnya. Lena sebenarnya senang tinggal bersama keluarga Renov, namun ia tak ingin menjadi beban keluarga yang sudah bersedia menampungnya.
“Sedang apa?” tanya Renov tiba-tiba, mengagetkan Lena yang sedang duduk di samping kolam renang.
“Mas bikin kaget aja. Nggak takut kalau Renatta sampai nyebur?” Lena menggeser tempat duduknya agar Renov bisa duduk di sampingnya.
“Tenang aja, Mas bisa berenang nyelametin kamu kok...” Renov duduk di samping Lena dan ikut memasukkan kakinya ke dalam kolam, “besok berangkat sekolah?”
“Iya...” Lena menunduk memandangi pantulan cahaya bulan di atas air kolam.
“Mama yang akan nganterin kamu besok, Mama akan jadi walimu sementara ini, pengacara keluargamu sudah setuju dengan ini, kau sudah tahu kan?” tanya Renov memastikan. Beberapa minggu ini keluarga Renov sibuk mengurus berbagai hal mengenai perwalian dan aset keluarga Lena.
“Makasih ya Mas...” ucap Lena tulus.
“Walaupun aku senang bisa membantu, tapi aku lebih memilih kamu nggak mengalami ini semua Re...” desah Renov pelan.
“Manusia kan nggak bisa milih Mas, cuma bisa mengarang jalannya aja. Keputusannya tetep milik Tuhan...” Lena sudah memutuskan untuk tidak menyesali semuanya, ia sudah cukup bersyukur dengan apa yang dimilikinya saat ini.
“Besok mau Mas temenin ke rumah?” Renov ingat bahwa rumah Lena juga ikut tersita oleh bank. Beberapa aset perusahaan juga sudah masuk lelang untuk menutup kerugian. Lena hanya mengiyakan dan menyerahkan semuanya pada pengacara keluarganya karena ia benar-benar tak mengerti. Kakak Renov yang paling tua, Rehan yang membantu Lena menjelaskan semuanya.
“Iya Mas, kata Mas Rehan buku-buku Renatta, baju dan beberapa barang pribadi boleh diambil...” kata Lena lega.
“Buku?” Renov bingung, dari semua barang kenapa ia meminta Rehan mengurus buku-bukunya. Ia kemudian menyadari sesuatu dan menepuk dahinya pelan.
“Iya, buku Renatta, Renatta akan mengirimnya ke Yogyakarta, Renatta juga sudah menghubungi pihak pos...”
“Mas sampai lupa kalau kau adalah seorang penulis, apa kau akan terus menulis?” lagi-lagi Renov menyadari bahwa pertanyaanya sangatlah bodoh.
__ADS_1
“Tentu saja, pendapatan Renatta saat ini hanya sebatas royalti dari penerbitan, kalau Rena berhenti, nanti Rena mau makan apa?” Lena tertawa karena pertanyaan Renov. Menjadi penulis adalah salah satu mimpinya, dan saat ia sudah menjadi penulis maka mimpi itu adalah tempat tinggalnya saat ini, ia tak akan melepaskannya begitu saja.
“Mas khilaf aja nanyanya”, Renov tersenyum malu.
“Mas kapan pengumumannya? Mas mau kuliah di mana sih?” Lena belum sempat menanyakan perihal kelanjutan studi Renov. Ia melihat perubahan raut wajah Renov, “ada apa?”
“Pengumumannya sebentar lagi, Mas kuliah di Bandung...”
“Kenapa sedih begitu?” tanya Lena heran.
“Kita akan berpisah lama Renatta, kamu nggak sedih? Kenapa kamu harus pindah ke Jogja sih?” Renov akhirnya menanyakan hal yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini.
“Tidak ada alasan pasti, hanya ingin suasana baru mungkin?” Rena tersenyum lalu ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Renov, “Mas...”
“Apa?” Renov masih memandangi tangannya, ia tak menyangka Lena akan menggenggam tangannya seperti itu. Ini pertama kalinya Lena melakukannya. Selama ini Renovlah yang terus mendekatinya.
“Iya, aku sudah berjanji akan menjagamu tapi justru kita akan berpisah, aku takut jika kamu akan melupakanku...” Renov jujur, walau sedikit egois tapi ia mengakuinya.
“Nggak mungkin kan itu?” Lena menganggap pernyataan Renov sangatlah konyol. Mana mungkin ia melupakan laki-laki yang menyelamatkan hidupnya dan mencuri hatinya?
“Tidak ada yang tidak mungkin Re, apalagi kamu jauh...”
“Memang kalau di Jakarta nggak jauh? Mas kan ya tetap di Bandung...” Lena membantah.
“Setidaknya ada Mama sama Papa yang jagain kamu...” Renov dan Lena sama-sama menghela nafas. Mereka menyadari perdebatan ini tidak mengubah apapun. Entah di Jakarta atau Jogja, mereka akan tetap berpisah.
“Mas, aku sempat berfikir sepert ini, apa aku pantas untuk jatuh cinta di saat seperti ini?” Pertanyaan Lena membuat Renov tertegun. Ini baru kali pertamanya Lena mengatakannya. Selama ini ia hanya mengartikan perasaan Lena dari gerak geriknya.
__ADS_1
“Aku benar-benar gila ya?” Lena tersenyum malu karena Renov tidak menanggapi pernyataannya.
“Re? Sekarang aku nanya balik. Apa manusia hanya boleh jatuh cinta ketika mereka merasa bahagia?” Renov menatap Lena sungguh-sungguh. Membuat Lena menggeleng karenanya.
“Manusia juga berhak mencintai dan dicintai di saat apapun keadaanya, terlebih lagi saat seperti ini. Apa kamu harus menunggu waktu yang tepat untuk jatuh cinta? Lalu kapan waktu yang tepat itu menurutmu?” Renov kembali menanyakan pertanyaan yang dulu pernah ditanyakan Renov sebelumnya, membuat Lena tak bisa menjawabnya.
“Waktu yang tepat itu adalah sebuah keegoisan Renatta, waktu yang tepat untukmu belum tentu tepat untukku dan untuk kita. Kamu hanya perlu tahu bahwa semua waktu itu adalah tepat karena Tuhan telah mengaturnya demikian, hanya kita bisa menerimanya atau tidak...” Renov menggengam tangan Lena lebih erat, “kau tidak gila Re...”
“Lega aku mendengarnya...” Lena tersenyum mendengarnya.
“Sebenarnya aku juga pernah menanyakannya, kapan waktu yang tepat itu? Tapi tak ada Re. Tidak ada selama kita yang mengukurnya. Kita juga tidak bisa menebak dan mengaturnya, itu semua ketetapan yang harus kita terima, dan bagaimana kita memahamilah yang penting...”
“Benar, jadi mungkin perpisahan kita nanti juga bagian dari waktu yang tepat itu kan Mas?” pertanyaan Lena terdengar menjebak Renov. Ia menyadari bahwa Lena membaca kegundahan hatinya. Renov mengacak rambut Lena pelan, gadisnya yang cerdas itu sudah kembali.
“Jangan mengkhawatirkan apa pun Mas. Renatta memahaminya kok, tapi bagi Renatta hanya dengan tahu kalau Mas akan selalu menjaga Rena itu sudah cukup. Aku akan baik-baik saja, kita akan baik-baik saja...” Lena kembali menatap jauh ke langit malam, “Mas muncul di saat semua orang pergi dari Renatta, Mas berjanji akan selalu di sisi Renatta di saat semua orang menjauhi Renatta. Lalu apa yang perlu Mas takutkan lagi?”
“Takut Renatta melupakan Mas? Tidak mungkin! Justru aku yang takut kalau Mas melupakanku...” kata Lena jujur, “Renatta berpikir bahwa hal yang sulit pun dapat menyatukan kita, apalagi hal yang membahagiakan? Kita mengejar mimpi kita masing-masing juga untuk kebaikan kita nantinya, lalu apa yang harus kita takutkan saat kita merasa bahagia?” Lena menantap Renov, kali ini matanya berkaca-kaca, “kita akan bahagia kan Mas?”
“Iya, kita akan bahagia...” jawab Renov meyakinkan Lena dan dirinya sendiri. Ia juga bisa dengan jelas melihat sebercak keraguan di mata Lena. Renov tahu pertemuan mereka tidaklah indah dan bahagia untuk dikenang namun ingatan itulah yang membuat mereka memiliki kekuatan untuk terus bersama.
“Ukh anak-anak Mama udah dewasa...” ucapan Mama Renov membuat keduanya terkejut dan buru-buru melepaskan tangannya.
“MAMA!” teriak mereka bersamaan dan di sambut oleh tawa renyah Mama.
“Makan malam sudah siap, yuk masuk...” ajak Mama sambil tersenyum bangga.
***
__ADS_1