BEREAVEMENT

BEREAVEMENT
Episode 5; Gemuruh di Pikiran dan Hati Renatta


__ADS_3

Kepala Lena tiba-tiba berdenyut saat ia keluar dari ruang kelasnya. Jam sekolah sudah usai, siswa yang tidak memiliki kegiatan ekstrakulikuler berhamburan pulang sekolah, sisanya masih mengikuti berbagai aktivitas lain di sekolah. Lena berencana untuk ke perpustakaan sebelum mengajar les.


“Len? Lo nggak papa?” Chery yang hendak pulang melihat Lena bersandar di dinding luar ruang kelasnya.


“Nggak papa, gue cuma ngantuk...” Lena menutupi rasa sakit kepalanya dengan tersenyum jahil.


“Serius?” Chery meyakinkannya.


“Yep!” jawab Lena mantap, “gue tidur dulu di perpustakaan nanti, jangan khawatir. Lo pulang gih! Hati-hati di jalan...” usir Lena.


“Hubungi gue kalau kenapa-kenapa ya, bye!” Chery meninggalkan Lena sambil melambaikan tangannya. Lena menghirup nafas dalam-dalam dan menguatkan dirinya untuk berjalan ke perpustakaan.


“Renatta!” Lena menoleh mencari asal suara itu. Ia tak yakin dengan apa yang didengarnya sehinga ia memutuskan untuk melanjutkan jalannya. Tidak ada yang memanggilnya seperti itu di sekolahan ini. Kecuali...


“Renatta!” Lena mengangkat kepalanya dan melihat Renov yang berjalan menghampirinya dengan samar. Kepalanya semakin sakit saat melihat cahaya matahari yang menyilaukan. Ia menatap lelaki itu bingung, ragu-ragu apakah benar Renov yang memanggilnya atau tidak.


“Rena...” panggil Renov terhenti saat jaraknya kurang dari lima meter dari Lena. Ia bergegas menghampirinya dan menyentuh ujung hidung Lena. Renov buru-buru mencari sesuatu dari sakunya.


“Elo punya tisu?” tanya Renov khawatir. Lena yang masih kebingungan mengangguk dan membuka tasnya. Renov buru-buru merebut tisu itu dari tangan Lena dan mengambilnya beberapa lembar.


“Elo mimisan...” Renov menutup hidung Lena dengan tisu. Renov lalu meraih tangan kiri Lena agar memeganginya sedangkan tangan kana Lena langsung ditarik Renov.


Lena tidak sempat mengatakan apapun. Ia masih terkejut ketika mendapati dirinya mimisan. Ini pertama kalinya ia mengalaminya. Lena menahan tangan kanannya yang ditarik Renov, kepalanya terasa ingin pecah saat berjalan terlalu cepat. Kakak kelasnya itu seolah mengerti karena ia langsung memelankan langkah kakinya begitu Lena menahan tangannya tanpa melepasnya.


“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Lena lirih. Ia melirik sekitarnya dan mendapati dirinya sudah berada di bagian belakang sekolah. Renov mengajaknya ke sebuah rumah pondok kecil yang baru diketahui keberadaannya oleh Lena.


“Ini rumah tukang kebun kita, Pak Wahyu...” baru saja Renov selesai menjawabnya, sepasang suami istri itu sudah berlari menghampiri mereka berdua. Lena langsung paham siapa yang dimaksud oleh Renov.


“Den, ini Non kenapa Den?” tanya wanita paruh baya itu dengan khawatir.


“Mimisan Bu...” jawab Renov tanpa berniat menghentikan langkahnya. Lena hanya menganggung canggung dengan situasi yang belum di mengertinya ini. Kepalanya masih terlalu sakit untuk mencerna semuanya.


Renov masuk begitu saja ke rumah Pak Wahyu seolah itu rumahnya sendiri. Ia lalu menyuruh Lena untuk duduk di sofa berwarna krem yang walaupun sudah tua masih begitu nyaman saat di duduki. Lena menatap sekeliling rumah dengan penasaran. Apa jangan-jangan ini rumah Renov?


“Bu punya obat sakit kepala?” pertanyaan Renov mengejutkan Lena. Bagaimana ia bisa tahu kalau kepala Lena sakit?


Begitu Bu Wahyu pergi mengambilkan obat, Lena menarik jari kelingking Renov, “apa ada apa?” tanya laki-laki itu sambil berjongkok di hadapan Lena, membuat posisi mata mereka sejajar.


“Bagaimana Mas bisa tahu kalau kepalaku sakit?” tanya Lena lirih.


Renov tersenyum dan menyentuh pelipis Lena, “dahi lo, lo masih 16 tahun, tapi elo udah keriput...” goda Renov. Lena mengerti sekarang. Tanpa ia sadari ia terus megernyitkan dahinya untuk menahan sakit.

__ADS_1


“Ini Non, diminum dulu...” Bu Wahyu memberikan obat ke Lena.


“Terima kasih Bu...” Lena menerima obat itu dan langsung meminumnya.


“Non istirahat dulu. Ibu kebelakang manasin air dulu. Nanti ibu buatkan teh anget...” jawab Bu Wahyu dengan penuh perhatian.


“Maafin saya datang-datang langsung ngerepotin, Bu...” Lena tidak enak dengan perlakuan yang didapatnya. Ibu Wahyu hanya menggeleng pelan dan pergi ke dapur diikuti oleh Pak Wahyu.


“Lo kenapa?” tanya Renov begitu keduanya sudah pergi. Lena menggeleng pelan. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa seperti ini.


“Mau gue anterin pulang?” tawar Renov.


“Lena masih ngajar nanti jam enam...” Renov melihat jam tangannya, masih jam tiga. Ia lalu kembali memperhatikan wajah Lena yang terlihat pucat.


“Apa nggak sebaiknya lo libur?” Renov benar-benar menghawatirkan keadaan Lena saat ini.


“Tidak bisa... sebentar...lagi...mereka...ujian...” jawaban Lena terputus-putus dan menghilang. Renov menoleh saat tiba-tiba kepala Lena menyentuh bahunya.


“Rena?” Renov sempat terkejut. Awalnya ia berfikir kalau Lena pingsan, namun setelah mendengar helaan nafas panjang dari Lena, ia menyadari bahwa gadis itu tertidur.  Renov meraih bahu Lena perlahandan membaringkannya agar ia bisa beristirahat dengan lebih nyaman.


***


Lena tergagap saat membuka matanya, ia ada di tempat asing dan orang asing yang sedang memunggunginya. Saat Lena hendak bangun tangannya menyentuh sesuatu yang hangat. Ia menyentuh seekor kucing berwarna putih yang meringkuk di sampingya. Lena menghela nafas lega, setidaknya kucing itu tidak asing baginya. Ia sering memberi kucing itu makanan ketika dia terlihat di sekitar sekolah.


“Ha?” jawab Lena bingung.


Renov tersenyum melihat wajah Lena yang kebingungan dan rambutnya juga berantakan. Ia lalu berdiri dan meletakkan seekor kucing lagi di samping Lena. Kali ini warnanya belang oranye putih, “gue anterin elo pulang…” kata Renov setelah merapikan rambut Lena dengan tangannya.


Renov sibuk merapikan barang-barang dan melipat selimut yang dipakai Lena saat Lena memanggilnya, “Mas…mas…” Lena meraih lengan baju Renov.


“Kenapa? Kau masih pusing?” Renov menyentuh dahi Lena


“Sebentar…” Lena masih mencerna apa yang sedang terjadi, “ini jam berapa? Aku harus mengajar les…”


“Sudah jam tujuh, kantor lo ngijinin elo libur hari ini…” Renov belum selesai menjawab saat Lena memotongnya.


“Nggak bisa Mas, kasihan anak-anak…” Lena panik mendengarnya.


“Tadi ada yang telepon dan gue yang angkat. Gue jelasin keadaan elo dan ada teman lo yang mau ngantiin elo, siapa namanya? Katrina? Sebagai gantinya lo harus mengajar di jamnya besok malam…” Renov menjelaskan pada Lena dan menarik tangan gadis itu dari lengannya. Renov menariknya agar berdiri, “yuk…”


Lena hanya terdiam sambil mengikuti langkah Renov. Perhatiannya tidak lepas dari tangan Renov yang masih menggandeng tangannya sepanjang lorong sekolah. Gelap, hanya beberapa lampu yang dinyalakan untuk menerangi lorong-lorong sekolah. Suasana yang sangat berbeda ketika siang hari. Lena lalu merapatkan tubuhnya ke Renov saat melihat beberapa sudut sekolah yang terlihat menyeramkan.

__ADS_1


“Lo takut?” goda Renov sambil mengeratkan pegangan tangannya.


“Nggak…” jawab Lena berbohong, membuat Renov tersenyum melihat tingkahnya.


“Bukannya lo pernah bikin penghuni sekolah ini takut dengan suara tangis lo?” goda Renov.


“Mas...jangan diungkit lagi...” Lena malu sendiri mengingat kejadian itu.


“Elo nggak ngerasa utang penjelasan sama gue?”


“Lain kali Lena jelasin...” jawab Lena tak yakin.


“Elo lagi banyak pikiran kan akhir-akhir ini?” Lena memilih tak menjawab pertanyaan Renov. Laki-laki ini jelas tahu, tapi ia memilih untuk tidak banyak bertanya pada Lena. Hal ini membuat Lena nyaman berada di sisinya.


Lena terkejut saat Renov membuka pintu mobil SUV berwarna merah maroon di hadapannya. Ia tak menyangka Renov akan membawa mobil ke lingkungan sekolah. Bukankah ia tadi datang ke rumah Renov tadi?


“Masuk…” Lena menurut dengan perintah Renov. Ia duduk lalu mengencangkan sabuk pengamannya.


“Mas, ini mobil Mas?” tanya Lena penasaran.


“Bukan, punya bokap gue…” jawab Renov tanpa menoleh pada Lena.


“Mas tinggal di mana?” tanya Lena tanpa ia sadari.


“Di Perum Mahardika, kenapa?” Renov menoleh pada Lena, “elo?” Lena tidak menjawab karena pikirannya masih mencerna informasi yang baru saja di dapatkannya. Kalau Renov tinggal di kompleks elit itu, kenapa ia bisa bersikap seperti itu di rumah tukang kebun sekolahannya? Kenapa Renov mengerjakan tugas Pak Wahyu membersihkan sekolah.


“Pak Wahyu jatuh, kakinya kesleo, gue memutuskan membantunya karena gue sering sekali kabur ke rumahnya. Beliau sudah gue anggap sebagai bokap gue juga…” seolah mengerti apa yang dipikirkan Lena, Renov menjawab kegusaran Lena, “elo tinggal di mana?”


“Di Perumahan Anggrek Merah…” jawab Lena pelan. Ia melirik Renov yang cekatan memasukkan alamat rumah Lena di GPS mobilnya.


“Kenapa Mas mau repot-repot bantuin Pak Wahyu? Itu pekerjaan yang tidak mudah kan? Mas nggak…” Lena tidak melanjutkan pertanyaannya.


“Malu?” Renov melirik Lena dan tersenyum, “gue nggak peduli hal-hal kayak gitu. Kenapa gue perlu malu? Gue nolong orang, bukan jahatin orang…”


“Di rumah gue cuma Ibu satu-satunya wanita di rumah. Anaknya tiga laki semua, kalau semua pekerjaan rumah di kerjakan sendiri kan kasihan. Jadinya kami semua sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini dari kecil. Minimal kamar sendirilah…” Renov membelokkan mobilnya masuk ke arah rumah makan.


“Kita makan dulu…” putus Renov tanpa bertanya apapun pada Lena.


“Tapi Mas…” Lena belum sempat berbicara saat Renov memotongnya lagi.


“Renatta…” suara lembut Renov membuatnya tertegun, “gue belum lihat elo makan dari tadi, please jangan buat gue lebih khawatir daripada ini…”

__ADS_1


“Kenapa?” Lena menahan Renov turun dari mobilnya, “kenapa Mas begitu baik dengan Lena?”


***


__ADS_2