
Pagi itu, terlihat sosok pria yang ku kagumi sedang menghisap rokoknya. Dari jarak yang jauh, aku masih bisa melihat dia dengan jelas.
Apa kabar dengan nya? sudahkah memiliki cinta? mampukah dia hidup dengan adanya cinta dalam dirinya? sementara dia adalah seorang yang tidak bersahabat dengan cinta!
Dia.. Dean Wijaya, terkenal dengan sikap dingin dan punya segalanya. Pria yang mampu memporak porandakan hatiku. Mengagumi selama 5 tahun sejak duduk di bangku SMA.
Tersadar dari lamunanku, aku baru sadar jika dia telah berlalu dari pandangan jauh dari mata. Mataku mencari kesana-kemari kemana tepatnya dia pergi. Tak menemukannya aku berlari kecil agar tidak kehilangan jejaknya lagi. Ini adalah pertemuan tidak segaja sejak lulus sekolah 3 tahun lalu meskipun hanya aku yang beranggapan demikian.
Bruukk!!
"auhh..." Rintih saat aku tidak sengaja menabrak seorang gadis muda karena fokus mencari pria yang kukagumi.
"Maaf, aku tidak sengaja" ucapku dengan penuh penyesalan akibat tidak berhati-hati.
"ah, iya tidak apa-apa aku juga kurang hati -hati.
__ADS_1
Senyum yang tulus terlihat dari sosok gadis cantik tersebut hingga kecantikannya semakin terpancar. Kulit putih dan bersih tidak bercacat ditambah dengan senyuman itu semakin memposisikan kata sempurna untuknya.
"ah, iya.. sekali lagi maaf." Ucapku saat sadar dari lamunanku karena asik mengagumi kecantikannya. aku saja terpesona akan kecantikan nya, apa kabar dengan pria, ya?
saling tersenyum adalah tanda perpisahanku dengan gadis itu. Teringat kembali dengan pria yang aku cari ternyata tidak menemukan sosok nya lagi.
"huuuhh... kemana dia?" resah seorang diri di tengah kerumunan yang berlalu-lalang.
Menjelang sore, semua karyawan dan staf di perusahaan property pemilik Wijaya yang terkenal di Indonesia itu sedang bersiap diri untuk pulang. Termasuk Xena Aulia yang bekerja sebagai office girl ikut bersiap-siap untuk kembali ke kost bersama teman seperjuangan selama 2 tahun bekerja di perusahaan Wijaya.
"hah.. apa sih Tha buat kaget aja ih." Kesal Xena karena Mitha memanggil namanya sekeras baja.
"Lagian kamu dipanggil tiga kali nggak nyahut, lagi ngelamun apa sih?. Jangan bilang lagi mikirin pria masa lalu kamu itu!?. Udah deh Xen, hidup ini terus berjalan dan pria juga masih banyak loh jangan harapin yang semu!"
"Apaan sih Tha, cerewet banget deh. Kalimat kamu itu aja selama 2 tahun ini, nggak ada niat ganti kalimat lain? "
__ADS_1
"Habisnya kamu itu udah kelewat panjang kali lebar mikirin pria itu... hahaha." Tawa Mitha karena sudah semakin kesal dengan sahabatnya.
"Kamu nggak tahu aja gimana perasaanku, Tha. Aku tuh sudah berusaha semaksimal mungkin untuk lupa tapi tetap aja dia selalu muncul di pikiranku tanpa aku minta. Apalagi tadi pagi saat berangkat kerja aku lihat dia di sebrang jalan, semakin gundah gulana hatiku." Jelas Xena dengan begitu sendu.
Sedrama itulah perasaan seseorang jika sedang jatuh cinta, semua serba salah dan tidak dapat memastikan kapan waktu akan mempertemukan mereka.
"Beneran kamu lihat dia? terus gimana apakah dia masih kenal kamu? siapa yang nyapa duluan kamu atau dia?." Tanya Mitha dengan antusias
"Ya ampun Tha, kamu sudah seperti wartawan saja. pertanyaan kamu banyak banget." Kesal Xena dengan pertanyaan antusias sahabatnya.
" Yang jelas semua pertanyaan kamu tidak ada yang terjadi.. huhh."
"Ya udah deh. mungkin belum jodoh bertemu kali Xen. sabar aja kalau jodoh mah pasti bertemu lagi.
udah ah, ayo kita pulang nanti kita bisa malam sampai di kost." Xena hanya mengangguk pelan atas ajakan sahabatnya.
__ADS_1
Jodoh siapa yang tahu, manusia hanya mengikuti alur yang harus di lalui tetapi sang pencipta lah yang akan mengatur kepada siapa kita dipertemukan.