
Lima menit sudah berlalu tetapi Xena tidak ada tanda-tanda untuk mengetuk pintu ruangan Dean. Selama itu pula sebenarnya dia sudah memantapkan diri dan berharap Dean sudah pulang.
Tok... tok...
Tidak ada sahutan yang terdengar, senyum itu kembali membuat nya tenang. Dengan semangat Xena membuka pintu dan tetap menampilkan senyum nya, merasa Tuhan memang berpihak kepadanya hari ini.
Degh....
Saat pintu sudah di tutup, senyuman itu luruh seketika melihat Dean yang duduk di sofa tanpa melakukan apapun.
"Tapi tadi nggak ada suara deh... huffftt." Batin Xena
"Sampai tahun depan juga kamu nggak akan dengar suara dari dalam, ini kedap suara" Suara datar itu kembali dia dengar. Xena merutuki diri nya sendiri kenapa bisa melupakan hal itu.
"Mau sampai kapan kamu tetap mematung?!" Kembali suara itu terdengar dan sedikit meninggi membuat Xena tersentak sadar dari lamunannya.
"oo..hh.. iya tuan" Jawab nya dengan terbata.
Sungguh miris memang, tadinya dia sudah senang harapan nya terkabul tetapi hanya Frank.
__ADS_1
Xena heran kenapa Dean tidak pulang. Namanya juga bos pastinya sesuka hati kapan ingin pulang.
Saat Xena sedang melakukan pekerjaan nya, Dean hanya menatapnya yang sulit diartikan. Sementara itu, Xena tidak menghiraukan bahwa bos itu ada di ruangan ini.. dia hanya melakukan pekerjaannya dengan secepat mungkin agar cepat selesai dan keluar dari ruangan yang mencekam baginya.
ahhh...
"Kamu mengabaikan ku?!" Kaget Xena karena tiba-tiba tangannya di tarik oleh Dean. Ketakutan itu sangat terlihat dari wajah Xena. "Jangan pernah mengabaikan ku di ruangan ku sendiri!!." Marah Dean karena sedari tadi Xena tidak mempedulikan bos nya itu ada di ruangan itu.
Ketakutan Xena semakin jelas terlihat melihat wajah Dean yang memerah akibat marah, hembusan nafas Dean begitu sangat terasa di wajah nya.
Xena tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya diam.
"Tu... a....hmmpp..." Belum sempat Xena menyelesaikan kalimatnya, Dean dengan cepat menutup mulutnya dengan ciuman.
Mata itu membola seketika dengan apa yang dilakukan Dean terhadap nya. Ciuman pertama nya telah direnggut oleh seseorang yang dia kagumi tetapi apa yang terjadi ini adalah sebuah kesalahan.
Dengan cepat Xena mendorong dada Dean agar ciuman itu terlepas, namun tenaga Dean begitu erat menyentuhnya.
Berusaha berontak sembari memukul dada Dean karena dia sudah kehilangan nafas.
__ADS_1
Plakk...
Satu tamparan mendarat di pipi Dean saat ciuman itu terlepas, sembari menghirup oksigen dengan rakusnya. Terlihat jelas kemarahan di wajah Xena, dia tidak terima diberlakukan seperti ini.
"Apa yang kamu lakukan sialan?!!!." Teriak Xena marah tersengal-sengal dan gemetar. Dia sangat butuh oksigen sebanyak apapun saat ini untuk menetralkan kondisinya.
"Apa yang aku lakukan? ck.. tentu saja mencium mu" balas Dean dengan nada enteng nya bahkan dia tidak merasa bersalah sama sekali.
"Bagaimana rasanya, saat diberlakukan yang tidak kamu suka?!" Tanya Dean dengan senyuman menyindir. "Apa kamu pernah memikirkan perasaan orang lain saat kamu melakukan apapun demi sebuah perhatian ku?!!" teriak Dean murka mengingat tiga tahun lalu.
"Tapi semua sudah berlalu, An!. Aku juga sudah menyelesaikan nya tiga tahun lalu, apa kamu melupakan itu?." Jawab Xena dengan suara sendu. "Dulu aku juga tahu batasannya, tidak seperti yang kamu lakukan kepadaku saat ini!" kesal Xena dengan yang dilakukan Dean terhadap nya.
"Aku tidak suka kamu memanggil namaku seperti itu..!!!." teriak Dean sambil mencengkram erat dagu Xena.
"Sakit.." lirih Xena dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Xena kesakitan, Dean menghempaskan nya begitu saja sehingga Xena yang tidak terjaga keseimbangan terjatuh.
"Pergi dari ruanganku. Sekarang..!!" usir Dean dengan nada datarnya dan tidak mempedulikan kesakitan Xena.
__ADS_1
Berlalu dari ruangan itu dengan menangis tanpa suara. Kesesakan itu membuatnya tidak berdaya.