
Berbeda keadaan di tempat Mitha, terakhir kalinya mereka saling memberi kabar saat sore setelah Xena memberitahu dia akan pulang terlambat karena lembur.
Mitha merasa heran, kenapa Xena tidak datang menemui untuk melihat kondisinya. Dan memang keadaan Mitha sekarang sudah baikan tapi aneh baginya karena Xena tidak akan pernah ketinggalan informasi mengenai sahabatnya.
"Hmmm, apa Xena langsung tidur ya karena kelelahan. "Pikir Mitha karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh tetapi temannya itu tidak datang ke kostnya.
***
"Apa dia tertidur?" gumam Dean sembari keluar dari mobil dan melihatnya.
Benar saja sesampainya di tempat Xena, dia melihat mata yang bengkak itu sudah tertutup. "Apakah tidak takut dengan tidur di tempat seperti ini...ck?" decak Dean karena merasa Xena sudah mengibarkan bendera hijau yang menginginkan nya.
"Apakah kamu menangis selama itu.. hmmm?" gumam Dean pelan, memperhatikan apa saja yang ada di wajah perempuan yang di hadapan nya sekarang.
Memiliki kulit yang manis, alis tebal, hidung yang tidak terlalu mancung, bibir sedikit tebal, dan memiliki beberapa tahi lalat di permukaan wajah nya.
Dean tersenyum lembut mengagumi perempuan yang dia pandangi sedekat itu. Bahkan satu lagi bagian dari Xena yang membuat senyuman itu mengembang, yaitu bola mata yang indah berwarna coklat pekat.
__ADS_1
Kesadarannya ketika tiga tahun lalu saat terakhir bertemu dengan Xena. Pertama kalinya, Dean memperhatikan nya dengan saksama. Saat itulah Dean menyadari bahwa Xena memiliki mata yang indah.
Meringis melihat kondisi Xena saat ini, penampilan nya berantakan. Meskipun demikian, Dean tidak bisa menyangkal bahwa Xena tetap terlihat manis.
Tidak ingin terlalu lama memperhatikan, Dean mengangkat Xena ala bridal dan memasukkan ke mobil dengan begitu hati-hati. Bahkan Xena tidak merasa terganggu akan apa yang dilakukan Dean.
Menyalakan mobil dan berlaju begitu saja. Dean bingung harus membawa kemana karena dia tidak tahu alamat Xena.
Hingga akhirnya Dean membawa nya ke apartemen miliknya.
Satu jam berlalu mereka sampai apartemen yang jarang sekali dia kunjungi. Mengendong Xena dengan perlahan, berjalan hingga sampai lift. Tidak mempedulikan beberapa orang yang melihat, memasang wajah datarnya sudah cukup membuat sekitar nya ketakutan.
"Ck..."decak nya karena Xena sama sekali tidak terganggu. "Jika bukan aku yang melakukan, entah sudah jadi apa dia di tangan pria lain."
Menyelimuti tubuh Xena dan meninggalkan nya sendiri di kamar yang luas itu.
***
__ADS_1
"Sayang..."
Saat menerima telepon dari sang kekasihnya. Sedari tadi Irene terus menghubungi nya namun tidak diangkat oleh Dean.
"Kok baru diangkat, lagi sibuk banget ya.?" tanya Irene tanpa memberi jeda untuk Dean menyapa.
"Iya, maaf baru bisa angkat telepon kamu. Besok kita sambung lagi ya, aku lelah." Jawab Dean dengan tenang.
Pandangan Dean menerawang luasnya kota Bandung. Setelah sambungan telepon itu terputus, dia melangkahkan kakinya menuju balkon. Perasaan yang menyatu dan sulit untuk dia artikan, kebingungan terjadi pada dirinya sendiri. Merasa aneh dengan tingkah nya terhadap Xena.
***
Dean mungkin belum menyadari titik dimana sebuah rasa yang dia miliki terhadap Xena. Berusaha menepis .. bahwa yang dia lakukan sekarang ini hanya sebuah kemanusiaan dan rasa bersalah nya mengenai kejadian di kantor.
Lalu, kenapa Dean harus mencium Xena dan peduli terhadap nya saat ini?
Itu bukan lah sebuah rasa kemanusiaan yang berusaha Dean ciptakan melainkan karena cinta. Namun, Dean dengan mudahnya menepis dan berusaha untuk tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Ada apa denganku?" kesal dengan diri sendiri karena itu adalah pertanyaan kesekian kalinya.