Bersahabat lah dengan cinta

Bersahabat lah dengan cinta
BAB 2


__ADS_3

Seminggu setelah pertemuan sepihak itu, hati dan pikiran Xena tidak menentu. Pagi, siang, dan malam pikirannya hanya pria yang dia kagumi. Bahkan Xena harus melewati jalan yang sama saat dia melihat pria itu berharap Tuhan berkenan mempertemukan mereka tetapi semua tidak sesuai harapan.


"arrrgghh...!". Teriak Xena untuk melegakan ketidaknyamanan selama seminggu ini. Duduk berdiam di tepi danau membuatnya semakin merasa sedih padahal Mitha sudah ingin ikut pergi bersamanya tetapi Xena melarang dan ingin sendiri.


Entah apa yang akan Xena lakukan setelah ini, namun berulang kali berusaha dengan menciptakan kalimat untuk menenangkan hati dan pikirannya.


"Aku bisa melupakan". Gumamnya sepanjang jalan menuju kost. Sengaja kembali ke kos dengan berjalan kaki, dia hanya ingin lebih lama menenangkan dirinya sendiri karena dia juga sudah muak dengan hati dan pikirannya.


***


Kabar yang mengejutkan seluruh karyawan dan staf di perusahaan Property Wijaya. Atasan mereka akan datang ke kantor bersama sang anak sebagai penerus.


Mendengar beberapa kali isu mengenai anak atasannya itu membuat seluruh yang ada di kantor melakukan pekerjaan masing-masing dan tanpa ada kesalahan sedikitpun hingga jam makan siang mereka lewatkan.


"Selamat datang, Pak dan tuan muda". Hormat seluruh karyawan dan staf berdiri menyambut atasannya itu.


Senyum ramah yang diberikan atasan membuat mereka merasa lega karena melihat tuan muda yang tidak ada ekspresi dan hanya memperlihatkan wajah datarnya.


degh..


"Dia.." kaget Xena melihat siapa yang berjalan dan melewatinya.


Seminggu ini pria itu yang membuat hatinya tidak tenang dan sekarang dibuat semakin tidak tenang dengan kenyataan di depan mata.

__ADS_1


Dia, Dean Wijaya yang terkenal dengan kekayaan yang dimiliki. Mustahil jika Dean tertarik dengan Xena Aulia yang berkehidupan sederhana itu.


***


"Tha, aku melihatnya". Lirih Xena dengan sendu. Mendengar pernyataan Xena membuat sahabatnya itu kaget dan menarik Xena untuk menatapnya.


Cukup lama mereka saling pandang hingga Mitha memastikan apa yang ada di pikirannya.


"Dean Wijaya?". Anggukan kecil Xena membuat dia membuang nafas kasar.


" Aku juga tidak tahu, Tha. Beneran aku baru tahu siapa dia setelah melihatnya hari ini". Jelas Xena yang mengerti apa yang dipikirkan Mitha.


Xena tahu, Mitha sangat memikirkannya apalagi saat kenyataan hari ini. Tahu bahwa, mereka sama-sama sepikir kalau mustahil Dean Wijaya bisa melirik sedikit saja kepada Xena.


Kalimat terakhir Mitha membuat Xena bungkam. Tidak tahu harus menjawab dan bersikap apa semestinya dengan kenyataan itu.


"Sudah tahap proses kok, Tha. Aku akan berusaha lagi apalagi mendengar kalimat terakhirmu membuatku akan semakin berusaha Tha". Mitha hanya mengangguk percaya terhadap sahabatnya itu.


***


Saat memasuki lift tanpa sengaja pandangan Xena bertemu dengan mata itu, pria yang dia kagumi. Cukup lama mereka saling pandang sehingga pintu lift akan tertutup.


"Masuklah!". Perintahnya dengan suara berat sehingga membuyarkan pandangan Xena dan gelagapan. Dia berpikir kenapa bisa ada anak atasannya di lift karyawan dan staf.

__ADS_1


"Kamu mau masuk atau tidak?!". Suara keras itu membuyarkan apa yang Xena pikirkan.


segera masuk dengan cepat karena pintu lift akan tertutup.


"I..i..ya tuan muda". Jawab Xena gugup, entah mengapa dia tidak mengharapkan pertemuan ini padahal sejak dulu bahkan seminggu yang lalu dia berharap kepada sang pencipta untuk mempertemukan mereka.


Xena berusaha menenangkan kegugupannya dengan membuang nafas perlahan-lahan.


Keheningan terjadi dalam lift itu, tanpa satupun diantara mereka yang memulai pembicaraan meskipun sekedar basa-basi. Apakah Dean Wijaya tidak mengenalnya?


Kelegaan terlihat di wajah manis Xena karena Dean tidak mengenalnya, terbukti ketika tidak ada kalimat apapun tercipta di lift itu.


Ting


Pintu lift terbuka dan dengan cepat pemilik wajah datar itu berlalu begitu saja. Xena yang terlihat menundukkan kepalanya sejak memasuki lift merasa semakin lega untuk bernafas.


"hahhh...". Akhirnya aku bisa bernafas dengan tenang gumam Xena.


"Ya elah Xen, aku nungguin kamu kaya nungguin ada yang lamar tahu nggak sih". Kesal Mitha menunggu Xena yang kembali lagi ke kantor karena ada yang tertinggal.


"Cerewet banget deh, yuk ah kita pulang". ucap Xena berlalu pergi meninggalkan Mitha.


Mitha yang tertinggal merasa kesal dengan sahabatnya itu, dia yang ditunggu malah Mitha yang tertinggal.

__ADS_1


__ADS_2