Bersahabat lah dengan cinta

Bersahabat lah dengan cinta
BAB 5


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, seorang yang belum bisa memejamkan matanya. Kesunyian itu dan pikirannya yang tidak karuan menjadi temannya saat ini. Dia adalah Xena, pikiran nya jauh melayang tentang pertemuan di lift itu.


"Apa dia tidak mengenal ku?" tanya nya pada diri sendiri, bahkan dia beranjak dari tempat tidurnya untuk berkaca melihat sejauh mana perubahan wajah nya setelah 3 tahun berlalu.


"Hemm... biasa aja sih, tetap manis" gumam Xena sendiri cekikikan sambil memperhatikan kiri dan kanan wajah nya di cermin itu. Kembali merenung dan berpikir jika pun Dean mengenal nya, apa yang diharapkan oleh Xena? sementara mereka tidak tidak ada hal yang khusus untuk diingat meskipun sekedar basa-basi.


"Apakah kekasih nya jauh lebih baik dari aku" batin Xena. Kesedihan itu semakin dalam ketika memang benar adanya. "Siapakah aku?" kembali bergumam karena Xena bukan lah siapa-siapa dan dia tidaklah sepenting itu.


Lalu apa kabar dengan isu bahwa Dean tidak bisa bersahabat dengan cinta? sementara sekarang dia sudah memiliki kekasih. Seistimewa itukah perempuan itu sehingga Dean dengan mudahnya melabuhkan cintanya? Kebingungan yang tidak menentu dan suasana hati nya membuat Xena semakin meradang terluka dengan kenyataan menghampiri nya.


Sejenak air mata itu menetes tanpa diizinkan, dia bingung harus melakukan apa dan bersikap bagaimana. Timbul dibenak nya membuka hatinya untuk orang lain, mungkin itu adalah pilihan terbaik saat ini.


"Dean..." lirih Xena menangis pilu dengan mengingat kejadian 3 tahun lalu, semakin keras tangisan yang menyesakkan dada itu ketika teringat perkataan sahabat nya bahwa Dean sudah memiliki kekasih.


Terlena dengan kesedihan nya hingga pukul 03.00 tidak sadar bahwa dia tertidur karena kelelahan menangis.


***


Dengan wajah yang sedikit pucat akibat kurang tidur, Xena tetap masuk kerja meskipun masih merasa kantuk.


"Kamu sakit, Xen?" tanya Mitha saat berjalan menuju halte.

__ADS_1


"Nggak ah, kurang tidur aja" jawab Xena dengan lesu.


"Kok bisa kurang tidur, ada pekerjaan lain ya?" heran Mitha


"Hemm... nggak ada, cuma nggak bisa tidur aja Tha" hembusan nafas kasar Xena membuat Mitha curiga. Terdiam sejenak memikirkan makna dari ucapan sahabat nya itu. "Iya aku memikirkan dia semalam dan itu terakhirnya kalinya". Seakan mengerti diamnya, Xena melanjutkan kalimatnya agar sahabat nya itu tidak berpikir terlalu jauh.


"Aku percaya padamu" jawab Mitha dan dianggukan oleh Xena dengan percaya diri bahwa dia bisa melakukan nya.


***


Jam makan siang adalah yang paling ditunggu-tunggu yang bekerja di perusahaan property itu. Salah satunya Xena dan Mitha, beruntung nya di tempat mereka bekerja disediakan kantin khusus pekerja tanpa bayar.


"Kamu kenapa, Xen?" tanya Mitha dengan khawatir


"Ahh... anemia aku kambuh kayaknya Tha, tiba-tiba pusing. Aku duduk sebentar ya Tha, kamu lanjut ke kantin aja aku nggak masalah". Jawab Xena sambil berjalan ke tempat duduk yang ada di sekitarnya sambil memijat pelipisnya.


"Kamu kurang istirahat Xen, udah tahu anemia malah begadang nggak jelas... huffftt. Ya udah, tunggu disini aja biar aku yang ke kantin ambil makanan". Mitha langsung berlari ke kantin tanpa menunggu jawaban Xena.


Xena duduk sambil memejamkan matanya untuk mengurangi pusing yang dideranya. Tidak tahu sejak menit ke berapa, Xena sudah terlelap dalam tidurnya.


Tidak menyadari seorang yang memperhatikan nya dari jarak jauh. Seorang itu adalah Dean yang berniat untuk ke kantin pekerja karena sudah sangat lapar dan tidak ingin mengganggu sekretaris papanya yang juga ingin menikmati makan siangnya.

__ADS_1


Memperhatikan sedemikian rupa, Dean enggan untuk memperlihatkan dirinya dihadapan Xena meskipun hanya sekedar bertanya.


"Dia kenapa" gumamnya sendiri dari jarak jauh tetapi masih bisa melihat dengan jelas Xena memijat pelipisnya dan dengan cepatnya dia tertidur. "Ada apa denganku?" bingung Dean kenapa harus ingin tahu ada apa dengan Xena. Tidak ingin banyak berpikir dan menepis apa yang terjadi padanya saat ini, dia berlalu kembali ke ruangan sang papa dan bahkan dia lupa kemana tujuan sebelumnya.


***


"Pa, ..."


"Papa tidak mau tahu alasan kamu, Dean. Mulai besok kamu yang menggantikan papa." Belum sempat Dean meneruskan kalimatnya, Sandika Wijaya langsung memotong kalimat anaknya itu. "Papa sudah tua, nak". suara lembut itu membuat Dean mengangkat pandangan nya yang sedari tadi menunduk.


Sandika Wijaya ingin Dean menjadi penerus dan menggantikannya sebagai pemilik Wijaya karena dia merasa bahwa sudah saatnya Dean belajar mengenal bisnis dari sekarang meskipun, Sandika sadar bahwa anaknya itu baru menyelesaikan pendidikan seminggu yang lalu.


Dean tidak diberi jeda untuk bersantai sedikitpun, sepulang dari Singapura tempat dia menempuh pendidikan sang papa langsung mengatakan niatnya kepada Dean. Dean berusaha untuk membantah namun, sang papa tetap pada keputusannya.


"hahhh..." Dean hanya membuang-buang nafas dengan kasar. Hanya berbekal ilmu tanpa terjun ke lapangan saat meraih ilmu di Singapura membuat Dean sangat ragu untuk menjadi CEO yang di alihkan oleh papanya, takut dia tidak bisa meneruskan dan mengembangkan perusahaan ini dengan yang diharapkan papanya.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan papa". Jawab Dean dengan tenang setelah menghembuskan nafas berkali-kali.


"Papa percaya padamu, nak". Tegas Sandika Wijaya seraya memberikan motivasi sederhana itu yang dibalas hanya anggukan kecil dari Dean.


"

__ADS_1


__ADS_2