
"Apa yang kamu lakukan, Dean.?" Teriak Xena panik karena Dean menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
Kepanikan itu semakin menjadi melihat Dean tatapannya yang berbeda. "De...a.." belum sempat ucapan itu keluar, Dean langsung memotongnya.
"Aku akan membuktikan sesuai dengan pikiran kamu.!" Tekan Dean dengan suara berat dan tatapan tajamnya.
Xena menangis dan bergetar, mencoba menarik kembali selimut yang tidak terlalu jauh darinya.
Namun, pergerakan itu terhenti saat Dean menarik tangan Xena sehingga hanya sebelah tangan satu lagi yang mampu menutupi bagian atasnya.
"Dean, hentikan!" dengan suara bergetar dan takut melihat Dean di hadapannya. "Lepas!!" ucap Xena teriak dan menghempaskan tangan Dean.
"Beraninya kau...!!" Seketika itu Dean langsung menindih tubuh Xena dengan memancarkan kemarahan.
Entah mengapa Dean tidak bisa mengontrol emosi nya saat bersama Xena. Padahal sebelum nya, dia begitu peduli dengan keadaan Xena bahkan merawat nya semalam. Namun, saat ini apa yang keluar dari mulut Xena menjadi menimbulkan masalah dan amarah Dean.
"Apa yang kamu lakukan, tolong hentikan Dean.!" Pintanya memohon, namun Dean tidak mendengarkan malah mencium bibir Xena dengan kasar. ********** dan memperdalam ciuman dengan kasar.
Xena berusaha berontak dengan memukul punggung Dean dan bergerak agar Dean berhenti.
Namun, Dean semakin menjadi bahan ciuman itu berlanjut ke leher jenjangnya. Xena semakin histeris berusaha untuk memukul dan mendorong Dean tetapi tidak ada hasil, usaha Xena sungguh tidak berpengaruh.
"Hentikan.. kumohon Dean.!" Lirihnya bergetar.
"Kamu tidak mendengar yang ku ucapkan? aku akan membuktikan sesuai dengan yang ada dipikiran mu.!" Sahut Dean dan melanjutkan aksinya. Bahkan tangan Dean menyentuh benda tertutup itu, berusaha melepaskan pembungkus itu dengan kasar dan tidak sabaran.
"Aaa.. Dean kumohon jangan lakukan... hentikan.... lepas.!! Teriak Xena menangis karena Dean sudah sangat jauh bahkan pembungkus itu sudah lepas dari tubuhnya.
Tangan Dean bergerilya kesana-kemari di tubuh Xena, bibirnya kembali dibungkam dengan ciuman Dean dan jangan lupakan tangan Dean begitu kasar menyentuh dada itu.
Dean begitu menggila, entah apa yang dipikirkannya sehingga dia melakukannya kepada Xena. Entah karena marah atau karena nafsu yang merasuki nya.
Dean sungguh tidak peduli dan tidak mendengar apa yang sudah di ucapkan Xena. Dia begitu menikmati apa yang telah dia lakukan, entah memang sebelumnya berniat atau hanya sekedar menakuti namun sekarang Dean sangat tidak bisa mengendalikan dirinya.
Tangisan Xena, ucapan Xena, dan bahkan pukulan Xena tidak dihiraukan oleh Dean.
"Bagaimana, apa kamu suka?" Tanya Dean disela aktivitas nya menghisap dada Xena.
Xena merasa dirinya sangat kotor dan terhina oleh perbuatan Dean.
"An..." Lirih nya bergetar. Xena hanya menangis, bahkan dia tidak punya tenaga lagi untuk berontak.
Kesadaran Dean kembali saat mendengar panggilan itu. Dia mendongak, dan menatap Xena yang sangat berantakan.
Aktivitas nya terhenti saat suara lirih Xena.
"Ssshhh..."
"Kenapa?" tanya Dean sembari beringsut karena melihat Xena meringis dan keringat di keningnya.
__ADS_1
Dean mendudukkan Xena dan menangkup wajah Xena dengan kedua tangannya. Memperhatikan wajah Xena yang tiba tiba-tiba pucat.
"Sakit" sahutnya pelan dan kembali meringis.
"Mana yang sakit?" tanya Dean disela kepanikannya.
Melihat Xena yang terus meringis membuat Dean merasa bersalah dengan apa yang barusan dia lakukan. Bahkan Xena tidak menjawab bagian mana yang sakit.
Sehingga Dean meneliti tubuh Xena mencari apakah Dean menimbulkan luka atas perbuatannya. Namun, dia hanya menemukan hasil mahakarya atas perbuatannya itu bahkan Dean menelan Saliva nya dengan kasar saat tahu betapa brutalnya perlakuan nya terhadap Xena.
"Aku ingin tidur, hiks..." Menatap Dean dengan derai air mata.
Dean bisa melihat betapa terluka nya Xena atas perbuatannya.
"Mana yang sakit?!!" bentak nya karena Xena tidak menjawab pertanyaan nya.
Xena hanya bisa menangis.
Melihat Xena meringis sambil menangis, Dean menata bantal dan membaringkan Xena. Meninggalkan Xena tanpa selimut. Xena hanya bisa menangis dan meringkuk untuk menutupi bagian atasnya.
Tidak lama kemudian, Dean datang membawa baju di tangan nya. Itu adalah baju kaos yang dia sediakan beberapa di lemari untuk berjaga-jaga jika butuh.
Meraih tubuh Xena untuk duduk namun sang empu begitu terkejut dan bergetar.
"An ..." takut dan panik itulah yang Dean lihat
"A...n..." Panik Xena saat membuka celananya.
Menatap Xena dengan tajam membuat Xena tidak bisa berkutik, membiarkan Dean melakukannya dengan perasaan takut.
Bahkan Xena bisa melihat tatapan Dean saat paha mulus itu terlihat jelas.
Dean hanya bisa menelan Saliva nya dengan kasar. Untung nya ********** tidak terlihat karena Xena berusaha menutupi nya dengan menurunkan kaos kedodoran milik Dean.
Kembali Xena meringis membuat lamunan Dean buyar. "Mana yang sakit? tanya Dean sembari mendekatkan wajahnya pada Xena.
Sehingga Xena bisa melihat betapa pedulinya Dean terhadap nya. Seketika melupakan perlakuan Dean barusan.
"Aku ingin tidur, kumohon" ucapnya pelan dengan menunduk.
"Ck.." Dean hanya berdecak kesal karena tidak puas jawaban Xena.
Meskipun demikian, Dean tetap mengikuti ucapan Xena dan membaringkan Xena dengan pelan lalu menyelimuti nya.
"Tidur lah, aku akan ke bawah sebentar." Xena tidak merespon apapun, hanya memejamkan matanya.
Itulah yang terbaik menurutnya agar situasi tidak runyam.
***
__ADS_1
Sementara itu, Dean ke minimarket untuk membelikan sesuatu. Melihat Xena meringis seperti tadi, dia peka apa yang terjadi pada Xena dan membelikan beberapa pakaian dalam serta berbagai jenis obat.
Saat kembali ke apartemen, ponsel Dean berbunyi dan tanpa melihat siapa yang menelepon, dia langsung mengangkat nya.
"Halo"
"Maaf tuan muda, saya hanya mengingatkan kembali mengenai meeting kita hari ini." ucap sang sekretaris.
"Iya baiklah, saya segera akan bersiap." sahutnya dan langsung mematikan panggilan tersebut.
Sang sekretaris hanya bisa menghela nafas kasar dengan sikap tuan mudanya.
***
Saat memasuki apartemen, bertepatan pengantar makanan datang. Memang sebelumnya, Dean sudah menghubungi pihak restoran untuk memesan makanan.
Mereka takut untuk berurusan dengan anak Wijaya, karena tahu kekuasaan yang dimiliki oleh papanya. Sehingga pihak apartemen melakukan pekerjaan dengan baik dan berhati-hati.
"Xena... bangunlah, ayo sarapan" Panggil nya begitu lembut saat sudah duduk di samping Xena.
Belaian tangan di pipinya membuat Xena tersentak bangun. "A..n.." takut dan panik saat Dean di sampingnya.
"Ayo kita sarapan" tanpa ada drama, Dean langsung mengendong Xena sehingga Xena terpekik.
Xena berusaha tenang untuk tidak menimbulkan amarah Dean.
"Makanlah" titah Dean saat makanan sudah tersaji dimeja makan.
Dengan pelan Xena memulai suapan nya sambil menunduk.
"Jangan terus menunduk, lihat aku!" kesal Dean karena dia merasa terasingkan.
"Maaf" Xena mendongak untuk melihat Dean di dekatnya. Sembari menikmati sarapan nya sesekali Xena melihat Dean sesuai perintah nya.
***
Siang itu, Dean melakukan meeting di restoran yang sudah disepakati. Meninggalkan Xena seorang diri di apartemen.
"Kok Dean bisa tahu ya.?" monolog Xena saat dia membuka bungkusan yang terletak di meja.
Memasuki kamar mandi dengan sedikit meringis. Hari ini adalah hari pertama nya datang bulan. Perut dan pinggang nya sangat sakit dan kakinya begitu lemas.
Selesai dari kamar mandi, Xena meminum obat nyeri yang dibelikan oleh Dean. Dean sungguh peka pikir Xena.
Mengistirahatkan diri kembali. Xena teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu.
Hanya bisa menangis, mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Xena berpikir Dean memiliki temperamen yang kuat namun, di sisi lain juga memiliki sifat peduli. Terlihat saat dia kesakitan.
Tertidur karena lelah menangis dan lelah memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
__ADS_1