Bersahabat lah dengan cinta

Bersahabat lah dengan cinta
BAB 13


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun tidak ada tanda-tanda mata itu mengantuk. Mengingat ada Xena berada di tempat tidur nya membuat Dean melangkah kan kaki ke sofa. Berniat untuk berbaring supaya kantuk itu datang, namun tiba-tiba dia mendengar suara lenguhan dari Xena.


"Hhhhmm...." dengan cepat Dean bangkit dan melihat keadaan Xena. Mengulurkan tangan untuk memegang dahinya, ingin tahu apakah Xena terlena demam. Dean begitu terkejut karena ternyata Xena demam tinggi. Bingung harus melakukan apa, Dean menepuk-nepuk pipi Xena dengan lembut.


"Xena, bangun"


Beberapa kali melakukan bahkan sedikit mengguncang tubuhnya tetap mata itu tidak mau terbuka.


Berlari ke lemari kecil dekat tempat tidur dan mencari kotak P3K di sana berharap ada obat yang diinginkan.


Beruntung nya, Dean mendapatkan apa yang diharapkan.


"Sebelum minum obat, aku harus beri dia makan terlebih dahulu." Monolog nya, dengan langkah cepat dia pergi ke dapur untuk melihat apa yang bisa di makan Xena. Namun, Dean tidak memiliki bahan makanan. Untung nya ada roti dan susu kotak di kulkas sisa Minggu lalu saat menempati apartemen nya.


Bergegas kembali ke kamar, setibanya.. Dean bingung bagaimana cara Xena memakannya jika masih terpejam. Mencoba lagi membangun kan Xena namun tetap tidak bisa.


Hingga akhirnya Dean kembali ke dapur untuk mengambil mangkuk dan sendok.


Dean mencampurkan roti dan susu menjadi satu dan diaduk hingga menjadi bubur.


Mendudukkan Xena dengan pelan dan menyuap Xena perlahan meskipun mata itu tetap terpejam.


"Ayo dong Xena, kamu harus bisa menelan sedikit saja" ucap Dean.


Berulangkali melakukan penyuapan, Xena sedikit ada kesadaran. Xena melenguh dan sedikit makanan bisa ditelan meski baju Xena bagian atas basah.


"Ayo, kamu minum obat dulu agar demamnya turun" Ucap Dean memasukkan obat ke mulut Xena.


Xena menerima perlakuan itu meski sadar dan tidak sadar.


"Ck.. baju kamu basah, kamu harus ganti dulu!." Kesal Dean karena Xena tidak ada pergerakan seperti sebelumnya.


"Haruskah aku yang buka?" gumamnya dengan ragu. Tanpa berpikir lama, Dean membuka satu persatu kancing bajunya sembari menutup mata agar tidak melihat sesuatu dibalik baju itu. Dengan perasaan gugup dan detak jantung yang semakin meningkat membuat tangan itu bergetar.


Perlahan tapi pasti, namun tangan nya tidak sadar sedikit menyentuh kulit mulus itu. Hingga akhirnya Xena tidur hanya memakai dalaman atasan dan celana kerjanya.

__ADS_1


"Ahh, kamu sungguh berbahaya rupanya." monolog Dean dengan berat karena menahan sesuatu dalam dirinya setelah menyelimuti tubuh Xena.


Berjalan ke kamar mandi untuk menyelesaikan yang harus diselesaikan. Dean bukanlah seorang yang munafik, dia adalah lelaki yang normal. Apalagi jika mangsa itu ada di depan mata namun Dean juga tidak ingin mengambil keuntungan dalam keterpurukan seseorang.


"Semoga selimut itu tetap bertahan sediakala saat kamu bangun." Gumam Dean sembari tersenyum menyeringai. Merebahkan tubuhnya di sofa dan berusaha tidur karena setelah kejadian barusan Dean teringat bayangan saat tangan nya tersentuh kulit itu.


***


Hari ini, Mitha masih izin tidak masuk kerja karena ingin mengistirahatkan tubuh nya dengan lama agar ketika kembali bekerja dia bisa melakukan aktivitas dengan baik.


"Xena... Xen..." beberapa kali gedoran di depan pintu kost Xena tidak ada jawaban.


"Apa dia sudah berangkat kerja ya?" gumam Mitha merasa bingung. Berpikir positif dengan kebingungan nya, karena Mitha tidak masuk beberapa hari mungkin pekerjaan di kantor makin bertambah.


***


"Sayang... kamu nikmat!" erang nya setelah pelepasan itu terjadi.


Peluh sepasang suami istri di pagi hari, mereka adalah Sandika Wijaya dan istrinya tercinta. Meskipun umur tidak muda lagi tapi untuk aktivitas di ranjang tenaga mereka seperti anak muda.


"Kamu tetap nikmat, Ma karena aku mencintaimu." Kekeh nya membuka selimut dan memeluk istrinya dengan lembut.


Senyuman itu mengakhiri aktivitas percakapan mereka, kembali terlelap setelah pemanasan di pagi hari. Sandika Wijaya hanya memantau pekerjaan sang anak dari asisten nya, selebihnya dia menghabiskan waktu dengan istri.


Seperti pagi ini, setelah lelah berkeringat mereka kembali bergelut dengan selimut.


***


kringgg... ringgg...


Dering ponsel tipe termahal itu membuat Dean terganggu, berusaha menetralkan pandangan nya karena masih mengantuk.


Beranjak dan mencari tahu dimana letak ponsel itu berada. Menyipitkan mata guna melihat nama siapa yang tertera di ponsel nya.


"Halo" kelegaan sang asisten saat tuan mudanya mengangkat panggilan yang ke enam kalinya.

__ADS_1


Iya, dia adalah asisten sang papa dan merangkup menjadi asisten Dean bernama Jeffry Pratama. Sang asisten yang sudah lama bekerja dengan Sandika Wijaya.


"Tuan muda, selamat pagi.. siang ini ada meeting di restoran dengan klien yang mengajukan kerjasama tiga hari lalu." jelas Jeffry cepat karena takut tuan mudanya mematikan panggilan tersebut.


"hemm" hanya deheman yang menjadi jawaban Dean dan mematikan panggilan tanpa mau mendengar kalimat selanjutnya dari sang asisten.


Memijat pangkal hidung guna menetralkan kesadaran nya. Mengingat semalam dia tidur di waktu yang sudah lama sehingga mata nya begitu berat untuk terbuka.


Kesadaran Dean langsung menjadi seratus persen ketika mata nya melihat pandangan yang indah di pagi hari.


Di tempat tidur nya ada seorang perempuan tertidur pulas yang hanya memakai bra. Dean baru tersadar kalau semalam dia membawa Xena ke apartemen nya dan kejadian saat baju perempuan itu basah.


"**** .." erangnya karena harapannya tidak sesuai. Ternyata selimut itu sedikit berpindah tempat karena pergerakan Xena.


"Kamu memang berbahaya, Xen." Monolog nya sembari tersenyum yang sulit diartikan.


Perlahan Dean mendekat di sisi tempat tidur dan terlihat jelas apa yang ada di pandangan nya saat ini. Meneliti dari wajah hingga di bagian yang masih terbungkus. Menelan Saliva dengan kasar, betapa indahnya perempuan di depan matanya sekarang.


Duduk di sisi ranjang dengan hati-hati karena takut Xena terbangun. Masih mengamati, entah menit ke berapa tangan Dean menyentuh bibir yang pernah dia rasakan kemarin. Bukannya menyelimuti malah mengambil kesempatan.


"Haa..." teriak Xena saat tangan Dean mengganggu tidurnya. Terkejut karena Dean ada di depan nya saat ini.


Beringsut untuk duduk tanpa sadar selimut itu semakin merosot hingga paha namun Xena belum menyadari apa yang terjadi pada nya saat ini.


Tatapan Dean membuat Xena mengikuti arah pandang nya.


"Haaaa....." teriaknya dengan keras seraya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Menatap Dean dengan penuh amarah.


"Apa yang kamu lakukan sialan!!?" bentak Xena menggebu. Detak jantung nya berdetak kencang karena terkejut dengan hal ini.


"Jawab!!!" teriak Xena yang sudah berderai air mata.


"Apa?" tanya Dean dengan nada berat, menatap Xena dengan tajam. "Beraninya kamu berteriak!?" teriak Dean tidak terima.


"Aahh..."

__ADS_1


__ADS_2