Bersahabat lah dengan cinta

Bersahabat lah dengan cinta
BAB 18


__ADS_3

Di rumah megah nan mewah, keluarga Wijaya sedang makan malam bersama tanpa kehadiran sang anak yaitu Dean Wijaya. Sempat berkabar bahwa sang anak tidak akan pulang karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.


Mereka menikmati dengan hikmat.


"Pa, jangan berikan pekerjaan yang terlalu banyak untuk Dean." Beritahu sang istri karena merasa akhir-akhir ini Dean pulang larut bahkan terkadang menginap di apartemen.


"Dean bisa mengatasi nya, sayang. Dia akan lebih luar biasa mengembangkan perusahaan dari pada papa. Mama tidak perlu khawatir." Jawab nya seraya menyendok makanannya.


"Mama benar pa. Waktu bersama keluarga juga terbatas. Apalagi kak Dean tinggal di luar negeri beberapa tahun. Aku rindu dimanjain sama kakak." Keluh sang anak, Sheren Wijaya, sambil mengaduk makanan di depan nya.


Adik perempuan Dean sangat manja terhadap nya, sehingga Sheren merindukan momen saat bersama sang kakak.


Saat mendengar sang kakak akan kembali dan bekerja di perusahaan, dia sangat bahagia. Namun, seminggu berada di Indonesia sang papa malah langsung mengangkat nya jadi CEO di perusahaan.


Sandika hanya mampu menghembuskan nafas dengan kasar. Melihat sang anak sedih karena jarang bertemu dengan sang kakak.


"Sayang, kakak mu hanya akan sibuk di awal-awal saja. Setelah nya nanti tidak akan seperti sekarang." Ucap Dean menenangkan Putrinya.


"Lagian Dean harus mencari dan mendapatkan klien baru untuk kerjasama. Itu tidak akan lama, hanya sibuk saat pertama saja... hem." Lanjutnya.


Istri dan putrinya hanya mengangguk kepala sebagai jawaban. Kembali menikmati makan malam dengan tenang.


***


Xena terbangun dari pingsannya, memijat kening dan pelipis untuk menetralkan rasa pusing. Mungkin karena kelelahan dan kejadian beberapa menit lalu membuat dia lemah.


Xena yang gampang sakit karena fisiknya yang kurang. Apalagi dia memiliki anemia.


Melihat sekeliling ruangan, dia baru sadar jika masih berada di kantor Dean.


Keheningan terjadi saat matanya melihat Dean di sisi kanannya. Ternyata mereka tidur bersama.


Semakin sesak di dada dengan cara Dean memperlakukannya, bahkan saat ini mereka terbaring di tempat tidur yang sama. Bahkan dia masih memakai pakaian sebelumnya.


Entah bagaimana Xena menjabarkan perasaan hatinya saat ini.


Sehina itukah diriku? pikir nya.


Menepis segala yang ada di pikiran dan rasa sesak itu untuk mengurangi pusing yang semakin mendera.


Sepuluh menit berjibaku, Xena memantapkan diri untuk beranjak menuju kamar mandi yang ada di kamar. Perlahan tapi pasti, dia akhirnya sampai meskipun beberapa kali berhenti akibat pusing.


Di kamar mandi, Xena menguyur tubuh nya sambil terisak pelan.


Mengingat kejadian tadi tidak bisa membendung air matanya. Menepuk dada berulangkali agar tidak terlalu sesak.


"Xena, buka pintunya.!" Panggilan dan gedoran dari Dean membuyarkan lamunan Xena yang kosong.


Entah sudah berapa lama Xena di kamar mandi.


Dengan perlahan Xena memakai kimono yang ada di sana, tidak peduli jika saat ini dia tidak memakai dalaman. Tidak mungkin dia memakai yang sudah basah.


Xena tidak menyahuti Dean yang sedari tadi memanggil dan menggedor pintu dengan keras.


Suara pintu dibuka membuat Dean terhenti. Menampilkan sosok perempuan dengan wajah pucat di hadapannya.


"Hei... mana yang sakit.? Tanya Dean panik melihat Xena sangat pucat. Bahkan bibir itu kini berubah biru.


Dengan lancang, Dean mengangkat tubuh Xena dan dibaringkan tempat tidur. Duduk di sebelah Xena sambil menangkup wajah Xena.


"Mana yang sakit, hem.? Tanya Dean dengan lembut sambil mengusap pipi Xena dengan jari jempolnya.


Malas menjawab pertanyaan Dean, Xena hanya memiringkan kepalanya ke samping agar tidak melihat Dean.


Melihat wajah itu menimbulkan sesak di dadanya lagi.


Dean mengarahkan wajah Xena, beberapa saat pandangan mata itu hanya bertatap.

__ADS_1


Hingga akhirnya Xena membuka suara.


"Aku kedinginan, ingin tidur."Ucap Xena dengan suara serak akibat berteriak cukup lama.


Masih saling memandang. Entah menit ke berapa Dean melabuhkan ciuman di bibir Xena. ********** dengan lembut, bahkan posisi Dean sekarang sudah menindih tubuh Xena.


Berhenti sesaat menanggalkan pakaiannya membuat Xena panik.


"Dean" Lirih nya ingin menangis.


Dean kembali mencium bibir itu, turun ke leher. Suasana hening, hanya terdengar suara decapan Dean. Xena hanya pasrah, tenaganya terkuras habis.


Dia tidak mampu berteriak dan memberontak kepada Dean.


Entah sejak kapan tali kimono itu terlepas. Xena hanya merasakan tangan Dean sudah menyentuh bagian dadanya. Berpindah ke perut, hingga akhirnya tangan itu berada di bawah sensitif nya.


"An.." Suara lenguhan Xena. Xena merutuki diri sendiri kenapa bisa sampai mengeluarkan suara itu.


Dean tetap dengan aktivitas nya, tidak disangka jika Xena tidak memakai apapun di balik kimono nya.


Mendengar lenguhan Xena membuat Dean makin semangat.


Kembali mengeksplor apa yang ada di tubuh Xena. Bahkan ciuman itu ingin menuntut, kesal dengan Xena yang tetap menutup bibirnya. Dean menggigit bibir itu agar terbuka.


"Ahh..." Meringis kesakitan karena Dean menggigit bibirnya.


Tidak membuang kesempatan, Dean mengeksplor yang ada di mulut Xena. Jangan lupakan tangan Dean bergerilya di bagian dada dan bawah Xena.


"A..n.." Desah panjang Xena saat pelepasan pertama nya. Deru nafas yang tidak beraturan membuat pandangan itu begitu indah bagi Dean.


"Tidak kedinginan lagi?" Tanya Dean sembari mengusap peluh keringat di kening Xena.


Xena hanya menggeleng kepala dengan nafas yang ngos-ngosan.


Dean bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Xena dengan segala pikiran nya. Xena menutup dirinya dengan selimut setelah memperbaiki kimono nya.


"Apa yang sedang terjadi." Gumamnya


Lima belas menit berlalu Dean keluar dengan memakai kimono, menampilkan dada bidang yang kokoh dan tetesan air dari rambutnya semakin terlihat kesempurnaan.


Mengalihkan pandangan dari Dean dengan berusaha untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.


Berpikir kenapa Dean melakukan hal ini terhadap nya? apakah Dean ada rasa? apakah hanya pelampiasan balas dendam nya?


Begitu banyak pertanyaan di benak Xena, namun dia tidak mampu untuk mengutarakan nya.


"Istirahatlah.!" Perintah nya membuat pikiran Xena buyar.


Menatap Dean dengan tenang. "Aku ingin pulang" ucap nya sambil menunduk. "Mitha pasti mencari ku, dia tahu jika aku lembur hari ini." Jelasnya.


"Asisten ku akan mengabari dan menjelaskan nya." Ucapnya datar.


"Aku tidak mau, aku ingin tetap pulang.!" Tegasnya


"Kamu membantah ku!?" Geram Dean


"Kita tidak ada hubungan apapun, siapa kamu melarang ku dan mengurusi hidupku.?" Kesalnya karena Dean sesuka hati dalam dirinya.


"Jangan memancingku.!" Kesal Dean dengan sedikit nada tinggi.


"Aku tidak memancing mu. Yang aku katakan benar. Siapa kamu sehingga melakukan ini padaku. Sesuka hatimu melihat dan menyentuh ku!!" Teriak Xena tidak terima.


"Aku akan pulang meski tanpa persetujuan mu!"


Xena bangkit dan berjalan melewati Dean. Langkah nya terhenti saat Dean bersuara.


"Kamu sudah tahu rasanya, perempuan tidak tahu diri?"

__ADS_1


"Iya, dan kamu berhasil membuat harga diriku ternoda. Belum puas kah dengan apa yang kamu lakukan kepadaku?. Perbuatan mu sangat tidak manusiawi.!" Ucap Xena tanpa melihat Dean.


Meninggalkan kamar dan menuju pintu untuk keluar dari ruangan ini. Hati Xena sangat sesak mendengar ucapan Dean. Xena berusaha tidak menangis depan Dean.


Bahkan Xena tidak menghiraukan panggilan Dean untuk tetap disini.


"Berani kamu keluar, aku tidak akan mengampuni mu.!" Teriak Dean menggema di ruangan itu.


Xena tetap tidak peduli, dia mencari remote control untuk membuka pintu.


Melihat Xena tidak mendengar nya, Dean dengan langkah lebar menghampiri Xena. Dia menarik Xena saat remote tersebut sudah dipegang olehnya.


"Lepas Dean... Aku membenci mu.!!" Teriaknya mengumpat.


"Aku akan buat, kamu semakin membenciku.!"


"Dean, hentikan...! jangan gila Dean.!" Panik dan ketakutan saat Dean membuka kimono dan hanya menampilkan kain segitiganya.


Dean tidak menggubris, amarah menguasai nya. Tangis Xena pecah saat Dean menghempaskan nya ke ranjang.


"Dean, jangan lakukan itu. Aku mohon." Xena memohon agar Dean sadar.


"Apa?! Aku akan tetap melakukan nya perempuan sialan."


"Aaaa .. Dean, jangan! Aku akan sangat membencimu.!" Ancam Xena dengan menangis.


"Itu yang aku harapkan." Seringai Dean dan berusaha melepaskan tali kimono Xena karena Xena memegangnya dengan kuat.


Xena memberontak, menguasai tubuh nya agar tidak lengah. Sekuat tenaga dia mendorong Dean sampai terjungkal.


Xena bangkit dan mencari apa saja yang bisa dia lakukan jadi pembelaan.


"Beraninya kamu!!" Marah Dean


"Jangan mendekat Dean atau aku akan mati..!" Ancam Xena dengan gelas di tangan nya.


Dean tetap mendekati. Hingga Xena memecahkan gelas itu dan mengarahkan ke tangan nya.


"Aku tidak bercanda"


" Kamu tidak akan berani, ancamanmu sangat norak." Dean terkekeh dengan remeh.


Xena hanya memejamkan matanya sesaat, melihat Dean tetap mendekat Xena sedikit menancapkan ke tangan nya.


Dean berhenti saat Xena benar-benar melakukannya.


Hening sejenak, pandangan mereka bertemu.


Dean sedikit demi sedikit bergerak mendekat, ingin menghentikan Xena. Namun, Xena semakin menancapkannya sehingga darah segar mengalir.


"Xena, hentikan!" Teriak Dean panik


"Kenapa? Kamu pikir aku hanya mengancam?" sendunya kesakitan.


"Jangan mendekat, Dean.!" Perintah nya lirih.


Tidak mendengarkan Xena, dia tetap mendekat dan saat itu juga Xena menancapkan lebih dalam dan menggores nya.


Darah itu semakin banyak. Dean panik dan berusaha melepaskan gelas tajam itu dari tangan Xena.


"Lepas, jangan mendekat" gumam nya namun Dean masih bisa mendengar.


Xena ambruk di pelukan Dean. "Xena... hei.. bangun!" ucapnya sambil menepuk pipi Xena.


Dengan cepat Dean mengangkat Xena ke ranjang dan memakai pakaian nya dan juga Xena.


Beruntung nya ada pakaian yang dia sediakan di kamar tersebut. Dan meskipun pakaian yang dikenakan Xena terlalu besar setidaknya bisa menutupi tubuhnya meskipun tanpa dalaman.

__ADS_1


__ADS_2