Bersahabat lah dengan cinta

Bersahabat lah dengan cinta
BAB 19


__ADS_3

Dean mencari ponsel untuk menghubungi dokter keluarga Wijaya.


"Cepat ke kantor sekarang.!" Dean berbicara tegas saat telepon itu tersambung dan langsung mematikannya.


Di sebrang telepon mengumpat sendiri, tidak tahukah Dean, kalau pekerjaan nya begitu banyak.


"Sialan." Umpatnya.


Dia adalah Andra, dokter keluarga Wijaya sekaligus temannya. Mereka sudah dekat karena kedua orangtuanya bersahabat. Sebelum nya Ayah Andra yang berperan, tetapi sejak lulus kuliah dia dipercayakan Ayah nya untuk mengalih peran.


"Ini semua gara-gara Ayah." Gerutunya karena kesal dengan keputusan sang Ayah. Padahal dia baru saja lulus tapi sudah diberikan tanggung jawab besar.


***


Tidak lama setelah sambungan itu, Andra sudah berada di kantor Dean.


"Kamu sakit apa?" Andra mengernyit karena Dean kelihatan baik-baik saja.


"Ikut aku!" Perintahnya


"Kamu periksa dia sekarang.! Pertolongan pertama sudah aku lakukan dengan mengikat kain agar darah nya berhenti."


"Pacar kamu?" Tanya Andra bingung, karena setahu dia pacar Dean adalah Irene.


"Cepat, jangan banyak tanya.!" Sentak Dean


Dengan sigap Andra langsung memeriksa keadaan Xena. Dengan telaten Andra melakukan pekerjaan nya dengan baik.

__ADS_1


"Kondisinya baik, untung lukanya tidak terlalu dalam. Tunggu cairan nya habis baru bisa di lepas karena dia sedikit lemah." Jelas Andra


"Hem.. kamu boleh pergi!" Datarnya.


"Kamu nggak jelasin dia siapa.?" Tanya Andra penasaran.


Bukan jawaban yang dia dapatkan melainkan tatapan membunuh.


"Ba..iklah aku segera pergi." Ucap Andra terbata dan segera meninggalkan ruangan yang mencekam itu.


Dia tidak ingin berurusan lama dengan orang yang kaku dan menyeramkan seperti Dean.


***


Dean tertidur di samping Xena akibat menunggu Xena yang belum juga sadar.


Dia menghela nafas panjang mengingat kejadian yang memilukan baginya. Menetralkan sesak di dadanya dengan menghela nafas berkali-kali. Tidak peduli Dean yang berada di samping nya akan terganggu.


Sekarang ini, Xena sangat tidak mau peduli apapun.


"Kamu sudah bangun.?" Tanya Dean dengan lembut. Dia bergeser dan melihat Xena lebih dekat . Posisi mereka saat ini sangat dekat, Dean bisa melihat dengan jelas mata Xena berkaca-kaca.


Xena hanya diam dan tidak ingin menjawab pertanyaan Dean. Tatapan nya lurus.


"Kamu makan dulu ya supaya minum obat." Perintah Dean setelah bangkit dari tempat tidur.


Dia mengambil makanan yang sebelumnya sudah di pesan melalui online.

__ADS_1


"Xen, buka mulut nya!"


Xena tetap diam dan bahkan tidak melihat Dean sedikitpun.


Dean hanya bisa menghela nafas dan mengontrol dirinya agar tidak emosi.


"Maaf"


Satu kata keluar dari mulut Dean, hingga Xena menoleh ke arah kata yang baru saja dia dengar.


Sejenak terdiam hingga akhirnya air mata itu menetes. Kenapa Dean begitu tega memperlakukan Xena seperti ini.


Banyak pertanyaan dalam benak nya, Xena tidak bisa membendung tangis nya.


Tangis Xena pecah sampai tubuh nya ikut bergetar.


Dean langsung memeluk Xena dengan erat, kedua kalinya dia berkata maaf membuat tangis Xena semakin keras.


Cukup lama membiarkan Xena menangis. Merapikan rambut Xena yang berantakan.


Dean berhasil membujuk Xena makan tanpa emosi. Dia berusaha keras untuk tidak membuat Xena menangis dan takut.


"Kamu istirahat dulu disini sampai cairan itu habis."


Xena tidak berkata apapun, dia menurut saja dan membaringkan tubuhnya. Tiba-tiba saja dia merasa sangat ngantuk setelah beberapa menit lalu minum obat yang diberikan Dean.


Tidak menunggu lama, Xena sudah terlelap dalam tidur nya. Begitu tenang.

__ADS_1


"Seperti nya aku mencintaimu." Gumam Dean menatap Xena begitu damai dalam tidurnya.


__ADS_2