
"Sayang, sudah aku lelah." Ucap lirih seorang wanita di bawah Kungkungan pria itu.
"Sebentar lagi sayang." Menghentak dengan tempo cepat untuk menuju pelepasannya. "Sayang.. aku sampai, hahh." Erang nya setelah pelepasan itu terjadi. Pria itu adalah Sandika Wijaya dan istri tercinta nya.
Mereka sedang memadu kasih meskipun waktu menunjukkan siang. Bagi mereka tidak ada bedanya pagi, siang, dan malam.
Pria yang sudah merasakan kelegaan itu, mengecup kening istrinya dengan cinta sambil beralih posisi di samping sang istri dan memeluknya.
"Terima kasih sayang." Ucap Sandika dengan lembut dan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Hem, aku lelah." Balas nya dengan bibir cemberut. Padahal sang suami sudah janji tidak akan lama.
Sang suami hanya terkekeh melihat kekesalan sang istri.
"Papa tidak bisa hanya sebentar ma, saat melakukan nya denganmu papa tidak bisa berhenti. Karena kamu istriku." Ucap sang suami dan memberikan ciuman itu di seluruh wajah Viona.
Sang istri hanya bisa pasrah dan tersenyum lembut kelakuan suaminya.
***
Tepat hari Sabtu dan hari terakhir Xena bekerja di perusahaan Wijaya. Xena begitu bahagia karena selama seminggu ini tidak bertemu dengan mantan pujaan hatinya.
Iya, sekarang Xena dengan ikhlas melepas cinta masa lalunya dengan Dean. Hingga seminggu setelah berdamai dengan hati untuk tidak menaruh harapan terhadap Dean, hari nya begitu bahagia.
Apalagi dia akan berhenti dari perusahaan itu, semakin tergambar kebahagiaan yang dirasakan oleh Xena yang memiliki tubuh mungil itu.
"Halo." Xena menerima telepon seseorang yang telah memberikannya pekerjaan.
"Xen, hari Senin kamu sudah bisa kerja di toko yang sudah ku janjikan."
"Iya, besok sore aku akan datang ke kost. Terima kasih sudah membantuku." Ucap Xena dengan senyuman.
"Iya Xena, santai saja." Balas nya dengan terkekeh.
Percakapan itu berlalu.
Seorang lelaki, teman SMP Xena yang tidak sengaja bertemu saat di restoran bersama Mitha.
Lelaki yang bernama Arga, yang tumbuh menjadi seorang sukses. Memiliki beberapa cabang toko kue terkenal dan terenak di sepanjang sejarah.
Bahkan, Kerap kali para pengusaha tinggi dan konglomerat memesan dari tokonya dalam acara besar.
__ADS_1
Xena merasa keberuntungan sangat berpihak kepada nya. Tidak jadi pengangguran sementara waktu. Setelah berhenti dari pekerjaannya, dia akan langsung bekerja di toko kue yang berada di salah satu cabangnya.
Bersyukur, karena Arga juga membantu nya mencari tempat kost di sana.
Menempuh perjalanan selama 3 jam tempat kerja yang baru membuat Xena semakin bertambah bahagia, pastinya tidak akan mungkin bertemu dengan Dean.
***
"Tha, aku akan bekerja di toko kue yang dijanjikan temanku beberapa hari lalu." Beritahu Xena membuka obrolan saat mereka makan di kantin kantor.
Sejenak keheningan melanda. Mitha hanya menatap Xena dengan sendu.
"Tolong kabarin aku dalam hal apapun." Balas nya setelah beberapa menit berpikir.
Xena hanya mengangguk dan tersenyum sambil memeluk Mitha dengan haru.
Memiliki sahabat yang paling mengerti diri nya.
"Tolong jangan beritahu siapa pun ya, Tha."
"Hem, aku akan tutup mulut." ucap Mitha dengan mengangguk.
***
Memiliki wajah yang tampan, kerap kali para karyawan wanita mengangumi nya. Hal itu sudah biasa bagi pria yang menjabat sebagai CEO itu.
Dua Minggu terakhir ini, pekerjaan nya begitu banyak. Apalagi sang ayah tidak lagi ikut campur dalam perusahaan.
Dean tidak bisa lagi berkata dengan sang ayah, karena ayahnya tidak akan mendengarkan nya sama sekali.
Helaan napas panjang sambil meregangkan otot-otot membuat Dean Wijaya merasa lega, karena pekerjaan itu selesai juga.
Menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya saat ini. Sejenak merilekskan tubuh dan pikiran nya sambil menutup mata.
Tiba-tiba dia teringat dengan Xena yang sudah dua Minggu tidak melihatnya.
"Kemana dia?" monolog nya penasaran.
Dean tahu bahwa Xena menghindari nya dan di tambah lagi dengan pekerjaan nya yang menumpuk membuat nya sulit untuk bertemu atau bahkan sekedar melihat saja.
"Halo tuan muda." Ucap sang sekretaris di seberang telepon.
__ADS_1
"Perintahkan kepada kepala Kebersihan untuk menyuruh Xena membersihkan ruangan ku sore ini.!"
"Baik tuan muda." balas nya dengan tegas
"Kamu berani menghindariku, kita akan bertemu Xena." Seringai nya dengan geram.
***
Sore itu, Mitha lebih dulu pulang ke kost dengan rayuan andalan Xena. Sehingga dia berhasil membujuk Mitha pulang.
Sedangkan, Xena sedang berjibaku dengan pikiran dan hatinya saat ini. Dia belum juga beranjak dari tempat duduk nya.
Banyak praduga yang Xena pikirkan, dia heran kenapa dia di suruh untuk membersihkan ruangan Dean jika yang selama ini yang bertugas hadir.
Apakah ini adalah rencananya? dia sengaja?
apa yang akan dilakukan Dean terhadap nya?
Xena ragu untuk masuk ke ruangan Pria itu. Dia bahkan sudah ketakutan meski belum berada dalam ruangan.
Mengingat kejadian lalu, tubuh Xena luruh dari tempat duduk nya. Memeluk diri sembari menguasai diri untuk tidak takut.
"hah, ayo Xena. Ini terakhir kamu bekerja di sini.!" Monolog nya dengan semangat.
Hingga kini, dia sudah berdiri depan pintu yang dituju.
Sungguh demi apapun, Xena kembali ketakutan. Semangat yang dia ciptakan beberapa menit lalu sekarang pudar setelah berhadapan depan pintu saja, apalagi jika Dean ada di dalam. Entah bagaimana cerita dirinya nanti.
Dengan ragu dan gemetar Xena mengetuk pintu ruangan, mengingat ruangan tersebut kedap suara hingga akhirnya Xena membuka handle pintu dan masuk.
Deg
Pertama Xena melihat adalah tatapan Dean yang tidak dapat dia artikan.
Xena berusaha menetralkan detak jantung nya karena ketakutan. Xena membuka pintu itu dengan lebar berharap jika terjadi sesuatu di bisa berteriak dan berlari ke luar.
"Permisi tuan, saya diperintahkan untuk membersihkan ruangan Anda." Ucap Xena sedikit gemetar.
Tidak ada jawaban dari Dean, dia segera melakukan pekerjaan nya. Memulai dengan mengelap lemari yang berada di sisi kirinya.
Menguasai diri untuk tidak gemetar.
__ADS_1