
Orang tua Nindy, Soni dan Nindy kini sarapan bersama di meja makan sederhana di rumah Nindy.
"Pak, boleh saya menyampaikan sesuatu kepada bapak dan ibu?"Soni memberanikan diri.
"Apa yang ingin nak Soni sampaikan kepada kami?" bapak Nindy heran dengan wajah serius Soni.
"Saya cukup lama mengenal Nindy, terhitung sejak Nindy masuk kekantor menjadi sekretaris saya. Saya ingin bapak memberikan izin untuk berhubungan serius dengan Nindy, apakah bapak dan ibu mengizinkan?" Soni menyampaikan maksud hatinya.
"Bapak sebetulnya tidak keberatan dengan apa yang nak Soni sampaikan, sebagai orang tua Nindy kami menyerahkan sepenuhnya pada Nindy mengenai pilihan hatinya." bapak menjelaskan.
"Bagaimana Nindy apa tanggapan kamu dengan ucapan nak Soni."ibu Nindy menanyakan jawaban putrinya.
"Iya bapak dan Ambu Nindy akan mencoba menjalani, namun Nindy akan melihat dan mempertimbangkan bagaimana kedepannya." Nindy sebenarnya kaget Soni berani berbicara langsung dengan orang tuanya.
Nindy menjawab seperti itu agar orang tuanya tidak khawatir, Nindy masih belum yakin akan ucapan Soni, Nindy mengamati Soni selama ini dan tidak pernah Soni serius jika soal perempuan. Nindy tidak mau hanya menjadi mainan Soni dan berujung sakit hati.
"Terima kasih bapak, ibu. Maafkan saya sudah banyak merepotkan selama kedatangan saya disini, Maaf pula mengenai kejadian kemarin, saya juga sekalian mohon pamit untuk kembali ke Jakarta bersama Nindy karena kami harus kembali ke kantor." Soni tanpa persetujuan Nindy mengajak balik ke Jakarta bersama.
Bapak dan Ibu Nindy mengangguk.
"Silahkan dimakan sarapannya nak Soni, maaf lauknya seadanya." ibu Nindy mempersilahkan.
Kini Soni dan Nindy siap balik ke Jakarta dan berpamitan kepada kedua orang tua Nindy.
"Bapak, ambu Nindy pamit." Nindy salim kepada kedua orang tuanya.
"Bapak, ibu kami pamit." Soni salim kepada kedua orang tua Nindy sebelum masuk ke mobil.
"Hati-hati nak Soni menyetirnya." Bapak Ibu mengingatkan.
.
Soni dan Nindy kini membelah jalan Kota Bandung kembali menuju Jakarta.
"Kenapa bapak berbicara seperti tadi dengan bapak dan ambu saya." Nindy menanyakan kejelasan ucapan Soni.
"Saya memang berniat berhubungan serius padamu, Kamu menolaknya?" Soni menjawab Nindy singkat.
"Saya menolak pak! jangan lagi bapak berbicara seperti tadi kepada kedua orang tua saya. Jangan beri harapan palsu."Nindy dengan nada lebih meninggi.
Soni kesal dan segera menghentikan mobilnya ke tepi jalan.
"Kenapa berhenti?"Nindy bertanya.
Soni dengan kesal menghadapi keras kepala Nindy kini mendekatkan wajahnya pada Nindy.
"Bapak mau ngapain?Jangan macem-macem pak. Saya akan teriak.!" Nindy semakin mengkeret.
Soni tak memperdulikan ucapan Nindy tanpa aba-aba Soni mengecup bibir Nindy.
Cup.
Ciuman Soni begitu menuntut, Nindy bisa merasakannya, hati berusaha menolak tapi raga membiarkan malah membalasnya. Keduanya melepaskan pagutannya.
"jangan protes atau aku akan menciummu kembali."Soni tersenyum.
"Saya ga mau jadi mainan bapak, jangan mentang-mentang bapak atasan saya bapak seenaknya cium-cium saya?"Nindy nyerocos.
Cup.
Sembali Soni mengulanginya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sengaja membantah saya agar terus dihukum?" Soni kembali akan mencium namun segera dicegah Nindy.
"Stop!" Nindy menahan Soni kembali menciumnya dan bulir airmata keluar membasahi pipi Nindy.
Soni tidak menyangka Nindy akan menangis.
"Maafkan aku Nin, jangan menangis," Soni takut Nindy semakin kesal dengannya.
"Ciuman pertama dan kedua saya bapak rebut, padahal saya mengharapkan itu terjadi dengan pacar saya kelak" Nindy polos.
Soni tersenyum dengan perkataan Nindy "benar berarti yang ia tahu soal Nindy bahwa Nindy memang masih polo." Soni menarik dirinya dan bersandar pada kursi dibalik kemudi.
"Kalau gitu mulai sekarang anggap saya pacar kamu." Soni menjawab santai.
"Mana bisa begitu, bapak lupa saya mau dijodohkan dengan anak teman bapak dikampung."Nindy protes.
Soni mendekatkan tubuhnya membuat Nindy terhimpit dan diam.
"Nindy, hari ini kamu resmi jadi pacar saya, dan saya tidak menerima penolakan apapun. Satu hal lagi jangan panggil saya bapak! panggil aku abang mulai saat ini.
"Kalau kamu tidak nurut, aku akan memberikan hukuman seperti tadi padamu." Soni mengedipkan matanya dan kembali dalam posisi siap menyetir.
Ada perasaan senang dalam hati Nindy mendengar pernyataan cinta Soni pada dirinya. Namun keraguan masih sedikit menyelimuti hati Nindy.
"Pak Soni, eh Abang serius dengan ucapan yang barusan?"Nindy memastikan.
Soni menarik nafas panjang sebelum memulai percakapannya.
"Nin, abang tahu kalau selama ini abang sudah mengabaikan perasaanmu. Maafkan abang yang tidak peka akan hal itu. Namun sejak kedekatan kita yang intens menjadi partner untuk mendekatkan Arya dan Tari abang memiliki perasaan padamu yang awalnya abang sendiri tidak menyadarinya.
Sejak saat itu abang senang memperhatikan kamu, senang jika kamu masuk keruang abang, abang pingin selalu lihat dan dekat dengan kamu.
Ketika kemarin kamu cuti abang merasakan kehilangan. abang merasa ada yang kurang namun abang masih masih mencoba biasa saja. Sampai abang mendengar tanpa sengaja obrolan Wita dan Lula di pantry tentang perjodohanmu.
Abang tahu keraguanmu kepada abang, karena kamu takut abang hanya main-main seperti yang selama ini abang lakukan. Tapi tidak ada sedikitpun niat abang main-main denganmu.
Abang ingin mengenalkanmu kepada ibu abang. Apakah kamu mau bila abang meminta kamu menjadi istri abang. Kita akan melakukannya secara perlahan-lahan tentunya agar kita bisa saling memahami.
Soni menjelaskan dengan begitu panjang dan jelas mengenai maksud dan niatnya pada Nindy.
Nindy yang mendengarkan tak terasa keharuan begitu mudah merasuki hatinya. Nindy menangis mendengar semua ucapan Soni.
"Sayang, kok kamu nangis, apa kata-kata abang ada yang menyakitimu?"Soni mengusap airmata Nindy.
"Tidak, aku menangis karena tersentuh dengan perkataan abang." Nindy menjelaskan.
"Lalu, apa jawabanmu?"Soni ingin kepastian.
"Berjanjilah satu hal?"Nindy mengajukan syarat.
"Abang tidak boleh menyakiti hatiku dan tidak boleh pergi meninggalkan aku selamanya." Nindy mengatakan dengan jelas.
Soni meledek Nindy, " Itu 2 hal sayang, bukan 1 hal?"Soni sudah kembali dalam mode jahilnya.
"Abang! batal kalo begitu!"Nindy kesal dengan Soni.
"Pacar abang kalo lagi marah gini, bikin abang pengen cium aja, sini-sini abang cium."Soni menggoda Nindy.
Nindy langsung memberikan tanda silang dengan tangannya menyatakan penolakan.
Keduanya pun melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
.
Soni sampai didepan kosan Nindy.
"Abang, aku masuk dulu ya, sampai ketemu besok dikantor." Nindy keluar mobil disusul oleh Soni.
"Bolehkah aku mampir untuk minum?" Soni ngarep mampir ke dalam kosan Nindy.
Nindy ragu-ragu ia melihat Soni, takut laki-laki didepannya akan macam-macam.
Soni yang memang pecinta wanita paham betul dengan ketakutan Nindy terhadapnya.
"Aku tidak akan macam-macam padamu, kecuali kalo kamu yang mau." Soni mengedipkan matanya.
Nindy memukul lengan Soni."jangan harap!"Nindy membuka pintu kosan dan mempersilahkan Soni masuk.
"Abang mau kopi atau teh?"Nindy menawarkan.
"Kopi saja abang mengantuk sekali, semalaman abang tidak bisa tidur?"Soni menjawab.
"Maaf abang kalau rumah orang tuaku tidak nyaman, namun seperti itulah keadaan keluargaku."Nindy menyiratkan kesedihan semakin jelas perbedaan dirinya dan Soni.
Tak mau Nindy salah paham dan memang bukan itu alasan Soni tak bisa tidur.
"Kamu jangan salah paham sayang, bukan hal itu dan aku tidak pernah mempermasalahkan bagaimana keadaan keluargamu. Begitupun ibuku tidak memandang seseorang hanya dengan hal-hal seperti itu. Aku ga bisa tidur karena kamu penyebabnya!"Soni mengingatnya dengan kesal.
"Karena aku?memang apa salahku?"Nindy bertanya mengapa dirinya.
"Iya! mengancam mau berhenti, dengan alasan dijodohkan, bikin aku pusing dan hampir gila!"Soni meminum kopi yang dibuatkan Nindy.
"Aku tidak mengancam memang seperti itu keadannya."Nindy kembali mendebat Soni.
"Sejak dekat dengan Tari kamu jadi pintar menjawab dan membantah!"jawab Soni.
"Abang masih mencintai Tari kan?"selidik Nindy.
"Kenapa kamu cemburu?"ledek Soni.
"Jelas cemburu. Kecuali kita batalkan saja status hubungan kita kembali menjadi sekretaris dan bos, maka abang akan kembali bebas bermain-main dengan perempuan manapun." Nindy penuh emosi.
Soni beranjak dari meja dan kini mendekati Nindy yang berdiri di depan lemari es.
"Sayang, mungkin dulu aku pemain wanita. Tapi saat ini dan sampai nanti kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidup abang. Apa perlu hari ini Abang kembali ke Bandung untuk melamarmu agar kau yakin?"Soni memberikan tantangan.
"Boleh, jika abang berani." Nindy kembali menjawab Soni.
"Kita lakukan semua perlahan dan kita saling memahami agar kamu yakin pada Abang dan tiada lagi keraguan dihatimu pada Abang." Soni memberikan Nindy sebuah pemikiran.
"Abang pamit pulang ya, sekalian mau ngecek Arya, sepertinya ada sesuatu yang terjadi?"Soni telah mendapat kabar dari manager cafe tempat Arya berkelahi dengan Rian.
"Hati-hati jalan bang. Sampai jumpa besok." Nindy mengantar Soni ke mobil.
"Ga ada penyemangat buat abang nih?"Soni menunjuk pipinya.
Tanpa diduga, Nindi mengambil tangan kanan Soni dan salim pada nya.
Soni mengusap kepala Nindy, entah mengapa hati Soni hangat ketika Nindy mencium tangannya.
"Abang pergi ya" Soni melambaikan tangannya dan pergi dengan mobilnya.
Nindy melihatnya dengan tatapan cinta dan harapan.
__ADS_1
...****************...