
Kedatangan Bunda Dewi ke rumah Tari hari ini menjadi langkah awal hubungan Tari dan Arya semakin dekat dengan sebuah pernikahan.
"Jeng Fatma, terima kasih sudah mengizinkan Arya untuk melamar Tari menjadi istrinya." Bunda Dewi beramah tamah dengan ibu Tari.
"Saya Titip Tari ya Nak Arya dan Jeng Dewi." Bu Fatwa menjawab.
"Jeng, kalau begitu Saya balik dulu, Nanti untuk keperluan pernikahan Arya dan Tari akan ada orang Aaya kesini yang akan mengurus pernikahan mereka." Bunda Dewi.
"Tari, Mama pamit dulu ya. Jeng,,, Saya pamit sekalian." Bunda Dewi pamit undur diri.
.
Setelah kepulangan Bunda Dewi, Tari membantu ibunya merapikan piring dan gelas serta mencucinya.
Kini kedua anak dan ibu itu sedang berada di ruang makan dan berbincang.
Mata Bu Fatma seketika menggenang. Air Mata kebahagiaan tumpah.
"Bu, kok nangis, kenapa?" Tari merangkul ibunya.
"Ibu menangis bahagia Nak. Putri ibu sebentar lagj akan menikah. Ibu teringan Ayah, Ayah pasti senang putri kesayangannya akan menikah." Bu fatma mengenang mendiang suaminya.
"Semoga Bapak bahagia ya Bu dengan pernikahan Tari." Tari pun berharap doa yang sama."
.
"Tari, ibu mau ke toko ya." Bu Fatma pamit pada Tari.
"Sebentar Bu, ada yang mau Tari bicarakan." Tari mengajak ibunya duduk.
"Ada apa Nak?" Bu Fatma melihat wajah putrinya.
" Bu Tati terpikir bagaimana kalau kita mempekerjakan 2 pegawai, 1 laki-laki dan 1 perempuan untuk membantu ibu. Karena sebentar lagi Tari akan menikah, Tari tidak bisa membantu ibu di toko terkait harus banyak menemani Mas Arya karena Tari tetap menjadi sekretaris Mas Arya." Tari menjelaskan.
"Saran kamu benar juga Tari, apalagi Alhamdulillah Toko kita sudah memiliki pelanggan tetap dan jumlah pesanan yang banyak. Ya sudah kamu pilihlah orang-orang yang terpercaya untuk membantu ibu Nak." Bu Fatma menyetujui saran Tari.
"kalau begitu nanti Coba cari siapa tahu teman-teman Tari punya kenalan orang-orang yang bisa dipercaya." Tari meyakinkan ibunya.
Sejak 6 Bulan Lalu memang Tari sudah berhasil mewujudkan keinginan Ibunya membuka Toko Kue.
Toko kue itu dibeli Tari dari orang Tua Dian tempat Cafe Tari bekerja.
Setelah Dian bekerja dan Orang yang dipercaya orang tua Dian untuk dijodohkan sekaligus mengelola Cafe ternyata pria tidak baik. Ia membawa kabur pengjasilan Cafe.
Dian juga sudah merasa nyaman bekerja dikantor Arya apalagi sahabat dan rekan kerjanya seperti Nindy membuat Dian nyaman.
Untuk itu Tari memberanikan diri membeli Cafe milik orang tua Dian.
Tari memberi Nama Toko tersebut dengan "LOVE PATTISERIE"
Tari mengantar ibunya ke Toko dan sekalian Tari berangkat ke kantor.
.
Aktivitas Pagi hari Tari sebagai seorang sekretaris sudah biasa dilakukannya menjadi sebuab rutinitas.
__ADS_1
"Sayang, sini donk, aku kangen." Arya memanggil via telpon agar Tari masuk ke ruangannya.
"Mas, jangan lupa Lo siang ini ada meeting dengan klien." Tari sekaligus memberikan dokumen yang harus si tanda tangani Arya.
"Iya, Mas inget." Arya memberikan kode Tari untuk duduk dipangkuannya.
Tari melotot dan mengingatkan Arya bahwa agenda Arya masih banyak untuk hari ini.
Tentu Arya akhirnya gagal bermesraan dengan calon istrinya diapun melanjutkan menandatangi dokumen yang di bawa Tari.
"Sayang sore nanti kita ada janji untuk ambil cincin pernikahan kita ya." Arya segera berkata karna Tari sudah keluar dari ruangannya.
"Awas kamu Tari, nanti Mas hukum kalo sudah nikah. Kelakuan kamu yang galak dan melotot itu bikin gemas." Arya melihat Omes menatap Tari keluar ruangannya.
.
Nindy sedang mendampingi Soni meeting dengan klien. Klien mereka kali ini kebetulan suami istri berasal dari Bandung sama dengan kota kelahiran Nindy.
Nindy selalu menjaga keprofesionalannya ketika bekerja, meski berstatus pacar Soni namun Nindy tidak membiarkan Soni melakulan hal-hal yang membuat klien tidak nyaman. Karena menurut Nindy kehidupan pribadi dan pekerjaan memang tetap harus dipisahkan.
"Untuk seterusnya jika memang ada keperluan atau ada hal-hal yang ingin disampaikan bisa menghubungi Nindy sekretaris saya." Soni menutup meeting dengan kliennya pasangan suami istri yang berusia kisaran 60-70 tahun.
"Baik Pak Soni, terima kasih." Jawab Pria paruh baya.
"Silahkan Pak Soni dan Mbak Nindy, Mari kita menikmati makan siang kita." Wanita paruh baya istri klien menawarkan makan.
Soni, Nindy, dan Kliennya menikmati makan siang bersama dengan diselingi obrolan.
"Mbak Nindy, Maaf kalo ibu bertanya
Soni kaget namun tangannya di cubit Nindy dikolong meja.
"Begini Mbak Nindy, Bapak punya Putera belum menikah, boleh Bapak kenalkan dengan Putera Bapak, siapa tau jodoh." Kini si Bapak meneruskan perkataan istrinya.
Nindy menatap Soni melihat wajah Soni agak berubah Nindy segera menyubit kembali.
" Sudah Pak, Bu." Nindy menjawab.
"Sayang sekali ya Pak, padahal ibu senang melihat Nindy." Ada kekecewaan di raut klien tersebut.
"Pasti Putera Ibu juga akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Saya."
Maaf Pak Soni Saya terima telpon dulu dari anak Saya.
Soni dengan senyum dipaksakan.
"Mari Pak Soni dan Mbak Nindy kita lanjutkan makan." Si Bapak kembali mencairkan suasana.
Nindy menoleh arah Soni memberi kode senyum. Nindy melihat sejak ucapan klien Soni pasang wajah ga karuan.
Tentu saja didepan mata Soni pacarnya mau dijodohkan gimana ga panas coba guys.
"Nah Pak Soni dan Mbak Nindy ini Putera Bapak yang akan mengurus kerjasama kita nantinya."
Soni dan Nindy berdiri dan berbalik untuk menyalami Putera Kliennya.
__ADS_1
"Nindy, Pa kabar?" Arman memanggil Nindy.
"Aa Arman." Nindy kaget.
"Kalian saling kenal" Bapak Ibu Klien tersenyum.
"Arman perkenalkan ini Pak Soni dan Mbak Nindy Sektarisnya, mereka adalah perwakilan perusahaan yang bekerjasama dengan kita."
Soni menjabat tangan Arman dan keduanya saling berkenalan tentu Soni pasang muka tanpa senyum.
Kini padangan Arman tertuju pada Nindy gadis yang ia kenal dan pernah mengisi hatinya.
" Kalian kenal dimana?" Ibu klien.
"Waktu kegiatan PMI" jawab Arman dan Nindy kompak.
Tentu Saja membuat Soni semakin kesal.
" Nin, Aa boleh minta nomornya?" Arman bertanya.
Nindy memberikan nomornya kepada Arman.
"Kalau begitu kami permisi dulu Bapak, Ibu dan Pak Arman." Soni menyalami semua orang namun sampai di Arman matanya tidak bersahabat.
" Nin, lain waktu Aa ke kantor kamu ya." Arman.
Belum sempat Nindy menjawab Soni sudah memanggil Nindy.
"Nindy! Cepat agenda meeting Saya selanjutnya kita jangan telat." Soni memegang lengan Nindy untuk berjalan mengikutinya.
Kini Nindy dan Soni berada di Mobil. Soni menutup pintu mobil dengan kencang. Soni melaju mobilnya denhan segera.
Nindy melihat kemarah Soni yang kini diam tanpa kata dengan wajah kesal.
"Abang, kenapa?" Nindy menyentuh lengan Soni.
Soni diam saja tanpa menjawab.
"Abang cemburu Ya" Nindy ckba mencandai Soni
Tidak ada respon apapun dari Soni.
"Abang kita balik ke kantor Atau....
Soni menghentikan mobilnya tiba-tiba.
"Minggu ini kabari Bapak dan Ibu, Abang akan datang bersama Bunda untuk melamar kamu!" Soni dengan wajah serius menatap Nindy.
Cemburu emang menguras hati dan menghentikan nalar.
Itulah yang Kini Soni rasakan.
Ia tidak mau lagi kejadian seperti tadi
...****************...
__ADS_1