
Dian hari menemani Pak Arif untuk menghadiri undangan Disnaker yang mengadakan seminar mengenai sosialisasi aturan-aturan ketenagakerjaan yang dilaksanakan di Brevilia Hotel.
"Pak ngapain sie Saya diajak kesini? Saya kan bukan Sekretaris Bapak?" Dian merengut kesal waktu mereka baru sampai parkiran.
Arif tak menjawab hanya langsung berjalan saja masuk hotel.
Dian melihat sekeliling, Banyak yang mengikuti seminar. Ditengoknya Atasannya Pak Arif.
"Huhh ini manusia atau Sodako ya, muka kok lempeng aja ga ada ekspresi wajah." Dian geleng-geleng kepala.
"Jangan mengumpat Saya! Dengarkan materi seminar catat yang perlu, itu guna kamu Saya bawa!" Arif buka suara tanpa melihat orang yang diajak bicara yaitu Dian.
"Sabar Di, Sabar hayoo, udah terlatih kan 3 bulan mentalmu."batin Dian layaknya pejuang yang mau perang.
Makan siang bagi seluruh peserta seminar dan kini semua sedang menikmati makanan.
"Kamu mau kemana sih jalan-jalan terus ga bisa diem?" Arif melihat gelagat Dian mau beranjak pergi.
"Saya mau ambil kopi pak!" Dian bete melihat atasannya.
"Ambilkan Saya juga." Arif meminta Dian mengambilkan kopi juga untuk dirinya.
"Huhhhh ngomel mah ngomel minta tolong mah tetep." Dian mengerutu sambil membuat kopi.
"Mbak, kok ngomong sama kopi, emang bisa jawab." Suara pria didekat Dian.
"Eh, Ga Mas, Mau ambil kopi juga, silahkan!" Dian meminum kopinya.
Dian yang memang bosan dengan kegiatan ini ditambah dengan Si Muka Tembok akhirnya mengobrol dengan pria yang sama-sama ikut seminar.
"Oh iya kita asik ngobrol belum kenalan. Saya Andika, Panggil aja Dika." Dika mengulurkan tangan bersalaman dengan Dian.
"Dian." Dian menyambutnya.
"Wah Dika, Dian, sama-sama D nih, jangan-jangan jodoh." Canda Dika.
Dian tertawa begitupun Dika.
Kenal nama, Tukar nomor HP membuat Dian lula pesanan Si Muka Tembok.
" Aku ke Boss ku dulu ya!" Dian sambil membawa Kopi pesanan Arif.
"Pak Ini kopinya." Dian menyodorkan kopi ke Arif.
"Kamu bikin kopinya di Pluto, Lama banget!"
Dian mengalihkan pembicaraan " Kopinya ga diminum Pak, Nanti keburu dingin." Dian mempersilahkan Arif minum.
"Gimana ga dingin, Bikin Kopinya Seabab kok!" Arif meminum Kopi.
"Ya Ampunnnnn dosa gw apa sih, punya Boss kayak Dia." Dian merutuki nasibnya dalam hati.
"Kok rasa kopinya agak beda ya? Tapi enak sih." Batin Arif.
Akhirnya seminar yang menurut Dian adalah siksaan, karena si Muka Tembok. Selesai.
__ADS_1
"Kita ga perlu balik kantor karena sudah melebihi jam pulang." Arif mengatakan pada Dian.
"Yesss, Akhirnya lepas juga dari ai Muka Tembok." Sian happy Di dalam hati
"Kalau begitu saya pamit pulang ya Pak." Dian enggan bareng Pak Arif lebih baik naik Ojol pikirnya.
"Di, mau pulang?" Sapa Dika melihat Dian bersama Cowok yang usianya diatas mereka.
"Oh ini yang tadi Dian bilang Bos nya." batin Dika.
"Iya Dik, aku mau balik pulang." Dian menjawab.
"Bareng aku aja, searah kok!" Ajak Dika
Belum Dian menjawab,
"Oh iya Di, kamu ikut balik kantor, ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan sekarang juga. Ayooo!" Arif memberikan tanda untuk berjalan mengikutinya.
"Lain waktu ya Dik, maaf." Dian berlalu dengan kesel terhadap Pak Arif
Dika hanya melihat heran dengan keduanya.
Dian kesel setengah mati dengan Si Muka Tembok yang menggagalkannya untuk dianter pulang sama Dika.
"Tumben kamu anteng, biasanya kayak petasan berisik!" Arif menengok ke arah Dian dan kembali fokus menyetir.
"Emang ada kerjaan apalagi Pak, perasaan Saya seharian kita seminar." Dian menggerutu.
"Kenapa kamu kesel gara-gara Saya nyuruh kamu lembur jadi ga bisa bareng dia." Arif menanyakan.
"Dasar !" Arif fokus menyetir.
Dian melihat mereka memasuki sebuah restoran dan berhenti disana.
"Pak kok kita kesini, katanya mau balik kantor!" Dian mengikuti Arif yang berjalan keluar mobil.
"Saya laper, mau makan, temenin Saya. Lagi pula kamu tadi bikin kopi aneh Rasanya!
Kini Arif dan Dian duduk berhadapan di sebuah meja.
...Suasana Restoran Tempat Arif dan Dian...
"Kamu mau pesan apa?"Arif bertanya Dian.
Dian memang tak malu-malu dia pesan makanan yang iya suka.
Makanan pesanan mereka datang, keduanya menikmatinya.
Arif sesekali memperhatikan Dian yang sedang makan denga lahap. Arif tersenyum. Cewek ini ga ada jaim jaimnya. bagus.
Dian sadar Bos nya melihat dirinya.
"Bapak kenapa pak ngeliatin saya? Bapak mau coba ikan guramenya? besar loh ini Pak saya juga ga bakal habis makam sendiri." Dian menawarkan.
__ADS_1
"Buat kamu aja."Arif menjawab.
"Oh, Bapak ga doyan ikan gurame ya? Maaf ya Pak Saya ga tahu." Dian jawab santai.
"Bukan ga Doyan! Tapi, Saya ga pandai membuang duri ikan, suka tertelan tulangnya." Arif menjelaskan.
"Oh gitu," Dian memisahkan Duri ikan dan Dagingnya, kemudian iya memberikan pada Arif.
Arif terdiam dengan apa yang Dian lakukan.
Dian menganggap Bosnya jijik karena Dian memisahkan duri itu dengan tangannya.
Yups, karena makan ikan Dian makan dengan tangannya karena sulit kalau dengan sendok makan ikan bertulang.
"Maaf Pak, Saya ga sopan, Mungkin Bapak jijik dengan ikan itu pakai tangan Saya. Sekali lagi maaf Pak." Dian menyadari bahwa ia lancang dan minta maaf.
"Siapa bilang, Mari saya mau coba?" sambil memberikan kode Dian menyuapinya.
"Gapapa nie Pak, Saya pakai tangan." Dian ngeri sedap takut Bosnya marah nanti.
"Cepet. Nanti Saya marah nih!" Arif melotot.
Dian menyuapi ikan gurame dengan tangannya ke mulut Arif.
Arif mengunyah ikan yang disuapi Dian ke mulutnya
"Enak ga ada tulangnya, pinter kamu." Arif tersenyum sambil mengunyah makanannya.
"Masih mau Pak?" Dian bertanya.
Anggukan Arif menyetujui Dian untuk menyuapinya lagi.
"Sumpah demi apa, Si Muka Tembok Senyum! Kok jadi ganteng dan manis ya." Batin Dian.
"Cukup. Saya kenyang. Lanjut kamu makan." Arif sadar dan kini mereka makan masing-masing.
.
"Pak kita masih harus ke kantor." Dian melihat jam sudah pukul 8 malam.
"Sudah malam, dilanjut besok saja." Arif mengatakan.
"Kalo gitu Saya mau langsung pulang saja ya, saya mau naik ojol saja. Makasi Pak makanannya." Dian bergegas.
"Ga usah," Arif segera memegang bahu Dian yang hendak keluar mobil.
Dian menoleh "Maaf" Arif melepas tangannya.
"Saya antar kamu sampe rumah, tunjukkan saja jalannya." Arif segera melaju dengan mobil tanpa mendengar jawaban Dian.
"Maaf Pak Arif, Saya jadi ngerepotin Bapak." Dian merasa ga enak.
"Gpp, sudah malam soalnya, perempuan bahaya kalo pulang malam sendiri." Arif dengan wajah lempeng.
"Pak Arif kalo ga lagi ngomel cakep juga, tapi kalo udah jutek seperti biasanya, euhhhh nyebelin." batin Dian.
__ADS_1
...****************...