Betari

Betari
BAB 23 Soni Cemburu


__ADS_3

Nindy tampak sedang menelpon dengen Cici sepupunya di Bansung. Nindy melihat Soni sudah balik ke kantor setelah meeting dan langsung masuk ruangannya tanpa menyapa Nindy disana.


"Abang masih marah deh kayaknya." Nindy setelah menutup pembicaraannya dengan Cici.


Tok....Tok...Tok


Tak ada jawaban.


Soni yang melihat Nindy masuk ruangannya tetap fokus melihat ke arah Laptopnya.


Nindy menghampiri Soni yang acuh akan kehadiran dirinya.


Nindy duduk di hadapan meja kerja Soni dan membuka percakapan.


"Abang...sudah selesai meeting?" Nindy bertanya dengan suara lembut.


Soni tak menjawab apa-apa dan masih menatap pada laptopnya seolah tidak menyadari keberadaan Nindy diruangannya.


Nindy menarik nafas panjang dengan tingkah Soni yang sedang mogok bicara.


"Abang, Nindy minta maaf kalau ada kesalahan atau kejadian yang bikin Abang marah." Nindy menurunkan egonya.


Soni hanya melirik sepintas dan kini kembali melihat laporan di mejanya.


Hening tak ada tanggapan dari Soni.


Melihat tak ada pergerakan dari Soni, Nindy pamit keluar ruangan.


"Kalo Abang masih mau mogok ngomong sama Nindy silahkan, Nindy permisi." Nindy memilih keluar ruangan Soni.


Brukkkk!


Nindy melepaskan emosi tertahannya dengan bantingan pintu.


Soni masih kesal kepada Nindy.


Entah, Soni sendiri bingung kenapa ia begitu marah mengingat kejadian Arman dan Nindy.


Soni terlalu overthinking terhadap pertemuan Arman dan Nindy.


Bayangan Soni sudah macam-macam tentang hubungan masa lalu Arman dan Nindy.


"Ah, kenapa aku!" Soni mengumpat kesal pada pikiran dikepalanya.


.


Sementara Nindy yang kesal, ia coba meredamnya dengan ke rooftop kantor sambil membawa ice coffee sambil mendinginkan suasana hatinya.


Tring.


Sebuah chat masuk dari Arman.


"Nin, apa kabar? Lagi dikantor ya? Kamu ada waktu ga setelah pulang kerja, Aa mau ketemu kamu?"


Begitulah isi chat Arman pada Nindy.


Nindy tak membalasnya.


Gara-gara pertemuan tak sengajanya dengan Arman, ia didiamkan Soni.


Seketika kenangan Arman muncul di kepala Nindy.


#Flashback On


Nindy dan Arman pertama kali bertemu ketika Acara Donor Darah di PMI Bandung.


Saat ini Nindy masih SMP, Ia merupakan ketua PMR di sekolahnya sehingga mereka hadir berpartisipasi dalam kegiatan tersebut di PMI.


Saat kegiatan itulah Nindy berjumpa Arman disana. Arman yang merupakan Anggota PMI Bandung sering menjadi pengisi materi di sekolah Nindy untuk Ekskul PMR.


Dari situlah Nindy dan Arman dekat. Sampai akhirnya Arman akan melanjutkan kuliah keluar negeri, Arman menyatakan cintanya pada Nindy.


Namun Nindy merasa untuk apa berpacaran tetapi LDR karena banyak Nindy melihat orang lain yang mengalami kendala ketika menjalani LDR.


Akhirnya mereka tidak jadian. Arman terbang keluar negeri untuk kuliah dan Nindy melanjutkan kehidupannya seperti biasa sampai akhir sudah tidak ada kabar satu sama lain.


Kemarin adalah pertemuan yang tidak disangka dan Nindypun sudah tidak memiliki perasaan apa-apa.


Dihati Nindy kini sudah ada Soni. Bahkan Nindy yang awalnya ragu dengan Soni seiring berjalannya waktu cinta kepada Soni semakin berkembang.

__ADS_1


Terlebih Nindy sangat menyukai keluarga Soni, Mama Ana dan Tama. Nindy sudah menganggap keduanya sebagai keluarga, Mama dan Adik.


.


Selepas Nindy keluar ruangan tidak ada suara Nindy terdengar di Mejanya, Soni mencoba melihat dari dalam kantor.


Kosong.


Soni membuka pintu ruangannya.


Nindy kemana


Bukankah sekitar 2 jam lalu ia keluar ruanganku?


Kemana ia selama itu meninggalkan mejanya.


"Telpon aja ya?" Soni mengurungkan niatnya dan memilih berjalan sambil lihat-lihat ke ruang Dian dan Tari.


"Kok ga ada ya?" Soni heran ga biasanya Nindy hilang selama itu.


.


Setelah menenangkan diri Nindy kembali ke ruangan.


Namun ia mampir dulu ke tempat Tari untuk menyampaikan bahwa Cici dan Ujang mau menerima tawaran Tari bekerja di "Love Pattiserie" milik ibu Tari.


"Nin, tadi Pak Soni cari Lo?" Tari merasa ada sesuatu dengan Soni dan Nindy.


"Iya Ni gw mau balik ke ruangan. Btw Dian ada ga, gw belum lihat?" Nindy mengalih pembicaraan.


"Ada, tapi dia lagi ikut Pak Arif hadir pada undangan Rapat dari Disnaker. Kenapa?" Tari heran.


"Gpp Ri tanya aja. Ga balik ruangan ya." Nindy pamit dan berlalu.


Semoga mereka cuma berantem kecil. Tari paham betul sahabatnya seperti apa.


.


Nindy berjalan menuju meja kerjanha yang berada dekat ruang Soni.


Nindy kembali melanjutkan pekerjaannya.


Soni yang telah berkeliling-keliling mencari Nindy, melihat Nindy sudah kembali di Mejanya.


Nindy melihat Soni menuju ruangan, meski melewati mejanya, Soni lewat tanpa menyapa dan langsung masuk ke ruangan.


"Lama banget ngambeknya!" Nindy bete.


.


Dalam Ruangan Soni jadi resah sendiri.


"Bisa-bisa 2 jam ngilang ga ngejelasin apa-apa. Nindy kamu sudah melupakan Abang?" bagin Soni dalam ruangannya.


Tring.


Terlihat nama Arman berada di telpon masuk ponsel Nindy.


Nindy tidak mengangkat.


Karena ia sendiri masih pusing masalah Soni.


Terlpon itu berdering lagi,


Nindy membiarkannya.


Ting.


"Nin, kamu kenapa ga jawab chat dan wa Aa?"


"Nindy masih marah soal dulu?"


"Aa cuma mau ngobrol sama Nindy."


itulah chat Arman pada Nindy.


"Nin, kok bengong, mau titip ini buat Pak Soni." Dian memberikan diokumen untuk Soni pada Nindy.


"Iya nanti gw kasih ke Pak Soni ya." Nindy menjawab.

__ADS_1


"Hei, sepertinya Lo sekarang sering ikut Pak Arif? Udah akur nih." Nindy meledek Dian.


"Kepaksa, dari pada debat sama si Muka Tembok. Ups! Keceplosan." Dian menutup mulutnya takut terdengar pegawai lain.


"Awalnya kepaksa Di, lama-lama terbiasa." Nindy mengedipkan matanya ke Dian.


"Terbiasa denger omelan dan omongan yang nyakitin hati. Udah kebal gw." Dian sambil mengelus dada dan segera pamit.


Nindy melihat dokumen yang diberikan Dian.


Huftttt, Profesional Nin,


Nindy pun menuju Ruang Soni.


Tok, tok, tok.


"Siang Pak, ada dokumen dari HRD yang harus bapak Tanda tangani." Nindy menyerahkan dokumen tersebut.


"Saya permisi Pak." Nindy berjalan akan keluar ruangan Soni.


Langkahnya terhenti mendengar suara Soni yang begitu serius.


"Kamu masih punya perasaan dengan Arman!" Soni sukses menghentikan langkah Nindy yang hendak keluar.


Nindy berbalik dan menghampiri Soni.


"Apa Abang percaya dengan penjelasanku?" Nindy kini menatap mata Soni tanpa senyuman.


"Ya tergantung, seperti apa dulu." Soni masih dengan gengsi.


"Lebih baik kita bicara kalau kepala Bapak sudah dingin. Permisi!" Nindy terpancing emosi.


"Nindy STOP! Soni menghampiri Nindy memegang pergelangan tangan Nindy dengan kencang.


"Sakit Bang, ini dikantor. Profesional Bang!" Nindy memelankan suaranya.


Kini Nindy dan Soni duduk di Sofa ruang kerja Soni.


Keduanya diam dan Nindy menjadi kesal.


"Jawab pertanyaan Abang tadi Nin?" Soni dengan suara berat.


"Kalau ku bilang tidak, Abang percaya?" Nindy menantang.


"Sejauh apa hubunganmu dengan Arman hingga melamun di Rooftop 2 jam. Apa namanya kalau bukan cinta." Soni mengalihkan pandangannya.


Nindy merasa Soni sudah keterlaluan kali ini. Nindy menganggap Soni kekanak-kanakan.


" Lain kali kita bicara lagi, tunggu kepala Abang dingin."


Melihat Nindy bangun dari kursi Soni menahan dan segera memeluk Nindy.


"Bang ini dikantor, tidak enak jika ada yang masuk." Nindy mengingatkan.


"Abang ga mau kamu meninggalkan Abang, melihat kamu memberikan nomor HP ke Arman, dan Tatapan Arman dan Ah,, ,,, Abang kesal Nin, Hati Abang panas, Abang Cemburu!" Soni masih memeluk Nindy.


"Lantas aku harus mengatakan apa Abang agar kemarahan Abang bilang?" Nindy mematung dalam pelikan Soni tanpa balas memeluk.


Soni melepaskan pelukannya.


"Apa kamu berhubungan dengan dia?" Soni menatap Nindy.


Tanpa kata-kata Nindy hanya menyerahkan HP nya pada Soni.


"Silahkan Abang Buka, lihat sendiri tidak ada yang aku tutup tutupi."


Soni melihat memang ada beberapa panggilan dari Arman dan tidak dijawab oleh Nindy.


Chat Arman pun tak satu pun dibalas oleh Nindy.


Soni menyadari kecemburuannya yang membabi buta. Semua terjadi karena Soni takit kehilangan Nindy.


"Sayang, Lihat Abang kesini." Soni mengarahkan wajah Nindy ke hadapannya.


"Maafkan Abang, Abang terbawa emosi. Abang cemburu buta Sayang. Maafkan Abang." Soni menggenggam tangan Nindy.


Hati Nindy masih kesal.


"Hubungan kita akan selalu seperti ini apabila tidak ada kepercayaan satu sama lain, lebih baik kita pikir ulang mengenai hubungaan kita, karena menikah tentu masalahnya akan semakin berat. Kalau masih sekecil ini saja bisa membuat abang lepas kontrol, bagaimana kita menikah dan menjadi masalah besar? Aku takut Abang akan langsung menceraikan aku tanpa bertanya dan mendengarkan penjelasanku." Nindy memalingkan wajahnha dari Soni.

__ADS_1


"Pikirkanlah perkataanku Bang? Segera beri jawaban, agar kita bisa mengambil langkah selanjutnya. Putus atau Terus." Nindy berjalan keluar ruangan.


......................


__ADS_2