Betari

Betari
BAB 13 Taman Safari


__ADS_3

Nindi senang sekali hari ini bisa kencan dengan Soni.


Tapi berbeda dengan Soni yang aneh kenapa memilih tempat kencan di Taman Safari.


Entah mengapa dari kecil Nindy belum pernah ke taman safari.


Hingga kemarin saat Soni mengajaknya pergi berkencan Nindy tanpa ragu menjawab Taman Safari.


Soni menjemput Nindy di kosannya. Nindy sudah siap dan begitu happy terlihat.


"Sayang, seneng banget emang ya mau ke Taman Safari?" Soni melihat rona bahagia terpancar dari pacar kesayangannya.


"Aku memang sesenang itu Abang. Maaf yaa aku aneh deh pasti menurut Abang. Seperti Tour anak TK ya?"


Nindy tahu pasti Soni mengharapkan mereka kencan ditempat-tempat romantis seperti pasangan kebanyakan namun Nindy memang agak eksentrik.


"Selama kamu happy, Abang liatnya happy sayang," Soni mencium punggung tangan Nindy.


"Sudah sampai sayang." Soni memarkirkan mobilnya.


"Mari kita berpetualang!" Nindy Happy.


Setahun lebih Soni dan Nindy berpacaran. Soni sedikit banyak sudah mengenal seperti apa Nindy sebenarnya.


Soni hari ini mantap akan mengatakan niatnya untuk melamar Nindy kepada orang tuanya.


Keduanya naik bus untuk berkeliling melihat satwa-satwa di Taman Safari.


Hari ini dalam tampilan santai berbeda dengan dikantor Nindy sang sekretaris memilih kaos lengan pendek, skinny jeans, Flatshoes dengan rambut dikuncir tinggi sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Nindy memiliki tipikal badan yang berisi dititik-titik tertentu sehingga menarik mata yang melihatnya. Seperti saat ini aset-aset berharganya pun sedikit lebih tampak dibalik kaos dan skinny jeans yang ia gunakan.


"Abang naik balon udara yuk!"ajak Nindy dengan berlari.


Soni melihat Nindy yang sejak sampai tak berhenti tersenyum dengan riang gembira.


Tidak perlu wisata mahal, Nindy bahagia dengan caranya sudah cukup untuknya asal bersama bos kesayangan yang kini jadi pacar.


"Bang kalo dari ketinggian semua bisa terlihat ya, cantik." Nindy takjub dengan pemandangan Taman Safari yang ia lihat dari atas balon udara.


Soni berdiri dibelakang Nindy. Soni begitu senang memeluk Nindy dan ia menyandarakan dagu pada bahu Nindy.


"Seperti kamu sayang, cantik!"bisik Soni ditelinga Nindy.


Tentu saja pujian Soni padanya membuat rona pipinya bersemu merah.


Nindy hendak melepas pelukan Soni. Namun Soni masih enggan melepasnya.


"Biarkan Abang sebentar saja seperti ini." Soni tampak nyaman memeluk Nindy dari belakang.


Soni merasa saat itulah waktu yang tepat untuk ia menyampaikan maksud hatinya.


"Sayang, Abang boleh minta sesuatu tidak?" Soni perlahan.


"Asal ga minta yang macem-macem." Nindy takut ke omesan pacarnya kumat.


"Hehehe."Soni mencubit kecil pinggang Nindy.


"Abang, geli ah." Nindy geli merinding akibat cubitan Soni.


"Abang mau ajak kamu kenalan sama mama Abang. kamu maukan?" Soni bertanya pada Nindy.


Mereka berpacaran memang sudah 1 tahun. Sudah sering bahkan dari awal-awal jadian Soni sudah mau membawa Nindy bertemu mamanya, namun Nindy selalu mengatakan belum siap.


Bukan tanpa alasan Nindy selalu menolak ajakan Soni bertemu mamanya, namun Nindy mempertimbangkan banyak hal.


Soni berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang, sedangkan orang tua Nindy berasal dari kampung Ayahnya bekerja dipabrik.


Selain itu Nindy juga mau memastikan apakah benar-benar Soni mencintainya atau hanya sesaat.


Soni sering sekali memberikan Nindy pemahaman bahwa orang tuanya tidak pernah memandang seseorang darimana ia berasal. Soni diberikan kebebasan untuk memilih pendamping hidupnya.

__ADS_1


"Sayang, mau kan kenalan sama mama Abang?" Soni mengulangi pertanyaannya.


Sepertinya kali ini Nindy tidak bisa lagi menolak dan menghindar.


"Iya. kapan Bang?" Nindy menanyakan.


"Kalo besok bagaimana?" Soni gerak cepat takut Nindy berubah pikiran.


Nindy mengangguk. Nindy melihat Soni begitu senang akan jawabannya.


"Semoga menjadi awal yang baik bagi masa depan hubungan kita Bang." batin Nindy.


.


Soni dan Nindy memang tipikal pasangan yang ceria dan ramai.


Keduanya memang selalu bisa mencairkan suasana. Soni yang ada saja bahan candaan dan Nindy yang senang menanggapi membuat pacaran mereka ga garing.


Kini dalam mobil perjalanan pulang dari Taman Safari mereka menyangikan lagu Tulus bersama.


...Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku...


...Berdua kita hadapi dunia...


...Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju...


...Bersama arungi derasnya waktu...


... ...


...Kau milikku, ku milikmu...


...Kau milikku, ku milikmu...


... ...


...Di dekatnya aku lebih tenang...


...Soni menghentikan mesin mobilnya didepan kosan Nindy. Kini sudah jam 10 malam. Soni masih berdiam dimobil karena Nindy disampingnya sedang tertidur. Soni tidak tega membangunkannya....


Soni menatap Nindy yang tertidur disampingnya.


"Kamu cantik sayang, maaf dulu aku tidak melihatmu dan sibuk main-main. Aku ingin secepatnya menjadikan kamu istriku." Soni berbisik lirih dianggapnya Nindy sedang tertidur jadi tidak mendengar.


Soni mengusap rambut Nindy yang jatuh menutupi wajahnya.


Nindy terbangun oleh sentuhan tangan Soni di wajahnya.


"Sudah sampai Bang?" Nindy melihat sekeliling.


"Iya, masuklah. Segera istirahat." Soni mengusap kepala Nindy.


"Nindy masuk dulu ya Bang." Nindy pamit.


"Sayang besok jam 10 Abang jemputnya kita kerumah Abang ketemu mama." Soni mengingatkan.


"Iya, Bang. Hati-hati bang." Nindy melambai kepada Soni yang segera meninggalkan kosan Nindy.


.


Selesai mandi dan mengganti baju, kini Nindy sedang berbaring ditempat tidur.


Nindy chat Soni menanyakan apakah sudah sampai dirumah.


"Abang, sudah sampai dirumah?" Chat Nindy pada Soni.


"Sudah. Kamu lagi apa?" Soni bertanya.


"Baru selesai mandi. Abang?" Nindy balik bertanya.


"Abang sedang berbaring dikamar." Soni jawab.

__ADS_1


"Mandilah dulu bang, biar segar." Nindy mengingatkan.


"Abang kok males banget ya mandi, Kalo kamu mau mandiin Abang semangat sih!" Soni kembali dengan mode Usilnya.


"Dih, dasar Botuna!" Nindy melotot.


"Ya kan nanti sayang kalo udah halal, Kamu mandiin abang tiap hari?" ledek Soni.


"Maunya Abang itu sih?" Nindy cuma bisa cekikikan mendengar ucapan Soni.


"Kamu istirahat ya sayang." Suara Soni melembut.


"Abang juga ya, jangan lupa bobo." Nindy berucap dengan imut.


" Sayang cium Abang donk." Soni dengan manja.


"Muachhhhh." Nindy tertawa.


"Muachhhhhh. Cup...Cuppp." Soni membalas.


"Kok belum dimatiin Bang?" Nindy bertanya.


"Kamu duluan deh Sayang." Soni layaknya ABG.


"Abang duluan yang tutup." Nindy meladeni ke Ababilan Soni.


"Barengan ya. kita hitung sama-sama." Soni memulai.


1......


2......


3......


Mereka berdua masih dalam sambungan telp.


"Sayang?" Soni memanggil.


"Iya Bang?" Nindy masih tersambung.


"Kangennnnn...."Soni manja.


"Samaaaaaaa" Nindy mulai gesrek.


Begitu terus sampai berkaki empat.


Begitulah jatuh cinta. Tak mengenal Usia.


Siapapun yang dilanda akan merasa selalu berjiwa muda.


...Meski cinta kadang membuat terluka...


...Tak pernah manusia merasa Jera...


...Cinta meski sekedar terucap lewat kata-kata...


...Merasuk ke kedalam jiwa dan Raga...


...Tanpa Cinta hidup tiada bermakna...


...Ada Cinta akan terasa bahagia...


...Siapapun berhak jatuh Cinta...


...Cinta datang tanpa aba-aba...


...Sakit Cinta meninggalkan Luka...


...Cinta berasal dari mata mengalir menuju sukma...


...Ah,,,, Indahnya Jatuh Cinta...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2