Betari

Betari
BAB 7 Arya Cemburu


__ADS_3

3 bulan berlalu setelah Tari mengungkapkan perasaan dan pandangan orang-orang padanya pada pak Arya.


Arya sejak itu memang menahan betul perbuatannya karena takut Tari menanggung keburukannya.


Arya sebenarnya kehilangan sosok Tari yang sering membantah omongannya.


Namun Arya sendiri masih belum yakin akan perasaan dirinya terhadapnm Tari.


Perasaan kehilangan sosok Tari yang bersikap seenaknya pada dirinya tidak bisa ia temukan lagi.


Diruang berbeda Soni memikirkan apa yang terjadi dengan Arya dan Tari setelah pertemuan mereka waktu itu. Soni melihat ada kecanggungan antara Arya dan Tari. Tidak seperti dulu layaknya Tom n Jerry versi drakor.


Tok, Tok, Tok!


"Masuk!"jawab Soni.


"Permisi pak Soni, saya mau minta tanda tangan." Nindy menyerahkan form cuti untuk di tanda tangani bosnya yang tidak lain adalah Soni.


"Kamu mau cuti, memangnya ada apa?"tanya Soni.


"Ada urusan keluarga pak." Nindya jawab.


"Kok mendadak Nin," Soni protes ke Nindy.


"Soalnya bapak saya baru tadi malam mengabarkannya. Bapak minta saya balik ke kampung" Nindy menjelaskan.


"Memangnya ada keperluan apa?Soni menyelidiki.


"Saya juga tidak tahu pastinya, karena bapak meminta saya untuk datang karena ini menyangkut hubungan 2 keluarga pak. Jadi saya mohon bapak mengizinkan." Nindya menjelaskan.


Soni menatap Nindy, "semoga lancar ya, semoga kamu bahagia."Soni segera menandatangani form cuti Nindy.


"Terima kasih atas izinnya. Saya pamit keluar pak. Permisi." Nindy keluar ruangan Soni.


Soni menyenderkan kepalanya di kursi, kepalanya terasa berat.


Nindy, jangan-jangan mau nikah. Nikah?


.


"Kring!"telpon dimeja kerja Tari berdering.


Telpon memanggil Tari masuk ke dalam ruang pak Arya.


"Kamu sudah siapkan dokumen meeting untuk siang ini?" Arya bertanya sambil menatap Tari.


Sesungguhnya ketika ada momen pekerjaan yang memanggil Tari, Arya senang karena sejak itu Tari juga betul-betul menjaga jarak dari Arya jika berkaitan dengan urusan luar kantor. Namun untuk urusan kantor Tari tetap profesional.


"Sudah pak, meeting dijadwalkan jam 14.00 wib ditempat yang sudah disepakati. Ada lagi pak yang bapak perlukan? Kalau tidak saya permisi kembali melanjutkan pekerjaan saya." Tari permisi keluar meninggalkan ruang pak Arya.


"Tari!" suara pak Arya menghentikan langkah Tari.


Tari berbalik," Ada apa pak?" Tari bertanya.


"Terima kasih." Arya hanya mampu mengatakan itu padahal banyak yang mau ia katakan pada Tari.


Bodoh kau Arya!


Tari kecewa akan jawaban pak Arya.


Sadar Tari, Kerja Tari, Kerja.


Fokus inget ibu, inget tujuan kamu.

__ADS_1


Tari menguatkan hatinya yang sempat goyah.


.


Perjalanan menuju lokasi meeting terasa begitu sepi dan lama.


Tari memilih duduk sebelahan dengan Arif yang sedang menyetir. Lalu Tari yang sebenarnya tidak betah diam Ia mengajak ngobrol Arif.


"Pak Arif disini kost atau dengan keluarga." Tari bertanya dan membuka obrolan dengan arif.


"Saya kos Bu Tari, kalau keluarga saya ada di Semarang." Arif menjawab.


"Jangan sungkan pak Arif. Saya sama seperti pak Arif pegawai kantor juga seperti yang lain. Panggil Tari saja." Tari memang merasa risih jika Arif memanggil dirinya pakai Bu karen usia mereka tidak jauh.


"Bagaimana ya?"Arif menengok ke spion tapi Arya mengalihkan pandangannya. Arif jadi serba salah.


"Saya panggil Mbak Tari saja ya." Pak Arif ambil jalan tengah.


"Boleh juga pak Arif jadi kesannya lebih akrab."jawab Tari senyum.


"Ehemmm, tolong diam ya, saya pusing denger kalian ngobrol!" Arya kesal karena bisa-bisanya Tari ngobrol dengan Arif dan cuek dengan dirinya.


"Baik pak. Pak Arif kita ngobrolnya nanti chat atau telponan saja, biar ga ada yang keganggu." Arif getir pasti dia akan kena bulan-bulanan pak Arya setelah ini.


Bisa-bisanya Tari cuek pada dirinya dan berbicara banyak soal pekerjaan dan kembali diam dengan dirinya. Tapi dengan Arif, apa-apan panggil Tari saja. Arya meniru dan perasaannya menjadi kesal didalam hatinya.


.


Saat ini Arya sedang meeting bersama kliennya didampingi Tari sebagai sekretaris. Kliennya membahas soal proyek mereka yang sekarang akan diteruskan dengan CEO baru yang sedang otw karena CEO saat ini ditugaskan ke Jepang.


"Maaf pak Arya perkenalkan saya Rian."Rian mengajak Arya bersalaman.


"Senang bertemu bertemu anda." Arya menyambut salaman.


Selama meeting mata Rian terus memandang pada Tari dan Tari menyadari Rian tak lepas memperhatikan dirinya.


"Saya rasa meeting kita hari ini selesai, selebihnya kalau ada hal yang pak Rian butuhkan bisa menghubungi sekretaris saya."Jelas Arya.


"Sama-sama pak Arya semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar." Rian bersalaman dengan Arya.


Ketika semuanya berdiri.


"Lama tidak bertemu ya Ri, kamu apa kabar?" Rian langsung memeluk Tari, Tari memberi respon kurang nyaman dan Rian melepaskannya.


"Kabar baik pak Rian."Tari memundurkan tubuhnya melepas pelukan Rian.


Mata Arya menangkap pemandangan yang membuatnya terkejut. Ada rasa marah dihati Arya melihat Rian memeluk Tari. Rian sadar tindakannya mungkin membuat bingung Arya, Rian menjelaskan pada Arya.


"Saya tidak menyangka bahwa sekretaris pak Arya adalah Tari, orang yang pernah menjadi kekasih saya, tapi hubungan kami baik-baik dan kami berteman." Jelas Rian menjawab kebingungan diwajah Arya.


"Oh begitu ya, silahkan kalian saling melepas rindu saya permisi dulu masih banyak yang harus saya kerjakan." Arya berlalu pergi.


Arya bergegas keluar, perasaannya bercampur aduk, kesel, emosi, marah, tapi Arya ga punya hak.


Bos mana yang mengurusi percintaan sekretarisnya.


Aghhhhhhh!Arya kesal dengan dirinya sendiri. Pemandangan Rian memeluk Tari depan wajahnya selalu terbayang.


.


Tok,Tok,Tok!


Soni melihat Arya yang sedang tidak baik-baik saja. Nampak wajahnya suntuk dan bete.

__ADS_1


"Bro, Tari mana ga kelihatan didepan?"Soni heran biasanya ia selalu berjumpa Tari karena meja Tari berada di depan dekat ruangan Arya.


"Lagi pacaran kali!"Arya jawab penuh dengan nada emosi.


"Bentar, makasudnya gimana?bkannya tadi lo meeting ketemu klien?"Soni heran.


"Klien kita yang sekarang itu mantannya Tari."Arya males menyebut nama Rian.


"Rian CEO pengganti Pak Rudi?"Soni memastikan.


Arya mengangguk dengan malas kembali mendengar nama itu.


"Biasa kali kalo mantanan masih ketemuan. Belom tentukan balikan. Siapa tahu sekarang jadi temen."Soni sengaja agar Arya cerita banyak.


"Mana ada temen pelukan depan umum." Arya semakin emosi.


Ini sih pasti ada apa-apa. Gw harus tahu yang sebenernya. Tapi justru bagus semoga Arya sadar dan cepat mengutarakan isi hatinya agar tidak menyesal batin Soni


"Mau kemana lo Son?"Arya bertanya kepasa Soni yang keluar dari ruangannya.


"Mau minta PJ pajak jadian sama Tari."Soni keluar dari ruangan Arya.


Sialan Soni. Dasar temen durhaka! temen ga ada akhlak! ga ngerti perasaan orang batin Arya.


Kayaknya Tari juga masih cinta sama si Rian.


Kepala Arya terasa mau pecah.


.


Tari kini ngobrol bersama Rian


"Kakak ga nyangka bisa ketemu Tari disini. Sekarang Tari tambah cantik, lebih dewasa." Rian memuji Tari.


"Bisa aja kak Rian. Tari bukan cantik dari dulu."Tari bercanda dan tertawa.


"Sudah berapa lama Ri kerja disana?"Rian bertanya.


"Kurang lebih 1 tahun kak, kak Rian sendiri kapan balik kesini?"Tari tanya balik.


"Baru sekitar 3 bulan."Rian menjawab.


"Ri, apakah kita bisa balik lagi seperti dulu?"Rian berharap.


"Maaf ka, tapi Tari lebih nyaman berteman dengan kakak."Tari menjawab.


"Kamu punya pacar?Atau kamu mencintai seseorang?" Selidik Rian.


"Tidak kak, Tari sudah lebih nyaman sebagai adik kakak dengan kak Rian."jelas Tari.


"Apakah karena Arya?" Rian mencari tahu.


"Bukan ka. Hubungan kami hanya sekedar Bos dan sekretaris."Jelas Tari.


"Untuk apa Ri, mencintai orang yang tidak bisa melihat cinta kamu. Datanglah padaku, jadilah sekretarisku jika menjadi pacarku kamu tidak mau. Tawaranku selalu terbuka, kapanpun kamu mau keluar dari perusahaan Arya, pintu selalu terbuka untukmu dan kakak akan menerima mu dengan tangan terbuka." tatapan Rian begitu menusuk hati Tari.


Nah loh saingan muncul.


Gengsi terus Arya.


Keburu ditikung Rian.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2