
2 hari ini Soni terus kepikiran Nindy yang sedang cuti dan membuat perasaan Soni kacau.
Soni sendiri tidak mengerti kenapa terus memikirkan perkataan Nindy saat meminta izin cuti.
Soni masih ingat betul pertama kali Nindy saat baru kerja disini menjadi sekretarisnya.
Selama ini Soni menyadari perasaan Nindy, namun Soni mengabaikannya dan malah kesana kemari bermain-main di depan Nindy.
"Begini kali ya perasaan Nindy selama ini."Soni pusing sendiri dan tidak fokus dengan pekerjaannya.
Soni keluar ruangan menuju pantry ingin membuat kopi dan menghirup udara segar karena semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan Nindy.
Terdengar 2 orang stafnya sedang membicarakan Nindy di pantry.
Soni menguping pembicaraan 2 staf wanita itu.
"Nindy cuti berapa hari sih Wit?"Lula bertanya pada Wita.
"Kalo ga salah sampai besok." Wita menjawab.
"Kasian juga ya Nindy, bakal dijodohkan bapaknya. Padahal kitaa kan tahu Nindy sepertinya suka dengan pak Soni. Aku pernah bilang kenapa ga kamu beritahu pak Soni perasaanmu?"Jelas Lula.
"Terus jawaban Nindy apa La?"Wita penasaran.
"Buat apa mengejar orang yang tidak mencintai kita, hanya akan menyakiti hati dan buang waktu."jawab Lula menirukan ucapan Nindy.
"Ya Allah Nindy memang anak yang berbakti ya La, lagipula Nindy walaupun kost dan kerja disini kalau kita ajak ke club Nindy mana mau, Nindy masih lugu banget. Anak Baik-baik dia."Wita menambahkan.
.
Soni mondar-mandir diruang kerjanya.
Kenapa Nin, kamu ga bilang kalo akan dijodohkan?
Kenapa bilang hanya urusan keluarga?
Siapa kamu Nindy bikin aku 2 hari kelimpungan?
Semua pertanyaan tersebut terus berputar mencari jawaban dan membuat kepala Soni pusing.
Soni mencari berkas lamaran Nindy karena dulu disana Nindy menulis alamat asalanya. Alamat Orang Tuanya.
Dimana sih! Please deh ketemu!
Soni semakin panik
Ya Ampun ketemu donk
Nindy aku ga mau kamu terima perjodohan itu.
Dimana sih?
"Nah ketemu!"Soni menyalin alamatnya dan segera keluar meninggalkan kantor.
Nindy tunggu Abang batin Soni.
.
"Teh, nanti malam temani Cici ya, aku grogi takut salah jawab waktu keluarganya aa ujang melamar."Nindya memeluk adik sepupunya yang nanti malam akan dilamar oleh Ujang kekasih hatinya.
"Iya nanti malam Teteh temani, udah atuh neng ulah panik kitu, senyum Nmneng sayangkuh."Nindya memberi semangat adik sepupunya.
Nindy membantu persiapan acara lamaran adik sepupunya, berbagai hidangan khas Bandung asal daerah mereka terhidang.
__ADS_1
Nindy melihat Cici adik sepupunya yang sedang diras wajahnya begitu tegang.
"Aduh meuni geulis pisan adek, kabogohna saha eta teh alus pisan?"Nindya menggoda Cici.
"Ih, teteh mah ulah kitu, isin teh." Cici tertawa dengan rona wajah merah di pipi.
Keduanya tertawa bersama, perias yang merias Cici ikut tertawa dengan kelakuan keduanya.
.
Bada isya yang dinanti datang, Ujang dan keluarganya sudah tiba. Nindya menemani Cici dikamar sebelum nanti dipanggil keluar.
"Teteh, hate cicih meuni ngadaregdeg pisan."Cici terlihat tegang.
"Bismilah Ci, insya Allah diberikan ketenangan."Jawab Nindy.
Terdengar suara dari luar memanggil Cici, Cici keluar ditemani Nindy.
Kemudian Tetua menanyakan kepada Cici, Apakah menerima lamaran Ujang.
"Neng Cici, apakah Neng menerima lamaran Aa Ujang?"
"Jangan Terima!Tolak Nindy,!Aku Disini!" teriak seseorang pria di depan rumah dengan lantang membuat semua yang ada disana tertuju pada suara yang mengagetkan.
"Pak Soni!"Nindy terkejut.
.
Akhirnya setelah kesalahpahaman ini dapat diluruskan dan lamaran Ujang pada Cici diterima dan berjalan dengan Lancar.
Soni yang menjadi bahan omongan keluarga, kerabat dan tetangga Nindya malu tiap bertemu orang.
Saat itu acara lamaran telah selesai.
"Nak Soni, atasan Nindy di kantor?"ayah Nindy bertanya.
"Betul bapak, Nindy sekretaris saya."jawab Soni.
"Begitu rupanya, apakah Nindy ada kesalahan pada Nak Soni atau dikantor?"ayah Nindy bertanya.
"Oh, tidak ada pak, Nindy tidak berbuat salah apa-apa?"Soni kebingungan harus menjawab apa.
"Syukurlah kalau begitu, bapak takut Nindy lari dan tidak bertanggung jawab hingga merugikan orang."ayah Nindy lega anaknya baik-baik saja.
"Sudah malam, nak Soni pasti capek, kalau memang merasa nyaman silahkan kalau mau menginap, namun seadanya namanya dikampung. Bapak masuk dulu ya Nak Soni." Ayah Nindya masuk.
"Iya Pak." Soni menjawab.
Soni kini berada dikamar yang disediakan, Nindy menghampiri membawa bantal, selimut dan baju ganti untuk Soni pakai tidur.
"Nin, maafin saya ya."Soni masih ingat kejadian memalukan tadi.
Nindy memberikan kode untuk tidak membahas saat ini. Nindy menyerahkan selimut, bantal dan baju ganti kepada Soni.
"Maaf pak seadanya begini, saya permisi pak. Tidak enak takut jadi salah paham."Nindy keluar dari kamar yang ditempati Soni malam ini.
"Terima kasih Nindy."Soni tersenyum perasaannya menjadi tenang.
Nindy tersenyum ketika keluar dari kamar Soni.
Nindy masuk kekamarnya. Ia berbaring mengistirahatkan tubuhnya karena lelah. Ada chat masuk.
"Nin, sudah tidur?"Soni chat.
__ADS_1
"Pak Soni, blm tidur?maaf kalau bapak ga nyaman."
Nindy tahu keluarga Soni nya 11 12 dengan Pak Arya, pasti mana pernah dia merasakan tidur di kamar sederhana seperti sekarang.
"Bukan begitu, saya cuma malu dengan kelakuan saya?" Soni seakan kehilangan muka kejadian.
"Kenapa bapak datang kesini?"Nindy bertanya.
"Kenapa waktu cuti kamu ga bilang sepupu kamu yang dilamar bukannya kamu?"Soni merasa hatinya dipermainkan.
"Memang hubungannya apa dengan bapak kalaupun saya yang dilamar?"Nindy jawab.
"Saya kan bos kamu, kamu sekretaris saya."Soni menjawab.
"Saya rasa bos tidak perlu tahu mengenai kehidupan pribadi pegawainya, hubungan saya dengan bapak sebatas hubungan profesional kerja."Nindy menjelaskan.
"Kamu mau membalas jawaban saya waktu itu?"Soni kesal karena Nindy meniru jawaban Soni saat pulang duluan selesai nonton bersama Tari dan pak Arya.
"Tidak, hanya saja saya pikir perkataan pak Soni benar, kita harus mampu membedakan antara pekerjaan dengan urusan pribadi. Bapak bos saya dan saya sekretaris bapak hanya itu."Nindy menjawab.
"Nin, apakah kamu menyukaiku?"Soni bertanya.
"Secara profesional tentu saya menyukai bapak karena bapak pimpinan saya."Jelas Nindy.
"Bagaimana hatimu?"Soni ingin mencari rasa cinta Nindya untuk nya yang selama ini ia abaikan.
"Mungkin ya. Kita setiap hari bertemu, berulang-ulang tentu sedikit banyak perasaan terlibat. Kita tidak bisa membatasi hati untuk memilih siapa yang disukainya. Tapi manusia bisa memilih secara logika apakah tepat atau tidak, untuk diteruskan atau tidak karena kita tidak bisa memaksakan hati kita pada orang lain dan tidak perlu bodoh mengharapakan sesuatu yang tidak mengharapkan kita. Itulah sikap saya terhadap bapak." Nindy menjelaskan panjang lebar.
"Masih perlu ku katakan alasanku sejauh ini menyusulmu hingga aku tak memastikan hingga berujung malu?"Soni kesal dengan jawaban Nindy.
"Saya bukan Tuhan yang tahu apa yang tidak terucap dan apa yang tidak terlihat. Karena cinta itu buat saya mampu terucap, dapat dirasa, terlihat mata, terasa nyata dan ada pembuktian, jadi mana saya tahu apa isi hati bapak." Nindy membalas ucapan Soni.
"Besok aaya akan balik, apakah kamu kembali besok? ikut pulang bersama saya!." Soni meminta Nindy balik ke Jakarta bersamanya.
"Saya ingat pak cuti saya hanya 3 hari, tapi besok bapak berangkat saja dulu. Orang tua saya mau berbicara dengan saya?"Nindy menjelaskan.
"Kalo boleh tahu, apa yang akan kamu bicarakan dengan orang tua kamu?"Soni kembali cemas.
"Mengapa bapak penasaran?"Nindy balik tanya.
"Please Nindy jawab pertanyaan saya."Soni geram sekaligus cemas.
"Bapak meminta saya berhenti bekerja dan pulang kampung."Nindy menjawab.
"Alasannya?"Soni makin getir dikamar sebelah dan semakin gelisah.
"Saya akan dijodohkan oleh putra teman bapak."Nindy menjawab.
"Tidak boleh! Kamu tidak boleh berhenti! Tetap jadi sekretaris saya!"Soni marah.
"Maaf pak, saya tidak membutuhkan persetujuan bapak dalam urusan pribadi saya. Saya hanya menjawab pertanyaan bapak."Nindy menegaskan.
"Tapi saya tidak akan mengabulkan permohonan resign kamu sampai kapanpun!"Soni geram.
"Bapak aneh, siapa bapak melarang saya! bapak tidak punya hak apapun melarang saya!"Nindy kesal dengan Soni yang bertele-tele.
"Orang yang kamu bilang aneh ini mencintaimu, tidak ingin ditinggalkan olehmu dan sangat menyayangimu, maka tetaplah bersamaku, besok ikut pulang bersamaku!"Soni akhirnya mengaku.
"Sudah malam pak, mungkin bapak lelah, bapak bicara ngelantur. Selamat istirahat pak!"jawab Nindy menyudahi chat dengan Soni.
Soni membaca chat terakhir Nindy, setelahnya tidak ada balasan lagi.
Kau buat aku gila Nindy!
__ADS_1
...****************...