Betari

Betari
BAB 9 Pernyataan Cinta Arya


__ADS_3

Bisa-bisa mereka berpelukan dihadapanku.


Ga tahu malu.


Mantan Rasa Pacar


Ngapain putus kalo masih cinta.


itulah kini perasaan hati Arya.


Hatinya terus bergemuruh.


Awas kau Rian.


Melihat jam keluar kantor, Arya memilih pulang karena enggan berjumpa dengan Tari saat ini.


Dirumah Arya juga terlihat gelisah.


Bunda Dewi heran terhadap kelakuan putranya.


Bunda menghubungi Soni dan mendengarkan cerita dan kronologinya.


"Aku harus cari tahu sendiri."bunda Dewi bertekad.


Arya menghubungi Soni, tapi tidak dianggat. "Kemana lagi tuh teman durhaka!" Arya melempar ponselnya.


.


Disinilah Arya mencoba menenangkan diri.


Arya tengah menikmati minumannya.


Sendirian dengan perasaan kesal.


Arya bosen perasaannya tak kunjung tenang malah terus teringat kejadian tadi.


Arya hendak keluar club dan ingin ke apartment Soni, siapa tahu Soni ada di apartemennya.


"Wah Arya, ketemu lagi kita."Rian tersenyum senang.


Arya berjalan melewati tanpa perduli.


"Pecat Tari sebagai sekretarismu!biarkan Tari bisa kembali padaku dan selalu dekat denganku."Rian saat ini sedang dalam pengaruh Alkohol.


"Hey, pengecut! jawab aku!lepaskan Tari, biarkan Tari kembali bersamaku. Karena aku mencintainya. Tidak sepertimu hanya membuatnya menangis." Rian berbicara ngawur.


Emosi Arya sudah berada pada ambang batasnya. Arya berbalik berjalan menuju Rian dan,


Brukkkkkkk!


Bukkkkkkk!


Rian jatuh terkapar dilantai.


Arya memanggil manajer club.


"Hitung semua kerugian ini dan pastikan hal ini tidak tercium keluar! aku akan menggantinya."Arya memberikan kartu namanya kepada manager club dan pergi.


.


Arya masuk dalam mobil ia kembali ke kantor dan memutuskan beristirahat disana.

__ADS_1


" Tari, apakah tak ada rasa cinta untukku?"Arya berseloroh sebelum ia tertidur.


.


Pagi ini Tari sampai ke kantor lebih pagi, iya ingin merenungkan penawaran Rian padanya.


Tari belakangan ini merasakan suasana kerja dirinya dan Arya tidak senyaman dulu.


Arya yang tanpa penjelasan dan memilih diam membuat Tari merasa Arya memang tidak ada perasaan apa-apa dan hanya main-main.


Tari menyiapkan surat resign dan dimasukannya ke amplop. Iya masuk ke dalam ruangan Arya dan berencana meletakkan surat resign sebelum meninggalkan kantor.


Tari membuka pintu ruangan Arya dan kaget dengan apa yang dilihatnya.


"Pak Arya!"Tari berteriak kaget Arya tertidur di sofa kantor dengan wajah babak belur.


"Mengagetkan saja. Ngapain kamu pagi-pagi ada dikantor?" Arya yang sesungguhnya tidak tidur hingga ia tahu Tari akan masuk ruangannya.


Tari mendekat memperhatikan wajah Arya, "wajah bapak kenapa babak belur begini?"Tari hendak menyentuh wajah Arya memastikan apa yang terjadi.


Arya menepis tangan Tari. Seolah enggan mendapatkan perhatian dari Tari.


"Pak mari saya bersihkan dan obati luka bapak."Tari hendak keluar mengambil P3K untuk mengobati Arya.


"Apa perdulimu Tari! aku babak belur karena ulah pacarmu!"Arya berteriak keras.


"Maksud bapak?"Tari bingung menghampiri Arya.


"Pacarmu memintaku memecatmu, agar kamu bisa kembali padanya! puas!"Arya berteriak sambil menatap Tari tajam.


"Saya tidak mengerti makaud bapak?"Tari masih tak mengerti apa yang hendak Arya katakan.


"Silahkan jika kamu mau kembali pada bajingan Itu!" Arya kembali berteriak wajah terlihat begitu kesal.


Arya mendekat pada Tari, kini Arya mengunci tubuh Tari di sofa, hingga Tari berada dalam kungkungan tubuh Arya


"Pak Arya, mau apa bapak?jangan macam-macam pak!" Tari belum pernah melihat Arya semarah dan seagresif ini.


"Bukankah ini yang kamu mau Tari! hingga kau rela dirimu dipeluk Rian depan mataku!Arya mendekatkan wajahnya ke Tari.


"Pak Arya sadar pak, bapak bukan orang seperti itu papak hanya marah dan emosi, tapi katakan pak, apa yang membuat bapak marah dan menjadi begini?"Tari mendorong tubuh Arya sekuat tenaga dan menendangnya.


Tari ketakutan dengan apa yang baru saja Arya lakukan, Tari menangis sejadi-jadinya.


Tangisan Tari menyadarkan dirinya, Arya sadar akan perbuatannya menyakiti Tari. Arya terbakar cemburu hingga emosi dan kemarahannya tidak terkendali.


"Tari maafkan aku, aku khilaf, aku marah melihatmu dipeluk si Rian bajingan didepanku, kau memilih pulang bersamanya dari pada denganku. Aku marah, aku benci aku kesal Tari!" Arya berteriak pilu hatinya mendengar tangisan Tari.


Keduanya hening terdiam tanpa suara. Seakan mencerna keadaan berusaha mengembalikan kesadaran dan pikiran yang jernih.


"Tari aku minta maaf, aku salah, aku hanya bisa memarahimu, berbuat seenaknya padamu dan tak pernah berkata manis padamu. Jika memang kau memilih untuk kembali padanya, silahkan itu hakmu karena aku tak punya hak menahanmu disini."Arya membuka suaranya dengan nada lembut dan pelan.


Perlahan Tari bangkit, Tari mendekati Arya yang duduk dikursi memunggungi Tari.


Tari memutar kursi yang ditempati Arya, di depan matanya Tari melihat wajah Arya berderai airmata.


"Kubersihkan lukamu dan akan ku obati luka di wajahmu."Tari menatap wajah Arya dan hendak memgambil kotak p3k tangan Arya meraih menghentikan langkahnya.


"Kau masih mencintai Rian?" Arya menatap lekat mata Tari seakan mencari keyakinan.


"Aku akan mengobati dulu luka diwajahmu."Tari mengambil P3K ,dan membawanya ke ruangan Arya.

__ADS_1


Arya membiarkan Tari mengobati luka diwajahnya. Arya memperhatikan Tari saat wajahnya sedang diobati.Arya menatap Tari dengan lekat tanpa mengedipkan mata sedikitpun.


Sedangkan Tari ditatap begitu rupa tak memungkiri pertahanannya yang iya bangun beberapa bulan ini runtuh berantakan.


"Katakan Tari kau masih mencintai Rian?"tatap tajam mata Arya menusuk hati Tari.


"Aku akan," belum selesai kata-kata Tari terucap Arya menarik ceruk leher Tari. Arya mencium bibir Tari dengan lembut dan perlahan.


Tari semula kaget namun tubuhnya menginginkan itu. Rasa rindu yang Tari rasakan selama beberapa waktu seakan teobati.


Arya mendapat sinyal Tari juga menginginkannya, membiarkan iya menikmati sensasi tersebut.


Arya semakin memperdalam ciumannya pada Tari dan berlangsung lama hingga keduanya hampir kehabisan oksigen dan menyelesaikannya.


"Aku mencintaimu Tari, jangan pernah berpikir meninggalkan perusahaan apalagi meninggalkanku. Takkan aku biarkan siapapun termasuk Rian merebutmu dariku." Arya membawa Tari dari pelukannya.


Tari menangis dalam pelukan Arya."mengapa begitu lama kau nyatakan perasaanmu? tidak tahukah aku tersiksa akan keegoisanmu?" Tari menangis pilu dalam dekapan Arya.


"Aku memastikan hati hingga tak ada lagi ragu dan bimbang hingga yang tersisa rasa cintaku padamu murni tanpa cela." Arya melepas pelukannya perlahan, ditatapnya Tari begitu dekat.


"Tari, i Love U Honey." Arya kembali mencium Tari lebih dalam dari sebelumnya dan kini Tari membalas ciuman itu.


Keduanya merasa lega, sesak yang selama ini menghimpit dada berganti penuh dengan rasa cinta dan bahagia.


Tari tahu dirinya dan Arya memiliki jurang yang sangat lebar tentunya tak mudah bila disatukan namun Tari yakin, selama Arya mencintainya, Tari akan berjuang sekuat tenaga mempertahankan hubungan ini.


Tari berada dalam pangkuan Arya mengobati wajah Arya yang babak belur.


"Sayang, mulai sekarang jangan panggil aku pak, panggil aku mas Arya." pinta Arya.


"Iya mas Arya tapi kalo didepan klien atau pegawai lain aku akan tetap memanggilmu pak Arya." Tari menjawab.


"Aku seneng, ini adalah Tari yang kurindukan, Tari yang selalu punya jawaban atas apa yang aku katakan." Arya tersenyum.


Tari beranjak dari pangkuan Arya dan Arya menahannya.


"Mau kemana sayang, mas masih kangen." Arya mulai terserang virus bucin.


"Apa mas Arya tidak mandi, mandilah kamu berantakan sekali mas, nanti pegawai lain melihatmu." Tari mendorong tubuh kekasihnya ke kamar mandi di ruang kerjanya.


Arya tersenyum melihat kelakuan kekasihnya.


"Ulah si bajingan, yang membuat wajahku babak belur." Arya melihat wajahnya di cermin wastafel.


Arya pun mengalah iya masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Segar rasanya mandi pagi ini. Air kucuran shower layaknya air terjun yang begitu menyejukan hati.


Arya merasa pagi ini langit kantornya begitu cerah, siap bekerja dengan melihat wanita yang dicintainya membuat Arya merasakan kebahagiaan.


"Sayang, bantu mas memakai dasi?" Arya menyerahkan dasinya pada Tari.


"Baru berapa jam jadi pacar, ternyata manja nya kelewatan, ampun deh!' Tari selesai mengikat dasi Arya Tari akan beranjak, dengan sigap tangan Arya meraih pinggang Tari.


Kini tubuh Tari berada dalam dekapan tubuh Arya. Tari mampu merasakan debaran jantung Arya.


Hangat nafas Arya dilehernya membangkit gelora hati Tari akan penantian pernyataan cinta Arya.


Arya menatap mata Tari, "kapan kamu bersedia ku kenalkan pada ibuku?"tanya Arya.


"Aku siap kapanpunnitu!"Tari memberikan jawaban agar Arya senang namun ada keraguan dalam hatinya.


"Tari, I Love you." Arya menatap Tari dengan senyuman mengembang di wajahnya. Kedua berpelukan seolah takut terpisahkan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2