
Kini didalam bioskop mereka sebentar lagi akan nonton Insidius 5.
Sejujurnya Nindya orang yang penakut dalam hidupnya. Pernah sekali nonton film horror itupun tidak sampai film selesai karena Nindy takut dan sampai kebelet pipis.
Namun gelagat Tari yang mau pulang membuat Nindya spontan mengeluarkan ide itu.
Nindya teringat saat Pak Soni meminta bantuannya menjalankan rencana ini. Soni yang sebelumnya tidak pernah menyadari keberadaan Nindy meskipun Nindy sudah lama menjadi sekretaris Soni, membuat Nindy senang saat Pak Soni mendekatinya walaupun hanya sebagai partner rencana ini.
Sejak Nindy bergabung diperusahaan, Nindy memang menyukai Soni namun sikap Soni yang ramah terhadap semua pegawai, membuat Nindy beranggapan Soni adalah Playboy.
.
Suasana didalam bioskop. Posisi Duduk mereka secara berurut Tari, Arya, Soni dan Nindy.
Lampu bioskop mulai dimatikan. Suasana gelap pasti yang terlihat. Musik menggelegar salah satu faktor pendukung kehororan film semakin mencekam.
Nindy yang sudah menutupi wajahnya dengan tas membuat Soni senyum melihat kelakuannya.
Bagaimana Arya dan Tari? Mari kita saksikan.
"Kalo takut kamu ga usah pura-pura, saya kasih ijin kamu buat pegang tangan saya."Arya berbisik meledek Tari.
"Pak Arya kali yang penakut, sok-sokan berani, dikantor lembur aja saya disuruh ikutan lembur juga." Tari balik meledek Arya.
"Mana ada ya saya takut, saa tuh cowok!" Arya merasa kebanggaannya sebagai cowok terusik.
Suara teriakan penonton saat hantunya tiba-tiba tampak membuat kaget penonton didalam teather tak terkecuali Tari dan Nindy.
Tari berteriak dan reflek memeluk lengan Arya.
Arya kaget dengan rangkulan tangan Tari padanya. Senyum Arya merasakan hatinya hangat namun jantungnya berpacu lebih cepat. Ada sengatan listrik mengalir ditubuh Arya.
Arya seolah bersikap biasa saja didepan Tari.
Arya mencubit pipi Tari dan berbisik "katanya berani!" Arya meledek Tari dengan tertawa.
Tari langsung melepaskan tangannya dari lengan Arya tapi dengan sigap Arya menarik kembali Tari dalam dadanya.
Netra kedua terlihat saling memandang meski dalam suasana gelap kedua bisa saling melihat.
Segera Tari sadar dan melepaskan dirinya dari Arya.
"Saya tuh kaget sama musiknya, bukan takut!" Tari membela diri.
"Kalo takut bilang aja ga usah gengsi sama saya." Arya meledek Tari kembali.
Tari kesal dan mencubit balas Pipi Arya.
Dengan secepat kilat tangan Arya berhasil menangkap tangan Tari dan dibawa kedadanya dengan kondisi dalam genggamannya. Sejenak mereka berdua memandang.
"Sialan, ngapain gw narik tangannya, nanti dia kegeeran lagi, tapi kok jantung gw ga karuan begini, besok gw akan minta Arif buat daftarin MCU di RS." batin Arya.
"Goblok,goblok Tari!ngapain pake acara mau bales dia nanti disangkanya caper lagi, makin kepedean Pak Arya." kata Tari merutuki diri dalam hati.
Keduanya melepaskan tangan dan kembali melihat kedepan namun bukan melihat layar karena keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
Akhirnya pertunjukan theater selesai.
.
"Ri, sorry banget ya gw balik duluan. Maaf gw ga bisa balik badeng lo soalnya gw ada keperluan dadakan. Pak Arya, Pak Soni, Tari balik duluan ya."Nindy bergegas pergi.
"Nindy saya antar kamu. Tari balik duluan ya. Arya, gw balik sekalian nyusulin Nindy." Soni mengejar Nindy.
Sepeninggal Nindy dan Soni aura kecanggungan tampak dari kedua. Hingga Tari buka suara.
"Pak Arya saya balik duluan ya. Permisi Pak."Tari bergegas pergi suara Arya menghentikannya.
"Saya antar kamu pulang."Arya meraih tangan Tari.
"Oh, ga usah pak, saya ga mau ngerepotin bapak." Tari melepas genggaman tangan Arya.
"Ga ngerepotin. Kecuali kamu minta gendong. Ayo!" Arya kembali menawarkan.
Siapa juga yang sudi digendong pak Arya batin Tari.
"Bener pak ga usah lagian rumah saya jauh."Tari masih bertahan menolak.
"Kamu benci banget ya sama saya!"Arya dengan suara tinggi mampu menghentikan langkah Tari.
Tari menghentikan langkahnya.
Arya berjalan menghadap Tari, berbalik kehadapan Arya.
"Bukannya bapak yang benci sama saya makanya marah-marah mulu ke saya?"Tari membalikan perkataan Arya.
"Maaf pak ga usah pegang-pegang nanti jadi salah paham." Tari berjalan dan diikuti Arya.
"Perempuan paling keras kepala dan selalu bikin kesel saya cuma kamu Tari!" Arya menggerutu tapi masih terdengar oleh Tari.
"Ngapain bapak ngikutin saya, saya kan bikin kesel bapak" Tari jalan cepat kembali disusul Arya.
"Tari dengerin saya, stop!" Arya menggandeng tangan Tari agar langkahnya terhenti.
Ya Allah pak Arya maunya apa sih, sebentar baek, sebentar galak, sebentar perhatian, sebentar jutek batin Tari bingung terhadap kelakuan pak Arya ga jelas menurutnya.
"Sekali-kali kamu tuh kalo bos ngomong dengerin jangan ngebantah mulu." Arya menurunkan nada suaranya.
"Ayok pulang!" Arya menggeret tangan Tari.
Tari mengikuti pak Arya agar drama segera selesai.
Bagaimanapun Tari perempuan yang punya hati. interaksi nya dengan Arya yang dilakukan setiap hari sedikit banyak membekas dihatinya.
Sikap Arya yang mood swing menurut Tari sulit ditebak apa sebenarnya maksud pak Arya.
Selain itu Tari selalu mengingatkan dirinya bahwa ia hanyalah sekretaris tidak lebih dan jangan baper dengan apa yang Arya lakukan padaku.
Terlalu jauh, bagai punguk merindukan bulan batin Tari.
Sejak pengkhiatan Dani mantan kekasih brengseknya yang Tari pergoki sedang "Kerja Kelompok" dengan model freelance membuat Tari meragukan cinta.
__ADS_1
Tari kini hanya fokus bekerja mencari uang menabung dan fokus untuk mewujudkan keinginan ibunya membuka toko kue.
Karena Tari tidak mau harapan kosong membuatnya sakit hati lagi dan jauh dari mimpinya.
Dalam mobil pak Arya Tari memilih untuk diam tanpa berbicara 1 patah katapun pada pak Arya.
Arya yang bingung dengan sikap Tari membuka percakapan.
"Saya nganter orang atau hantunya, kok sepi banget! " Arya nyindir Tari.
"Berisik salah diem salah, emang pak Arya dimata bapak saya salah mulu!" Tari mulai ngegas.
"Kok kamu ngomong gitu ke saya! benci banget kamu ya ke saya!" Arya bertanya dengan wajah mengkerut.
"Ga benci cuma kesel aja, pak Arya ga jelas!" Tari ngoceh asal.
"Saya ga jelas, bukannya kamu yang suka ngebantah ke saya!" Arya ga mau kalah.
"Terserah bapak lah, capek saya denger bapak ngomel. Kayaknya hobi banget bapak bentak-bentak saya!" Tari membuang wajahnya ke luar jendela.
"Jadi kamu berharap saya harus bagaimana ke kamu." Arya balik tanya.
"Saya ga ngarep apa-apa ke pak Arya. Lagipula kalau bapak ga bisa memenuhi harapan jangan pernah kasih harapan ke orang. Bikin orang jadi berharap dan salah paham." Tari kesel terhadap sikap ambigu pak Arya.
"Kok kamu bilang gitu, kapan saya ngasih harapan sama kamu?" Arya menuntut penjelasan.
"Bapak ga ngerasa aneh sama sikap bapak ke saya selama ini?" Tari mulai emosi dengan kedodolan pak Arya.
"Maksud kamu?" Arya semakin mencecar.
"Bapak dan saya itu hubungannya sebatas bos dan sekretaris. Tapi banyak hal yang menurut saya aneh. Terutama sikap bapak kesaya."Tari menjelaskan segala pertanyaan yang selama ini ada di hatinya.
Jangan-jangan Tari menyadari sikap gw selama ini ke dia batin Arya ada rasa cemas.
"Mana ada pak, boss ngelarang sekretarisnya deket sama pegawai laki-laki dikantor, bapak kesel kalau pak Soni lagi ajak saya makan siang tiba-tiba bapak ngasih saya kerjaan bahkan saya sampai tidak bisa istirahat karena bapak minta saya menemani bapak makan diruangan. Waktu meeting dengan pak Rian bapak minta saya panggil mas ke bapak. Dan satu lagi pak, sekretaris mana yang nyuapin makan bosnya dengan alesan lagi ngetik dengan alasan dikejar waktu." Tari mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini dipendamnya.
"Oh jadi kamu keberatan selama ini ngelakuin semua itu buat saya?" Arya kecewa dengan pengakuan Tari.
"Tentu saya keberatan! coba bapak berada dalam posisi saya, setiap hari saya harus mendengar kalau saya sedang menggoda bapak padahal selama ini saya hanya menuruti perintah bapak karena kalau tidak bapak marah-marah ke saya, bentak-bentak saya. Sementara bapak sendiri tidak pernah menjelaskan maksud bapak melakukan semua itu ke saya apa?" Tari memang selama ini sering mendengar omongan buruk tentang dirinya dengan Pak Arya.
"Jadi kamu mau saya seperti apa?"Arya menatap wajah Tari kali ini.
"Saya dan bapak harus bisa bersikap profesional. Saya hanya sekretaris bapak, pegawai bapak sama dengan pegawai lainnya. Saya tidak mau dianggap macam-macam oleh pegawai lain karena memang kenyataannya tidak ada hubungan apapun selain antara saya dengan bapak selain hubungan bos dan sekretaris." Tari menjelaskan dan ingin memastikan hatinya agar berhenti berharap terhadap sesuatu yang tidak akan terjadi.
"Terima kasih pak sudah mengantar saya, maaf saya mungkin terlalu jujur dengan apa yang saya rasakan dan alami dikantor. Semoga bapak bisa mengerti posisi saya. Permisi pak saya turun dulu." Tari membuka pintu mobil dan keluar dan berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Arya hanya bisa diam tanpa menjawab perkataan Tari.
Semua yang dikatakan Tari benar adanya.
Arya sendiri merasakan kebimbangan.
Apakah aku mulai mencintai Tari batin Arya mencari jawaban.
Arya menatap punggung Tari yang telah pergi meninggalkan nya dengan tatapan sedih.
__ADS_1
...****************...