Betari

Betari
BAB 18 Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Hari ini Tari menemani Arya meeting dengan Klien di Hotel yang sudah mereka sepakati.


"Mas, kenapa sie kok mukanya cemberut terus?" Tari melihat wajah Arya yang ditekuk layaknya dompet akhir bulan.


"Gpp sie, cuma Pak Bram yang bakal meeting dengan kita itu dikenal Ganjen meski usianya sudah tua. Males aja nanti kalo di ganjen ke kamu Sayang." Arya memarkir kendaraan mereka di Basement Hotel.


"Mas kita kan sudah bahas mengenai hal ini, Kamu juga harus ingat kalo dikantor aku sekretatis kamu, wajar dong kalau aku menemani kamu meeting bertemu klien." Tari memberikan Arya pengertian.


Keduanya segera menuju Lounge Brevilia Hotel. Hotel berbintang 5 yang bangunannya tampak begitu megah dan mewah.


"Siang Pak Arya, maaf sudah menunggu?" Pak Bram sambil sambil melirik Tari.


"Siang Pak Bram, silahkan duduk." Arya melihat Pak Bram memandang Tari lekat.


"Sial! Lelaki tua ini rasanya ingin kucongkel saja kedua matanya!!!! Dasar Bandot Tua!" batin Arya.


Mereka kan pun mulai presentasi dan Tari menjelaskan panjang lebar seputar meeting kali ini.


Tari tampak tidak nyaman karena Pak Bram terus menatap dirinya dengan tatapan mau menerkam.


Tari melirik Arya sekilas, Arya seperti menahan kemarahan namun menutup-nutupinya.


Tari selesai memberikan penjelasan dan paparannya namun sang klien malah lebih fokus terhadap dirinya hingga tak menyadari.


"Bagaimana apakah Pak Bram menyetujuinya?" Arya yang sudah geram namun berusaha ia tahan.


"Ya, Oke, Deal." Pak Bram menyalami Arya.


"Baiklah kalau begitu Pak Bram, Saya permisi dulu. Semoga kerjasama kita kedepannya berjalan dengan lancar." Arya bersalaman dan pamit undur diri serta menggandeng Tari agar tidak disalami Pak Bram.


.


Tari dan Arya kini berada di mobil dalam perjalanan.


Mereka menuju sebuah Mall.


Tari yang berpikir bahwa mereka akan segera balik ke kantor tentu bertanya dalam hatinya.


"Mas, apakah kamu ada meeting selain yang terschedule ?" Tari menanyakan karena berdasarkan jadwal yang ia rencanakan Arya hari ini hanya meeting dengan 1 klien, Pak Bram.


"Ya, kita ada meeting." Arya menggandeng Tari memasuki Mall.


Keduanya memasuki sebuah Restoran jepang dan menunggu seseorang.


" Hai Sayang, Maaf Lama menunggu?"


Arya kemudian bercipika cipiki dengan seorang wanita' yang usianya sudah tidak muda namun berpenampilan yang terlihat modis.


" Ini Pasti Tari ya, Sini Nak, peluk Bunda." bunda Dewi memeluk Tari.


Ya, Bunda Dewi. Orang Tua Arya yang Arya katakan klien kepada Tari.


Mereka bertiga menikmati makanannya sambil mengobrol.

__ADS_1


"Maaf Sayang, Kalau Bunda mengajak kalian berdua bertemu di Luar seperti ini, Lain waktu mampirlah kerumah." Bunda Dewi memegang tangan Tari dengan ramah.


Tari masih sedikit kikuk dan akan menuntut penjelasan Arya.


"Baik Bu," Jawab Tari.


"No, Sayang. Panggil Bunda seperti Arya, kamu kan calon menantu Bunda, Tari." Bunda Dewi mengusap dagu Tari.


"Arya, kapan kamu akan melamar Tari, Bunda rasa secepatnya kamu bawa Bunda menemui Orang Tua Tari." Bunda Dewi memang berkarakter eksentrik.


"Uhukkk, Uhukkk," Tari yang mendengarnya seketika tersedak.


"Kamu gapapa Sayang." Arya memberikan gelas air putih pada Tari.


"Maaf Bu, eh, Bun." Tari mengelap mulutnya dengan Napkin." Tari terkejut dengan spontanitas bunda Dewi.


"Sayang, Bunda ingin Arya segera melamar kamu. Bunda ingin Arya segera memiliki istri. Biar Anak Nakal ini ada yang mengurus dan mengontrolnya." Bunda Dewi memegang lengan Tari.


Seharusnya Tari senang bahwa hubungannya mendapat restu dari orang tua Arya. Namun terkesan mendadak itulah yang membuat Tari seakan belum siap.


"Sayang, Bunda balik dulu ya. Tolong kamu pikirkan permintaan Bunda mengenai lamaran itu. Bunda pamit." Bunda Dewi memeluk Tari dan pergi meninggalkan keduanya.


Tari masih duduk dan diam tanpa bersuara mengatakan satu katapun.


Arya paham betul pasti Tari marah karena kejadian barusan.


"Sayang, maaf kalau Mas tidak memberi tahumu kalau Bunda mengajak kita bertemu. Mas juga minta maaf kalau ucapan Bunda tapi ada yang membuatmu kurang berkenan." Arya menggenggam tangan Tari.


Tari sedikitpun tidak marah. Tari sadar cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Tentunya 1 tahun lebih mereka pacaran pasti Arya ingin memiliki hubungan yang serius dengan maju pada langkah selanjutnya yaitu pernikahan.


"Aku akan membicarakan dengan ibuku mengenai pembicaran Bunda pada kita." Tari tersenyum menjawab Arya.


"Sayang, aku lega sekali ku pikir kamu akan marah padaku." Arya sangat lega dengan jawaban dan senyum yang Tari berikan.


.


Tari sedang mengerjakan pekerjaannya. Arya sedang meeting dengan para manajemen perusahaan.


Sejenak Tari memikirkan kejadian di tadi.


Tari akan membicarakan dengan ibunya akan hal itu.


"Ri, lamunin apa sih?" Nindy berada dimeja Tari membuyarkan lamunannya.


"Eh Nin, " Tari menerima berkas yang disodorkan Tari untuk Arya.


"Masih meeting ya?" Nindy bertanya.


"Kenapa Kangen Sama Abang tercinta ?" Tari meledek Nindy.


"Bisa aja Lo, Btw Lo melamunkan apa?" Nindy menanyakan karena Nindy datang Tari sedang bengong.


"Kita ngobrol di pantry yuk." Tari mengajak Nindy ke pantry.

__ADS_1


Tari menceritakan semuanya pada Nindy soal pertemuan dan pembicaraan dengan Bunda Dewi.


"Ri, bagus donk, Pak Arya memang ingin mengajak Lo serius untuk menikah. Ayolah Ri, apa Lo ga seneng?" Nindy memberikan tanggapan.


" Iya sih, takut kaget aja gitu." Tari yang masih belum percaya.


"Ri, gw lihat Pak Arya bener-bener mencintai Lo tulus." Nindy meyakinkan.


" Huhhh sotoy Lo Nin." Tari kepada Nindy.


"Masa Lo ga bisa lihat bagaimana Pak Arya memperlakukan Lo selama ini. Ri, Lo harus mantapkan hati dan terima niat baik Pak Arya." Nindy menepuk bahu Tari.


"Jangan sampe Pak Arya lelah menunggu Lo Ri, salah-salah doi pindah ke lain body gimana?" Nindy memanasi.


"Siap-siap gw potong burung kebanggaannya. hahahaha" Tari san Nindy tertawa bersama.


.


Tari dan Arya kini berada si depan Rumah Tari.


Seperti biasa Arya mengantar Tari pulang. Namun kali ini Arya meminta izin untuk mampir kerumah Tari.


Tari mengijinkan.


"Assalamualaikum, Tari pulang Bu." Tari menghampiri ibunya dan salim.


"Waalaikumsalam."jawab bu Fatma.


Arya menyalami ibu Tari.


"Silahkan duduk Nak Arya," Bu Fatma mempersilahkan duduk Arya sedangkan Tari disuruh ibunya membuatkan minum.


"Bu sebelumnya Saya minta maaf baru menemui ibu sekarang. Saya juga mau minta izin kepada ibu untuk melamar Tari dalam waktu dekat. Apakah ibu mengizinkan?" Arya langsung mengatakan saat itu keinginan dan niatnya pada Tati.


Bu Fatma sudah sering mendengar dari Tari perihal Arya. Bu Fatma juga tahu bukan Arya yang baru sempat datang namun putrinya yang selalu menghalangi.


"Ibu senang nak Arya mengatakan secara jujur hal ini. Kalau ibu sebenarnya mengizinkan dan merestui jika memang Tari merasa sudah mantap dengan nak Arya karena apapun keputusan Tari ibu akan merestuinya." Bu Fatma memberikan restu.


"Terima kasih bu, Saya akan bicarakan kepada orang tua Saya mengenai lamaran dan kapan waktunya." Arya merasa Lega akhirnya pikiran yang selama ini mengganjal dapat terjawab.


Bu Fatma mengangguk


"Bu Saya permisi dulu." Arya pamit dan salim pada Bu Fatma.


"Hati-hati dijalan Nak Arya. Tari antar nak Arya." Bu Fatma menyuruh Tari mengantar Arya keluar.


.


.


.


.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2